
Yuki, salah satu dari member party legendaris Ayo Minum Kopi. Dia bukan saja member party, melainkan dialah orang yang menggagas pertama kali kelompok itu dan semua member party sepakat untuk menjadikannya sebagai ketua kelompok.
Dari pemikiran Yuki tentang suatu tempat untuk mengumpulkan orang-orang seperti dirinya, muncullah kelompok legendaris yang dikenali seluruh pemain Calcalas Online saat itu.
Yuki adalah seorang pemain biasa saja sebelum ia membuat party Ayo Minum Kopi. Ia cukup lama bermain solo sampai akhirnya ada yang melihat kemampuan bertarungnya yang cukup bagus dan mengajaknya untuk bergabung dengan guildnya.
Guild yang sempat Yuki masuki adalah guild yang mengincar tempat paling puncak dalam Calcalas Online. 7th Heaven itulah nama guild tersebut yang diketuai oleh ketua guild Apollon di Cyrus Online, yaitu Vayline the Dragon Slayer.
Namun saat Yuki berada di guild 7th Heaven, ia merasa diabaikan dan disisihkan karena skillnya yang kalah jauh dengan para member lainnya, ia pun lantas pergi dari guild tersebut setelah beberapa bulan mencoba beradaptasi namun gagal.
Saat kembali dalam permainan solo-nya, Yuki bertemu dengan seorang penyihir yang memiliki rambut berwarna putih perak dan selalu terlihat murung dan memiliki tatapan kosong.
Ia tak sengaja melihat penyihir itu mengalahkan monster berlevel tinggi dengan sangat mudah, dan yang lebih parah ia hanya seorang diri saja.
Namun setelah mengalahkan monster berlevel tinggi itu, tidak ada sama sekali perubahan di wajahnya. Wajahnya masih tetap kaku dan tanpa ekspresi sama sekali, berbeda dengan pemain lain yang akan begitu bahagia setelah berhasil mengalahkan monster level tinggi karena tahu akan hadiah yang akan mereka dapatkan.
Karena begitu penasaran dengan si penyihir itu, akhirnya Yuki memutuskan untuk mengikutinya diam-diam.
Dan Yuki kembali dibuat terkejut oleh sang penyihir. Kali ini si penyihir malah membawanya ke tempat sarang Basilisk yang juga termasuk salah satu monster level tinggi dan paling susah untuk dikalahkan.
Hal itu wajar karena Basilisk memiliki sebuah skill yang cukup merepotkan yaitu Death Gaze. Skill itu bisa membuat pemain menjadi batu untuk waktu yang lama, dan lebih parah lagi jika saat pemain terkena efek itu, Basilisk cuma perlu satu seragan saja untuk membunuh para pemain yang sudah terkena efek Stoned dari Death Gaze.
Karena itulah Basilisk selalu dihindari oleh banyak pemain, bahkan pemain berlevel tinggi pun akan berpikir 4 kali sebelum mereka memutuskan untuk berburu Basilisk.
Dan kini, tepat didepan mata Yuki ia melihat ada 2 Basilisk yang menatap penyihir berambut putih itu dengan tatapan yang begitu mematikan. Kedua monster itu seakan kebingungan dengan kehadiran sang penyihir di sarang mereka, orang bodoh mana yang melawan Basilisk hanya seorang diri? Mungkin penyihir itu merasa seperti Harry Potter dan pedang Gryffindor yang muncul dari balik topi serba tahu.
"Apa dia bodoh? Atau dia terlalu bodoh? Itu tidak seekor Basilisk, tetapi dua!" Yuki menggerutu dari balik batu besar yang menyembunyikan sosoknya dari si penyihir berambut putih perak.
Namun sepertinya penyihir berambut putih perak itu benar-benar seperti Harry Potter. Tanpa bisa dipercayai oleh Yuki, si penyihir itu hanya perlu waktu 12 detik untuk mengalahkan kedua ekor Basilisk yang mematikan itu.
Yuki tak habis pikir dengan itu semua, ia yakin sekali player berlevel 80 saja akan perlu waktu setengah atau mungkin satu jam untuk melawan Basilisk, dengan catatan harus dengan party. Jika seorang diri mungkin akan memerlukan waktu yang lebih lama, tetapi dengan catatan pula si player harus benar-benar seorang ahli.
Dan penyihir itu hanya perlu waktu 12 detik!
"Dia lebih dari ahli! Ya benar sekali, dia seorang cheater! Aku tau itu" Gumam Yuki.
Yuki kembali mengintip si penyihir itu, lagi-lagi ia melihat wajah yang begitu menyebalkan untuk dipandang dari si penyihir itu. Padahal jelas sekali si penyihir itu mendapatkan item yang sangat langka setelah ia berhasil mengalahkan Basilisk seorang diri.
Hal itu membuat Yuki marah, terlebih ia sudah mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh penyihir itu. Ia tidak bisa memaafkan si penyihir berambut putih perak.
Yuki hendak menghadang si penyihir saat itu juga, namun ia melihat si penyihir memasuki gua lebih dalam lagi dan akhirnya ia pun harus mengikuti si penyihir diam-diam sambil menunggu momen yang tepat untuk menangkap basah si penyihir.
Semakin ke dalam, semakin suram suasana di dalam gua tersebut. Terlebih lagi gua itu adalah sarang Basilisk yang mematikan, tentu saja membuat siapa saja akan merasa tertekan seperti sedang menghadapi final boss dengan sisa darah yang sedikit.
Si penyihir kembali bertemu dengan Basilisk, kali ini tidak 2 Basilisk tetapi 4 sekaligus. Dan ukurannya pun lebih besar daripada 2 ekor yang baru saja dikalahkan oleh si penyihir.
Kali ini Yuki ingin melihat dengan jelas bagaimana si penyihir itu mengalahkan Basilisk dengan sangat mudah, lebih simpelnya Yuki ingin melihat bagaimana si penyihir menggunakan cheat-nya.
Ketika Basilisk menyerang, si penyihir menghindar dengan sangat mudah. Tubuhnya terasa begitu ringan bagaikan kapas yang terbang kesana-kemari ditiup angin. Ketika ia merasa cukup untuk bermain-main dengan Basilisk itu, sang penyihir pun lalu mengeluarkan sebuah sihir yang sangat kuat, bahkan Yuki pun merasakan efeknya karena saking kuatnya sihir itu.
"Cruciare!" si penyihir mengucapkan mantra dengan rasa malas yang tak tertahankan.
Bola kecil berwarna hitam pekat tiba-tiba saja hinggap di tubuh Basilisk, lalu seketika keempat Basilisk itu begitu kesakitan hingga akhirnya mereka mati dengan cara yang mengenaskan.
Nasib keempat Basilisk itu seperti daun-daun yang dimakan ulat.
Melihat hal yang mengerikan itu membuat mental Yuki sedikit terganggu, ia bahkan kini tak bisa berpikir jernih. Ia benar-benar kebingungan apakah penyihir itu menggunakan sesuatu yang ilegal atau tidak, ia sama sekali tak bisa menentukan.
Ia tahu sekali seperti apa orang yang menggunakan cheat, dan apa yang dilakukan oleh penyihir berambut putih perak adalah hal yang sangat baru di mata Yuki. Tidak ada cheat yang seperti digunakan oleh sang penyihir, dan menurutnya apa yang dilakukan oleh si penyihir bahkan lebih hebat dari cheat yang sering digunakan oleh pemain yang gagal.
"Aku harus memastikannya lagi!" ujar Yuki. "Jika benar itu cheat, seharusnya sistem sudah mendeteksi hal ini karena ia sudah beberapa kali menggunakannya, dan itu juga terlalu hebat untuk disebut cheat" pungkasnya lagi sebelum dirinya kembali mengikuti jejak si penyihir untuk masuk lebih dalam.
Yuki terus mengikuti si penyihir berambut putih perak itu dengan diam-diam, walaupun sudah cukup jauh ia dan si penyihir memasuki gua itu, tidak ada tanda-tanda dari ujung gua tersebut.
Selain itu juga tidak ada tanda-tanda kemunculan Basilisk lainnya setelah 4 tadi, mereka berdua benar-benar aman untuk sementara waktu.
Dan lagi-lagi ada hal yang mengejutkan Yuki, ternyata di ujung gua tersebut sudah ada King Basilisk yang menunggu kedatangan si penyihir.
Seakan sudah tahu akan berbahaya si penyihir itu, King Basilisk bahkan sudah mempersiapkan dirinya untuk bertahan hidup dan menyerang si penyihir yang sudah mengganggu tidur siangnya.
Dengan tubuh yang hampir 10 kali lipatnya Basilisk biasa, sudah bisa membuat pemain biasa terkencing di celana bila melihatnya. Tak hanya soal tubuh yang besar, King Basilisk juga memiliki tampang yang lebih menyeramkan dari Basilisk biasa. King Basilisk memiliki tanduk yang hampir sama besarnya dengan tanduk Minotaur, dengan tatapan dingin nan tajam seperti es ia menatap si penyihir dan berniat membuat si penyihir membatu selamanya.
Namun si penyihir tidak takut dan gentar sama sekali dengan ancaman yang diberikan oleh King Basilisk, saat King Basilisk mencoba menatapnya, si penyihir menutup matanya dengan santai dan tanpa ada merasa tertekan sama sekali.
Saat si penyihir menutup matanya itulah King Basilisk menyerang, namun lagi dan lagi si penyihir kembali mampu membaca arah serangan King Basilisk dengan sangat tepat, seakan-akan ia memiliki mata ketiga yang muncul di ditengah-tengah jidatnya.
King Basilisk pun terus menerus memberikan serangan demi serangan kepada si penyihir, serangan ber-elemen pun dikeluarkan oleh King Basilisk untuk menumbangkan penyihir yang sudah mengusik hidup damainya. Namun semua itu seakan sia-sia dan tak ada guna, sebab si penyihir itu bisa dengan mudah menghindari semua itu.
Insting ular mitos itu semakin memperingatkan dirinya bahwa ada ancaman mengerikan dari sosok manusia sialan yang ada di depan matanya saat ini, ular mitos itu mendesis desis tak karuan sambil mencoba menyerang si penyihir dengan cara meludahkan bisa paling mematikan yang ia miliki, tetapi tetap saja tak ada guna.
Merasa tak terhibur sama sekali, akhirnya si penyihir mencoba untuk menyudahi permainannya. Ia kini berdiri tegap menghadap si ular mitos sambil berpikir bagaimana ia harus mengalahkan King Basilisk itu.
"Jika aku menggunakan mantra 1000 Years Passed Away, itu akan tidak berguna bagi ular besar ini. Karena semakin lama Basilisk hidup maka kekuatannya semakin kuat, apalagi sekelas King Basilisk yang hidup lebih dari 1000 tahun!"
"Mana-ku berkurang banyak karena aku terus menggunakan mantra Haste dan Cruciare. Sekarang apa yang harus kulakukan?"
"Mungkin sudah saatnya aku mencoba salah satu black magic paling terakhir dan kuat itu"
Si penyihir lalu mengarahkan tongkat sihirnya ke arah King Basilisk. Ia memfokuskan kekuatannya ke ujung dari tongkat sihirnya itu, sambil terus menggunakan sesuatu dengan suara yang pelan.
Lama-lama hawa di sekitar penyihir berubah dengan begitu drastis, gua yang selalu dingin dan suram kini menjadi panas menyala seperti tengah berada di dalam kawah gunung berapi.
King Basilisk pun merasakan ancaman besar dari penyihir ia mencoba menyerang si penyihir sebelum dirinya yang akan di serang, namun si penyihir tidak dapat di serang karena ia dilindungi oleh suatu penghalang yang sangat kuat.
Merasa ancamannya yang semakin kuat, King Basilisk pun mencoba kabur dari tempat itu, tetapi sayang sekali tidak ada jalan keluar bagi King Basilisk.
Setelah semua persiapan selesai, si penyihir lalu mengucapkan mantra sihirnya dengan suara yang cukup nyaring dan jelas. "Explosion!" teriaknya lalu sebuah bola api berukuran sangat besar langsung mengarah ke King Basilisk dan seketika meledak begitu mengenai tubuh dari King Basilisk.
Ledakannya begitu dahsyat, membuat seisi gua berguncang seakan hendak runtuh. Yuki pun hanya bisa memasrahkan dirinya setelah terjebak dalam kondisi yang seperti itu.
Begitu keadaan sudah reda dan kembali normal, Yuki mencoba mengintip dari balik batu besar. Ia langsung terkejut melihat hasil dari mantra si penyihir tadi.
Gua yang di awal tadi memiliki ujung yang buntu, kini memiliki sebuah jalan baru karena ledakan itu tadi membuat lubang yang sangat besar dan menghancurkan gua tersebut.
Yuki pun tak bisa menahan rasa terkejutnya itu setelah melihat kejadian besar tersebut, ia tak sadar berteriak keras dan keluar dari tempat persembunyiannya selama ini.
Ia baru sadar setelah si penyihir menatap ke arahnya yang heboh sendiri itu, setelah mengambil item langka yang ia dapatkan dari King Basilisk, si penyihir itu lalu mendekati Yuki dengan tatapan seperti seorang jenderal yang sedang melakukan interogasi kepada tawanannya.
"Siapa kau? Mau apa kau? Dan sejak kapan kau mengikutiku?" Penyihir itu langsung menembakkan beberapa peluru pertanyaan pada Yuki.
Dengan sedikit terbata-bata karena masih syok, Yuki menjawab semua pertanyaan dari sang penyihir berambut putih perak. "Na-na-namaku Yuki, aku sudah mengikutimu sebelum kau masuk ke sarang Basilisk itu! Sekarang sebutkan namamu wahai cheater biar aku laporkan tindakanmu ini ke grandmaster!"
"Cheater?" Si penyihir sedikit kebingungan dengan ucapan Yuki barusan. "Siapa yang kau maksud cheater itu? Apa aku?"
"Ya jika bukan dirimu siapa lagi? Mana ada pemain yang bisa mengalahkan Basilisk dalam waktu 12 detik hanya seorang diri! Terlebih lagi kau mengalahkan King Basilisk dengan waktu singkat. Jika bukan cheater lalu apa?"
"Biar aku beritahukan kepadamu satu hal yang pasti" ujar si penyihir itu dengan nada bicara sedikit marah karena semua yang diucapkan oleh Yuki. "Aku adalah D. Archie yang memiliki gelar penyihir dari tanah Arbanas. Level-ku saat ini 90 dan aku memiliki job Arcane Ruller!'
Yuki hendak sekali memukul si penyihir karena sudah berani membual hal yang tak mungkin. Pada saat itu di Calcalas Online belum ada pemain yang mencapai level 90 serta tidak ada satupun pemain job mage yang mampu mendapatkan job khusus Arcane Ruller. Bahkan komunitas pemain yang memiliki job Mage menganggap hal itu hanyalah mitos yang ada di Calcalas Online.
Namun saat Yuki mengecek status yang dimiliki oleh si penyihir berambut putih perak bernama D. Archie itu, ia begitu terkejut dan sampai tidak mampu bersuara apapun lagi setelah melihat apa yang ia anggap mitos tadi kini benar-benar nyata ia lihat.
Yuki benar-benar merasa seperti melihat naga dan peri dalam satu frame di kehidupan nyata, ia tidak mampu lagi mengucapkan satu katapun. Mulutnya seperti sudah benar-benar terkunci rapat.
"Tidak mungkin...Arcane Ruller...mitos..." ucap Yuki dengan pelan setelah melihat status yang dimiliki oleh si penyihir yang membenarkan semua ucapannya itu tadi.
Begitulah pertemuan pertama Yuki dan sang penyihir berambut putih perak misterius bernama D. Archie itu, dari pertemuan pertama mereka itulah yang akan membuat sebuah lembaran baru untuk mereka berdua.