Cyrus Online

Cyrus Online
Chapter 170: Masa Lalu Escobar



Escobar, sebuah nama yang tidak terlalu dikenali publik Cyrus Online namun ia memiliki reputasi tersendiri yang ia dapat dari kehidupannya yang lalu.


Ia memulai semuanya dari sebuah game bertemakan peperangan battle royal, sebuah game dengan penuh aksi militer dan tembak menembak dan memiliki tujuan untuk menjadi yang bertahan hidup sampai akhir.


Game itu juga merupakan salah satu game VR generasi pertama yang menggunakan sistem full dive yang mengawali langkah-langkah dari game setelahnya.


Di dalam game itu Escobar membangun reputasinya namun reputasi yang ia bangun bukanlah sebagai seorang penyelamat ataupun orang yang melindungi orang lemah, melainkan ia membangun sebuah jaringan kriminal di dalam game tersebut dan sangat besar pengaruhnya.


Banyak hal yang dilakukan oleh Escobar dengan teman-temannya saat itu, yang pasti bukanlah suatu hal yang sering dilakukan oleh banyak orang. Escobar menerima permintaan P.K pada orang lain, memuluskan siasat suatu kelompok, serta ia juga pernah melakukan perdagangan obat-obatan terlarang.


Semua hal itu ia lakukan karena suatu alasan personal, ia memiliki satu masalah dengan orang tuanya yang juga menjalankan praktik bisnis gelap di sepanjang kawasan teluk Mexico.


Karena ia merupakan seorang anak dari pemimpin sebuah kartel yang terpandang, maka sudah seharusnya Escobar memiliki sebuah aura yang membuat orang akan memandangnya juga seperti ayahnya. Namun sayangnya ia tidak memiliki hal tersebut. Ia selalu merasa berada di bawah bayang-bayang ayahnya dan ia juga merasa dirinya begitu diistimewakan oleh pengikut ayahnya, sehingga ia membenci hal tersebut dan menimbulkan perasaan untuk membuktikan pada ayahnya kalau ia juga bisa melakukan hal seperti itu.


Escobar kecil pun memulai langkah awalnya, mula-mula ia mencoba menguasai sekolah tempatnya belajar. Dengan iklim Mexico yang panas itu membuat siapa saja bisa memukul orang jika tidak suka, dan hal itu lah yang dilakukan oleh Escobar kecil. Escobar kecil memukuli guru penjaskesnya karena ia tidak suka disuruh berlari mengitari sekolahnya saat matahari sedang terik-teriknya, karena hal itu Escobar langsung menjadi pusat perhatian karena masalahnya itu dan tentu saja karena hal itu juga membuat dirinya begitu mudah menaklukkan sekolahnya.


Namun hal itu masih belum menggerakkan hati ayahnya, bagi ayahnya hal seperti itu adalah hal yang lumrah ia lakukan saat waktu kecil dulu. Menguasai sekolah dan memukuli guru adalah hal yang sudah umum dilakukan anak-anak pada zaman ayahnya.


Escobar tidak terima dengan apa yang ayahnya ucapkan, ia kembali bertekad melakukan hal yang lebih besar dari apa yang ia pernah lakukan. Lalu Escobar yang sudah memiliki sedikit pengikut itu mulai mencoba menguasai jalanan-jalanan yang keras dan berbatu. Escobar dan pengikutnya sering melakukan tawuran dan perang antar geng untuk memperebutkan suatu wilayah, sampai pada akhirnya Escobar berhasil menaklukkan seluruh wilayah di lingkungan ia tinggal.


Namun tetap saja hal itu tidak membuat ayah Escobar bangga atau bahkan memperhatikan sejenak apa yang Escobar capai.


"Kau pikir kau sudah hebat setelah kau menguasai semua wilayah di sini? Kau harus lebih membuka matamu sekali lagi, kau pikir dunia ini hanya disekitaran sini saja?" Ucap ayahnya dengan ekspresi malas.


Lalu setelah berkata seperti itu ayahnya pun meninggalkan Escobar yang masih berdiri diam di tempatnya itu. Pikiran Escobar begitu kacau, ia begitu marah karena sekali lagi hasil kerjanya di tolak mentah-mentah oleh ayahnya sendiri. Api kemarahan dan kebencian kembali berkobar-kobar di manik mata Escobar, kali ini ia bertekad untuk melakukan hal yang lebih, lebih dan lebih dari apa yang sudah dilakukan dan di capai oleh ayahnya.


Dan dari situlah Escobar mulai mengenal game VR, dari salah satu anak buahnya yang juga pencinta game ia mulai mengenal dan mempelajari semua hal tentang game khususnya VR.


Melihat adanya kebebasan dalam melakukan apapun di dalam game itu, muncul sebuah ide dari otak Escobar yang sebenarnya cukup cerdas itu. Lalu ia pun memulai semua aksi dan bisnisnya dalam game tersebut.


Hasilnya ia mempunyai reputasi tinggi, banyak orang yang patuh dengan dirinya dan sangat loyal terhadapnya. Hal itu sempat membuat ayahnya kaget lantaran ada seribu orang lebih berkumpul di halaman rumahnya hanya untuk menyambut Escobar sang pemimpin mereka itu.


Merasa menang, Escobar pun kembali mengkonfrontasi ayahnya. Ia ingin meminta pengakuan pada ayahnya kalau dirinya juga bisa melakukan apa yang ayahnya lakukan, namun jawaban dari ayahnya membuat Escobar terkejut.


Ayahnya hanya menggelengkan kepala pelan sekali dengan ekspresi wajah yang menggambarkan kalau dirinya kecewa pada anaknya itu.


Escobar lalu terbutakan oleh kebenciannya terhadap sang ayah, kali ini ia tidak hanya bertekad namun juga ia bersumpah atas nama keluarganya kalau dirinya akan melampaui apapun yang dilakukan ayahnya ataupun semua keluarganya.


Hingga pada akhirnya Escobar mengalami sebuah tragedi yang dikarenakan egonya itu. Dirinya dijebak oleh pasukan pemberantas jaringan kartel narkoba yang menyamar sebagai pembeli narkoba tanpa sepengetahuan Escobar.


Escobar yang panik pun tidak mampu berpikir jernih, ia cuma bisa berlari dengan kencang mencoba menjauh dari kejaran para pasukan pemberantas itu. Walaupun sudah berlari tetapi Escobar merasa dirinya tidak akan pernah selamat dan ia merasa semua pelariannya ini sia-sia saja.


Akhirnya ia pun pasrah dan mulai menyerah, ia tersandar di dalam sebuah rubanah di dekat rumahnya. Saat itu semua hal yang sudah ia lakukan semasa kecil jadi terputar kembali dalam ingatannya, bahkan rubanah itu juga merupakan saksi bisu saat di hari ulangtahunnya ayahnya menepati janjinya untuk datang walaupun dengan keadaan penuh luka di sekujur tubuh, namun senyuman ayahnya itu tetap tidak bisa ia lupakan.


Escobar tiba-tiba menitikkan air matanya tanpa ia sadari, ia tak pernah merasa lebih putus asa dari ini. 


Saat dirinya sudah begitu pasrah, ayahnya datang ke dalam rubanah itu. Ayahnya memandangi Escobar yang masih berlinang air mata dan dengan rasa putus asa yang begitu dalam. 


Ayahnya yang melihat keadaan anaknya itu juga merasa sakit, tanpa bicara sepatah katapun ayahnya lalu keluar dari rubanah untuk menghadapi pasukan pemberantas itu.


Escobar mencoba menghentikan apa yang ayahnya ingin lakukan itu, ia memegangi tangan ayahnya dengan begitu erat seakan tidak mau melepaskannya. Namun perlahan ayahnya melepaskan pegangan tangan Escobar sambil tersenyum hangat pada anaknya itu, senyuman terakhir yang akan Escobar ingat dalam hidupnya.


Escobar lalu teringat dengan senyuman ayahnya pada saat hari ulang tahunnya itu, seakan-akan menandakan bahwa ia tidak akan bertemu dengan ayahnya lagi akhirnya Escobar terus memeganginya lengan ayahnya dengan begitu erat sambil menangis.


Sambil kembali tersenyum hangat, sang ayah mengelus-elus rambut Escobar yang sudah panjang itu sambil berkata. "Nak, kau adalah anak-ku, kau selalu membuatku bangga, hanya satu hal yang akan ayah sampaikan untuk terakhir kalinya. Kejarlah apa yang kau inginkan dan jangan pernah jadi seperti ayahmu ini, aku tau kau bisa lebih baik dariku.....selamat tinggal"


"Tidak....tidak.....bukan hal seperti ini yang ku inginkan.....jangan pergi ayah....!" Ucap Escobar sambil terus mencoba memegangi lengan ayahnya, namun perlahan-perlahan pegangan itu semakin lemah dan akhirnya terlepas.


Escobar tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ia tidak sanggup berpisah dengan ayahnya sehingga ia mencoba mengikuti ayahnya keluar dari rubanah dengan langkah yang tidak stabil.


Namun yang kini ia lihat, ayahnya sedang mengangkat tangannya ke atas sambil ditodong oleh puluhan orang dengan persenjataan lengkap. Melihat hal itu orang-orang dengan senjata lengkap itu langsung maju mendekati ayah Escobar untuk melakukan tindakan preventif atau melakukan pemborgolan pada ayahnya Escobar.


"Recon one! Menurut data kita orang di depan kita ini adalah gembong kartel narkoba terbesar di negara ini dan orang yang sudah kita cari-cari selama 20 tahun ini!"


"Recon two! Siapa yang kau maksudkan itu? Bukannya kita dapat kabar kalau ada orang amatir yang sedang menyelendupkan barang ilegal?"


"Recon one! Dia adalah El-Patron Escobar!"


"Apaaa? Orang paling berbahaya yang juga mendapatkan gelar sang pembaptis itu? Ayo kita bawa dia dengan cepat ke hadapan Mother One!"


Pasukan bersenjata lengkap itu dengan cepat membawa dan memasukkan ayah Escobar ke dalam mobil Anti-peluru berwarna hitam mengkilap itu.


Escobar mencoba untuk berteriak, namun rasanya suaranya tidak bisa keluar dari pita suaranya, dan yang ada hanyalah tangisan dari seorang Escobar yang melihat ayahnya ditangkap oleh pasukan pemberantas itu.