Cyrus Online

Cyrus Online
Chapter 156: Kekuatan Untuk Menegakkan Keadilan, Mungkin?



"Katakan padaku sekali lagi wahai anak manusia, apa tujuanmu datang kemari. Aku akan berbaik denganmu sesuai dengan apa tujuanmu datang ke sini!" Sosok itu kembali menanyakan hal yang sama pada Archie.


"Aku kesini hanya untuk menjelajahi hutan ini saja, waktu itu aku menemukan sebuah pesan yang tertulis di sebuah batu di kawasan hutan yang sedikit berawa itu"


"Lalu karena pesan di batu itu, aku jadi mengikuti arahan pesan itu dan ternyata aku kembali mendapatkan pesan yang sama di tempat ini!" Ujar Archie coba menjelaskan mengapa dirinya sampai ke tempat itu.


Sosok itu melirik curiga ke arah Archie, ia tidak tahu apakah cerita Archie itu bisa ia percayai atau tidak.


"Bagaimana kau bisa membaca tulisan itu? Itu adalah tulisan kuno yang orang-orang pada zaman ku saja tidak mengerti karena itu adalah sebuah kode-kode rahasia yang kupelajari dari guruku, kenapa kau bisa membaca tulisan itu?"


"Jika kau bertanya bagaimana caranya aku membaca tulisan itu, jawabannya aku pun tidak tahu bagaimana" jawab Archie.


"Aku hanya membacanya seperti membaca sebuah buku yang memang aku mengerti bahasa dan tulisannya, hanya seperti itu saja!" Archie menambahkan penjelasannya.


Mendengar penjelasan Archie itu, sosok tersebut jadi sedikit kesal. Ia langsung mengangkat tubuh Archie ke atas karena ia begitu kesal dengan Archie.


Archie merasa dirinya seperti tercekik saat dirinya diangkat ke atas oleh sosok itu, Archie begitu kesulitan untuk bicara ataupun untuk bernafas.


Sosok itu kembali menanyakan hal yang sama pada Archie, namun Archie tetap menjawabnya dengan jawaban yang sama juga dan semakin membuat sosok itu gusar.


Hingga pada akhirnya sosok itu pun melepaskan Archie. Ia merasa sia-sia menanyakan hal tersebut kepada Archie, karena Archie akan selalu menjawabnya dengan jawaban yang sama pula.


Archie terbatuk-batuk ketika sudah dilepaskan oleh sosok itu tadi, ia kembali mencoba bangkit dan bersiap jika harus bertarung dengan sosok yang dari tadi menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang berulang-ulang.


"Omong kosong! Buktikan jika kau bisa membaca tulisan itu" Ucap sosok itu.


Sosok itu lalu memperlihatkan Archie sebuah batu yang mirip sekali dengan apa yang ia lihat di luar waktu itu. Archie pun memperhatikan batu itu dan mencoba membaca tulisan yang ada di batu itu.


Tulisan yang terukir di batu itu terlihat sedikit berbeda dari yang ia pernah lihat, rangkaian tulisannya juga terlihat lebih rumit lagi. Namun Archie tetap ingin membaca tulisan itu karena rasa ingin tahu Archie yang begitu tinggi.


"Dengan kekuatan ini, aku akan mengalahkan monster itu! Walaupun tidak ada orang yang berdiri di sampingku, aku akan tetap menebaskan pedangku, aku akan tetap menegakkan tubuhku, dan aku akan terus membakar semangatku walaupun aku diterjang badai, aku akan melawan badai itu dengan gagah berani seperti seorang kesatria sejati!"


Sosok itu langsung terkejut setengah mati walaupun dirinya hanyalah roh yang mati penasaran, ia begitu syok saat melihat Archie yang bisa membaca tulisan kuno itu tepat di depan matanya sendiri.


Sosok itu tidak bisa untuk tidak percaya lagi, kali ini Archie benar-benar membuktikan dirinya mampu membaca tulisan itu.


"Kau masih tidak percaya dengan hal itu ha? Atau kau mau menuduhku aku menggunakan semacam trik atau apa?" Ucap Archie penuh rasa kesal dengan sosok di hadapannya itu.


"Tidak, sekarang aku percaya" Jawab sosok itu singkat.


Sosok itu lalu berjalan ke arah peti mati miliknya itu, ia mengambil sebuah pedang yang berkilauan dari dalam situ.


Saat sosok itu mengangkat pedangnya dengan tinggi, kilauan pedang itu begitu menyilaukan mata Archie hingga ia harus melindungi kedua matanya dengan lengannya.


Sosok itu lalu menyerahkan pedang itu tadi pada Archie yang membuat Archie sedikit kebingungan dengan perubahan yang terjadi begitu cepat itu.


Archie pun menerima pedang yang berkilauan itu, namun ketika pedang itu menyentuh Archie, pedang itu langsung menghilang kilaunya. Kilaunya pedang itu tergantikan oleh aura gelap, pekat dan jahat yang langsung menyelubungi pedang itu tadi dan seketika membuat Archie kembali kebingungan.


"Pedang itu adalah Pedang Kebenaran. Pedang itu akan menyesuaikan dirinya dengan orang yang memegangnya"


"Jika pedang itu berwarna gelap seperti itu, berarti pedang itu menunjukkan jati dirimu yang sebenarnya yaitu penuh dengan kegelapan seperti seorang iblis!" Sosok itu menjelaskan tentang pedang itu pada Archie.


Sosok itu kembali mengambil pedang dari tangan Archie, seketika sosok itu merasakan kepedihan, kesakitan dan penderitaan dalam satu waktu saat ia menyentuh pedang itu tadi.


Tetapi di tengah ia merasakan hal-hal mengerikan tadi, ia juga sempat merasakan kehangatan yang sulit untuk ia ekspresikan. Sosok itu hanya bisa terdiam ketika ia merasakan kehangatan itu, dan hal itu membuat dirinya bingung.


"Jawab aku, kau ini iblis atau malaikat?"


"Hah? Sudah jelas aku bukanlah keduanya. Kau sudah jelas-jelas menyebutku dengan sebutan anak manusia, kenapa lagi kau bertanya padaku apakah aku Malaikat atau Iblis?" Archie bertanya karena kebingungan dengan pertanyaan dari sosok itu tadi.


"Baiklah kalau begitu pertanyaannya aku ganti. Jika diberikan dua pilihan, kau lebih memilih menjadi seorang pahlawan yang bisa menyelamatkan banyak orang, atau kau ingin menjadi seseorang yang juga melawan ketidakadilan tetapi kau lebih dikenal orang sebagai seorang penjahat seumur hidupmu?"


Archie terdiam sejenak, ia mencoba untuk memahami maksud dari pertanyaan yang dilontarkan oleh sosok roh mati penasaran itu.


Begitu Archie telah mendapatkan jawabannya. Archie pun tersenyum seperti biasanya, dengan sorot mata yang tajam sekali seperti menusuk-nusuk namun terlihat penuh keyakinan.


"Aku tidak ingin memilih keduanya. Pahlawan? Heh apa itu pahlawan, maksudmu orang yang merusak sesuatu atas nama menyelamatkan orang banyak? Atau orang besar kepala yang berlindung dibalik kalimat atas nama keadilan?"


"Aku bukanlah orang yang seperti itu, akulah yang berhak menentukan seperti apa aku hidup. Aku tidak peduli dengan urusan pahlawan dan penjahat, salah dan benar telah banyak kulakukan jadi untuk apa aku memilih menjadi seorang pahlawan ataupun penjahat?" Jawab Archie dengan tatapan yang masih begitu hidup.


Sosok itu sedikit tersenyum setelah mendengar jawaban dari Archie, walaupun bukan seperti yang ia harapkan tetapi jawaban Archie tadi cukup membuatnya terkesan dengan sikap pemuda berambut putih itu.


Sosok itu pun mendekat ke arah Archie, Archie jadi bersiap untuk menyerangnya karena sosok itu mendekatinya dengan wajah penuh senyuman yang bagi Archie cukup mencurigakan.


Tetapi ternyata sosok itu hanya ingin memberikan Archie sebuah anting, di anting tersebut juga ada tulisan-tulisan kuno yang membuat kesan anting itu jadi lebih kuno.


[Gemini Eaerings]


Efek: Meningkatkan semua status menjadi +8 dan memberikan penguatan saat menyerang sebesar 10%


Tipe: Arcana Item


"Efeknya mengerikan!"Archie berkomentar setelah mendapat item itu dari sosok itu.


"Itu adalah salah satu kekuatan yang ku dapat untuk menaklukkan monster itu selain pedang ini" Ucap sosok itu sambil memandang ke pedang yang ada di tangannya itu.


"Sebenarnya aku ingin memberikan pedang ini padamu, tetapi sepertinya kau sudah memiliki sebuah pedang yang bahkan lebih kuat dari pedang milikku ini" Tambahnya lagi.


Archie masih tidak dapat bicara karena masih merasa syok dengan benda yang baru saja ia dapat itu, ia bahkan merasa tidak percaya karena sudah mendapatkan benda tersebut.


Sedangkan sosok itu masih melihat ke arah pedangnya itu, secara berkala ia melihat ke arah pedang dan ke arah Archie seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.


Akhirnya Archie yang tidak tahan dengan tingkah dari sosok roh mati penasaran itu mencoba menanyakan padanya.


"Aku ingin dirimu mencarikan seseorang yang pantas memegang pedang ini, berjanjilah kepadaku untuk hal ini!"


Archie jadi sedikit kebingungan dengan permintaan dari sosok arwah penasaran itu, ia ingin menyuruh Archie untuk mencarikan sosok orang yang pantas untuk memegang pedang itu, tetapi Archie pun sama sekali tidak tahu siapa yang menurutnya sangat pantas untuk hal tersebut.


"Sudah tidak ada lagi yang tersisa dariku, aku hanya ingin melanjutkan hal yang tidak bisa aku capai selama aku hidup. Katakanlah pada sosok yang akan memegang pedang itu bahwa ia harus mengalahkan monster itu suatu saat nanti" ucapnya lagi lalu sosok itu hendak kembali untuk beristirahat dengan tenang.


Namun Archie mengehentikan keinginan dari sosok itu, ia menahan sosok itu dengan puluhan pertanyaan yang siap ia lontarkan satu persatu ke sosok itu. Salah satu yang sering mengganggunya itu adalah monster yang sering dikatakan oleh sosok itu.


"Oh jadi kau ingin tahu monster itu?" Ucap sosok itu lalu ia duduk di atas peti matinya sendiri.


"Monster itu adalah sebuah tumpukan kutukan dan kebencian yang diciptakan sendiri oleh bangsa Elf tanpa mereka sadari, di saat kaum Elf saling berperang dengan kaumnya sendiri, terciptalah monster itu. Monster itu disebut dengan Lo-Kag"


"Lo-Kag? Maksudmu makhluk raksasa dengan wajah buruk itu?" Tanya Archie penuh keheranan.


"Ya seperti itulah gambarannya, tetapi bagaimana kau bisa tahu hal ini?"


"Aku sudah membunuhnya" jawab Archie singkat dan tanpa ekspresi seolah Lo-Kag yang dimaksud itu tidak ada apa-apanya sama sekali bagi Archie.


Sosok itu kembali terkejut setengah mati karena ucapan Archie. Ia kembali menanyakan hal yang sama pada Archie dan Archie kembali menjawabnya dengan jawaban yang sama pula dengan wajahnya yang masih saja terlihat tidak begitu peduli dengan hal tersebut.


"Aku membunuh Lo-Kag itu ketika makhluk itu menyerang dan menghancurkan kota Nilfelin, saat itu aku dan para pejuang tangguh dari bangsa elf berjuang mati-matian untuk mengalahkannya!" Jelas Archie.


"Tidak kusangka, Lo-Kag yang sedemikian kuat itu bisa kau kalahkan! Aku dengan kekuatanku saja waktu itu hanya bisa menyegelnya dan akupun perlu pengorbanan untuk melakukan penyegelan itu"


Sosok itu menatap Archie dengan nanar, ia merasa seolah melihat sesosok monster mengerikan dari pribadi Archie itu.


Merasa ditatap aneh oleh sosok roh itu, Archie pun sedikit kesal. "Kau tidak percaya dengan hal itu kah? Aku masih punya kepala Lo-Kag itu jika kau tidak percaya dengan ucapan ku tadi"


"Tidak-tidak, aku hanya terkejut saja karena Lo-Kag sudah mati. Jadi semua kekuatanku itu sudah tidak berarti lagi bagimu dan calon pemegang pedang selanjutnya?"


"Bukan seperti itu dasar jiwa yang kosong!" Archie mendengus kesal pada sosok itu. "Kekuatanmu ini masih berguna untuk menegakkan keadilan seperti yang kau maksudkan itu tadi, kau pikir hanya Lo-Kag itu saja kah yang berbahaya"


Mendengar penjelasan Archie itu membuat sosok roh itu sedikit memahami fungsi dari kekuatannya di masa sekarang ini, ia pun mengangguk-angguk setiap Archie menjelaskan suatu hal kepadanya.


"Ah kalau begitu sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak, tanpa memikirkan hal-hal yang telah mengangguku sejak lama"


"Terimakasih anak muda, pertemuanku denganmu ini mungkin sudah menjadi takdir yang tidak bisa dihindarkan, aku berterimakasih juga karena sudah membunuh monster yang belum sempat aku kalahkan itu"


Sosok itu berterima kasih kepada Archie dengan begitu tulus sebelum akhirnya ia kembali ke dalam peti matinya dan beristirahat dengan tenang selamanya.


Archie pun menundukkan kepalanya sambil membuat simbol jari seperti kepala kambing, sambil bergumam tidak jelas setelah melihat sosok itu tadi kembali ke alamnya dengan tenang.


"Ayo Jink sudah saatnya kita kembali, mungkin Diane dan Pangeran tampannya sudah menantikan kehadiran kita"


"Wauf wauf. . .!"