
Wajah Tetua Uungor terlihat begitu masam kali ini, walaupun wajahnya tertutup janggut tebalnya tetapi rasa kesalnya tak bisa ia sembunyikan. Berulangkali ia membuang nafasnya dan menggerutu tak henti henti.
Hal ini terjadi karena setelah salah satu warga desa mengabarkan tentang kejadian di desa, Archie langsung bergegas pergi menuju desa dengan cepat meninggalkan Tetua Uungor dan lainnya di belakang.
Padahal Tetua Uungor ingin Archie mendengarkan arahannya terlebih dahalu sebelum pergi, tetapi Archie menghiraukan saja dan pergi sendiri menuju desa.
"Argh bocah itu!" Tetua Uungor terus menggerutu
"Sudahlah Tetua Uungor tak ada hasilnya Anda menggerutu terus, mungkin dia peduli dengan warga desa dan ingin segera menolong mereka" Kata Curufin
Tetua Uungor masih terlihat kesal walau sudah dijelaskan oleh Curufin. Berulang kali ia mendengus seperti banteng dan mulai mengeluarkan 1000 omelan orang tua.
Venus langsung merinding mendengar omelan Tetua Uungor, ia langsung mendekat kearah Viola lalu memeluknya dengan penuh ketakutan. Sedangkan Curufin dan Runin sudah dari tadi menutup telinga mereka.
"Ternyata dia masih belum berubah, ia selalu mengomel sampai mulutnya berbusa jika ia kesal dengan seseorang" Ucap Runin sambil menoleh ke arah Tetua Uungor.
"Dan penyakitnya itu sering kambuh beberapa bulan ini, apalagi saat ia kenal dengan si rambut putih itu" Balas Curufin.
Cukup lama mereka berjalan akhirnya mereka tiba di desa, jarak desa dari kediaman Runin cukup lumayan jauh walaupun ia adalah kepala desa. Runin sengaja membuat kediamannya di depan pintu masuk desa agar ia bisa melindungi warga desa dari segala ancaman dari luar.
Tetapi kali ini ia melakukan kesalahan, Suku Nightborne menyerang desa Baikal dari arah belakang. Karena letak danau Baikal yang ada di tengah desa itulah yang membuat suku Nightborne bisa menyerang dari arah belakang bukan dari arah depan yang ada kediaman Runin.
Sesampainya mereka di desa, mereka semua dikejutkan dengan suatu kejadian yang menarik. Mereka melihat ada dua pertarungan dari ras yang berbeda. Yang satu ialah seorang manusia dengan rambut putih, dan yang satunya lagi seorang Elf dengan kulit gelap seperti langit malam dengan rambut spiky berwarna biru malam hampir senada dengan badannya.
Dari pertarungan itu terlihat si Elf itu terluka cukup parah di badannya, sedangkan si manusia terlihat tak mengalami luka namun juga dalam kondisi yang tak menguntungkan.
"Cukup sampai disini! Matilah kau manusia Bloody Impact!"
Tiba-tiba Elf itu melompat dengan sangat tinggi sambil mengayunkan kedua kapak miliknya kebawah dan mengarah ke manusia itu. Serangannya itu sangat cepat dan langsung menukik tajam ke arah manusia itu, melihat situasi gawat akan terjadi Runin langsung berteriak agar benturan itu tak terjadi.
"Hentikan!" Runin berteriak sekuat tenaganya supaya situasi gawat itu tak terjadi.
Tetapi nampaknya teriakan Runin tak sampai di telinga orang yang sedang bertarung itu. Si Elf masih terus melakukan serangannya sedangkan si manusia bersiap menyambut serangan dari Elf itu.
Lalu setelah itu terjadi sebuah benturan yang begitu keras, suara benturan dari dua logam kuat itu menggema di udara desa Baikal dan membuat suara yang begitu nyaring seperti suara ledakan bom atom Hiroshima dan Nagasaki.
Pandangan semua orang jadi sedikit berdebu untuk beberapa saat, dan setelah itu mereka semua kembali di kejutkan dengan sesuatu yang membuat mereka sempat lupa bernafas untuk sesaat.
Benturan dahsyat itu dihentikan oleh seorang Elf dengan badan gelap seperti Elf yang menyerang itu namun ia memiliki rambut sedikit panjang dan berombak, warna rambutnya juga lebih berwarna daripada Elf yang satunya itu bisa dibilang ia memiliki warna rambut khas ras Elf pada umumnya yaitu pirang.
Elf itu menghentikan benturan itu dengan hanya menggunakan tangan kosong, ia juga tak terlihat mengalami masalah sama sekali saat menahan serangan itu.
"Apa maksudnya ini Azergim?" Tanya Elf yang ditahan serangannya itu.
"Maafkan aku Rizvtir aku sudah berjanji dengan Yang Mulia Ratu untuk menghentikanmu jika kau bertindak berlebihan" Balas si Elf yang satunya lagi dengan senyuman yang begitu hangat.
Rizvtir akhirnya menurut namun ia masih terus memandangi manusia yang ada dihadapannya itu dengan sangat intens, rasa kesal masih tersimpan di benaknya.
Sedangkan manusia berambut putih itu, begitu terkejut bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa setelah melihat kekuatan dari Azergim.
"Kekuatan apa itu? Mengerikan!" hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
"Archie!" Seorang perempuan berteriak ke arah manusia berambut putih yang masih shock akibat kejadian tadi.
Merasa namanya dipanggil ia pun menoleh ke arah sumber suara itu dan ia melihat seorang perempuan cantik sedang berlari menuju ke arahnya dengan wajah penuh kekhawatiran, diikuti seorang perempuan yang juga berlari dibelakangnya.
"Archie kau baik-baik saja kan?" Tanya perempuan itu, ia masih khawatir kepada manusia berambut putih yang bernama Archie itu.
"Ahha ahha tenang saja aku baik-baik saja" Balas Archie dengan senyuman yang agak dipaksakan.
Benar saja walaupun keadaan Archie terlihat baik - baik saja daripada Rizvtir yang mengalami luka di badannya, sebenarnya Archie juga merasa sedikit khawatir tentang seorang Nightborne Elf yang satunya lagi.
Elf yang bernama Azergim itu sangat kuat dan bahkan mampu menahan serangan maksimal dari Rizvtir dengan hanya menggunakan tangan kosong. Archie tentu sadar Rizvtir juga begitu kuat, ia mampu melukai Rizvtir hanya karena ia beruntung bisa menyerang celahnya walaupun ia menggunakan skill Void Step.
Tangan Archie bergetar hebat melihat Azergim yang ia anggap monster itu. Jika Azergim dan Rizvtir sudah sekuat itu bagaimana ketiga Panglima lainnya itu yang mengganggu pikiran Archie saat ini walaupun sebenarnya ia juga senang mengetahui musuhnya begitu kuat kali ini.
Viola juga mengetahui apa yang di khawatirkan Archie, ia juga merasa kekuatannya berada di bawah Azergim ataupun Rizvtir saat ini. Ia tak bisa membayangkan jika suku Nightborne menyerang kerajaan Narannas mungkin dirinya dan Archie tak bisa banyak membantu.
Azergim menundukkan kepalanya ke arah Archie, ia dengan tulus ingin memohon maaf karena perbuatan Rizvtir terhadap salah satu warga desa tadi.
Rizvtir begitu murka dengan tindakan Azergim yang menundukkan kepalanya ke Archie, ia terus menerus memaki maki Azergim karena telah mempermalukan suku Nightborne atas sikapnya itu.
"Diamlah kau Rizvtir! Atau kau yang aku bunuh" Ucap Azergim sambil memelototi Rizvtir dengan nafsu membunuh yang kuat.
Rizvtir hanya bisa menelan ludahnya sendiri setelah mendengar ucapan Azergim, ia juga menyadari niatan membunuh Azergim yang tak main-main. Rizvtir lalu membuang mukanya dan sudah tak peduli lagi dengan Azergim yang masih menunduk ke arah Archie.
"Urusan maaf-memaafkan itu bukan urusanku, urusanku hanya memberikan pelajaran kepadanya karena telah menindas orang yang lemah jadi angkatlah kepalamu aku tak ingin membahas masalah ini lebih jauh" ucap Archie.
"Terima kasih telah memberi pengertian" Azergim pun lalu bangkit
Saat suasana sudah lebih terkendali, Runin sang kepala desa akhirnya mendekat ke arah Archie. Ia menanyakan perihal masalah yang telah terjadi di desa, Archie pun tak keberatan menjelaskannya.
"Untuk masalah itu sekali lagi aku mohon maaf atas tindakan saudara ku Rizvtir, aku sudah berusaha menghentikannya namun ia tak mendengarkan diriku yang lemah ini" ucap Azergim dengan wajah penuh penyesalan.
Tentu saja Archie meragukan ucapan Azergim itu, ia tak berpikir bahwa Azergim benar-benar lemah seperti yang dikatakan olehnya. Bahkan Archie menduga Azergim lebih kuat daripada Rizvtir namun ia enggan memperlihatkan kekuatan yang sebenarnya.
Setelah kejadian di desa itu mereka semua termasuk dua orang dari suku Nightborne sekarang ini berada di kediaman Runin.
Sesuai tujuan awal mereka datang ke desa Baikal, mereka ingin menjumpai kepala desa Baikal dan ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.
Suasana di kediaman Runin lumayan tegang karena kehadiran dua orang dari suku Nightborne. Mereka semua masih diam tak ada yang membuka suara untuk yang pertama kali, bahkan Archie terus-menerus memandangi Azergim dengan tatapan penuh selidik karena ia merasa Azergim sosok yang mencurigakan.
Sedangkan Venus begitu tertekan dengan keadaan yang ada di kediaman Runin, ia terus menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan sesekali ia merapalkan mantra yang hanya ia mengerti.
"Sampai kapan suasana tegang ini berlangsung?" batin Viola
Setelah lama tak ada suara yang terdengar, suasana hening itu sedikit terpecahkan dengan kehadiran seorang perempuan berumur yang datang membawakan teko yang berisi teh kepada mereka.
"Silahkan dinikmati" Ucap perempuan itu
"Aaah terimakasih istriku, ayo semuanya mari diminum tehnya selagi hangat" Balas Runin.
Masing-masing lalu menuangkan teh ke gelas mereka. Mereka semua masih diam sambil menikmati teh mereka semua, hingga pada akhirnya Azergim yang membuka suaranya terlebih dahalu menandai berhentinya suasana tegang itu.
"Izinkan aku memperkenalkan diri kami sekali lagi, mungkin pemuda berambut putih itu sudah mengetahuinya namun tetap akan ku perkenalkan.
Disebelahku ini adalah saudaraku namanya Rizvtir, ia merupakan salah satu dari lima Panglima suku Nightborne yaitu Panglima Beruang"
Tetua Uungor, Curufin serta Runin langsung menyemburkan teh yang baru saja mereka minum. Mendengar nama lima Panglima disebut tadi langsung membuat mereka terkejut bukan main.
"B-b-benarkah kau adalah salah satu dari lima Panglima yang melegenda itu?" Tanya mereka bertiga bersamaan.
Alis Rizvtir naik satu derajat, ia merasa diragukan oleh mereka bertiga. Rizvtir merasa sedikit kesal karena hal itu, ia bisa saja menyerang mereka bertiga setelah merasa diragukan seperti itu namun keberadaan Azergim membuatnya tak bisa seenaknya bersikap.
"Jaga mulut kalian dasar orang tua! Jika tidak ada orang ini pasti sudah ku jahit mulut kalian itu dasar orang tua yang tak tau tata krama!" kata Rizvtir sambil sesekali melirik ke arah Azergim.
Azergim hanya bisa menggelengkan kepalanya setelah melihat tingkah Rizvtir, ia sekarang mengerti kenapa ia ditugaskan untuk menjaga Rizvtir agar tidak bertindak yang berlebihan.
"Banyak yang terjadi jadi nanti akan ku jelaskan kepada kalian.." hanya itu yang bisa Azergim katakan kepada mereka semua.
Tetua Uungor, Curufin juga Runin tak tahu lagi harus bersikap seperti apa, jika benar orang yang ada di depan mereka saat ini adalah seorang Panglima yang melegenda itu, mereka ingin sekali menggali tanah lalu mengubur diri mereka sendiri saat ini.
"Tolong pahami sikap saudaraku ini, walaupun ia begitu tetapi sebenarnya ia hanya ingin diperhatikan saja. Sekarang izinkan aku memperkenalkan diri.."
Semua orang terlihat tegang kali ini, mereka semua ingin mengantisipasi kejutan apalagi yang akan mereka terima dari ucapan kedua suku Nightborne ini.
"Namaku adalah Azergim. Orang-orang selalu memanggiku Azergim si Panglima Banteng namun aku tidak begitu peduli dengan sebutan itu, aku datang kesini untuk mewakili Yang Mulia Ratu"
"Pang-pang-pang Panglima Banteng?" Tetua Uungor bahkan tak mampu lagi untuk berbicara dengan benar setelah mendengar nama Panglima Banteng ada di hadapannya.
Curufin juga menunjukkan ekspresi yang tak bisa dijelaskan karena itu, ia merasa masalah ini akan semakin rumit jika tak ia hadapi dengan benar.
"Demi Roh Pohon Agung, apakah kiamat untuk negeri Elf sudah dekat?" Runin berucap lalu setelah itu ia tak sadarkan diri.