Cyrus Online

Cyrus Online
Chapter 110: Si Uban Kembali



Di sebuah padang ilalang yang begitu luas, nampak puluhan kawanan serigala berbulu merah sedang berlarian tak beraturan seperti sedang lari dari kenyataan pahit.


Mereka lari dengan sangat cepat hingga saling bertabrakan satu sama yang lainnya, sesaat mereka melihat ke arah belakang mereka lalu mereka kembali lari dengan sekuat tenaga.


Di belakang mereka ada seekor rubah dengan corak api yang menyala terang sedang berjalan santai bersama tuannya, yang mempunyai rambut berwarna putih dan bersenjatakan Katana yang berwarna hitam pekat, siapa lagi kalau bukan Archie si uban.


Alasan kawanan serigala itu lari terbirit-birit karena Archie yang sejak memasuki kawasan itu, dirinya sudah membantai lebih dari seratus serigala. Selain itu, titel yang dimiliki oleh Archie juga menjadi alasan para serigala ketakutan melihat Archie. Bagi mereka Archie itu layaknya malaikat pencabut nyawa yang sedang berjalan ke arah mereka.


Sebenarnya hanya satu alasan mengapa Archie membantai hingga lebih dari 100 serigala di tempat itu. Alasannya adalah ketika dia baru memasuki tempat itu dirinya di serang oleh serigala yang dalam mode berserk, sehingga serigala itu akan menyerang siapa saja yang ada di depannya.


Saat serigala itu menyerang Archie, ia langsung menebas leher serigala itu hingga kepalanya pun lepas dari tempatnya. Salah satu dari serigala tadi hendak lari dari sana namun dia masih kalah cepat reaksinya dengan Archie, sehingga serigala itu juga ikut menjadi korban dari Murasame milik Archie.


Dari situlah terjadi pembantaian kaum serigala berbulu merah, hanya karena kecerobohan salah satu dari mereka, akhirnya mereka semua harus berakhir merasakan dinginnya Murasame.


Archie sebenarnya sudah sangat malas untuk berurusan dengan para serigala-serigala itu, ia hanya menatap malas sisa-sisa kawanan serigala itu dari kejauhan, tanpa ada rasa untuk mengejarnya.


"Huh sudahlah lebih baik aku melihat status ku, sudah lama sekali aku tidak melihat status"


"Perlihatkan status!" Teriak ny lalu muncul beberapa informasi status Archie.


[Status Pemain]


[Name: D. Archie]


[Level: 29]


[Job: Revenge Warrior]


[Titel: 10+]


[Fame: 200]


[Knight Aura: -]


[Dark Aura: Available]


[Status Atribut]


STR: 33


VIT: 18


INT: 85


AGI: 34


Tersenyum ia melihat data-data tersebut, status miliknya semakin mengalami peningkatan semenjak berpetualang di Kerajaan Nilfelin.


Namun jauh di dalam hatinya, ia masih belum puas dengan semua itu. Archie merasa masih terlalu lemah sekarang ini, ia kembali teringat dengan 5 Panglima yang bahkan kekuatannya lebih dari dua kali lipat kekuatan Archie.


Archie kembali melangkahkan kakinya selepas melihat statusnya, saat ini yang ada di kepalanya hanyalah Arcana yang berada di Red Dragon Empire, tempat yang akan ia datangi sekarang.


Archie sudah berjalan 2 hari, dari kota kecil tempat ia bertemu dengan Teong dan Rins kala itu. Ketika ia mengingat mereka berdua, Archie tersenyum . "Bagaimana keadaan mereka sekarang ya?" gumamnya lalu cepat-cepat ia menggelengkan kepalanya.


Setelah berjalan cukup jauh Archie pun memutuskan untuk beristirahat sebentar. Dia duduk bersandar di sebuah pohon besar yang daunnya cukup rindang, sehingga membuat siapa yang dibawahnya akan merasakan sejuk dan nikmat. 


Sambil bersantai, Archie melihat-lihat inventori miliknya. Banyak item-item yang Archie tidak ketahui apa fungsinya, dan ada juga beberapa item yang diperlukan untuk membuat sebuah equipment. 


Archie mengambil 2 buah air mineral dari dalam inventorinya. Di dalam Cyrus Online pun ada sistem yang membuat avatar di dalam game juga bisa merasakan haus jika melakukan perjalanan jauh ataupun kegiatan yang memakan stamina tinggi.


Ia teguklah air mineral itu dan membiarkan rasa segar menyerang tenggorokannya. 


"Huaahhh rasanya segar sekali!" Ucap Archie seperti orang yang sedang minum di tengah gurun sahara. 


Dikala dirinya meminum botol kedua, dia melihat ada sekelompok player yang sedang berburu di tempat itu. Ia cukup tertarik melihat kelompok itu, dengan masih bersandar di pohon yang rindang itu dia memantau kelompok itu dari kejauhan. 


Sekelompok pemain itu sedang berusaha mengalahkan seekor beruang besar dengan cakar besi, namun mereka tidak merasa kesulitan sama sekali. Mereka bahkan seperti menyiksa monster itu terlebih dahulu sebelum membunuhnya.


Mereka semua tertawa cekikikan melihat monster di depan mereka tengah sekarat, mereka sepertinya begitu suka melihat monster itu tersiksa di depan mata mereka.


"Mana kekuatan kau tadi monster jelek?" Salah satu dari mereka mencoba memprovokasi monster itu.


Monster yang sedang disiksa itu hanya bisa memandanginya dengan tatapan mengancam tanpa bisa berbuat apa-apa, instingnya mengatakan ingin membunuh semua yang ada dihadapannya, akan tetapi sekarang ini dia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Wajahmu itu membuatku muak! terima ini" Sebuah tendangan tepat mengenai wajah dari beruang itu dan membuatnya jatuh tersungkur dengan nafas yang sudah terhengal-hengal.


Mereka semua kembali tertawa karena itu tadi, lalu player yang menendang beruang tadi memandangi beruang itu dengan tatapan menghina.


"Boss sebaiknya kita bunuh saja makhluk itu, aku sudah terlalu muak melihatnya"


"Hooh boss sebaiknya kita mencari target lain saja"


Si boss pun mengiyakan ajakan dari teman-temannya itu, namun sebelum itu ia menghunuskan pedang besarnya ke arah beruang tadi. 


"Huhu maaf teman tapi aku harus membunuhmu sekarang" Ucapnya dengan wajah yang tak sedap di pandang.


Ia pun mengangkat tinggi pedangnya dan menebas beruang itu. Ketika ia mengira sudah menghabisi monster beruang itu, ia dikejutkan dengan sebuah pedang katana menahan pedang besar miliknya.


Ia langsung menarik pedangnya dan bergerak menjauh karena kaget dengan hal barusan, kini di hadapannya ada sesosok orang berjubah hitam dengan rambut putih terang sedang tersenyum ke arah mereka semua.


"Siapa kau? Kenapa kau menghalangi ku untuk membunuh monster itu? 


Archie menaikkan alisnya mendengar pertanyaan itu, ia menengok kebelakang dan melihat monster beruang yang tengah terbaring lemas tak berdaya. Muncul sebuah ide cemerlang di kepalanya, ia langsung melemparkan pedangnya dan tepat mengenai beruang itu dan beruntungnya lagi beruang itu langsung mati dan pecah menjadi partikel kecil.


[Anda Naik Level]


[Anda telah membunuh monster tingkat boss]


Archie langsung tertawa mengetahui monster yang ia bunuh tadi adalah monster tingkat boss, dan ia juga tak perlu mengeluarkan tenaga untuk mengalahkannya.


Lain lagi yang dialami oleh kelompok tadi, mereka hanya bisa ternganga melihat buruan mereka telah di rampas oleh orang asing yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Bahkan boss mereka mengeluarkan ekspresi kemarahan yang amat besar, urat-urat di wajahnya bisa terlihat dan wajahnya jadi merah seperti kepanasan.


"Keparat! itu buran kami" si boss berteriak lantang sambil menyerang Archie dengan kekuatan penuh.


Archie menghindari serangan itu dengan bergerak cepat ke belakang, ia mengambil kembali pedangnya dan kembali dalam posisi bersiap.


Si boss kembali melancarkan serangan, sebuah tebasan berat ia berikan dari arah samping kanan. Archie memblokir serangan itu dengan pedangnya namun karena ukuran pedang musuh dan juga kekuatan tebasannya yang begitu kuat, membuat Archie harus termundur beberapa meter dari tempat sebelumnya.


2 orang yang mengikuti si boss itu juga langsung memberikan serangan ke arah Archie, mereka berdua adalah player dengan job Mage dan Monk. Mage memberikan seragan sihir terkuatnya ke Archie namun masih mampu Archie serap dengan menggunakan [Elemental Absorber] dan membuat shock si Mage.


Melihat temannya gagal, player yang memiliki job Monk langsung maju kedepan. Ia melompat tinggi lalu menukik ke arah Archie. Sebuah pukulan keras menghantam pedang Archie, ia begitu terkejut melihat Archie yang masih mampu menangkis skillnya itu. Karena kelengahan itu Archie mampu memanfaatkan hal tersebut dan memberikan sebuah tebasan yang begitu telak mengenai tubuh dari si Monk.


Archie kembali ingin memberikan serangan lanjutan ke arah player Monk namun dengan sigap si boss menghalangi Archie dengan pedang besarnya itu.


"Huh tidak ada pilihan lain" Ucap Archie lalu ia sedikit melemaskan tubuhnya.


"Apa yang sedang dia lakukan?" Salah satu dari mereka sedikit keanehan dengan sikap Archie.


"Void Steps!" Dengan sekejap Archie berada di hadapan si Mage. 


Si Mage terkejut bukan main melihat Archie yang tiba-tiba ada di hadapannya, ia tidak sempat beraksi apa-apa setelah Archie memberikan 6 tebasan beruntun ke arahnya. Seketika juga dirinya berubah menjadi partikel kecil yang melayang di udara.


Setelah membereskan Mage, kali ini Archie kembali fokus dan memikirkan bagaimana dia akan mengalahkan kedua player tersebut. Monk dan Boss mempunyai STR yang cukup tinggi dan itu membuat Archie akan kerepotan, namun Archie memiliki keuntungan di AGI.


Archie langsung melesat ke arah mereka berdua, dengan cepat Archie menendang si boss tetapi si boss berhasil menangkisnya dengan pedang besar itu namun ia juga harus termundur beberapa meter.


Setelah itu Archie melancarkan serangan cepat ke Monk, tebasan Archie begitu cepat namun si Monk juga mampu mengimbanginya. 


"Kita lihat seberapa lama kau mampu bertahan"


Archie kembali mempercepat serangannya, kecepatan serangan Archie bahkan 2 kali lebih cepat dari yang sebelumnya dan semakin membuat musuhnya semakin kewalahan.


Archie berhasil menemukan celah dari musuhnya, ia langsung memberikan tendangan yang ia lanjutkan dengan serangan lutut tepat mengenai bagian bawah wajah musuhnya itu.


Archie tak mau membuang kesempatan yang ada ia langsung melanjutkan serangannya, ia hendak menebas musuhnya yang jatuh tadi namun si boss berhasil menangkap tubuh Archie dan melemparnya menjauhi si Monk itu.


Si boss kembali menyerang Archie yang sedang tersungkur. Ia membebaskan pedangnya ke bawah namun Archie sempat berguling ke arah samping sehingga pedang besar milik si boss hanya mengenai tanah.


Archie dengan cepat bangkit, ia memanfaatkan beratnya pedang besar milik si boss yang membuatnya jadi cukup lambat bangkit. Archie pun menusuk tubuh si boss hingga tembus, setelah itu ia melanjutkan dengan menyayat si boss hingga akhirnya si boss jadi partikel kecil.


Sisa si Monk seorang diri dan dia juga sudah cukup ketakutan karena melihat bossnya dikalahkan oleh Archie dengan mudah.


"Tolong biarkan aku hidup, aku tidak melakukan apa-apa aku hanya ikut-ikutan saja sumpah" si Monk memohon ampun pada Archie.


Archie hanya memandangi wajah musuhnya itu dengan tatapan penuh iba, namun sebenarnya dia hanya berpura-pura merasa iba.


Archie mendekatkan wajahnya ke wajah si Monk itu dengan ekspresi yang masih penuh iba. Si Monk sudah bernafas lega karena merasa Archie akan membiarkan dirinya lolos, namun wajahnya langsung berubah ketika melihat senyuman mengerikan Archie.


Archie menusuk si Monk dan langsung menariknya lagi sehingga membuat Monk merasakan sakit yang luar biasa.


"Bagaimana sakit? Apa kau merasakan sakit? Hooooh suara jeritan itu apa kau benar-benar merasakan sakit?" Archie bertanya kepada si Monk yang sedang menjerit kesakitan.


Archie kembali menusuk dan mencabutnya kembali dengan cepat sehingga damage yang di hasilkan cukup sedikit namun memiliki rasa sakit yang lumayan berasa.


Archie melakukan itu puluhan kali hingga menciptakan alunan simfoni harmonisasi dari jeritan si Monk.


"Tolong ampuni aku apa kau tidak punya rasa kasihan? Ini sungguh menyakitkan!" Sambil menangis ia memohon iba dari Archie.


Archie langsung menarik rambut si Monk itu hingga terangkat. Archie tertawa keras di depan wajah si Monk itu.


"Apa aku peduli dengan itu semua? Bukannya kalian juga melakukan hal seperti yang kulakukan kepada monster tadi? Lalu kenapa kalian tidak mau merasakannya juga?" Ucap Archie dengan ekspresi yang tak beraturan.


Si Monk itu hanya bisa meronta-meronta dan menangis dalam hatinya, ia berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Archie namun dirinya sudah tak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan.


"Haaa aku sudah bosan" setelah berucap seperti itu Archie langsung memenggal kepala si Monk tanpa ekspresi apapun.


Kepala si Monk jatuh ke tanah, namun sebelum menyentuh tanah kepala itu sudah jadi butiran partikel kecil dan lenyap seketika.


"Argh aku buang-buang tenaga saja, baiklah aku lanjutkan saja perjalananku, woy Jinx ayo berangkat"


Archie bersama Jinx kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda tadi, Jinx menatap Archie sambil beberapa barang yang ditinggalkan oleh korban-korban Archie tadi.


Archie pun memuji Jinx dengan mengelus-elus kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Jinx apapun yang terjadi kita harus tetap bersama ya"


"Hauftt" sahut Jinx dengan riang.