
Setelah mereka bertiga mendapatkan 100 potong daging Chicktrice, mereka kembali ke kedai dan menyerahkan daging itu ke pemilik kedai.
Wajah si pemilik kedai langsung terlihat senang melihat ada seratus daging Chicktrice yang di bawa oleh Rins dan Teong. Tentu saja ia merasa senang, karena ia tidak perlu membayar mereka berdua. Pemilik kedai hanya merelakan makanan yang di pesan oleh Archie tadi.
Rins dan Teong juga tak merasa keberatan dengan itu, mereka sudah puas bisa naik level setelah mengalahkan ratusan Chicktrice dan mendapatkan kepercayaan dari si pemilik kedai.
"Bagus ternyata kalian bisa diandalkan. Kapan-kapan aku minta bantuannya lagi ya hahahaha" Si pemilik kedai tertawa terbahak-bahak sambil berjalan ke arah dapur.
Anak si pemilik kedai pun hanya bisa menatap kesal ayahnya yang tak tahu diri itu, ia pun menundukkan kepalanya ke arah Rins dan Teong untuk meminta maaf atas sikap ayahnya itu.
Melihat gadis itu menundukkan badan ke arahnya, Rins pun langsung merasa tak enak dan segera menyuruhnya untuk berhenti melakukan hal itu. Sedangkan Teong hanya menganggukan kepalanya lalu ia berjalan menjauhi Rins dan menuju Archie yang sedang duduk di pojokan sambil bermain dengan Jinx.
Teong langsung duduk di depan Archie dan ia mengeluarkan nafas berat yang sangat panjang. Archie hanya terkekeh melihat ekspresi Teong itu, Archie pun menghentikan aktivitasnya dan mencoba bertanya kepada Teong.
"Argh kami sudah 2 minggu bermain game ini namun kami masih level 9. Berbeda dengan player lainnya yang sudah di level 15 atau 20" Teong memulai keluh kesahnya.
Teong juga menceritakan tentang bagaimana awalnya dia dan Rins memulai petualangannya. Telah banyak kesusahan yang mereka alami, mulai dari di incar PK, di tipu oleh pemain lain dan tidak dipedulikan oleh lainnya.
Archie tidak berkomentar apapun. Ia tahu, saat ini ia harus jadi pendengar saja tanpa harus memberikan masukan ataupun solusi. Yang di butuhkan oleh Teong saat ini hanyalah berkeluh-kesah.
Archie bisa merasakan apa yang di rasakan oleh Teong, ia juga pernah mengalami hal itu dulu sekali.
Di saat Teong sudah selesai berkeluh kesah, Archie pun mengeluarkan sebuah buku kecil yang di tulis Archie di saat mereka berburu Chicktrice tadi.
Archie menyerahkan buku itu ke Teong dan itu membuat Teong sedikit keheranan. Teong menatap buku dan Archie secara bergantian, ia tak tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Archie.
"Ambillah buku ini, cuma ini yang bisa ku berikan kepada kalian berdua" Archie menyerahkan buku itu ke Teong.
[D. Archie Notes]
Sebuah catatan yang ditulis oleh D.Archie...
Teong sedikit ragu mengambil buku itu, namun Archie bersikeras menyerahkan buku itu. Dengan paksa Archie menarik tangan Teong agar ia mengambil catatan kecilnya itu.
"Terimakasih bang" ucap Teong
Archie mengangguk ringan lalu ia berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju pintu keluar, namun sebelum sampai ke pintu keluar ia kembali mendatangi Teong.
Archie mengambil 5 gold dari kantongnya dan ia berikan itu kepada Teong tanpa merasa keberatan sama sekali. Sedangkan Teong semakin tak bisa memahami apa yang barusan terjadi, sampai membuatnya lupa untuk mengeluarkan satu kalimat.
"Bang ini buat apa?" Teong bertanya sebelum Archie keluar dari kedai itu.
"Anggap saja itu buat bayaran daging ayam yang ku makan dengan Jinx, sisanya kalian belikan equipment yang lebih bagus karena mulai dari sekarang kalian adalah muridku. Tetapi aku harus pergi dulu sejenak, dadah"
Archie pun melangkahkan kakinya keluar meninggalkan mereka yang masih agak keheranan. Archie harus kembali melanjutkan perjalanannya ke Red Dragon Empire untuk menyelesaikan misi yang ia bawa, ia merasa telah membuang banyak waktunya di kota itu sehingga ia memutuskan kembali melanjutkan perjalanan.
Sedangkan Teong dan Rins masih terdiam di kedai itu karena tak bisa memproses apa yang sedang terjadi. Belum sempat mereka berdua berterima kasih dengannya, namun mereka sudah ditinggal oleh Archie.
Teong pun kembali melihat buku kecil yang sedang ia pegang itu, itu merupakan satu-satunya barang yang ditinggalkan oleh Archie untuk mereka.
Karena penasaran dengan apa isi buku itu, Teong pun membukanya dan membaca apa yang tertulis disitu.
Teong langsung antusias melihat isi buku itu, ia membolak-balik halaman buku dengan cepat dan dengan perasaan bahagia.
Teong langsung menutup buku itu dan tiba-tiba ia matanya mengeluarkan air mata, ia kembali melihat buku kecil itu dan ia menjadi tertawa sendiri karenanya.
"Makasih bang, suatu saat nanti aku pasti akan membalas semua jasamu ini!" Ucap Teong lalu ia kembali terduduk dengan lemas sambil mengeluarkan nafas berat.
...---... ...---... ...---... ...---..
Di sore hari yang cerah,di saat sinar matahari berwarna keemasan, kicauan suara burung yang mencari makan, suara hiruk pikuk kehidupan kota adalah simfoni terindah yang diciptakan oleh alam.
Sore itu, di tengah-tengah kota terlihat seorang perempuan dengan rambut ungu gelap sedang duduk di dekat air mancur. Perempuan itu nampak tengah menunggu seseorang yang begitu ingin ia temui, karena itu semua bisa dilihat dari pilihan baju yang ia kenakan.
Perempuan itu mengenakan dress berwarna merah, dibalut dengan blazer berwarna putih yang membuat itu jadi sempurna. Dia juga memakai sebuah baret berwarna senada dengan blazernya, semakin indah lah makhluk ciptaan Tuhan yang satu itu.
Sudah lama perempuan itu berada disitu, walaupun begitu orang yang dia tunggu masih belum juga nampak.
Tak ada rasa kekesalan terukir di wajah cantiknya, ia terus tersenyum dan setia menunggu walaupun sudah hampir berjam-jam dia di sana.
Hari sudah semakin sore namun orang yang ia tunggu masih saja belum nampak. Sesekali perempuan itu menatap jam di lengannya, ia mencoba merilekskan tubuhnya yang sudah cukup lelah berada di sana. Ia mendesah panjang sambil menatap langit sore yang sudah berubah jingga.
"Mungkin dia tidak datang hari ini" ucapnya lirih.
Di saat dia hendak pergi dari sana, perempuan itu melihat seorang laki-laki berambut putih sedang berdiri di ujung jalan sedang memandang ke arahnya.
Laki-laki itu perlahan mendekat ke arahnya, perempuan itu seketika menjadi ragu untuk bertemu dengan anak laki-laki itu namun sudah terlambat untuk kembali.
Sekarang ini, anak laki-laki itu sudah berada di hadapan perempuan itu. Ia memandangi perempuan itu dengan sangat intens dan tajam, sehingga membuat perempuan itu hanya bisa menundukkan wajahnya.
"Jadi rupanya Viola di Cyrus Online adalah dirimu? Cocok sekali dengan warna rambut mu Kak Reina" ucap laki-laki itu.
Perempuan bernama Reina itu, melepaskan baretnya dan tergerai lah rambut panjang berwarna ungu. Ia membiarkan angin sore mengibaskan rambutnya itu.
"Kau memang tidak berubah dari dulu, rambut putih itu, tatapan mata itu, pakaian mu yang selalu hitam. Kau memang adik laki-laki ku, Ikhsan" Reina tersenyum manis ke arah Ikhsan, namun Ikhsan hanya membalasnya dengan senyuman pahit.
Ikhsan terkekeh dan menggelengkan kepalanya, ia tidak menduga jika pemain yang ia temui di dalam game adalah kakaknya sendiri, walaupun sebenarnya mereka tak memiliki ikatan darah.
Namun bukanlah itu yang dipikirkan Ikhsan saat ini, ia kembali teringat dengan kenangan pahitnya dulu ketika melihat Reina.
"Pantas saja kau bersikap baik sekali denganku di dalam game, ternyata kau sudah menyadari diriku ya?"
"Tidak bukan begitu San aku hanya...."
Belum selesai Reina berucap, Ikhsan sudah menghentikannya. Ikhsan seakan tak mau peduli dengan apa yang akan diucapkan oleh Reina selanjutnya.
Dengan wajah berat Ikhsan berbalik arah dan menjauhi Reina. Melihat itu Reina langsung menghentikan Ikhsan dengan mengikuti lengannya.
Reina seakan tak mau melepaskan Ikhsan untuk yang kedua kalinya, ia merasa sekarang saatnya lah untuk memperbaiki hubungan itu.
"Lepaskan aku kak Reina, aku sudah ada kehidupan ku sendiri!"
"Tidak aku tidak akan melepaskan dirimu lagi! Kau tahu betapa dalamnya penyesalan diriku ketika melepaskanmu saat itu"
Tingkah mereka berdua itu menjadi perhatian orang-orang di sekitar situ, namun mereka berdua seakan tak memperdulikan orang-orang yang ada disitu.
Ikhsan mengeluarkan nafas panjang lalu ia melepaskan genggaman tangan Reina. Ia menatap Reina dengan tatapan nanar dan sedikit merasa bersalah namun ia tetap bersikeras dengan pendapatnya. "Maafkan aku kak aku harus pergi..."
Ikhsan pun meninggalkan Reina yang masih terdiam di sana tanpa bisa berkata apa-apa dan dengan ekspresi kosong. Reina terduduk lemas dan air matanya tak bisa ia bendung lagi, ia kembali menyesali apa yang pernah ia lakukan kepada anak laki-laki berambut putih itu.
Mungkin bagi anak laki-laki itu, Reina adalah salah satu orang yang tidak termaafkan yang sangat sulit ia terima kembali.
"Maafkan kakakmu yang bodoh ini adik kecil ku. Apakah aku termasuk orang yang tidak termaafkan olehmu?" ucapnya lirih
Reina pun mencoba untuk berdiri walaupun ia masih merasakan lemas. Ia berjalan dengan langkah yang berat meninggalkan tempat itu, hatinya begitu hancur saat ini bahkan ia tak sanggup lagi untuk melangkahkan kakinya.
...---... ...---... ...---... ...---...
Perasaan Ikhsan kali ini benar-benar kacau, ia tidak menduga akan melihat orang yang sangat tidak ingin ia temui. Sampai di kostan saja, ia masih merasakan sesak dan ia hanya bisa termenung di dalam kamarnya yang gelap.
Ikhsan membiarkan dirinya di guyur bulir-bulir air yang menyejukkan itu. Sedikit rasa sejuk menyelimuti hatinya, namun tetap saja ia tak bisa melupakan kejadian tadi sore.
Ikhsan pun semakin larut dalam pikirannya, ia berteriak sekuat tenaganya di dalam situ karena menurutnya hal itu bisa mengurangi rasa kesalnya.
Setelah itu Ikhsan kembali ke kamarnya dan ia mulai bersiap-siap. Ikhsan memakai setelan jas berwarna hitam yang ia beli bersama dengan Rossa kala itu, ia pun mencoba melihat dirinya yang mengenakan pakaian formal itu.
"Aku rasa aku tidak cocok jadi seorang CEO ataupun Presdir suatu perusahaan" komentarnya ketika bercermin.
"Siapa bilang begitu? Kau terlihat cocok dengan jas itu" suara seorang perempuan mengejutkan Ikhsan yang lagi asik bercermin.
Ikhsan begitu kaget dengan keberadaan Rossa disitu, untung saja Ikhsan sudah mengenakan semua pakaiannya dan hanya Jas itu saja yang belum.
Tentu saja keberadaan Rossa disitu membuat Ikhsan melompat kaget. Bahkan Ikhsan sempat membuat suara yang 'laki' banget karena hal tersebut.
"Sudah siap berangkat tuan CEO? Hihihi" goda Rossa.
Ikhsan pun hanya bisa tertawa, ia pun kini menyalakan motor gado-gado miliknya yang siap menerobos apa saja yang ada di hadapannya.
Setelah beberapa menit mengarungi jalanan kota dan menerima damage dari angin malam, akhirnya mereka berdua sampai di Hotel Junjung Buih yang menjadi tempat dilaksanakannya acara malam tahun baru itu.
Ikhsan langsung saja memarkirkan motor gado-gado miliknya, dengan santainya ia memarkirkan motornya itu di samping sebuah mobil mewah yang tak tahu milik siapa.
Sebelum memasuki hotel itu, Ikhsan sekali lagi mendongak ke atas untuk melihat betapa tinggi dan megahnya hotel itu. Hotel yang bertaraf internasional itu memang hanya dikhususkan untuk orang-orang kaum burjuis sahaja, sehingga Ikhsan merasa jika ia menyentuhkan kakinya ke lantai hotel itu, ia merasa menjadi kaum burjuis juga dan mungkin besok-besok takdirnya berubah.
Ikhsan pun dengan perlahan melangkahkan kakinya ke dalam hotel itu, tingkahnya itu membuat Rossa tertawa sendiri melihat temannya yang terlalu udik tersebut. Sedangkan ada beberapa tamu juga yang menghina Ikhsan dengan gimmick yang tidak senang.
Namun Ikhsan menghiraukan semua itu, ia berjalan menuju penjaga tamu untuk menuliskan nama dan menunjukkan undangan miliknya.
Penjaga tamu itu langsung kaget saat melihat undangan milik Ikhsan itu, itu merupakan undangan khusus yang di keluarkan oleh Lei Huang selaku pemilik acara hari ini. Tentu saja Ikhsan tak mengetahui hal itu, ia kembali masa bodo dan menuliskan namanya di buku tamu.
Yang jadi pertanyaan Ikhsan adalah mengapa banyak sekali nama-nama aneh yang tertulis disitu.
Ada yang namanya Rain, InYourDreams, EmptyStreet dan lainnya. Mana ada orang tua yang menamai anaknya dengan nama seperti itu, begitulah yang ada di benak Ikhsan.
Namun Ikhsan tetap menuliskan nama aslinya disitu dan penjaga itu memberikan sebuah name tag untuknya, dengan tulisan namanya yang begitu besar sampai semut pun bisa melihat itu.
Setelah menulis nama dan mengambil name tag, Rossa pun langsung menarik lengan Ikhsan untuk mengajaknya pergi ke tempat acara itu.
Ternyata acara itu sudah di mulai, ada beberapa player yang di ajak naik ke atas panggung dan diberikan sebuah kehormatan oleh para eksekutif ESSET Corp.
Tidak ada yang dikenali oleh Ikhsan barang seorangpun, walaupun di depannya ada seorang pria bertubuh kurus kering dan berkepala plontos ia tetap tak mengenalinya walaupun sebenarnya itu agak familiar.
"Ayok San kita ke tempat ayah" Rossa kembali menarik Ikhsan dan Ikhsan hanya bisa pasrah dibawa kemana saja oleh Rossa.
Ketika melihat Ikhsan, Ayahnya Rossa langsung bahagia. Ia memeluk Ikhsan dengan hangat dan mengelus-elus rambut putihnya seperti yang sering ia lakukan ke anaknya.
Memang ayahnya Rossa sudah menganggap Ikhsan itu seperti anaknya sendiri, ia begitu suka dengan etos kerjanya Ikhsan sewaktu bekerja di perusahaannya dulu. Ia juga berharap jika suatu saat nanti Ikhsan menjadi pasangan anak perempuannya itu dan ia akan memberikan perusahaannya itu ke Ikhsan.
"Sudah lama sekali bapak tak lihat kamu san, kamu sehat-sehat saja kan nak?"
"Hahaha iya om aku sehat-sehat saja" jawab Ikhsan singkat
Ayahnya Rossa mulai menyenggol-nyenggol anaknya itu. Ia memberikan kode untuk mengajak Ikhsan senang-senang malam itu dan mungkin itu bisa membuat momentum untuk mendapatkan hatinya Ikhsan.
Rossa pun mengajak Ikhsan untuk berkeliling mencari hidangan yang enak untuk di makan, mereka pun sampai di meja yang penuh dengan kue-kue berwarna menarik dan mencolok.
Rossa pun begitu antusias melihat banyaknya kue-kue nan manis itu, ia hampir saja kehilangan dirinya jika Ikhsan tidak mengingatkan dirinya. Ikhsan tahu, status dari Rossa akan menjadi buruk jika dirinya kelepasan begitu saja karena melihat kue manis. Dan juga berjalan bersama Ikhsan saja sudah membuat status itu agak dipertanyakan oleh orang-orang banyak, bisa dilihat dari banyaknya orang yang menatap Ikhsan dengan tatapan membenci dan najis.
Ikhsan tentu saja menghiraukan itu semua, ia mengambilkan sepotong kue berwarna-warni untuk Rossa. Tanpa ragu Ikhsan menyuapi Rossa, sehingga membuat pipi Rossa menjadi merah tomat.
Rossa menjadi sangat kesal dengan Ikhsan yang tanpa aba-aba memberikan suapan itu, namun disisi lain ia juga ingin kembali diberikan suapan lagi oleh Ikhsan. Karena merasa bingung, akhirnya Rossa hanya mampu memukul-mukul badan Ikhsan dengan gemas.
Acara pemberian kehormatan itu berakhir, setelah itu sosok pria paruh baya dengan badan yang kurus kering maju ke atas panggung dengan membawa mic khususnya.
Semua orang langsung diam dan tidak ada yang melanjutkan aktivitasnya ketika melihat orang itu naik ke atas panggung, yap pria paruh baya itu ialah pemilik ESSET Corp sekaligus pencipta game Calcalas dan Cyrus Online, Lei Huang.
"Terimakasih untuk semua undangan yang datang, kami sebagai pihak pengembang game sangat berterimakasih kepada kalian semua para pemain"
"Potensi pemain Indonesia juga tidak kalah dari para pemain dari negara lain. Kalian lihat di depan kalian ada Guild Seventeen Stars yang sudah menjadi guild First-Class pertama di Indonesia. Ada Pandawa Lima yang perlahan-lahan naik dan juga Team O2 yang juga sedang berkembang... Itu adalah bukti pemain Indonesia juga bisa bersaing"
Lei Huang berhenti sejenak dan ia melihat wajah para audience, hampir semua audience sudah merasa bosan dengan acara yang begitu-begitu saja sehingga Lei Huang pun menghentikan pidato panjangnya dan memberikan acara yang mereka semua tunggu-tunggu.
"Baiklah tanpa berlama-lama lagi marilah kita sambut bintang tamu kita, Momo-chan!"
Para undangan langsung berteriak histeris mendengar nama Momo-chan berkumandang di ruangan nan besar itu, apalagi setelah itu Momo-chan muncul dengan outfit gaya putri di dalam cerita dongeng.
"Semuanya selamat malam! Mari bernyanyi bersama-sama malam ini!" Ucap Momo-chan dengan suara imutnya.
Tentu saja mendengar suara imut seperti itu pastinya membuat para lelaki akan tergugah dan antusias, bahkan untuk pria kurus kering berambut botak. Dan itu membuat para perempuan yang hadir di sana menjadi merasa kesal dengan sikap para lelaki walaupun sebenarnya mereka juga tak bisa membantah keimutan dan kecantikan Momo-chan malam itu.
Momo-chan pun langsung menyanyikan lagu andalannya My Little Star sehingga membuat tempat itu sangat meriah karena teriakkan para lelaki. Momo-chan sesekali melirik ke segala arah untuk mencari seseorang yang sangat ingin ia temui dan matanya tertuju dengan seorang laki-laki berambut putih yang melihatnya dengan wajah shock, Momo-chan yakin itulah orangnya.
Ikhsan hanya bisa ternganga melihat betapa antusiasnya para lelaki ketika Momo-chan muncul, namun ia lebih kaget lagi karena ia kembali bertemu dengan Momo-chan.
Melihat ekspresi Ikhsan itu, Rossa jadi kesal dengannya. Rossa pun dengan sengaja menginjak kaki Ikhsan dan memanyunkan bibirnya.
"Ternyata semua lelaki itu sama saja" Ucap Rossa mendengus kesal.
...---... ...---... ...---... ...---... ...---...
Arizona.... White Dragon Empire
Arizona adalah salah satu lembah dari sekian banyak lembah di kawasan White Dragon Empire.
Di tempat itu terlihat ada beberapa pemain yang sedang bertarung dengan pemain lainnya, namun pertarungan itu nampak tidak seimbang karena salah satu dari mereka begitu mudah mengalahkan pemain lainnya.
Karena ulah beberapa pemain itu, lembah Arizona menjadi tempat kuburan pedang karena banyak sekali pedang yang berserakan di tempat itu.
Beberapa pemain terlihat mengais-ngais seperti mencari sesuatu di antara tumpukan pedang itu.
"Hei ketua! Apakah ada diantara ratusan pedang disini yang merupakan pedang kau cari?" Ucap seorang pemain yang sedang mengais-ngais di tumpukan pedang.
"Ya ketua! Sepertinya kita sudah begitu banyak mengalahkan pendekar pedang namun kita tak pernah menemukan pedang yang kau cari itu, aku jadi meragukan keberadaan pedang itu" ucap pemain lainnya
Si bos yang mereka ajak bicara tadi baru saja mengalahkan seorang pemain dengan sangat mudah, cukup satu tebasan saja pemain itu sudah menjadi pecahan partikel dan menjatuhkan pedang yang ia gunakan.
Sang bos itu menendang pedang milik pemain yang barusan ia kalahkan tadi karena merasa pedang itu bukanlah yang ia cari.
Si bos berbalik ke arah kedua temannya itu dan ia tersenyum manis. Ia kembali menarik pedang miliknya dan kilauan cahaya langsung tercipta karena itu.
"Aku yakin pedang itu ada. Masamune ini tidak pernah berbohong dengan ku dan ia mengatakan pedang itu sudah sangat dekat. Ayo kita pergi dari sini teman-teman" ucapnya.
Mereka bertiga akhirnya pergi meninggalkan tempat itu, membiarkan semua pedang itu tetap di sana.
To be continued......