Cyrus Online

Cyrus Online
Chapter 90



Malam itu Ikhsan tak bisa tidur dengan nyenyak, kelopak matanya kini menghitam, wajahnya juga terlihat sangat lesu.


Dia bangkit dari tempat tidurnya dengan rasa malas yang masih menempel di punggungnya, kakinya melangkah malas ke arah dapur.


Berkaca dia di depan cermin setelah membasuh wajahnya, pikirannya jauh melayang melintasi cakrawala. Satu kata yang bisa mewakili perasaannya saat ini, gelisah.


Beberapa waktu belakangan ini ia selalu dikejutkan dengan karakter-karakter yang mempunyai level di atas miliknya. Ikhsan sudah menyadari akan hal tersebut, dia termasuk di kalangan player generasi kedua karena ia bermain Cyrus Online saat game itu sudah berjalan selama 3 bulan.


Kesenjangan level, perbedaan kualitas equipment, keterbatasan informasi, adalah masalah yang dialami oleh player generasi kedua termasuk Ikhsan.


Walaupun sebenarnya Ikhsan memiliki equipment dan job yang tidak bisa dimiliki oleh setiap player, namun tetap saja Ikhsan tidak memiliki banyak informasi berharga di dalam game. Misal seperti pemain yang sedang naik daun, tempat leveling atau bahkan letak harta karun.


Ikhsan menarik nafas panjang, dengan pikiran yang masih melayang ia lebih memilih untuk pergi keluar dan bersantai sejenak sambil menikmati indahnya pagi hari.


Dengan mengenakan jaket sweater berwana hitam gelap ia berjalan-jalan santai di pinggiran kota.


Berbagai peristiwa mulai memenuhi bola matanya. Orang-orang yang sedang terburu-buru pergi ke kantor, anak-anak yang pergi dengan riang menuju sekolah mereka, sekelompok orang yang sedang bersepeda.


Sudah lama matanya tak melihat pemandangan biasa seperti itu, kadang pemandangan seperti itu selalu terlewat saja olehnya. Ada rasa ketenangan setelah ia kembali melihat pemandangan biasa itu.


Lama dia berjalan, Ikhsan kini berhenti di sebuah taman. Ikhsan mengambil sebotol air mineral lalu duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap air mancur.


Pikiran kembali melayang meninggalkan raga ia miliki. Sekilas ada beberapa potongan kilasan balik tentang hidupnya selama ini, saat ia mengingatnya, terlihat senyum pahit menghiasi wajahnya.


"Tahun baru lagi kah? Aku merasa tidak ada yang berubah dari ku semenjak aku pergi dari sana..... Bagaimana keadaan mereka berdua ya?" Ucapnya.


........


Ikhsan kembali saat matahari hampir naik, ia memandangi sejenak rumah kecil itu. Sudah bertahun-tahun lamanya dia tinggal di rumah kecil itu semenjak ia memutuskan pergi dari rumah orangtuanya, ia hanya bisa tersenyum pahit saat mengingat kejadian itu.


"Eh nak Ikhsan kenapa berdiri disitu saja?"


Ikhsan dikejutkan oleh suara wanita tua pemilik rumah kecil itu. Wanita tua itu nampak kebingungan dengan Ikhsan yang mematung di depan pintu rumahnya sambil tersenyum pahit.


"Ah tidak apa Bu Joko, saya hanya mengingat kali pertama saya disini" ucap Ikhsan.


Wanita tua yang bernama Bu Joko itu tersenyum mendengar jawaban Ikhsan. Sudah lama ia kenal pemuda itu, pemuda yang ia kenal sopan, ramah, baik dan juga sangat misterius.


Ikhsan jarang sekali bercengkrama dengan para penghuni kost yang lain, ia selalu pergi sekolah dan bekerja setiap harinya tanpa lelah. Tetapi ia sangat ramah dan sopan dengan penghuni yang lain serta Bu Joko.


"Apa nak Ikhsan sudah tidak betah tinggal disini?" Tanya Bu Joko.


Ikhsan tertawa kecil. "Tidak Bu Joko, Ikhsan masih betah kok tinggal disini, selama Ikhsan masih punya sedikit duit"


"Bisa aja kamu nak" Bu Joko menepuk pundak Ikhsan sambil tertawa.


Ikhsan juga ikut tertawa karenanya, tetapi sesaat kemudian wajahnya kembali terlihat serius.


"Tetapi Bu, Ikhsan juga pasti akan meninggalkan tempat ini suatu hari nanti, entah dalam waktu dekat ataupun masih lama"


Bu Joko kembali menepuk pundak Ikhsan. "Ya gapapa kalo begitu, lebih bagus kalau nak Ikhsan punya rumah sendiri dari hasil jerih payah nak Ikhsan. Ibu selalu doa'kan nak Ikhsan agar dapat menemukan kebahagiaannya"


"Ibu juga doain agar nak Ikhsan cepat dapat jodohnya, ya kan enak kalau ada yang ngurusin nak Ikhsan" ucap Bu Joko sambil tertawa cekikikan.


Ikhsan tak tahu lagi harus bagaimana, ia hanya bisa menggaruk-garuk rambutnya sambil tersenyum canggung.


..........


Warna putih langsung memenuhi layar milik Archie saat ia kembali masuk kedalam game. Beberapa saat setelah warna putih itu, kini terlihat samar-samar ornamen-ornamen khas katedral.


Bola matanya terus berputar melihat setiap tempat yang ada, matanya kini tertuju ke seseorang yang sedangĀ  memeluk kakinya.


Seorang perempuan cantik dengan rambut ungu gelap sedang memeluk kakinya. Archie langsung tersenyum melihat perempuan itu baik-baik saja, ia mencoba membelai rambut perempuan itu namun niat itu ia urungkan saat perempuan itu membuka matanya.


"Archie kau sudah kembali? Syukurlah" ucap perempuan itu.


"Apa yang terjadi saat aku tiada Viola?"


Viola memberitahukan ke Archie tentang apa yang terjadi saat Archie tidak ada di sana. Archie hanya angguk-angguk mendengarkan semua cerita Viola.


"Lalu bagaimana dengan orang bertopeng itu? Apa dia masih disini?"


Dengan perasaan berat Viola memberitahukan kepada Archie bahwa orang yang dimaksudkan oleh Archie sudah kembali ke Pulau Kadap dan membawa jasad Azergim.


Archie merasakan kesal memenuhi dirinya, ia begitu kesal dengan dirinya yang begitu lemah sampai-sampai ia ingin memuntahkan kekesalannya itu.


"Perlihatkan status!" Ucapnya keras.


Lalu beberapa informasi mengenai dirinya langsung terpampang di layarnya.


[Name: D. Archie]


[Level: 23]


[Job: Revenge Warrior]


[Titel: 10+]


[Fame: 200]


[Knight Aura: -]


[Dark Aura: Available]


"Apaan itu Dark Aura? Seingat ku tidak ada status seperti itu" Archie langsung kaget melihat status miliknya sendiri.


Viola nampak kebingungan dengan Archie, ia melihat Archie seperti orang yang baru melihat setan.


"Sepertinya akan banyak kejutan yang akan terjadi" Ucap Archie.