
Burung saling menyahut, orang saling menyapa, mesin saling menderu. Begitulah suasana pagi hari itu.
Di pagi yang indah itu bangunlah seorang putri yang baru terbangun dari mimpi indahnya. Matanya masih sayup-sayup saat melihat cahaya yang telah menerangi kamarnya tanpa permisi.
Entah berapa lama ia berada dalam mimpi indah itu, ia merasa seperti baru kemarin.
Setelah berhasil mengumpulkan nyawanya, sang putri itu lalu keluar kamar dan segera membersihkan dirinya.
Setelah membersihkan dirinya penampilannya begitu beda seperti saat baru pertama bangun.
Rambut hitam sedikit keunguan yang awalnya berantakan, kini menjadi lurus bak jalan bebas hambatan. Wajah cantiknya yang awalnya sedikit marut, kini berubah seperti tampilan seorang bidadari iklan sabun mandi. Pakaian yang awalnya terlihat lusuh, kini seperti pas menempel di tubuh aduhainya layaknya sebuah benda yang diolesi lem korea.
Setelah membersihkan diri, si bidadari itu langsung saja menyiapkan sarapan pagi. Ia membuat 2 buah sandwich telur yang aromanya begitu menggoda pagi itu.
Saking menggodanya aroma telur dan steak yang terpanaskan di wajan, sampai-sampai membuat seseorang terbangun dari mimpi.
"Hmmm masakan kakak semakin hari semakin enak! Apakah kakakku tersayang ingin segera melepaskan masa lajangnya? Hihihi" tanya seseorang yang baru terbangun itu.
Sang koki yang diajak ngobrol tadi hanya tersenyum saja, ia tetap fokus ke masakannya dan sekarang ini ia mulai menyeduh teh hitam untuk menemani sandwich itu.
Selang 15 menit berlalu, hidangan itu siap disajikan. Sang koki lalu menaruhnya di atas meja makan dan membiarkan sang adik untuk lebih dulu menyantap sandwich tersebut.
Setelah membereskan sisa pekerjaannya, sang koki itu lalu ikut duduk bersama si adik dan mulai menyantap sandwich sambil ditemani dengan musik slow rock yang begitu syahdu.
Lagu slow rock itu menggema di seluruh ruangan, lagu itu mengisahkan tentang seorang pria yang begitu mencintai seseorang wanita sampai rela melakukan apa saja demi si wanita tersebut. Namun si pria itu harus terluka karena sikapnya terhadap si wanita tersebut, hingga akhirnya terciptalah sebuah lagu mahakarya itu.
Lagu itu seakan membuat para pendengarnya bisa merasakan apa yang dialami oleh si pria tersebut, lagu berjudul Always yang dinyanyikan oleh seorang pria berambut panjang asal New Jersey yang memang spesialis lagu lagu romantis.
"Aku bingung, makanan ini terlalu enak seperti ada kode jika kakak telah mendapatkan sebuah pujaan hati. Namun disisi lain, lagu ini adalah lagu kesedihan seseorang terhadap yang ia cintai. Jadi sebenarnya bagaimana sih perasaan kakak?" Tanya si adik yang begitu bingung dengan kakaknya itu.
Si kakak menatap dalam-dalam mata adiknya yang begitu ia sayangi itu, lalu dengan tersenyum manis ia memberikan apa yang ada di pikirannya kala itu.
"Sebenarnya kau ada benarnya. Sandwich ini adalah representasi terhadap kebahagiaan ku karena telah bertemu dengan orang yang telah ku sayangi selama ini. Namun disisi lain juga, lagu ini adalah representasi kesedihanku karena sudah membuat orang yang begitu aku sayangi itu pergi dari ku dan aku tidak bisa menghalaunya"
"Aku masih tidak mengerti kak! Aku rasa semenjak kau SMP hingga lulus SMA kau sama sekali tidak pernah memiliki seorang pacar ataupun laki-laki yang mendekatimu. Semua laki-laki pasti akan kau babat habis jika berani macam-macam denganmu! Tetapi kenapa kau mengatakan kau pernah memiliki orang yang kau sayang?"
Si kakak lalu membuang nafasnya dalam-dalam, lalu selepas itu ia kembali menjawab pertanyaan adiknya itu.
"7 tahun lalu, ia ada disini! Ia sering bermain dengan kita berdua hingga lupa waktu. Lalu beberapa tahun setelahnya ia meninggalkan tempat ini karena ia kembali kesepian dan akhirnya ia harus menempuh hidupnya seorang diri"
Si adik sedikit tersentak mendengar jawaban kakaknya itu. Ia hampir tidak mempercayainya, jika saja yang berbicara itu bukan kakaknya pasti ia telah dengan keras mengucapkan omong kosong tepat di hadapan wajah si pembual itu.
"Maksud kakak si kecil? Di mana kakak bertemu dengan si kecil? Aku hampir melupakannya"
"Kau tidak tahu? Kita berdua bertemu dengannya di dungeon kala itu. Bahkan kau malah bersandar dengan nyaman di bahunya!"
Si adik sedikit mengingat-ingat apa yang barusan terjadi kala itu. Lalu ia melompat karena terkejut bukan main setelah mendapatkan ingatannya kembali.
"Maksud kakak si rambut putih itu? Jangan bilang itu dia, please tolonglah bukan dia kan?"
"Mohon maafkan aku adikku aku tidak bisa menyembunyikan fakta yang begitu jelas! Si rambut putih itu ialah si kecil itu! Aku bisa menjamin hal itu" ucap si kakak
Si adik tidak bisa lagi berkata-kata, ia hanya mampu diam, senyap, sunyi sambil memakan sandwich miliknya. Ia merasa begitu malu saat ini, hingga ia ingin segera menenggelamkan wajahnya di wastafel.
Sedangkan si kakak masih belum sama sekali menyentuh sandwich miliknya, ia termenung dan sesekali matanya melirik jauh ke arah jendela. Ia memikirkan dimana sekarang si kecil itu berada, ia sangat ingin bertemu dengan dirinya kembali.
*****
Sedangkan itu disebuah tempat yang begitu gelap gulita, seorang pemuda baru saja terbangun karena mendengar beberapa kali bunyi bel pintu berbunyi.
Ia segera keluar dan melihat siapa yang datang ke rumahnya. Ia terkejut ketika melihat orang yang tidak ia kenali sedang berada di depan rumahnya kali ini, bermodal nekat ia membukakan pintu dan menemui orang itu.
"Permisi apakah benar ini rumah Ikhsan alias D. Archie?"
Ikhsan tentu kaget mengetahui si orang itu jadi tahu alamat rumahnya. Ia ingat sekali bahwa semasa hidupnya ini ia tidak pernah meminjam uang ke rentenir, bank, hingga pak lurah. Namun kali ini seorang berpenampilan seperti seorang CEO tengah berada dihadapannya saat ini.
Belum sempat Ikhsan menanyakan hal tersebut, orang itu langsung pergi dari sana dan menghilang entah kemana.
"Hmmm acara malam tahun baru ESSET Corp. Tapi mengapa aku diundang ya?" Ikhsan kebingungan dengan peristiwa itu, namun ia masa bodoh dan kembali ke dalam rumah untuk bersiap-siap pergi ke tempat perkumpulan yang telah ia rencanakan dengan teman-temannya.
>>>>>
Sekarang ini, Ikhsan telah siap pergi ke tempat pertemuan itu.
Rambut panjangnya ia sisir seadanya, setelan hitam-hitam menghiasi badannya seperti anak metal, sepatunya tetap ia menggunakan sepatu low tops merk Vans kw yang dijual di pinggir jalan namun baginya sudah lebih dari mewah, setelah semua ready akhirnya Ikhsan meninggalkan rumahnya dan mulai memacu motor kesayangannya yang sudah terkikis oleh zaman sampai nomor platnya saja masih di tahun 2017.
Ia menggeber motornya itu dengan sangat konstan, tidak cepat tidak pula lambat. Jika dalam kecepatan seperti itu dan tingkat kemacetan yang biasa, Ikhsan mampu menghitung semuanya menggunakan fisika dasar dan jawabannya akan mangacu ke berapa menit ia akan sampai ke tempat tujuan.
Setelah sekian menit mamacu motor, akhirnya ia telah sampai ke tempat tujuan dengan selamat sentosa. Ia lalu memarkir motornya di parkiran dan lalu berlari untuk segera masuk ke dalam, ia berpikir bahwa teman-teman sekarang sudah menunggu.
Sangat cepat Ikhsan berlari. Beberapa rintangan ia lalui. Tong sampah yang tergeletak di tanah, tangga jatuh dari langit, pertempuran dua kucing paling kuat sejagat raya yaitu kucing oren, spider wall, spider monkey semua ia lalui cuma ada satu yang tak bisa ia lalui. Yaitu seorang perempuan yang tiba-tiba berada di depannya saat ia sedang dalam kecepatan tinggi. Alhasil Ikhsan menabrak perempuan itu hingga membuat si perempuan itu jatuh dibuat olehnya.
"Maaf-maaf aku sedang buru-buru sekali lagi maaf" ucap Ikhsan ke perempuan itu.
Sekilas Ikhsan memperhatikan perempuan itu. Rambut panjang, baju yang terlihat modis, dan juga dua buah benda berlemak dan bundar di dada perempuan itu tak lupa juga ia lihat. Ia langsung mengenali siapa si perempuan yang ia tabrak tadi.
"Sunny Cloud!"
<<<<<<
Sesosok makhluk indah ciptaan Tuhan baru saja keluar dari kamarnya. Ia begitu kelihatan lelah walaupun hanya berada di kamar selama satu hari penuh, ia bahkan masih tidak ada semangat dalam memulai pagi hari itu.
Dengan sedikit paksaan ia berhasil melawan penyakit kemalasan di dirinya. Setelah bersih-bersih segala macam, ia juga mulai menyiapkan masakan untuk makan pagi.
Ia menyantap nasi goreng buatannya itu seorang diri, lalu ada seseorang yang mendekati meja makan dan langsung mengambil seporsi untuk dirinya. Melihat hal ini tentu saja membuat si empunya nasi goreng marah kepadanya.
"Asal main ambil aja kamu ini, cuci muka dulu sana!"
"Entar lah kak aku dah lapar banget nih! Ngomong-ngomong kakak mau kemana sudah rapi begitu?"
"Aku mau keluar rumah, mau ketemu sama teman!" Ucapnya
Wajah keheranan terlukis di wajah sang adik, ia sangat tahu bahwa si kakak itu selalu menghabiskan waktunya di kamar dan tak pernah keluar rumah.
"Aku beneran mau keluar rumah dan ketemu sama teman-teman. Mereka teman-teman kakak di Cyrus Online dan kami ada janji hari ini masa kamu tak percaya sama kakak sendiri?"
"Baguslah kalau begitu berarti kakak masih normal" ucap si adik dan entah kenapa ucapan si adik ini sedikit membuat si kakak merasa sesak.
Selepas itu, perempuan itu akhirnya pergi dari rumahnya. Ia menuju tempat pertemuan dengan menggunakan transportasi online.
Ia merasakan sensasi aneh ketika kembali ke dunia luar. Polusi, debu, cahaya matahari, cahaya ilahi memapari tubuhnya yang lemah dan rentan itu. Tapi kali ini ia bertekad untuk tetap maju walau ia sudah hampir diambang batas.
Setelah 15 menit berjuang di jalanan yang menurutnya neraka tingkat 10, akhirnya perempuan itu sampai ditempat tujuannya.
Ia memandangi tempat yang ia tuju itu, tulisan berwarna merah bertuliskan "NYAMAN GRILL" seperti menusuk dirinya. Ia ragu untuk melangkah lebih maju dan tetap berada di depan gerbang neraka tingkat 11 itu.
Keheningannya terpecahkan ketika dari arah yang tidak ia duga, ada sebuah objek yang menerjang dirinya dan membuatnya harus terjatuh.
Perempuan itu jatuh tersungkur, berdarah, matanya terbelalak dan suaranya berat. Inilah akhirnya ucapnya.
Namun semua itu hanyalah hayalan darinya. Ia mengira bahwa ia akan mati tertembak sesuatu pagi itu, akan tetapi ternyata ia hanya ditabrak oleh seorang pria yang terlihat buru-buru.
Keadaannya itu terlihat dari rambutnya yang ia sisir acak seperti tak ada semangat hidup. Namun perempuan itu menangkap warna rambut dari pria itu. Warna putih yang begitu ia kenal, warna rambut itu seperti pernah ada di kehidupan pertamanya. Namun ia tak berani berucap barang satu kata saja karena ia merupakan seorang koleris akut.
Sampai pada akhirnya si pria itulah yang pertama kali mengucapkan nama yang begitu familiar bagi dirinya.
"Sunny Cloud!"
Lalu perempuan itu akhirnya berani menjawab kalimat dari si laki-laki itu. "D. Archie!"