Cyrus Online

Cyrus Online
Chapter 138: Iron Fist



"Kau yang terburuk Archie!"


Viand masih saja mengutuk Archie yang mengalahkannya itu, ia mengutuk Archie dikarenakan ulah Archie yang menyerap semua serangan sihir api milik Viand.


Karena ulah Archie itu Viand pun merasa frustasi dan turun mental, sebagai seorang penyihir Viand begitu menjunjung tinggi harga dirinya, namun setelah serangannya yang tak mempan terhadap Archie membuat harga dirinya runtuh.


Tentu saja ulah Archie itu terlihat seperti penghinaan terhadap para penyihir, dan karena sebab itu juga Viand pun begitu kesal pada Archie dan mengutuk Archie semenjak pertandingan berakhir tadi.


"Bisakah kau hentikan itu? Aku terlihat seperti seorang penjahat wanita sekarang ini!"


"Tidak! Kau memang yang terburuk bahkan lebih buruk daripada penjahat wanita yang sudah menipu ratusan wanita!!"


Archie hanya bisa membuang nafas berat, wajahnya menunjukkan kebingungan tak tau harus berbuat apa lagi. Ia coba melirik ke arah teman-temannya agar mau membantunya, namun mereka semua juga memberikan ekspresi wajah yang tak mau mengikuti masalah Archie itu. Alhasil Archie kembali membuang nafas beratnya.


"Baiklah-baiklah aku minta maaf! Aku akan lakukan apa saja yang kau mau sebagai tanda permintaan maafku" Ucap Archie dengan nada penuh keterpaksaan.


"Benarkah begitu? Atau mungkin kau hanya mau mempermainkan diriku lagi?" Tanya Viand yang sedikit ragu dengan ucapan Archie itu.


"Tidak-tidak, aku tidak akan melakukan itu lagi jadi bilang saja apa yang kau mau"


"Benarkah itu?" Tanya Viand lagi.


"Yap-yap benar!"


"Benar-benar-benar kah?"


"Kalau kau bertanya sekali lagi, aku akan berubah pikiran" Archie mulai kesal dengan Viand.


Viand menatap marah Archie, matanya melotot tajam dan pipinya agak mengembung. Namun Archie tidak peduli dengan ekspresi wajah yang dibuat oleh Viand, sehingga mau tidak mau Viand pun berhenti bertanya.


"Baiklah kalau kau bilang begitu" Viand lalu menyuruh Archie duduk di sebelahnya.


Archie lalu duduk di sebelah Viand sesuai permintaan Viand, namun begitu ia duduk ia dikejutkan dengan Viand yang tiba-tiba mendekatkan tubuhnya dengan Archie, Viand juga menyenderkan bahunya pada bahu Archie yang akhirnya membuat mereka berdua terlihat seperti seorang sepasang kekasih yang sedang memadu kasih.


Viand merasa di atas angin, ia mampu membungkam Archie yang hendak protes dengan dirinya, dan juga ia memberikan senyuman kemenangan pada yang lainnya. Viand menunjukkan bahwa dia selangkah lebih maju daripada mereka semua, termasuk juga dengan kakaknya sendiri yaitu Viola.


Melihat apa yang dilakukan oleh Viand itu membuat Willy, Sunny Cloud, Lynch dan juga Viola mengeluarkan sebuah aura yang menyeramkan. Wajah mereka menjadi gelap dengan sebuah senyuman mengerikan muncul di bibir merona mereka.


Bahkan aura yang ditimbulkan oleh Viola yang terparah, aura mengerikan Viola bercampur dengan aura dingin yang serasa menusuk hingga ketulang, bagaikan hawa dingin di musim salju.


Aura yang ditimbulkan oleh Viola bahkan terasa oleh orang-orang di Koloseum, mereka tiba-tiba saja merasa kedinginan dan seperti ditusuk-tusuk oleh benda tajam di sekujur tubuh mereka.


"Maaf saja kak Viola aku tak akan mengalah dalam hal ini pada dirimu!" Gumam Viand yang melihat ekspresi Viola.


…………


Di tengah arena saat ini, pertandingan antara Marsha dengan Cobalt sedang berlangsung.


Mereka berdua bertarung dengan ekspresi terpaksa dan tidak senang, hal seperti ini tidak pernah mereka harapkan namun keduanya tidak ingin mengalah begitu saja.


Dari awal dimulainya pertandingan jual beli serangan antara Marsha dan Cobalt pun terjadi cukup intens. Marsha yang memiliki job sebagai seorang Monk, mempunyai keunggulan di pertarungan jarak dekat sehingga ia langsung melakukan konfrontasi dalam jarak dekat dengan Cobalt.


Walaupun seorang mempunyai daya serang yang lebih rendah dari seorang Swordman atau Warrior, namun mereka memiliki pertahanan yang tidak bisa diremehkan begitu saja.


Marsha menyerang Cobalt tanpa henti sehingga membuat Cobalt sedikit terpojok dengan serangan bertubi-tubi milik Marsha itu, daya hancur yang dahsyat membuat Cobalt cukup berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk melakukan serangan balik.


"Hei kenapa kau cuma bisa menangkis saja Cobalt? Apa beberapa waktu terakhir ini kau hanya belajar menangkis atau apa ha? Hahahaha" Ucap Marsha sambil memukul Cobalt tanpa henti.


Cobalt tidak bisa membalas perkataan Marsha, ia tetap fokus menahan semua pukulan keras yang dilepaskan oleh Marsha. Setiap Marsha melepaskan pukulannya, Cobalt merasakan sensasi seperti diterpa oleh batu besar yang meremukkan badannya, dan itu begitu membebani Cobalt.


Cobalt pun tidak bisa menahan lagi, ia mengayunkan pedang besar bergerigi tajam miliknya coba untuk menghalau Marsha.


"Keparat!!!" Cobalt berteriak keras dengan tatapan penuh kebencian pada Marsha.


Cobalt langsung maju kedepan sambil mengangkat pedangnya dengan tinggi, melihat hal itu Marsha juga ikut maju dengan senyuman tercetak di wajahnya.


"Warrior Slash!!"


"Teknik Tangan Kosong: Iron Fist!"


Teknik Iron Fist milik Marsha begitu telak mengenai Cobalt, Cobalt pun langsung terlempar jauh dan jatuh membentur dinding arena dengan sangat keras.


Namun walaupun begitu, tebasan Cobalt juga berhasil memberikan luka yang cukup besar pada Marsha, kondisi mereka berdua tak jauh beda walaupun damage yang diter oleh Cobalt lebih banyak daripada yang diterima oleh Marsha.


"Dia masih bisa melukaiku dengan jarak waktu sesempit itu? Benar-benar pemain yang berbahaya!" Marsha bergumam sambil memandang ke tempat Cobalt terhempas tadi.


"Hahaha maaf ya Cobalt aku terpaksa melakukan semua ini karena aku sangat ingin membalaskan apa yang dilakukan oleh rambut putih sialan itu! Aku juga tidak menyangka akan seperti ini"


"Heeeh! Aku tidak peduli dengan masalah yang kau miliki. Aku juga punya urusan yang masih belum terselesaikan dengan orang itu!"


"Kalau begitu tidak ada pilihan lain selain mengalahkan mu disini Cobalt!"


Marsha membuat kuda-kuda menyerang, lalu dengan sangat cepat dirinya melesat ke arah Cobalt yang juga sudah bersiap untuk menyambut kedatangan Marsha.


Marsha dan Cobalt pun saling bertabrakan, Cobalt tidak bergeming karena serangan dari Marsha itu dan itu sedikit membuat Marsha terkejut dan sedikit lengah. Hal itu langsung dimanfaatkan oleh Cobalt, ia memutar tubuhnya dan langsung menebas bagian belakang tubuh Cobalt dengan Warrior Slash dan memberikan damage yang cukup parah untuk Marsha.


Cobalt hendak menusuk Marsha yang masih kesakitan akibat Warrior Slash yang mengenai belakang tubuhnya, akan tetapi sebelum dirinya mampu menusuk Marsha, Marsha langsung bereaksi cepat dengan melakukan gerakan akrobatik dan memberikan sebuah tendangan pada Cobalt yang mana masih bisa ia hindari tendangan itu.


"Hampir saja aku terbunuh olehnya, pokoknya aku yang harus memenangkan pertandingan itu dan aku akan mengalahkan orang yang sudah mempermalukan diriku ini!"


Marsha kembali maju menyerang Cobalt, Cobalt pun kembali menunggu Marsha untuk menyerangnya dan ia akan memberikan sebuah serangan counter yang berbahaya bagi Marsha.


"Kemari kau biar aku tebas dirimu itu!" Ucap Cobalt.


Marsha yang tengah berlari kencang menerjang Cobalt itu semakin mempercepat langkahnya. Begitu Cobalt merasa Marsha sudah berada di jangkauan serangnya, Cobalt pun langsung mengeluarkan Warrior Slash dan menebas Marsha secara vertikal.


Namun Marsha mampu membaca gerakan itu, sebelum dirinya benar-benar masuk dalam jangkauan serangan dari Cobalt, Marsha langsung menghentikan langkahnya yang membuat sebuah kawah cukup dalam akibat rem mendadaknya itu.


"Sial dia tahu aku akan menebasnya?" Cobalt mengumpat kesal melihat Marsha yang mengetahui rencananya itu.


"Woy jangan melamun! Teknik Tangan Kosong: Teknik 12 Pukulan!"


Marsha pun memukul Cobalt dengan pukulan beruntunnya, dan Cobalt harus menahan serangan itu walaupun dirinya kesusahan dengan itu.


Pukulan terakhir Marsha begitu keras dan membuat pertahanan Cobalt runtuh, Marsha melanjutkan rangkaian serangannya. Melihat musuhnya yang sudah runtuh pertahanannya itu, Marsha pun memberikan sebuah tendangan menyapu dan tendangan lurus ke arah perut Cobalt.


Tak cuma sampai disitu, Marsha kembali menyerang Cobalt tanpa henti tanpa bisa dihentikan oleh Cobalt serangan-serangan dari Marsha itu.


"Teknik 12 Pukulan!"


"Teknik Tendangan Berputar!"


"Dan ini yang terakhir. Teknik Tangan Kosong: Iron Fist!!"


Baaaammmm


Iron Fist Marsha begitu telak mengenai wajah Cobalt dan kembali membuat Cobalt terhempas jauh dan membentur dinding arena.


Namun kali ini berbeda dengan yang pertama, kali ini Cobalt tidak bisa bangkit lagi dan Marsha pun dinyatakan sebagai pemenang di pertandingan kali ini.


Marsha berdiri tegak di tengah arena sambil menggenggam erat tangannya, ia mengepal tangannya dan melemparkannya ke angkasa sebagai selebrasi kemenangan dirinya terhadap Cobalt. Tak lupa ia melirik ke arah Archie dan menatap Archie dengan tatapan seperti seorang yang mempunyai dendam tujuh turunan.


"Kali ini aku akan mengalahkanmu dengan tangan ini!" Ucap Marsha dalam hati.


……………


"Kalau begitu aku pergi dulu sebentar lagi giliran ku untuk bertanding"


"Sunny Cloud berhati-hatilah. Aku rasa lawan mu itu begitu misterius dan kemungkinan dia adalah orang yang kuat, jangan terlalu memaksakan dirimu"


Sunny Cloud pun mengangguk pelan karena ia juga merasakan demikian, Sunny Cloud pun kini berjalan menuju ke koridor ruang tunggu.


Di tengah-tengah perjalanannya Sunny Cloud terus menerus mencoba untuk tetap tenang agar tidak terlalu tegang saat bertanding nanti.


Di saat itulah Sunny Cloud melihat sosok orang berjubah hitam yang menghalangi jalannya, sosok itu begitu tertutup oleh jubahnya sehingga Sunny Cloud tidak mengetahui siapa dia sebenarnya.


"Anu maafkan aku tetapi aku harus mempersiapkan diriku jadi jika berkenan bisakah Anda membiarkan diriku lewat" ucap Sunny Cloud penuh hati-hati dengan sosok itu.


Sosok itu tak memperdulikan ucapan Sunny Cloud, dirinya masih saja menghalangi jalan Sunny Cloud yang hendak menuju ke ruang tunggu.


Sunny Cloud pun menjadi takut karena orang itu tak merespon ucapannya atau bahkan menjauhi dirinya, dengan perlahan Sunny Cloud pun mundur menjauhi sosok itu.


Namun sosok itu malah berjalan mendekati Sunny Cloud, semakin takutlah Sunny Cloud dan ia semakin mempercepat langkahnya karena ia merasakan hal yang buruk dari sosok itu.


Saat Sunny Cloud hendak berbalik arah dan berlari menjauh dari sosok itu, Sunny Cloud dikejutkan dengan sebuah tombak yang menembus dadanya. Mata Sunny Cloud terbelalak melihat mata tombak yang menembus dadanya itu, ia menatap sosok itu dengan tatapan penuh tanda tanya dan keterkejutan sebelum akhirnya Sunny Cloud berubah menjadi butiran debu yang melayang.


Sosok itu pun mengambil kembali tombak yang ia gunakan untuk membunuh Sunny Cloud, dan ia melangkah pergi begitu saja seolah tidak ada yang terjadi. Kejadian itu terjadi begitu cepat dan begitu saja.