Cyrus Online

Cyrus Online
Chapter 122: Appleford



Begitu Diane memberitahukan rencana dirinya yang akan datang, ia pun langsung bergerak dengan cepat agar rencananya itu bisa ia jalankan dengan cepat.


Kali ini Diane pergi ke sebuah kota kecil yang berada di sebelah selatan Lembah Ingatan.


Kota Appleford itulah kota yang hendak Diane datangi. Kota itu di jalankan oleh sebuah keluarga bangsawan kelas 3 yang mempunyai sebuah usaha produksi Potion.


Tujuan Diane kesana adalah untuk melakukan kerjasama dengan bangsawan itu untuk mensuplai kebutuhan Potion jika nanti kelompok Diane sudah cukup besar.


Dan juga tentunya untuk membuat suatu koalisi dengan Kota Appleford, karena hal itu juga adalah salah satu tujuan Diane.


Diane pergi ke Appleford ditemani oleh Archie dengan menggunakan kuda milik Diane.


Diane menyuruh T-Bold untuk menjual hasil panen warga Lembah Ingatan serta saus tomat buatan Archie, lalu uang hasil penjualan itu akan di jadikan sebagai kas nantinya dan juga T-Bold mendapat bagian lain yang sudah disepakati oleh mereka.


Sedangkan Caelius disuruh untuk tetap tinggal di kastil untuk mengatur semua pekerjaan administrasi.


"Mengapa bukan aku saja yang tinggal, aku malas sekali bertemu orang-orang penting"


"Sudah kau jangan terlalu banyak protes Archie, apa kau tega membiarkan perempuan secantik diriku ini pergi sendirian ke tempat yang dia tidak ketahui" ucap Diane membalas keluhan Archie tadi.


Mendengar hal tersebut Archie hanya bisa membuat wajah kebingungan sambil menatap wajah Diane, ia hanya bingung karena Diane memproklamirkan dirinya sendiri sebagai perempuan cantik.


Diane pun merespon, ia menendang bokong kuda yang di tunggangi Archie karena kesal. Akibat hal itu kuda milik Archie jadi liar dan tak bisa dikendalikan olehnya.


Archie terus berusaha mengendalikan kuda itu, namun usahanya gagal karena kuda itu tiba-tiba oleng dan menjatuhkan dirinya hingga tersungkur ke tanah.


Diane tertawa terbahak-bahak melihat hal itu, ia pun melenggang dengan santai di hadapan Archie tanpa memperdulikan Archie yang tersungkur itu.


"Bedebah saus tartar, awas kau betina!" Teriak Archie


Diane dan Archie pun sampai ke Appleford setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, belum lagi mereka harus melawan beberapa monster yang tiba-tiba menghalangi jalan mereka berdua.


Dengan job sebagai Templar Knight, Diane bisa memberikan buff-buff yang membuat Archie bisa lebih nyaman saat bertarung. Sebut saja seperti Haste yang bisa membuat kecepatan player meningkat baik itu kecepatan serangan ataupun kecepatan merapal mantra.


Atau buff Bravery yang membuat kondisi moral seorang player meningkat drastis sehingga memunculkan efek double damage ataupun bahkan critical chance meningkat.


Namun kehebatan seorang Templar Knight bukan dari hal-hal buff saja, mereka juga mempunyai daya rusak yang cukup tinggi serta juga mempunyai pertahanan yang cukup kuat walaupun tak sekuat dengan seorang tank murni seperti job Guardian, Shield Warrior, atau bahkan Defender.


Karena hal itulah monster-monster yang menghalangi mereka berdua, dengan mudah dikalahkan oleh Archie yang memang sedari awal sudah cukup kuat dan ditambah oleh buff-buff yang diberikan oleh Diane.


Begitu mereka memasuki kota Appleford, mereka langsung saja menuju tempat kediaman keluarga bangsawan itu.


Saat mereka berjalan baru beberapa langkah, Archie dikejutkan dengan Jinx yang tiba-tiba saja keluar sendiri dari tas inventorinya. Archie sedikit kebingungan namun ia seperti merasakan kalau sebenarnya Jinx sedang memperingatkan dia.


"Kenapa dengan peliharaan mu itu Archie? Mengapa dia terlihat seperti monster Serigala dan kenapa dia seperti hendak menyerang?" Tanya Diane bahkan ia langsung menarik pedangnya karena ia merasakan hal yang tidak enak.


Archie diam saja, ia mencoba berinteraksi dengan Jinx tanpa memperdulikan Diane yang tengah berjaga-jaga kalau serigala itu menyerangnya.


Jinx kembali masuk kedalam tas inventori dan menghilang, lalu Archie memberitahu kepada Diane apa yang di sampaikan oleh Jinx tadi.


"Kita sedang di awasi begitu kata Jinx tadi, coba kau tengok di atas gedung di arah jam 2, serta di tempat orang yang berjualan ikan di depan sana"


"Hah? Apa kau bercanda Archie, kau percaya dengan apa yang hewan peliharaan kau tadi bilang? Memangnya kau ini Dr. Dolitle atau kau ini Nabi Sulaiman yang bisa berbicara dengan hewan?" Diane masih tidak percaya dengan ucapan Archie.


Tanpa menunggu aba-aba dari Diane, Archie pun langsung saja berjalan meninggalkan Diane yang masih saja mengomeli Archie. Bahkan lebih parah ketika Archie meninggalkan dirinya seorang diri.


Beberapa menit mereka berjalan, mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah yang sangat besar, mungkin yang paling besar di kota itu.


Itulah Earl Erasmus Mansion. Sebuah tempat yang seakan-akan menjadi simbol dari kota Appleford karena begitu besarnya tempat itu.


Di samping-samping mansion itu terdapat taman bunga yang begitu indah dan luas, bertambah megah dan elegan lah mansion itu.


"Seberapa banyak uang dari warga sini yang ia keruk untuk membangun tempat ini?" Archie langsung berkomentar pedas, bahkan ia juga sempat meludah di situ.


"Jaga mulut mu Archie, jika kau sampai terdengar kau bisa-bisa di jatuhi hukuman berat! Jadi biasakanlah dirimu untuk kepentingan bersama, aku juga sama seperti kau Archie tapi kita tidak punya banyak pilihan"


Archie mengerti betul dengan situasi yang di sampaikan oleh Diane tadi, tetapi ia tetap saja tidak menyukai hal tersebut karena memang dia membenci hal-hal seperti itu.


Bagi Archie orang yang memperkaya dirinya sendiri dengan menggunakan uang rakyat kecil, itu sama saja seperti sampah!


Archie terus melihat ke sana kemari sedangkan Diane sedang berbicara kepada penjaga yang sedang berjaga di depan pintu mansion.


Archie kembali melihat orang-orang yang mengintai mereka dari tadi, kali ini mereka berada di atas atap mansion namun masih dalam radius yang mereka pikir cukup untuk memantau pergerakan Archie dan Diane tanpa sepengetahuannya, namun mereka salah besar.


Archie adalah orang yang selalu memperhatikan situasi dan kondisi lapangan dengan detail, bahkan ia sempat membandingkan besar dua buah batu yang ia temukan di jalanan.


"Kita diizinkan bertemu dengan Earl Erasmus!" Diane memberitahukan kepada Archie.


Archie hanya mengangguk dan ia mengambil posisinya sebagai pelindung Diane, Archie langsung berjalan mengikuti Diane dari arah belakang seperti layaknya seorang kesatria yang mengabdi kepada permaisurinya.


Sebenarnya Diane merasa agak risih dan tak suka dengan hal yang dilakukan Archie itu, ia hanya ingin Archie bersikap seperti layaknya teman, bukan malah menganggapnya sebagai putri raja yang harus di lindungi tanpa bisa melawan balik.


Akan tetapi Archie tetap saja memaksanya dirinya untuk seperti itu saja. Memang Archie melakukan itu semua agar Diane selamat, karena kemungkinan pertemuan ini sudah direncanakan dari awal untuk membuat Diane kalah atau apapun itu.


Hanya itu yang bisa Archie ketahui dari motif mereka, setidaknya Archie bisa mengetahui lebih lanjut di pertemuan itu.


Akhirnya mereka berdua pun di persilahkan untuk memasuki mansion. Mereka berdua langsung di sambut oleh maid yang menunggu kehadiran mereka di hallway mansion itu.


Maid itu mengantarkan mereka ke gedung utama mansion tersebut, begitu mereka memasuki gedung utama mereka langsung di sambut maid lagi namun kali ini jumlahnya lebih dari sepuluh.


Para maid itu mempersilahkan Archie dan Diane untuk duduk menunggu di sebuah meja berbentuk oval yang terbuat dari batu permata berwarna biru azure. Sepertinya itu adalah meja yang merupakan saksi bisu semua hasil rapat, penetapan kebijakan ataupun bahkan konspirasi.


Archie kembali di buat emosi sekaligus geram begitu ia melihat meja dari batu permata itu, namun ia sedikit mampu mengendalikan rasa marahnya sehingga ia tak mencelakakan orang lain.


Beberapa saat kemudian Earl Erasmus pun datang. Wajahnya sedikit cengar-cengir dengan senyuman nakal, kumis tebalnya yang naik turun dan rambut yang hampir botak itu. Dari tampilannya saja, Archie sudah semakin jengkel dan kesal.


Earl Erasmus duduk dengan elegan sambil tersenyum sombong, dalam benaknya ia merendahkan Diane dan Archie yang meminta pertolongan darinya.


Erasmus merasakan punya segalanya sehingga ia bersifat sombong seperti itu, walaupun ia sudah menutupinya dengan senyuman palsunya namun Archie dapat mengetahui kalau itu adalah senyum palsu saja.


Archie sudah sering melihat orang-orang seperti Earl Erasmus itu, ia hanya tersungging saja dan coba melihat sandiwara apa yang akan di mainkan oleh orang sombong itu.


"Kau pikir aku tidak tahu pikiran busuk mu itu? Kita lihat saja" gumam Archie.