Cyrus Online

Cyrus Online
Chapter 124: Rahasia Terungkap



Diane dan Earl Erasmus nampak kehabisan topik untuk di bahas. Pembahasan mereka, semakin jauh semakin terasa membosankan bagi Earl Erasmus.


Sempat terdiam beberapa menit, Earl Erasmus pun mencoba mencairkan suasana lagi.


Erasmus menuangkan teh manis ke gelas milik Diane, dengan senyuman manis namun licik Erasmus menuangkan teh itu.


Diane merasa aneh dengan senyuman itu, ia merasa agak geli sebab orang seperti Earl Erasmus yang sudah agak berumur itu senyum-senyum menggoda ke arahnya.


Sebab itulah Diane pun agak canggung dengan Earl Erasmus, ia juga seperti menjaga jaraknya dengan Erasmus, akan tetapi Earl Erasmus berusaha selalu mendekatinya hingga semakin tidak nyamanlah Diane.


Tingkah Erasmus semakin lama semakin liar, Diane pun mau tidak mau menarik pedangnya dengan maksud untuk membuat Erasmus takut atau paling tidak Erasmus kembali mendapatkan akal sehatnya.


Akan tetapi senyuman Erasmus malah semakin aneh begitu Diane menarik pedangnya, Erasmus seperti tak takut dengan ancaman Diane itu. Ia seperti merasa sudah khatam dengan semua rangkaian itu tadi.


"Anda jangan macam-macam Tuan Earl Erasmus, aku peringatkan sekali lagi!" Ucap Diane sambil mundur selangkah demi selangkah menjauhi Erasmus.


Erasmus bukannya takut, ia malah tetap maju dengan senyuman mengerikan itu mengabaikan ancaman Diane. Erasmus bahkan sempat meneguk liurnya melihat tubuh Diane itu, entah apa yang ia pikirkan sampai-sampai ia bisa seperti itu.


"Kalian semua munafik!" Ucap Erasmus memulai katanya.


"Semua idelogi kalian itu hanyalah angan-angan dan imajinasi liar kalian. Kau bilang kau peduli dengan rakyat? Persetan dengan rakyat! Ketika uang yang berbicara kau akan tahu dimana letak kebahagiaan itu.


Aku tidak ada waktu mendengarkan semua hasil daya imajinatif kau itu, aku juga tidak peduli dengan apapun yang kau ucapkan tadi. Jika kau ingin semua hal yang kau ucapkan tadi terwujud caranya mudah sekali. Kau hanya perlu menjadi selir ku yang ke-21 dan puaskan aku setiap waktunya, maka aku akan kabulkan semua hal tadi"


Ucapan Erasmus itu membuat hati kecil Diane begitu sangat terluka. Idealismenya yang selama ini ia perjuangkan seakan di injak-injak oleh Erasmus.


Emosi Diane tidak stabil, ia merasa marah, benci, sedih, kasihan, empati dan simpati dalam satu waktu. Tatapan matanya terlihat mengerikan, dari lubuk hatinya yang paling dalam ia begitu membenci Earl Erasmus sampai-sampai ia bermaksud untuk membunuhnya.


Tanpa ragu lagi Diane langsung menarik pedangnya lalu ia mencoba menebas Earl Erasmus. Beruntung bagi Erasmus, tebasannya tadi hanya melukai wajahnya saja, namun walaupun begitu Earl Erasmus begitu ketakutan dan ia berteriak nyaring begitu ia menyadari ada darah dan luka di wajahnya.


"Whoaaa! Wajahku yang tampan. Beraninya kau membuat luka di wajahku yang tampan, dasar wanita biadab!"


Dengan panik Earl Erasmus menembak Diane, tembakan itu mengenai badan Diane namun Diane mencoba menahan rasa sakit itu. Bagi Diane rasa sakitnya itu jauh lebih ringan daripada rasa sakit perempuan-perempuan yang telah di tipu oleh Earl Erasmus.


Melihat Diane yang tidak ada takut-takutnya setelah di tembak itu, membuat Erasmus bergidik ngeri. Ia berjalan mundur sambil tetap terus menembak Diane.


"Mundur kau wanita brengsek mundur! Penjaga penjaga!" Teriak Earl Erasmus.


Dengan tatapan dingin Diane menyayat betis Earl Erasmus sampai ia mengerang kesakitan.


"Berani sekali kau! Aku pastikan kau akan ku penjara sampai kau tidak bisa keluar lagi!"


"Teruslah mengoceh manusia tong! Aku tidak peduli dengan ancaman mu itu! Rasakan ini kepedihan ini" Diane kembali menyayat betis Earl Erasmus yang lainnya sehingga Erasmus kini kesusahan untuk berdiri, ia merangkak menuju pintu sambil berteriak-teriak meminta pertolongan berharap penjaga mendengarnya.


"Apa ada yang berteriak penjaga?" Suara seseorang dari luar ruangan membuat Earl Erasmus dan Diane terdiam untuk sementara waktu.


Wajah Earl Erasmus dipenuhi senyuman sebab penjaganya mendengar suaranya tadi, dan Diane pasti akan berhasil ia tangkap.


Sedangkan Diane mempersiapkan dirinya, ia yakin bentrokan antara dirinya dengan para penjaga pasti akan terjadi.


Tiba-tiba pintu di dobrak paksa oleh seorang penjaga, bahkan parahnya lagi kepala Earl Erasmus ikut terbentur akibat dobrakan itu tadi.


"Penjaga sialan! Apa kau tidak bisa membuka pintu itu dengan biasa saja? Sudahlah cepat tangkap perempuan itu dan penjarakan dia!" Perintah Earl Erasmus.


Penjaga tadi diam saja di tempatnya dia berdiri, bahkan beberapa kali ia dibentak oleh Earl Erasmus ia tetap saja diam berdiri mematung di situ.


"Apa yang kau lakukan? Jangan diam saja cepat tangkap perempuan itu!" Earl Erasmus kembali berteriak.


Penjaga tadi tetap mengabaikan perintah itu sampai-sampai membuat Diane merasa aneh dengan penjaga itu.


Lalu tiba-tiba penjaga itu bergerak, Diane pun terkejut lalu ia mempersiapkan dirinya kembali. Namun penjaga itu tidak menyerang Diane, penjaga itu melepaskan helm yang menutupinya wajahnya itu dengan perlahan.


Alangkah terkejutnya bukan main Earl Erasmus melihat hal itu, ternyata penjaga tadi adalah Archie yang sedang menyamar.


Melihat Erasmus yang terkejut itu Archie pun membuat ekspresi yang seakan mengejek Earl Erasmus itu, tak lupa juga Archie menjulurkan lidahnya sambil menutup matanya sebelah.


"Kau...bagiamana kau bisa melakukan hal ini? Apa jangan-jangan?" Erasmus menyadari suatu hal yang janggal, dan Archie pun mengiyakan hal tersebut.


"Yap semua penjaga mansion ini sudah ku bereskan, serta ketiga orang sewaan mu itu. Kalau kau tak percaya coba kau tanyakan dengan orang yang di belakang mu itu" ucap Archie.


Erasmus pun menengok kebelakang dan ia melihat salah satu dari orang yang ia sewa untuk membunuh Archie dan Diane jikalau semua rencananya hancur.


"Aku akan membebaskanmu dan membiarkanmu melakukan hal apapun asalkan kau mau bicara dengan jujur tentang rencana mu ini" Archie melemparkan sebuah kertas berukuran sedang yang berisi semua rencana-rencana yang akan di lakukan oleh Erasmus kedepannya.


Diane memicingkan matanya, ia merasa begitu heran dengan Archie yang mengetahui dengan cepat kebusukan Earl Erasmus.


"Maaf saja tapi mungkin ini sudah masuk ke alam bawah sadarku, aku adalah orang yang apatis dengan segala hal bahkan manusia sekalipun. Makanya mungkin gara-gara itu aku jadi tahu kebusukannya" Jawab Archie singkat dan semakin membuat Diane kebingungan dengan jawaban itu.


Erasmus tidak takut dengan ancaman Archie, ia bahkan mengejek Archie dengan tatapan matanya itu, baginya Archie hanya membual saja.


"Jadi kau memilih untuk tidak bicara ya? Okelah ku harap kau harus berpikir sekali lagi" Ucap Archie lalu dengan santainya ia menebas pembunuh bayaran Erasmus tadi.


Erasmus tercengang, ia sangat tak menyangka Archie melakukan hal tersebut. Keringat dingin mulai bercucuran, Erasmus merasa kedinginan karena takut akan bernasib sama seperti pembunuh bayaran tadi.


Archie tersenyum saja menikmati ketakutan Earl Erasmus, sambil ia memutar-mutar kantung kain yang berisi penuh dengan koin-koin.


Archie lempar kantung itu ke arah Diane, terkejut-kejut Diane menangkap kantung itu yang ternyata isinya banyak sekali.


"13 gold, 80 silver! Darimana kau mendapatkan ini Archie? Jangan bilang kau mengambil ini dari orang-orang yang kau bunuh tadi?"


"Ya tentu saja, anggap saja itu adalah bayaran ku setelah aku repot-repot mengotori tangan ku sendiri. Lagi pula mubazir jika tak ku ambil dan itu juga bisa menjadi modal untuk strategi kau selanjutnya" Jawab Archie lalu wajahnya kembali mengarah ke Earl Erasmus yang semakin ketakutan.


Diane semakin kebingungan dengan Archie, ia bingung apakah Archie itu orang yang baik atau jahat. Dia melihat sikap Archie kadang kocak, konyol dan begitu ceria. Namun di saat dia memegang senjatanya semua sikap tadi seakan terganti dengan sikap dingin, kejam, serius dan mengerikan.


Seringkali ia ingin menanyakan hal tersebut ke Archie, namun ia takut atau mungkin tidak memperdulikan sikap Archie yang seperti itu.


"Yakin kau tetap ingin bungkam Tuan Earl yang terhormat?" Tanya Archie sekali lagi namun ia melingkarkan Murasame ke leher Earl Erasmus.


Archie semakin membuat takut Earl Erasmus, keringatnya mengucur lebih deras dari yang tadi. Badannya bergetar cepat dan ia bergidik ngeri saat merasakan dinginnya Murasame itu.


Akhirnya setelah mentalnya begitu turun, Earl Erasmus menceritakan semua yang ia ketahui tentang rencana itu.


"Itu adalah rencana untuk membuat sebuah senjata yang mereka sebut Dark Arcana. Mereka meminta beberapa perempuan muda untuk di korbankan dalam proses ritual itu.


Aku tidak mengetahui lebih lanjut tentang apa yang mereka sebut Dark Arcana itu, aku hanya di suruh untuk mendapatkan perempuan saja dan aku cuma di bayar untuk itu. Aku bersumpah atas nama ibuku!"


"Mereka? Mereka itu siapa, bisa kau terangkan lebih jelas lagi?"


"Baik-baik akan ku jelaskan namun sebelumnya aku mohon jauhkan pedang mu ini, aku memohon dengan tulus tolong jangan bunuh aku!"


Archie menyarungkan pedangnya kembali saat melihat Earl Erasmus memohon pengampunan kepadanya sambil berlinang air mata.


Earl Erasmus menarik nafas lega begitu Archie menyarungkan pedangnya kembali, sesuai janjinya tadi Earl Erasmus pun kembali bercerita tentang hal tadi.


Dari ceritanya, orang-orang yang menyuruhnya untuk mengumpulkan perempuan-perempuan itu bernama 7Deadly.


7Deadly merupakan kelompok yang menguasai kota Del Comte yang merupakan sebuah kota yang berada di sebelah barat Red Dragon Empire.


Mereka mempunyai catatan kriminal yang begitu banyak. Mereka suka melakukan PK, mengambil pajak dari warga setempat dengan harga yang gila-gilaan, menculik NPC dan menjadikannya semacam kelinci percobaan mereka.


Archie memegang dagunya sambil matanya menatap ke atas, ia seperti mencari-cari apa maksud dari 7Deadly melakukan itu semua. Dan ia juga memikirkan tentang Dark Arcana yang mereka buat itu, jika memang benar ada hal seperti itu maka akan terjadi kekacauan besar di benua Cirus.


Archie kini sudah tak peduli lagi dengan Earl Erasmus itu, menurutnya ia sudah mengetahui hal yang ingin ia ketahui. Namun Earl Erasmus masih merasa ketakutan karena nasibnya masih dalam tanda tanya.


Lalu Archie kembali mendekati Earl Erasmus dengan wajah dingin, Earl Erasmus sudah memasrahkan dirinya jika di bunuh oleh Archie, namun yang terjadi di luar dugaannya.


Archie malah membantu Earl Erasmus untuk berdiri, Erasmus pun sampai kebingungan dan Diane tak percaya melihat hal tersebut.


"Jika kau ingin berubah aku akan membiarkanmu hidup dan menikmati semua yang kau dapati ini, kau adalah aset penting karena kau punya pabrik Potion. Bekerjasama lah dengan kami dan ajak juga semua keluarga bangsawan mu agar meninggalkan semua hal yang telah kau perbuat di masa lampau, atau aku akan memenggal kepala kalian satu persatu dan membiarkan kalian mati membusuk!" Ucap Archie lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.


Earl Erasmus yang merasa di beri kesempatan hidup, begitu bersyukur dengan hal tersebut. Ia sampai kelepasan dirinya sendiri, ia membungkuk dan memberikan rasa hormatnya ke Archie yang notabenenya rakyat biasa di mata Erasmus.


Erasmus juga meminta maaf kepada Diane atas perbuatannya itu tadi, namun Diane masih tidak mau memaafkan Erasmus. Ia langsung keluar dari situ dan menyusul Archie.


"Apa-apaan itu tadi? Mengapa kau malah memberi dia ampun padahal dia adalah orang yang busuk dan menyusahkan orang lain?" Diane protes dengan sikap Archie terhadap Erasmus tadi.


Archie hanya tersenyum manis ke arah Diane, lalu ia menarik nafas dalam sebelum akhirnya ia berucap.


"Aku hanya mengikuti nurani ku, lagi pula dia adalah orang yang pintar namun kepintarannya tertutupi oleh kabut asap yang tercipta dari hasil proses berpikirnya sendiri. Kita bisa memanfaatkan dia untuk suplai Potion itu, jika ia dibunuh terus darimana kita mendapatkan hal itu? Apa ayah kau bisa memberikan bantuan suplai Potion tak terbatas?" Begitu ujar Archie lalu ia berlari kencang meninggalkan Diane karena dia tahu betina itu pasti akan marah padanya.