
12 tahun yang lalu...
Di sebuah rumah yang agak besar, hiduplah seorang anak muda yang terlihat sangat sedih karena sudah ditinggal oleh seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.
Setelah lama waktu berlalu, datanglah seseorang yang sama seperti sosok yang sangat berharga bagi anak muda itu, namun ia merasakan hal yang berbeda dari orang itu dan kembalilah ia menjalani hari-harinya yang suram.
Seluruh harinya dihabiskan di dalam sebuah kamar yang sempit, dingin, lembab serta gelap. Ia hanya sesekali keluar untuk mengambil makanan, membeli camilan dan pergi ke sekolah.
Situasinya semakin memburuk ketika ayahnya selalu memarahi sikapnya yang seperti itu, namun ia tetap saja kembali ke alamnya yang menurutnya baik untuk dirinya.
Setelah sekian lama hal itu terjadi, kembali dirinya didatangi oleh 2 orang saudara tirinya yang berjarak beberapa tahun saja dengan dirinya. Mereka berdua sangat ingin membuat si pemuda itu untuk keluar dari sarangnya dan bermain bersama dengan mereka.
Namun tetap si pemuda itu tidak mau keluar dari kamarnya untuk bermain dengan mereka, ia seakan mengunci dirinya terhadap orang lain.
Merasa tidak berhasil dengan cara biasa, kedua saudara tirinya itu akhirnya menerobos masuk ke dalam kamarnya dan tidak mau keluar dari sana jika ia tidak bermain dengan mereka berdua.
Mereka berdua sangat kagum dengan kamar yang terlihat rapi dan dipenuhi berbagai macam stiker dan poster berlatar belakang game. Mereka berdua seakan tersihir ke dalam dunia menakjubkan si Alice.
"Wah ini sangat bagus, apa kau sendiri yang membuatnya?" Mereka berdua lantas bertanya tentang kamar tersebut
Si pemuda itu hanya mengganguk tanpa berkata apa-apa.
"Namaku Reina dan ini Andini mulai sekarang kita menjadi keluarga maaf jika kami baru saja kemari" ucap seorang perempuan yang terlihat lebih tua dari yang satunya.
"Namaku Ikhsan salam kenal" balasnya dengan sedikit malu
Keduanya masih saja tersihir dengan pernak-pernik dari kamar Ikhsan, hingga akhirnya mereka bermain game bersama sampai seharian di dalam sana.
"Nampaknya bermain game cukup seru juga ya kan Andini?"
"Iya kakak benar lain kali ajaklah kami Ikhsan"
"Tetapi aku takut jika ayah akan marah jika aku mengajak kalian" Ikhsan khawatir dengan ayahnya yang begitu keras terhadapnya.
"Kau ini bilang apa, jika kau dimarahi maka aku akan melindungi kau dengan ikut dimarahi jadi kau tidak perlu sedih lagi ya" ucap Reina dengan senyuman manis tercetak di wajahnya.
Semenjak hari itu, mereka selalu bermain bersama. Kadang mereka juga dimarahi oleh ayahnya namun kali ini Ikhsan tidak sendirian, kedua saudara tirinya juga ikut melindungi Ikhsan dan sedikit membuat ayahnya kesal atas sikap mereka.
Namun keadaan sedikit berubah ketika Reina sudah masuk ke SMP. Ia menjadi jarang bermain dengan Ikhsan dan lebih sering menghabiskan waktunya di sekolah dan berteman dengan teman-teman sebayanya.
Andini juga seperti itu, saat ia sudah di kelas 6 ia lebih banyak fokus belajar untuk masuk ke SMP favorit daripada bermain dengan Ikhsan.
Ikhsan yang sedikit terbiasa dengan hal tersebut tidak memperdulikan masalah tersebut, dan mulai kembali menjalani kehidupan awalnya yang suram.
******
Pada suatu sore yang cerah dan damai, Ikhsan tengah bersantai di pematang rumput sambil membaca novel tentang detektif.
Hari tenangnya sedikit terganggu dengan suara kegaduhan dari arah seberang sana. Ikhsan berdiri dan menghampiri suara gaduh itu, ia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ia sampai di tempat suara kegaduhan itu berasal, ia melihat beberapa orang tengah mengeroyok seseorang yang hanya bisa bertahan tanpa bisa melawan balik karena kalah jumlah.
Ikhsan sedikit ragu ketika hendak menolong orang itu, namun keraguan sirna ketika ia melihat orang tersebut jatuh tersungkur ke tanah sambil tetap ditendangi oleh orang yang mengeroyoknya.
"Sudah hentikan tingkah kalian!" Tegur Ikhsan
5 orang pengeroyok itu lalu menoleh ke arah Ikhsan. Mereka berpikir Ikhsan hanyalah anak culun yang kebanyakan mengkhayal.
"Kau mau jadi pahlawan kemalaman kah hah? Hei culun pergi saja dari sini, ini bukan urusanmu!"
"Oh benarkah tapi aku tidak melihat sikap laki-laki darimu, apa kau hanya seorang banci yang berani main keroyokan?"
Mereka semua langsung naik pitam setelah dihina oleh Ikhsan. Mereka bermaksud untuk langsung mengeroyok Ikhsan seperti halnya yang dialami oleh orang yang tengah terbaring di tanah itu.
Ketika mereka hendak mendekat, Ikhsan langsung mengeluarkan kuda-kuda bertarung dan sedikit membuat lawannya takut.
"Bos ia bisa bela diri bos!"
"Apa yang kalian takutkan dasar bodoh ia hanya menggertak, biar aku saja yang memukulnya!"
Sebuah hantaman menuju ke wajah Ikhsan, namun Ikhsan menangkisnya dengan menggunakan siku miliknya, lalu ia membalas hantaman itu dengan sebuah tendangan tepat mengenai perut, dan ditambah satu pukulan ke wajah.
Melihat bos mereka tumbang, agak sedikit rasa khawatir di dalam mereka namun mereka tetap menyerang Ikhsan untuk membalas perbuatannya.
Majulah seorang anak berbadan gempal yang langsung menampar Ikhsan dengan keras, akan tetapi tamparannya itu berhasil Ikhsan hindari dan kemudian Ikhsan membalas tamparan itu dengan sebuah kombo yang diakhiri dengan dorongan keras.
Lalu 3 anak maju bersamaan dan memukul Ikhsan secara bersamaan, akan tetapi Ikhsan berhasil menghindari semua serangan itu dan malah menjebak mereka agar saling memukul satu sama lain tanpa harus Ikhsan memukul mereka.
Si bos mereka kembali bangkit dan langsung menerjang Ikhsan, sebuah tendangan berhasil mengenai Ikhsan dan sebuah tamparan langsung saja dilancarkannya ketika melihat ada celah dari Ikhsan.
Namun itu semua adalah rencana Ikhsan, ia sengaja membuat celah untuk memancing musuhnya menampar dirinya. Ketika tangannya hampir mengenai wajah Ikhsan, ia langsung menangkap tangan itu dan membantingnya dengan kuat ke tanah hingga badan dari orang itu beberapa kali berputar di udara sebelum mengenai tanah.
"Apa kalian masih ingin lanjut?" Tanya Ikhsan
Merasa tidak bisa menang, mereka semua langsung pergi dari sana dengan luntang lantung.
Ikhsan kemudian mendekati orang yang tengah terbaring di tanah, lalu menanyakan keadaannya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ah aku baik-baik saja tapi badan ku sakit semua rasanya"
"Syukurlah kau belum mati"
"Oi kau mendoakan ku mati ya! Ngomong-ngomong siapa namamu?"
"Aku Ikhsan dan kau siapa?"
"Aku Ramadhan panggil saja Rama"
Ikhsan kemudian membantu Rama untuk berdiri dan membopongnya agar bisa berjalan.
"Kalau boleh tau kenapa kau sampai berkelahi dengan anak-anak itu?"
"Oh itu aku hanya tidak ingin lagi diganggu oleh mereka makanya aku melawan mereka dan sialnya mereka langsung mengeroyok diriku"
"Malang sekali nasibmu" ucap Ikhsan menimpali kisah dari Rama.
"Tapi kau hebat sekali kau bisa mengalahkan mereka semua, bagaimana caranya kau melakukan hal itu semua? Apa kau ikut semacam bela diri?"
"Tidak aku hanya mempelajarinya dari game"
"Game?" Tanya Rama lagi keanehan dengan jawaban Ikhsan.
"Apa hal seperti itu bisa dilakukan?"
"Kau kira game itu hanya permainan biasa? Game itu tempat belajar yang paling menyenangkan. Kita banyak belajar dari game!" Ucap Ikhsan meyakinkan Rama
"Bisakah kau beri contoh seperti apa game yang memberikan kita ilmu pengetahuan?"
"Ada banyak game yang dapat kita pelajari ilmunya, misal seperti game yang memiliki konsep membangun sebuah kota maka kita bisa belajar tentang seluk-beluk membangun infrastruktur atau game simulasi dunia asli bisa memberikan kita bagaimana caranya untuk bersosialisasi dengan manusia lain, membangun sebuah hubungan dan lainnya"
"Ada juga game yang mengasah kemampuan berpikir kita seperti catur, shogi dan sepak bola. Dan ada juga game yang membuat kita mengetahui sejarah dunia" tambah Ikhsan
Muncul huruf O di mulut Rama, ia baru menyadari bahwa banyak ilmu yang bisa diperoleh dari sebuah game. Yang ia tahu bahwa game itu hanya sebuah permainan yang bisa membuat manusia bahagia.
"Ternyata kau tau banyak tentang game ya Ikhsan, bolehkah aku tau dimana rumahmu?"
"Ah boleh saja rumahku berada di jalan 8, 2 blok dari sini"
"Ah itu sedikit dekat dari rumahku, rumahku di jalan 7"
"Kalau begitu kau harus sering-sering datang ke rumahku nanti ya Rama?"
"Baiklah jika kau berkata demikian!"
Semenjak hari itu, Rama selalu mengunjungi rumah Ikhsan dan selalu bermain game bersama dengannya sepanjang waktu.
Hingga mereka berdua masuk SMP yang sama dan kelas yang sama mereka tetap bermain game. Sudah banyak game yang mereka mainkan dan pastinya mereka selalu berada di peringkat 1 dan 2 ketika mereka bermain suatu game.
Hingga pada suatu hari, Rama berkunjung ke rumah Ikhsan dengan maksud untuk membicarakan tentang game yang tengah ramai dimainkan oleh banyak orang.
Ketika ia menekan tombol bel rumah Ikhsan, ia sedikit terkejut ketika yang menyambutnya adalah kakak tiri Ikhsan yang paling tua yaitu Reina.
"Ah Rama kah sudah lama kau tidak kesini, apa kau ingin bertemu Ikhsan ia ada di kamarnya"
"Ah ah iya kak permisi ya kak" ucap Rama sedikit malu
Dengan gerak cepat ia langsung naik ke lantai atas untuk menuju kamar Ikhsan, ia menggendah-gendah pintu kamarnya dengan cepat sehingga mau tidak mau Ikhsan harus segera membukanya.
"Apaan sih ram? Kenapa kau terlihat panik seperti itu?"
Rama tidak langsung menjawab pertanyaan Ikhsan, ia langsung masuk kamar dan menguncinya dan ia mulai mengatur nafasnya supaya teratur. Ikhsan yang melihat tingkah laku sahabatnya itu tidak bisa berkomentar apapun.
"Apa yang terjadi?" Tanya Ikhsan
"Kakak mu kenapa dia terlihat cantik sekali, padahal aku tidak satu dua kali bertemu dengannya tapi baru kali ini aku merasa aneh seperti ini" terangnya
"Oh masa pubertas kah" komentar Ikhsan atas sikap temannya itu
"Ini bukan masalah pubertas atau tidak, tapi aku mengkhawatirkanmu jika orang tuamu selalu tidak ada di rumah dan saat kalian hanya berduaan saja dan ditambah penampilan kakakmu itu yang aduhai, di sini mungkin suatu hal hebat akan terjadi, oh aku ingin kau membagikan momen itu kepadaku jika kau merasakannya Ikhsan!"
"Apa yang kau pikirkan ha? Otak mu sedang tidak waras ya, walaupun aku tidak punya pertalian darah namun aku juga tau moral lagipula jika ada adegan itu terjadi disini, maka novel ini bisa di cekal oleh pembacanya!" Ikhsan menjelaskan situasinya kepada Rama yang sedikit eror hari ini
"Oh benar juga ya, eh tunggu sebentar novel? Apa maksudmu novel dan pembaca? Apa kita ini sedang berada di dalam novel?"
"Sudahlah lupakan saja, jadi sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan?"
Lalu Rama mulai menceritakan tentang game yang tengah banyak dimainkan oleh orang-orang, yaitu Calcalas Online. Dengan semangat Rama menerangkannya ke Ikhsan, dan dibalas oleh Ikhsan dengan khidmat.
"Calcalas Online kah nampaknya boleh juga ayo kita beli game itu!"
******
Tak lama kemudian akhirnya mereka bermain Calcalas Online. Game yang bertemakan tentang petualangan dan bisa dimainkan oleh banyak orang, ini adalah kali pertamanya mereka bermain game seperti ini.
Apalagi ditambah fitur job yang begitu asing ditelinga mereka berdua menjadikan game ini cocok untuk sebagai tantangan untuk mereka.
Rama mengambil job sebagai tanker yang bertugas untuk melindungi temannya, sedangkan Ikhsan memilih Enchanter sebagai pendukung garis depan.
Mereka berdua lama kelamaan menjadi player yang cukup disegani oleh pemain lain dan mulai membuat sejarah-sejarah dalam game tersebut.
Mereka sempat terpisah beberapa waktu karena mereka harus mendapatkan kekuatan masing-masing, namun mereka kembali bersama dengan kekuatan yang sudah sangat berbeda dari pertama kali mereka bermain.
Bahkan Ikhsan berhasil membuat party yang akan menjadi sebuah kumpulan beberapa orang-orang yang luar biasa dan berhasil menyelesaikan misi yang bahkan mustahil untuk di selesaikan.
Setelah lebih dari 3 tahun berpetualang di dunia Calcalas, akhirnya satu persatu player yang berada di party itu harus pensiun dan berhenti di dalam dunia game karena ada yang harus mereka hadapi di dunia nyata.
Begitu juga Ikhsan yang juga harus berhenti bermain game karena tingkah buruknya itu membuatnya harus terusir dari rumah. Ayahnya tidak suka melihat Ikhsan yang selalu mengurung diri di kamar dan bermain game seharian.
Ayahnya mengambil semua peralatan game milik Ikhsan dan mulai menjualnya ke orang lain, tanpa persetujuan dari Ikhsan.
Kedua kakak tirinya sedikit tersentuh ketika melihat keadaan Ikhsan yang kembali seperti beberapa tahun yang lalu, ia selalu murung dan bahkan lebih buruk dari itu.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari rumah dan mulai hidup sendiri dengan tangannya sendiri, peringatan dari kakak tertuanya bahkan tidak ia dengar lagi karena sakit hatinya.
"Apa kau benar-benar ingin pergi dari sini? Apa kau yakin kau bisa hidup sendirian? Setidaknya jika kau ingin pergi biarkan kakak ikut agar bisa merawat mu!"
"Jangan pedulikan aku kak! Lebih baik kakak pikirkan saja tentang kehidupan SMA kakak yang indah dan menyenangkan, hidup kelam dan hitam milikku ini terlalu membosankan untukmu!"
Lalu setelah semua itu Ikhsan tidak pernah lagi kembali kerumah itu, bahkan berkunjung saja ia tidak pernah sama sekali. Sesekali Reina kembali memasuki kamar bekas adik tirinya itu, ia melihat beberapa stiker yang masih tertempel di dinding kamar dan ia sedikit mengingat bagaimana serunya ia bermain dengannya ketika dulu.
Ia sedikit menyesal ketika terlalu sibuk dengan dunia sekolahnya. Sampai ia melupakan sesuatu kebahagiaan yang tidak semu. Ia telah muak dengan semua kepalsuan yang ada di dirinya dan di lingkungannya, ia mulai mengikuti langkah sang adik tirinya dan langkahnya ini juga diikuti oleh adiknya Andini.
"Apa ini tidak apa kak Reina? Jika ayah tahu kita bermain game kita pasti dimarahi oleh ayah seperti yang dialami oleh Ikhsan! Aku tidak mau lagi melihat satu keluarga yang keluar dari sini!"
"Jangan khawatir Andini jika kita dimarahi maka aku akan mengikuti langkahnya daripada harus dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ku suka dan terus melakukan kebohongan" ucapnya dengan serius
Selepas berhenti bermain game, Ikhsan berhasil memasuki salah satu sekolah favorit dengan nilai tertinggi dan ia berhasil mendapatkan beasiswa untuk sekolahnya. Namun ia juga tetap mencari penghasilan untuk biaya hidupnya dan membayar kost miliknya.
Untung saja ada seorang teman satu sekolahnya yang bernama Rossa Valentine yang mau membantunya. Ia menyarankan Ikhsan untuk bekerja sampingan di kantor milik ayahnya yaitu NCM Corp.
Ikhsan bekerja sebagai seorang penyusun data untuk perusahaan ayahnya. Dengan pengalaman di depan komputer semenjak kecil, begitu mahir mengolah ribuan data dalam waktu yang singkat. Hingga membuat ayahnya Rossa begitu suka terhadap kinerja dari Ikhsan.
"Kau punya teman yang sangat hebat Rossa ayah akan menyetujui jika kau ingin berpacaran dengannya"
"Ah ayah apa yang ayah katakan! Ia hanya teman ku saja ayah" dengan wajah yang merah Rossa mengatakan itu, sehingga membuat ayahnya tertawa melihat tingkah anak perempuannya itu.
"Ayah hanya salut dengan sikap kerja kerasnya, ketika ayah mendengar ceritanya dari kamu ayah begitu tersentuh mendengarnya, kesian sekali dirinya harus merasakan pahitnya hidup disaat umurnya masih belum tahu apa-apa tentang dunia!"
"Aku juga terkejut ayah saat Rama menceritakannya, ia berpesan agar aku tidak memberitahu kepada siapapun tentang itu nampaknya beban berat sudah ia pikul sejak lama makanya aku ingin membantunya ayah"
"Hmm ayah yakin di masa depan ia akan menjadi orang yang sukses dan tidak lupa ditempat ia berpijak, dan juga ayah yakin bahwa cucu-cucu ayah juga sama seperti dirinya dan anak perempuan kesayangan ayah ini!" Ucap ayah Rossa dengan penuh canda
"Ayah!!!"