
Hotel Junjung Buih Bandarmasih.....
Di dalam ball room hotel yang sangat luas banyak terlihat orang-orang yang sedang bekerja mempersiapkan set up dari sebuah acara yang nampaknya megah dan besar.
Hal itu bisa dilihat dari ornamen-ornamen dan dekorasi yang terlihat begitu elegan, mewah dan sesuai dengan tema yang diambil.
Nantinya ball room hotel ini akan dipakai oleh ESSET Corp untuk acara malam tahun baru mereka. Mereka akan mengundang beberapa guild dari Indonesia yang memiliki pengaruh besar di dalam game.
Ini adalah cara mereka berterimakasih kepada para player dari Indonesia yang sudah ikut mengharumkan nama bangsa walaupun di dalam dunia game.
Selain mengundang guild berpengaruh dari Indonesia, mereka juga mengundang artis idol terkenal yang juga memiliki darah Indonesia. Ya mereka mengundang Momo-chan untuk memeriahkan acara malam tahun baru itu.
Sebenarnya Momo-chan agak berat untuk menerima undangan itu karena akhir tahun adalah jatah liburnya untuk ia habiskan bersama keluarganya, tetapi ia tak bisa menolaknya karena acara itu sudah termasuk ke dalam acara tur dunianya dan kebetulan saja ia kembali ke Indonesia.
Walaupun dalam kondisi yang tak bahagia karena harus bekerja di malam tahun baru, Momo-chan tetap berusaha untuk bersikap profesional. Dia latihan bernyanyi dan menari walaupun sebenarnya acaranya masih 2 hari lagi.
Momo-chan pun berlatih dengan keras dan sungguh-sungguh tanpa ada sedikitpun rasa tidak enakan di benaknya. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya bulir-bulir keringat yang ia hasilkan, ia menyeka keringatnya dengan tangannya sebelum berisitirahat untuk sejenak.
Momo-chan meluruskan kakinya dan melakukan sedikit peregangan di sela-sela istirahatnya. Seseorang dengan kacamata kotak datang membawakannya minuman dingin dan handuk kecil untuknya, Momo-chan pun tersenyum lalu ia mengambil minuman dingin dan handuk itu dari orang itu.
Rasa segar pun mulai menyerang tenggorokan kering Momo-chan, ia merasa seperti terlahir kembali setelah meneguk air dingin itu.
Tak sampai beberapa menit air dingin itu hampir habis dalam satu tegukan saja, lalu Momo-chan merasa begitu lega dan seketika juga tubuhnya merasa rileks.
"Kau sudah berlatih keras sebaiknya kau istirahat saja, aku yakin tidak akan berpengaruh besar saat acara nanti" ucap si kacamata kotak.
Momo-chan tersenyum lalu ia menatap ke arah si kacamata kotak. "Aku ingin menghibur mereka dengan tulus, aku tidak ingin mereka kecewa dengan perform ku nanti ayah"
Si kacamata kotak yang juga ayah si Momo-chan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat anaknya yang sangat keras dengan kemauannya itu. Ia juga teringat dengan mendiang ibunya Momo-chan yang sangat mirip sekali sifat kerasnya itu.
"Ayah ayah... Apa si pemilik jaket ini akan hadir disini juga? Aku ingin sekali bertemu dengannya" Momo-chan bertanya dengan riang sambil menunjukkan jaket hitam yang sedang ia kenakan.
Ayahnya sedikit shock dengan pertanyaan putri semata wayangnya itu, ia sempat tersedak dan batuk berkali-kali sebelum akhirnya ia kembali normal.
"Mungkin ia akan datang tetapi mungkin juga tidak karena acara ini cukup megah untuk diikuti oleh orang-orang umum"
Ia langsung bisa menyadari kekecewaan di wajah anaknya itu, si kacamata kotak itu pun tersenyum lalu menepuk pundak anaknya itu. "Tetapi jika kau ingin bertemu dengannya kenapa tidak pergi kerumahnya saja? Kita masih punya banyak waktu selepas acara itu kan? You know the drill"
Senyuman kembali hadir di wajah Momo-chan, bahkan senyumannya kali ini lebih manis dari sebelumnya. Momo-chan seakan mendapatkan kekuatannya kembali untuk melanjutkan latihannya, ia pun kembali bangkit dan segera berlatih lagi.
Ayahnya pun hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan melihat tingkah anaknya itu. "Anakmu sudah besar Nina" ucapnya dengan pelan.
---…---…---…--
Archie kini sedang berdiri menghadap kesebuah pusara batu besar. Di bawah pusara itu terbaring sesosok manusia bertelinga lancip yang memiliki kulit gelap seperti langit malam.
Archie merasakan kabut sesak sedang memenuhi rongga dadanya, walaupun ini adalah dunia game dan bukan dunia nyata tetapi entah kenapa dirinya merasakan sebuah rasa yang begitu pedih.
Sudah lebih dari sepuluh menit Archie berdiri dan menghadap pusara batu itu, dari kejauhan Crishy melihat hal itu dan ia pun seperti merasakan apa yang dirasakan oleh Archie.
Muncul perasaan segan di dalam benak Crishy, ia sekarang begitu menghormati Archie yang seorang manusia biasa. Padahal Crishy adalah orang yang memiliki harga diri tinggi atas rasnya, namun setelah melihat Archie ia merasakan harga diri tingginya tak berguna sekarang.
Crishy agak sedikit heran sekarang melihat Archie yang tiba-tiba menunduk kebawah. Tetapi semua keterkejutannya jadi lebih buruk setelah ia melihat ada sebuah bunga berwarna emas di atas pusara batu itu.
"Jangan bilang itu Rose Gold!"
Suaranya cukup nyaring akibat terkejut, ia pun berusaha menutup mulutnya dengan tangannya namun semuanya sudah terlambat karena Archie sekarang mengetahui dirinya sedang di awasi.
"Siapa disana?" Selidik Archie.
"Aduh mati aku" batin Crishy.
Mau tak mau Crishy pun akhirnya menampakkan dirinya. Ia berjalan perlahan keluar dari persembunyiannya tadi, dengan wajah yang agak malu ia berusaha untuk mencoba menatap Archie.
Archie sedikit keheranan dengan Crishy yang malu-malu itu, tetapi ia tak ambil pusing dan hanya mengabaikannya.
Karena di perlakukan seperti itu Crishy pun hanya bisa memayunkan bibirnya sambil menatap kesal ke arah Archie.
"Kenapa? Kenapa kau menaruh Rose Gold di atas pusara itu? Bukannya Rose Gold itu adalah harta berharga"?
Mendengar pertanyaan seperti itu tak bisa membuat Archie untuk tidak tertawa. Ia tertawa begitu puas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.
"Bagiku itu hanya sebuah bunga biasa yang kebetulan berwarna emas, jadi tidak salahkan jika aku menaruhnya di sana?" Jawab Archie dengan santai.
Archie tertawa terbahak-bahak lalu berlalu pergi dari sana, ia masih sempat untuk menepuk-nepuk kepala Crishy dengan santai.
"Apa kau ingin pergi?" Tanya Crishy dengan sedih.
Masih dengan mengelus-elus rambut Crishy, Archie menjawab. "Yah aku harus pergi, semua orang harus bisa berjalan kembali setelah terjatuh"
"Bolehkah aku ikut kau Archie?"
"Tidak itu tidak boleh, kau adalah Panglima yang melindungi Ratu-mu... Itu tugasmu dan juga jalan mu"
"Tapi bagaimana jika aku berhenti jadi lima Panglima? Apa kau mengizinkan ku untuk pergi dengan mu?" Tanya Crishy sekali lagi.
"Jika kau ingin berhenti jadi panglima itu adalah urusan mu sendiri dan bukan urusanku. Namun kau harus memilih jalan mu sendiri! Jangan ikuti langkah dan jalan ku!"
Archie pun pergi meninggalkan Crishy yang terduduk lemas sendirian disana. Crishy bukan merasa lemas karena tidak diterima Archie sebagai teman perjalanannya, namun ia merasa sangat malu dengan dirinya yang harus di tegur oleh Archie karena ingin melalaikan tugasnya.
Crishy memandangi punggung Archie yang kian lama semakin menjauh dari pandangannya, pandangannya pun juga sedikit kabur karena terhalang oleh air matanya yang mengalir.
"Archie, apa semua manusia itu memiliki sifat seperti dirimu? Ah itu tidak mungkin yang ku tahu manusia itu memiliki sifat yang berbeda-beda" Batin Crishy.
–––…–––…–––…–––