
Archie dan yang lainnya berangkat ke Pulau Kadap menggunakan sebuah perahu mesin yang disebut kelotok oleh orang-orang Elf.
Berbeda dengan jukung. Kelotok memiliki ukuran yang lebih besar dan mampu membawa banyak penumpang sekaligus. Selain itu, Kelotok juga memiliki sebuah teknologi yang hampir mirip dengan mesin uap namun memakai sebuah batu sihir sebagai sumber dayanya.
Archie sangat tertarik dengan teknologi itu, dia bahkan tak berpindah dari tempatnya sejak pertama kali meninggalkan pelabuhan, dia bahkan memilih tempat duduk di dekat benda itu karena saking tertariknya.
Tidak ada yang peduli dengan Archie, apalagi dua orang tua dari kerajaan Narannas. Mereka berdua bahkan acuh saja dengan sikap absurd dari Archie. Lusirele sebenarnya ikut penasaran dengan Archie terkadang dia juga sesekali melirik kearahnya, tetapi saat Lusirele melirik ke arah Archie, kadang ada sebuah hawa menakutkan dan Lusirele merasa nyawanya sedang dalam bahaya. Di saat ia mencari dari mana sumber hawa menakutkan itu, dia hanya melihat Viola yang sedang menatapnya dengan tatapan yang seperti harimau yang hendak menerjang mangsanya. Karena hal itu, Lusirele akhirnya mengurungkan niatnya untuk mendekat ke tempat Archie.
Sudah lama mereka mengarungi Danau Baikal semenjak dari pelabuhan tadi, tidak ada tanda-tanda mereka akan segera sampai di tempat tujuan, apalagi saat ini danau sedang ditutupi oleh kabut yang cukup tebal.
Kabut tebal itu cukup untuk membuat jarak pandang mereka berkurang dan mampu cukup untuk membuat mereka cukup waspada dengan situasi ini. Kadang di balik kabut tebal, ada sebuah kejutan tengah mengintai.
Azergim menyadari ketegangan mereka semua. "Semuanya tenang saja!" Azergim melanjutkan. "Kita semua sudah hampir sampai...kabut tebal ini adalah sebuah pelindung yang selama ini melindungi Pulau Kadap"
Rasa cemas mereka sedikit berkurang setelah mendengar penjelasan dari Azergim, tetapi mereka semua tetap waspada untuk menghindari situasi yang tak diinginkan.
Benar saja. Beberapa saat setelah Azergim berucap, sebuah pulau mulai terlihat di hadapan mereka.
Pulau yang cukup besar dan sebagian besar masih tertutup oleh kabut tebal tetapi walaupun begitu, pulau itu semakin terlihat jelas saat mereka semakin dekat dengan pulau itu.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka semua telah sampai di Pulau Kadap. Azergim dan Rizvtir langsung memandu mereka untuk segera bertemu dengan Ratu dan menunjukkan jalan kepada mereka semua.
Sebelum melangkah lebih jauh, Archie menoleh kebelakang terlebih dahulu. Dia melihat Danau Baikal yang sama sekali tak terlihat lantaran tertutupi oleh kabut yang begitu tebal, pikiran Archie langsung terisi dengan fenomena aneh di pulau itu.
"Hei Archie sebaiknya kita menyusul mereka... Tetapi jika kau ingin lebih lama disini, aku akan menemanimu" Kata Viola.
Archie langsung tersadar dari semua pikiran-pikirannya. Dia memandangi orang-orang yang sudah berjalan jauh meninggalkannya, lalu dia melirik ke sebelah kanannya dan menemukan Viola yang sedang menatapnya dengan keheranan.
"Ah maafkan aku Viola, aku tadi sedang melamun"
"Tidak usah dipikirkan, lebih baik kita menyusul mereka saja ayo!"
Viola langsung menggenggam tangan Archie lalu Viola langsung membawa Archie untuk berlari-lari kecil. Archie sedikit kebingungan dengan sikap Viola, ia tidak menduga Viola memiliki sifat yang seperti itu, berbanding terbalik dengan sikap yang sering Archie lihat yang terkadang cukup mengerikan di mata Archie.
Kedatangan mereka semua nampaknya sudah ditunggu oleh para penghuni pulau. Para penghuni pulau sudah berbaris membentuk sebuah lingkaran dan berdiri tegap bagaikan tombak.
Semua orang-orang disana memiliki kulit nan eksotis, warna rambut mereka juga hampir senada dengan warna kulit mereka, dan juga di mata mereka terdapat sebuah kekuatan yang terpancar.
"Kau lama sekali Azergim! Rizvtir! Apa kalian hanya bermain-bermain saja di sana ha!" Seorang pria yang terlihat sudah sepuh terlihat tengah marah kepada Azergim dan Rizvtir.
Azergim dan Rizvtir langsung bersujud dan memohon ampun kepada pria sepuh itu, bahkan Rizvtir yang mempunyai perangai buruk langsung ketakutan hanya mendengar satu kalimat dari pria itu.
"Hamba mohon ampun Tetua Vundafes. Mereka ini benar-benar utusan dari desa di ujung danau Baikal" Azergim menunjuk seseorang yang berdiri di sebelah kanannya "Ini adalah kepala desa itu namanya Tuan Runin"
"Sedangkan sisanya adalah utusan dari kerajaan Narannas yang juga memiliki suatu persoalan dengan desa itu!"
Dahi pria sepuh yang bernama Vundafes itu langsung berkerut setelah mendengar ada nama Kerajaan Narannas terucap dari mulut Azergim.
Tiba-tiba saja udara di sekitar situ langsung terasa sesak, semua orang yang berkumpul disitu satu demi satu tumbang akibat tekanan itu. Begitu pula dengan keadaan Azergim dan Rizvtir yang tidak jauh berbeda dengan warga, Azergim dan Rizvtir langsung tertunduk lemas dan mengeluarkan keringat dingin.
Rombongan Archie juga merasakan efek yang sama, bahkan bisa dibilang kondisi mereka lebih buruk daripada Azergim dan Rizvtir. Terlebih bagi Archie yang berusaha mati-matian untuk tetap mampu bertahan dari tekanan itu.
"Berani sekali orang dari kerajaan menampakkan wajahnya ke sini, apa kalian cari mati? Atau kalian tengah mencari jalan tercepat menuju alam baka?" ucap Vundafes.
Archie mencoba melihat status dari Vundafes dan seketika beberapa informasi muncul di layarnya, tetapi ada juga informasi yang membuat rambutnya gatal.
[Vundafes Eastwind]
[The Beetle Commander]
[Level?????]
"Oi oi...apa-apaan statusnya itu!" Archie berseru di dalam hatinya.
"Mohon tenang dulu Tetua Vundafes...mereka kesini karena ada hal yang ingin mereka bicarakan dengan Yang Mulia Ratu!"
Perlahan-lahan tekanan udara kembali menjadi normal, Vundafes pun juga sudah tak berniat untuk bertindak lebih jauh. Dia lebih memilih untuk kembali dan meninggalkan mereka semua.
Archie langsung terbatuk-batuk bahkan hampir kehilangan kesadarannya akibat tekanan tadi, ia tak habis pikir hanya dengan sebuah aura dari seorang Vundafes mampu membuat semua orang tak berdaya sama sekali.
Terbesit kekesalan di dalam hati Archie, ia yang merasa sudah kuat kali ini harus dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang pahit. Namun karena itu juga Archie kembali ingat bahwa dirinya masih bukanlah apa-apa sekarang ini.
Walaupun dengan Murasame di tangannya Archie yakin ia tak sebanding dengan Vundafes. Bahkan Archie merasa dirinya masih jauh dibawah Azergim yang juga begitu misterius menurut Archie.
"Nampaknya perjalananku masih panjang...sialan! Aku begitu kesal sampai ingin menghancurkan sesuatu"
Azergim melihat sorot mata Archie yang terpenuhi rasa kekesalan karena tak berdaya sama sekali. Azergim sedikit tersenyum, ia juga pernah merasakan dan di posisi seperti Archie sekarang. Azergim yakin, jika Archie tetap memiliki sorot mata seperti itu, Archie akan terus melangkah maju menerjang semua halangan yang ada.
"Archie! Kau memiliki sorot mata yang sama denganku...jangan biarkan dirimu kalah dengan rasa takutmu...aku yakin suatu saat kau akan memiliki kekuatan seperti itu" Ucap Azergim di dalam hatinya.