Cyrus Online

Cyrus Online
Chapter 178: Sebuah Hadiah



Lusirele berlutut dengan hormat dihadapan sang raja Elondil setelah kedatangannya dari tempat yang cukup jauh untuk membantu pasukan aliansi Zero Fear.


Tentunya kedatangan Lusirele ini adalah hal yang sudah dinanti-nantikan oleh para petinggi kerajaan, mereka ingin mendengar kabar baik apa saja yang dibawa oleh Komandan Pasukan Kerajaan Narannas itu.


Setelah mendengar semua laporan dari Lusirele, wajah para petinggi kerajaan menjadi sumringah dan bercahaya, mereka semua seperti mendapatkan pencerahan dari dewi agung yang mereka hormati. Termasuk juga Elondil yang begitu puas dengan kinerja Lusirele yang sudah berhasil menjalankan perintahnya dengan baik.


"Intinya rencana kita untuk berbaur dengan para manusia bisa berjalan dengan baik di kota Del-Comte dan El-Paso. Serta di kawasan Lembah Ingatan, Diane yang merupakan teman Archie sekaligus pemimpin Zero Fear juga mempersilakan kita untuk masuk ke tempatnya tanpa harus waspada"


Laporan itu ditutup oleh Lusirele dengan sebuah berita yang cukup bagus sehingga hal itu membuat para petinggi menjadi senang, mereka juga sudah tidak sabar untuk melanjutkan kerjasama mereka dengan para aliansi.


Ini sebuah langkah yang besar bagi Elondil, ia sudah sangat lama ingin melakukan hal ini namun saat itu ia tidak punya kekuatan yang cukup untuk menjamin keselamatan bangsa Elf jika mereka mencoba berbaur dengan manusia lagi. Sebab karena konflik yang terjadi ratusan tahun itu, sulit bagi kedua belah pihak untuk memastikan apakah masih ada dendam diantara mereka berdua.


Tetapi jika seperti ini, Elondil sudah sangat yakin tidak lama lagi bangsa Elf akan bisa hidup berdampingan dengan para manusia tanpa harus memikirkan masa lalu mereka yang kelam. Entah itu akan terjadi berapa lama lagi, akan tetapi setidaknya Elondil sudah melihat adanya peluang kemungkinan untuk mewujudkan mimpinya itu.


Melihat keberhasilan Lusirele membuat Elondil tersenyum puas, ia lalu menatap ke arah para petinggi kerajaan dengan tatapan yang meyakinkan dan dibalas dengan anggukan kepala pelan oleh para petinggi kerajaan.


"Baiklah karena keberhasilanmu kali ini rasa terimakasih saja tidak akan cukup untukmu Komandan Lusirele!"


Lusirele nampak kebingungan dengan apa yang barusan Elondil ungkapkan, ia menatap ke arah wajah rajanya itu dengan tatapan seperti orang yang sehabis di gendam. Kepalanya kosong tak bisa menangkap apa maksud dari semua perkataan dari pemimpin Narannas tersebut. Baginya bukankah sebuah keharusan jika seseorang seperti dirinya harus menyelesaikan misi yang diberikan oleh kerajaan.


"Komandan Lusirele Gyyselth! Atas jasa-jasamu selama ini, Aku Elondil sang Raja dari Kerajaan Narannas akan memberikanmu sebuah hadiah kenaikan pangkat. Kau yang sebelumnya hanya komandan pasukan khusus, sekarang aku akan mengangkatmu menjadi Jenderal Perang Kerajaan Narannas!"


Suara Elondil begitu nyaring terdengar di dalam ruangan rapat istana kerajaan Narannas, suaranya bergema dan lantang, menunjukkan wibawa seorang raja yang agung.


Lusirele tak bisa mempercayai apa yang ia dengar barusan, kenaikan pangkat menjadi seorang Jenderal Perang adalah sebuah mimpi di siang yang terik bagi Lusirele. Ia tak akan pernah menduga ia akan mendapatkan jabatan yang sangat penting seperti itu di usianya yang masih begitu muda.


Lusirele hendak menyangkal semua hal itu, akan tetapi itu semua adalah kenyataan saat ini, semua orang mengakui kehebatan dan keterampilan yang dimiliki oleh Lusirele. Semenjak awal ia masuk ke ranah militer, dirinya sudah memiliki visi dan misi yang jelas, dan semua itu membentuk jati diri Lusirele yang sangat menjunjung tinggi rasa keadilan dan pengabdian terhadap Kerajaan Narannas.


Lusirele yang masih ragu itu menatap ke arah semua wajah para petinggi kerajaan. Ia melihat semua tatapan penuh keyakinan menuju ke arahnya, begitu pula saat ia menatap Elondil. Setelah menyadari tidak ada lagi yang bisa ia protes atau ia sangkal, Lusirele pun akhirnya menyerah dan ia menerima dengan senang hati promosi yang diberikan oleh Elondil.


Lusirele berlutut lebih rendah lagi di hadapan Elondil dengan tatapan penuh keyakinan ia akan bisa mengemban tugasnya sebagai Jenderal Perang Kerajaan Narannas. Elondil pun lalu mengambil pedang emas miliknya dan melakukan semacam ceremony untuk mengangkat Lusirele sebagai seorang Jenderal Perang Kerajaan yang sah.


"Mulai dari sekarang Kerajaan Narannas akan selalu menantikan pencapaian-pencapaian mu yang lain, Jenderal Lusirele!" Ucap Elondil dengan tatapan mata penuh rasa harap pada Jenderal baru itu.


"Baik! Mulai dari sekarang dan seterusnya hamba akan mempertaruhkan segalanya atas nama Kerajaan Narannas!" Balas Lusirele, lalu ia memberikan hormat kepada Raja Elondil, sebelum akhirnya ia kembali ke tempatnya sebelumnya.


Tepuk tangan meriah langsung mengisi seisi ruangan, mereka semua nampak bahagia setelah melihat Lusirele dengan mantap menerima jabatan yang cukup berat itu.


Setelah pelaksanaan ceremonial singkat itu, mereka semua kembali melakukan rapat untuk mengambil tindakan selanjutnya. Namun sebelum mereka masuk ke pembahasan yang rumit itu, Lusirele langsung memotong mereka dan memberitahukan kepada mereka semua tentang ucapan Archie beberapa hari yang lalu.


Ia baru saja mengingat hal tersebut karena sebenarnya ia tidak ingin mengingatnya, namun Lusirele sadar jika itu adalah hal yang penting dan harus ia beritahukan kepada semua petinggi kerajaan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan nantinya.


"Hamba baru saja mengingat hal ini Yang Mulia. Archie kemarin sempat bertanya kepada hamba tentang para Dwarf"


Ucapan Lusirele langsung membuat semua orang terkejut terheran-heran. Mereka semua tak menduga mendengar kata yang mereka anggap tabu itu. Dan setelah tahu bahwa kata itu terlontar dari mulut seorang Archie, mereka semua langsung tak habis pikir dengan pemuda yang satu itu.


'Anak manusia sialan! Mau sampai kapan kau membuat keonaran?' itulah yang ada dipikiran Tetua Uungor saat ini.


"Lalu kau bilang apa kepada si rambut putih itu Jenderal Lusirele? Apa kau memberitahukan kepadanya tentang mereka?" Tetua Uungor tak bisa menahan dirinya untuk bertanya setelah mengetahui Archie lah yang kembali menjadi biang kerok.


"Hamba hanya memberitahukan kepadanya kalau mereka tinggal di Lembah Duggarum karena itu menurut mitos yang pernah hamba dengar. Sedangkan hamba sendiri belum pernah melihat mereka atau berjumpa dengan mereka"


Semua orang langsung mengelus dara mereka setelah mendengar jawaban Lusirele, mereka nampak tenang kembali karena Lusirele hanya memberitahukan Archie sebuah mitos yang diturunkan turun temurun oleh para Elf. Namun di wajah Tetua Uungor saat ini sama sekali tidak terlihat tanda-tanda ketenagan, bahkan saat ini Tetua Uungor adalah orang yang paling banyak mengucurkan keringat dari wajahnya.


Mungkin untuk sebagian orang di situ keberadaan Dwarf adalah mitos atau mungkin mereka belum pernah melihatnya. Namun bagi seorang Tetua seperti Uungor, ia sudah pernah melihat bangsa itu dan bahkan pernah berkerja sama dengan mereka.


Ucapan Lusirele sama sekali tidak salah tentang mitos itu, Duggarum memang merupakan tempat tinggal para ras yang suka mabuk dan menempa itu, walaupun saat ini mereka tidak pernah terlihat lagi.


"Para Dwarf itu memang ada, dan bahkan aku pernah melihat mereka sebelum aku menjadi Raja di Kerajaan ini!" Tiba-tiba tanpa aba-aba sebelumnya, Elondil bicara dengan santainya kepada semua orang di sana.


Kali ini wajah Tetua Uungor bahkan lebih parah dari sebelumnya, keringatnya mengucur lebih deras seperti pipa yang bocor kemana-mana. Mulutnya membentuk huruf O yang sangat besar, jika saja ada lalat atau nyamuk yang sedang tamasya di sekitar itu, nyamuk atau lalat itu akan mengira mulut Tetua Uungor itu adalah Gua Waitomo nan indah.


Tak hanya Tetua Uungor yang berekspresi demikian, semua orang di sana sama-sama memiliki ekspresi yang sama dengan Tetua Uungor namun sedikit lebih bagus daripada Tetua Uungor.


Menyadari keanehan itu membuat Elondil bertanya-tanya kepada mereka semua. Elondil pun menggelengkan kepalanya dengan pelan melihat tingkah semua bawahannya itu.


"Aku berniat untuk tidak menutup-nutupinya lagi Tetua Uungor, sudah saatnya yang lain mengetahui fakta sejarah ini!"


Mendengar jawaban itu membuat Tetua Uungor merasa sakit di kepalanya, Tetua Uungor lalu menggelengkan kepalanya dan mengucapkan satu kesalahan yang dilakukan oleh sang Raja itu.


"Hamba tahu maksud Yang Mulia, namun bukankah ini terlalu mendadak? Lihat mereka semua, mereka semua seperti burung yang bingung melihat ikan yang sedang terbang!"


...****************...


"Jadi kau berniat untuk pergi berkelana lagi, mencari para Dwarf itu? Archie, kali ini apa yang sedang kau rencanakan?"


Begitu mendengar kabar kalau Archie akan segera kembali pergi untuk mencari para Dwarf yang tinggal di Lembah Duggarum, Diane langsung mendatangi Archie dengan perasaan penuh kekesalan.


Sudah tak terhitung berapa kali dirinya merasa seperti itu oleh tingkah laku Archie. Diane memang sudah mendengar itu sebelumnya, namun saat ia tahu Archie akan segera pergi ia langsung dengan cepat menemui Archie dan langsung mengeluarkan semua rasa kesalnya kepada Archie.


"Ahhhh sudahlah walaupun aku berceramah selama seharian penuh, kau pasti tidak akan memperdulikannya. Semua ucapan yang ku ucapkan hanya singgah sebentar di dalam telinga mu sebelum akhirnya keluar lagi" Ucap Diane yang sudah menyerah dengan pendirian Archie.


"Aku sudah pernah bilang kepadamu beberapa kali, kalau aku ini seorang petualang. Aku tidak bisa berdiam diri di satu tempat dalam waktu yang lama!"


Archie menyudahi perdebatannya dengan Diane, ia lalu kembali menatap ke arah pemandangan alam yang terbentang di Lembah Ingatan. Saat ini semua orang sudah bangun dari tidur nyenyak mereka, dan mereka kembali bersiap untuk melakukan aktivitas mereka masing-masing.


Pemandangan itu membuat Archie merasa nyaman, ia merasa seolah-olah berada di sebuah pedesaan yang begitu jauh dari peradaban modern. Semuanya masih begitu asri, nyaman, tidak ada rutinitas membosankan, dan tidak ada rasa cemas akan hari esok.


Melihat pemandangan seperti itu membuatnya bergairah, karena itulah Archie ingin melihat pemandangan yang sama di depan matanya saat ini, di tempat yang lain. Itulah sebabnya mengapa Archie ingin selalu menjelajahi suatu tempat yang lain.


"Indah bukan?" Diane tiba-tiba berkata, sedikit mendistorsi lamunan Archie.


"Ya ini indah sekali! Mau berapa kali aku melihatnya, aku tetap saja merasa takjub dan nyaman begitu melihat pemandangan ini"


"Benar kan? Itulah mengapa aku memilih tempat ini. Saat aku melihat pemandangan gunung-gunung yang saling mengejar itu, serta melihat ekspresi dari orang-orang. Aku langsung tergugah dan ingin melindungi semua itu entah bagaimanapun caranya. Dan nanti, tempat ini akan semakin luas dan maju, orang-orangnya juga akan semakin tumbuh, ada beberapa orang luar yang juga akan membaur disini. Semua pemandangan yang kita lihat sekarang, perlahan-lahan akan berubah namun hanya satu yang tak berubah yaitu wajah-wajah itu"


"Kau benar sekali Diane, mungkin di saat aku kembali nanti akan ada orang-orang yang berbeda ras dari mereka yang sudah menetap fi sini dan membaur dengan mereka semua. Aku sudah tidak sabar untuk melihat semua itu"


Archie tersenyum sambil melihat beberapa penduduk yang sedang melakukan rutinitas harian mereka. Mereka semua melambaikan tangan kepada Archie dan Diane yang mereka anggap sebagai pemimpin mereka itu, Archie dan Diane pun membalas lambaian tangan mereka sambil tersenyum ke arah mereka.


Tak berselang lama Caelius datang dan mendatangi mereka berdua. Setelah memberikan penghormatan kepada Diane yang ia anggap sebagai Putri Kerajaan yang harus ia lindungi itu, Caelius memberitahukan Archie kalau T-Bold sedang mencarinya saat ini.


"T-Bold kah? Sepertinya ia ingin memberikan laporan tentang keuangan kepada ku. Tepat sekali! Aku juga ingin memberikan resep baru kepadanya" Lalu Archie pergi meninggalkan balkon istana dan segera menuju ke ruangan rapat istana beserta Diane dan Caelius yang mengikut di belakangnya.


Saat mereka sampai di ruang rapat istana, memang benar sudah ada T-Bold yang menunggunya. Begitu T-Bold melihat Archie datang, wajahnya begitu bahagia dan gembira, T-Bold bahkan langsung berlari dan menerjang Archie karena saking bahagianya dirinya.


"Kupo!"


"Hei hei ada apa ini. Kau seperti orang yang baru saja melihat hantu, T-Bold"


"Hantu bokong mu! Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini kupo. Saat ini aku sedang merasa kesal dan juga bahagia karena dirimu Archie!"


Archie tersenyum miring mendengar pengakuan T-Bold, ia merasa kebingungan kenapa T-Bold menjadi seperti itu. Archie bahkan bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia pernah menyakiti atau menyinggung perasaan T-Bold.


"Sebenarnya kau itu siapa Archie? Apa kau ini seorang ahli strategi dari zaman tiga kerajaan yang bereinkarnasi? Semua strategi mu berhasil semua! Mulai dari saus tomat mu, potion, bahkan equipment yang kau jual itu juga laku keras. T&A Merchant selalu mendapatkan keuntungan yang besar saat ini, jika begini terus aku mulai merasa ketakutan Archie!' T-Bold marah-marah pada Archie sambil memukul-mukul wajah Archie, namun pukulan itu tidaklah menyakitkan, bahkan seperti menggelitik pipi Archie.


Archie masih kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh T-Bold, Archie lalu menatap ke arah Diane dan Caelius yang berada dibelakangnya. Mereka berdua juga sama bingungnya dengan Archie, bahkan untuk Caelius, Archie seperti bisa melihat ada tanda tanya besar di atas kepalanya seperti tanda orang bingung di dalam game-game RPG.


Archie menyuruh T-Bold untuk sedikit menenangkan dirinya, setelah agak tenang Archie lalu menyuruh T-Bold untuk duduk dan lalu menjelaskan kepadanya dengan perlahan tentang apa yang tadi T-Bold sampaikan.


T-Bold pun kembali merincikan apa yang ingin ia sampaikan di awal tadi, setelah beberapa lama kemudian Archie pun mulai mengerti permasalahannya.


"Kau terlalu memuji ku T-Bold. Aku bukanlah Zhuge Liang atau Sima Yi, ataupun Sima Shi. Aku ya aku, hanya seorang pengelana yang tak sengaja lewat" Ucap Archie sambil berlagak seperti seorang tokoh di serial kamen rider yang berwarna pink!


"Aku hanya bisa membuat dan mendapatkan benda itu, tetapi aku tidak bisa menjualnya seperti yang kau lakukan T-Bold. Apa mungkin kaulah yang sebenarnya reinkarnasi dari seorang pebisnis handal yang menciptakan alat komunikasi dengan lambang apel yang digigit nyamuk itu? Siapa namanya eeee Steve Aoki?"


"Steve Jobs! Kau ini kenapa Archie! Minta maaf sana sama Steve Jobs!" Diane tiba-tiba kesal dengan ulah Archie.


Melihat Diane yang kesal itu, Archie hanya bisa tersenyum sambil menahan tawanya saat ini. Archie sama sekali tak menduga kalau hal seperti tadi bisa membuat Diane begitu kesal terhadapnya.


"Lupakan soal itu. Aku dengar kau ingin pergi untuk mencari bangsa Dwarf kan Archie? Berarti kau akan pergi untuk waktu yang cukup lama ya?"


"Ya itu benar sekali, sebelum mencari mereka aku akan pergi ke Kerajaan Narannas dulu. Aku ingin mencari tahu lebih jauh tentang bangsa Dwarf itu, aku yakin ada beberapa catatan atau setidaknya ada beberapa orang yang tahu dengan keberadaan mereka. Mungkin saja Tetua Uungor tahu tentang bangsa Dwarf karena beliau adalah orang yang paling lama melihat dunia ini, bahkan beliau pernah ikut dalam peperangan besar"


"Kalau kau memang berencana begitu, izinkan aku menemani perjalananmu Archie!" Sebelum Diane berbicara lebih jauh lagi, Archie sudah menghentikannya.


Archie tidak ingin melibatkan Diane lagi, bukannya dia tidak ingin mengajaknya namun jika Archie membawa Diane, maka akan ada kekosongan dalam tubuh guild. Sosok Diane begitu sentral dalam guild, ia adalah orang yang mengatur semuanya, jika ia tidak berada di tempatnya maka itu akan susah.


Walaupun tidak Archie ucapkan namun Caelius mengerti pemikiran Archie itu, Caelius sangat setuju dengan pendapat Archie kali ini sehingga ia juga menahan Diane untuk tetap tinggal di Lembah Ingatan dan membiarkan Archie untuk berpetualang sendiri.


Mengetahui dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi membuat Diane kesal, ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya menyadari betapa tidak bergunanya dirinya. Namun setelah beberapa saat Diane kembali mendapatkan ketenangannya, ia lalu menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengucapkan beberapa kata untuk Archie.


"Baiklah aku akan menurutimu, tapi setidaknya kau harus selalu memberikanku kabar tentang mu! Ingat itu!" Ucap Diane.


"Ya ya ya baiklah tuan putri!" Ujar Archie setengah hati, ia benar-benar tidak ingin melakukan hal yang disuruhkan oleh Diane karena menurut Archie hal itu terlalu merepotkan.


"Baiklah kalau begitu kapan kau ingin berangkat kupo? Apa kau perlu tumpangan untuk ke sana kupo?"


"Ah itu tidak perlu T-Bold, kau hanya perlu fokus dengan pekerjaanmu saat ini. Karena kau harus menjual beberapa equipment yang aku kita dapatkan saat pertempuran itu!" Ujar Archie lalu ia mengeluarkan semua equipment yang ia ambil dari bekas pertempuran kemarin.


T-Bold terkejut melihat tumpukan equipment itu, berbagai macam equipment tertumpuk dihadapannya. Mulai dari pedang, perisai hinga baju besi. T-Bold tidak sabar ingin menjual semua tumpukan itu.


"Kalau kau ingin aku menjual ini semua apa boleh buat kupo. Tetapi apa kau hanya ingin berjalan kaki saja hingga ke Nilfelin?"


"Hahahaha tentu saja tidak! Aku mendapatkan tumpangan yang lebih asyik daripada naik kereta kuda ataupun naik keledai!" Ucap Archie dengan ekspresi wajah yang cukup aneh.