
Sekembalinya dari Adamantian Swamp, Archie langsung berkeliling kota Nilfelin yang sempat ia tunda karena berbagai permasalahan.
Ia berkeliling bersama dengan Izzy, Audrey dan Viola yang juga ingin melihat bagaimana kehidupan kota Nilfelin.
Walaupun kota Nilfelin sedikit rusak akibat serangan dari Lo-Kag dan Phoenix Flame, namun semangat warga kotanya seakan tak pernah hilang dari situ.
Stan-stan dagangan mulai buka kembali, aktivitas perekonomian juga kembali jalan walaupun sempat tersendat.
Rumah sakit dan sekolah pun juga beroperasi kembali. Namun untuk sekolah, para murid-muridnya terpaksa harus melakukan pembelajarannya di lingkungan luar sekolah.
Hal itu diakibatkan gedung sekolah yang rusak parah sehingga tidak memungkinkan untuk belajar. Namun walaupun belajar di luar, semangat belajar anak-anak pun tak luntur sedikit pun.
Dengan senyuman manis di wajahnya, Archie melihat dengan senang bagaimana semangatnya anak-anak itu untuk belajar.
Di sekolah itu anak-anak diajarkan tentang banyak hal dan di sesuaikan berdasarkan minat dan bakat mereka masing-masing. Ada yang suka berpikir maka dia akan belajar filsafat, ada yang suka belajar sihir, memanah, ataupun berpolitik. Sebuah sistem pembelajaran yang sangat maju melebihi sistem pembelajaran manusia.
Guru disekolah itu juga sangat menjunjung tinggi etos kerja mereka, walaupun mereka tidak memiliki semua keahlian yang mumpuni tetapi mereka tetap mencoba yang terbaik untuk para murid-muridnya.
Kadang ada beberapa instruktur ahli yang secara sengaja di datangkan oleh pihak sekolah agar anak murid jadi lebih baik lagi.
"Ah itu si kakak rambut putih!" Terdengar suara gadis kecil dari sekumpulan anak-anak yang sedang belajar itu.
Gadis itu langsung berlari ke arah Archie lalu diikuti oleh anak-anak yang lainnya. Karena itu Archie jadi kebingungan dengan apa yang sedang terjadi, Archie hanya bisa menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Kakak rambut putih!" Ucap gadis itu lagi.
Archie menoleh ke arahnya, tidak ada tanda bahwa dia mengenali gadis itu. Bahkan ia merasa tak pernah bertemu atau bahkan melihat gadis itu, Archie merasa ini adalah pertemuan pertama mereka namun entah kenapa ia merasa bahwa pernah bertemu dengan gadis itu.
Seakan tahu dengan hanya membaca ekspresi Archie, gadis itu pun tersenyum lalu ia mengambil sebuah belati kecil dari tas kecilnya dan menunjukkannya ke Archie.
Archie langsung melompat kaget saat menyadari belati kecil milik gadis kecil itu, ia ingat betul belati kecil yang berkilau itu. Sebuah belati yang diberikan oleh seorang elf kepada Archie.
"Kau gadis kecil yang waktu itu? Tapi seingat ku kau tidak setinggi ini"
"Memanglah seperti itu mereka ini bangsa elf, bangsa yang dapat tumbuh dua kali lebih cepat daripada manusia" Jelas Audrey
Viola tak bisa menahan keinginan untuk tidak tertawa karena keterkejutan Archie dengan hal yang sudah umum, begitu pula dengan Izzy yang juga ikut menggelengkan kepalanya melihat kelakuan temannya itu.
Gadis itu juga ikut tertawa karenanya, lalu ia kembali tersenyum manis ke arah Archie yang dibalas senyuman juga olehnya.
"Namaku Alruna terimakasih sudah membantuku saat itu kakak rambut putih" ucapnya dengan tulus.
"Alruna kah nama yang bagus!" Archie kembali mengelus-elus rambut Alruna seperti apa yang dulu ia lakukan saat di hari pemakaman.
Mengingat akan hal itu, Archie jadi teringat dia punya sebuah item yang bisa membuat dirinya bisa mirip dengan sosok pahlawan itu.
Archie mengambil item itu dari inventorinya dan langsung mengenakannya, anak-anak langsung heboh melihat penampilan Archie yang langsung berubah.
Mereka begitu antusias melihat Archie yang kini mengenakan sebuah topeng layaknya seorang pahlawan bertopeng yang suka naik motor belalang tempur. Archie pun mencoba memeragakan gerakan khas dari pahlawan bertopeng itu, ia menyilangkan tangannya dan langsung berteriak.
"Pahlawan bertopeng Archie siap melenyapkan kejahatan!"
"Waaaaah kereeennnn!!!" Teriak anak-anak.
Viola, Audrey dan Izzy tak tahu lagi harus bereaksi seperti apa setelah melihat Archie. Mereka bahkan bingung harus menangis bahagia ataupun tertawa bahagia.
"Kenapa malah dia yang heboh disini?"
"Entahlah Audrey mungkin dia kurang bahagia di masa kecilnya"
"Ah mungkin kau benar Izzy"
Archie menghabiskan waktunya bersama para anak-anak, dia memberikan pembelajaran tentang hal umum dan juga sedikit petuah-petuah untuk mereka semua.
Tindakannya ini juga tidak dipermasalahkan oleh pihak sekolah, mereka bahkan dengan senang hati mempersilahkan Archie untuk memberikan pengajaran di situ.
Karena hal ini Archie jadi teringat dengan pekerjaannya dulu, ia jadi teringat dengan momen-momen kebersamaan dirinya dengan para murid-muridnya di kelas. Kini ia mulai merindukan momen itu dan perasaan hangat mulai memasuki raganya.
"Kalian harus selalu maju berdampingan dengan sejarah kalian, jangan lupakan tentang perbedaan juga karena jika kalian bersatu maka kalian bisa melakukan hal-hal yang hebat!"
"Dan satu hal lagi! Ingatlah anak-anak tetaplah di jalan setan! Yap Archie-to janaito!" Ucapnya sambil berpose seperti orang bodoh.
"Hoi kau ajarkan apa anak orang ha?" Viola langsung maju ke depan dan memukul kepala Archie dengan keras.
Viola pun bergegas membawa Archie untuk kembali ke belakang, ia berulangkali menundukkan kepalanya untuk memohon maaf karena sikap Archie tadi.
"Sampai jumpa semuanya! Semoga kalian bisa jadi orang hebat di masa depan nanti" ucap Viola dengan senyuman sebelum dirinya menghilang dari pandangan mereka semua.
"Sampai jumpa pahlawan bertopeng!"
Walaupun dengan kondisi setengah sadar, Archie masih bisa melihat senyuman mereka semua.
Archie pun memberikan jempolnya kepada mereka semua tak lupa pula senyuman yang sampai terlihat gigi-giginya.
"Kebenaran akan selalu menang jika berhadapan dengan kepalsuan" ucap Archie.