
Di sebuah ruangan yang gelap dan dengan suasana yang sedikit mencekam, terlihat beberapa orang tengah berkumpul.
Beberapa orang yang berkumpul itu menghadap ke sosok orang yang tengah duduk di atas singgasananya bagaikan seorang raja tirani.
Mereka semua menghadap ke arah sosok itu dengan penuh tunduk tanpa meragukan sama sekali sosok yang tengah duduk sambil memandangi cahaya rembulan itu.
"Jadi kau gagal menghancurkan Nebula dari dalam Poisonox?" Ucap sosok itu dengan nada bicara yang terdengar santai namun terasa berat bagi Poisonox.
Wajah Poisonox langsung berubah pucat, keringat dingin membasahi dirinya dan tiba-tiba pandangannya jadi begitu gelap, ia pun semakin menundukkan badannya pada sosok itu karena saking takutnya.
"Maafkan aku Tuan hamba sudah mengecewakan Tuan. Rencana hamba untuk menghancurkan Nebula dari dalam sudah terendus oleh Ketua Nebula, Emperor dan berakhir jadi seperti ini" Ucap Poisonox dengan rasa penuh penyesalan dan ketakutan.
Sosok itu tadi hanya memandangi Poisonox dengan malas, ia seakan-akan tak peduli dengan kegagalan yang di alami oleh Poisonox itu.
"Sudahlah.... Aku sudah tidak peduli dengan Nebula lagi, mulai sekarang kau Poisonox, kau harus membantu Riser untuk mengembangkan Guild Phoneix Flame. Kehadiranmu di sana mungkin akan berpengaruh besar terhadap guildnya Riser" Sosok itu kembali berucap dengan wajah malasnya yang masih setia menempel di wajahnya.
"Baik Tuan, hamba akan penuhi tugas hamba itu" Ucap Poisonox singkat.
Lalu sosok itu tadi menunjukkan gesture yang menyuruh Poisonox untuk segera meninggalkan ruangan tersebut, Poisonox pun segera meninggalkan ruangan tersebut beserta Riser yang juga sempat berada di ruangan itu tadi.
Setelah Poisonox dan Riser keluar, sosok itu tadi lalu memanggil seseorang yang berpenampilan seperti seorang Elf dengan wajah yang sangat tampan dan terlihat gagah.
Elf itu pun segera menunduk patuh begitu ia berada di hadapan sosok yang sedang duduk di singgasana itu, ia bahkan tidak berani menatap langsung sosok itu karena menurutnya hal itu sudah terlalu lancang baginya.
"Glyfi.... Apa kau tahu siapa sosok D. Archie ini?" Ucap sosok misterius itu dengan nada bicara yang sangat mengancam.
"Tidak.... hamba tidak tahu sama sekali tentang orang itu Tuanku. Hamba hanya tahu saat Marsha hendak menyerangnya dulu dan sepertinya dia merupakan player yang hebat" Jawab Glyfi sambil terus menunduk.
"Kau tahu Glyfi? Aku sangat tidak suka ada tikus yang menggangu makan malam ku! Aku benci sekali tikus Glyfi!" Sosok itu kembali berucap, namun aura kegelapan milik sosok misterius itu tidak sengaja menyeruak keluar.
Aura kegelapan itu langsung menekan Glyfi yang berada di hadapan sosok itu, Glyfi merasa tertekan dan ia merasa seperti sedang tercekik lehernya. Ia tidak mampu bernafas dengan benar sebelum akhirnya sosok itu menarik lagi aura miliknya itu.
"Maafkan aku Glyfi, aku begitu kesal sampai-sampai aku tidak sadar sudah menyakitimu" Sosok itu langsung memperhatikan kondisi Glyfi, begitu Glyfi ia pastikan baik-baik saja, ia pun mulai bisa kembali tenang.
"Tidak apa-apa Tuan Gaahl, hamba begitu mengerti bagaimana perasaan tuan sekarang ini" Ucap Glyfi penuh dengan kemurahan hati.
Gaahl yang merupakan sosok berselimutkan aura gelap itu tadi menjadi begitu tersentuh mendangarkan perkataan Glyfi, ia memuji-muji kesetiaan yang telah diberikan oleh Glyfi kepadanya.
Gaahl memalingkan tubuhnya, ia kembali menghadap ke arah bulan yang tengah mengambang di atas langit benua Cirus.
...****************...
Suara bising alarm pagi itu benar-benar memecahkan keheningan di pagi hari yang begitu damai.
Ikhsan buru-buru mematikan alarm handphonenya itu karena sudah terlalu bising, serta ia sudah bangun 10 menit lebih awal dari alarm itu berbunyi.
"Kali ini aku yang menang" Ucapnya lalu Ikhsan pergi melangkah ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan.
Sarapannya begitu sederhana, ia hanya memasak mie rebus dan telur ceplok sebagai pelengkapnya. Begitu ia selesai membuat sarapan, Ikhsan pun langsung bergegas mandi lalu barulah ia menyantap makanannya selepas mandi.
Ikhsan menyantap sarapannya sambil menyaksikan acara CyrusTV pagi hari itu. Di CyrusTV ada liputan khusus tentang pertandingan yang diadakan oleh Guild Nebula kemarin dan ia sedikit terkejut begitu Ikhsan melihat dirinya yang sedang diliput itu.
Ada rasa kebanggaan di benak Ikhsan karena ia sudah menjadi player yang cukup di kenali, wajahnya pun jadi terlihat konyol setelah ia memikirkan tentang dirinya yang akan dikenal banyak orang dan dikelilingi banyak perempuan.
"Hahaha kalau terjadi seperti itu sepertinya aku harus pakai mode cool milikku" Ucapnya setelah memikirkan hal yang konyol tadi.
Setelah ia usai memakan mie rebusannya tadi, Ikhsan pun kini mulai bersiap-siap untuk pergi ke luar rumah. Rencananya hari ini ia akan melihat-lihat rumah yang ingin ia beli, ia cuma ingin melihat saja dan memastikan kondisi rumah itu.
Setelah mengenakan pakaian serba hitam khasnya, Ikhsan pun tak lupa mengenakan headset yang sudah tersetel musik kesukaannya yaitu Metal dan Rock.
"Baiklah aku pergi dulu" Ucap Ikhsan lalu ia membuka pintu rumahnya.
Saat ia membuka pintu itu, ia dikejutkan dengan seorang perempuan berambut berwarna ungu yang saat ini tepat berada di depan rumahnya.
Perempuan itu tersenyum ramah pada Ikhsan, hal itu membuat Ikhsan segera kembali menutup pintunya namun langsung ditahan oleh perempuan itu tadi. Bahkan kekuatan yang dimiliki oleh perempuan itu tadi cukup membuat Ikhsan kewalahan dan terpaksa mengalah pada perempuan itu tadi.
"Apa yang kakak lakukan di sini? Dan apa kakak sudah ada di situ sejak tadi? Jika benar seperti itu kakak sudah bisa di angggap seorang kriminal" Ucap Ikhsan dengan nafas yang berat akibat pertarungan di depan pintu tadi.
Perempuan itu tadi adalah kakak Ikhsan, yaitu Reina atau dikenal sebagai Viola di Cyrus Online.
Kedatangan Reina ke rumah Ikhsan itu sangat di luar dari pemikiran Ikhsan, pasalnya ia masih terlalu sungkan melihat kehadiran kakaknya itu di situ. Ikhsan tidak sanggup melihat sosok kakaknya sebagai Reina, dan ia lebih bisa menerima sosok Viola.
Reina mengerti hal itu, ia pun mengelus pelan rambut Ikhsan yang berwarna putih akibat suatu penyakit itu. Lalu Reina memeluk Ikhsan dan membiarkan dirinya terhanyut dalam rasa kenyamanan, sudah lama sekali dirinya tidak merasakan kehangatan seperti ia memeluk adiknya itu.
"Aku tahu kau masih berat untuk memaafkan kakakmu yang bodoh dan egois ini, tetapi izinkanlah aku untuk memperbaiki semua yang telah ku perbuat di masa lalu itu dik" Ucap Reina sambil mendekap Ikhsan dengan hangat.
Ikhsan pun cuma bisa berdiam diri membiarkan kehangatan merasuk ke dalam tubuhnya hingga menyentuh tulang. Di dalam pikirannya, Ikhsan masih teringat akan hal-hal dulu yang pernah ia lalui dan melupakan hal tersebut adalah hal yang sulit bagi Ikhsan.
Karena tatapan dan senyuman yang menurut Ikhsan aneh itu, ia pun jadi keheranan dengan tingkah kakaknya itu dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Kenapa kakak senyum-senyum seperti itu? Kau terlihat seperti seorang psikopat berdarah panas ah maksudku dingin" Ucap Ikhsan.
"Jahat! Kakakmu ini ke sini untuk mengantar adik kesayangannya pergi melihat-lihat rumah. Kamu kan ingin melihat rumah hari ini kan"
"Siapa yang memberitahu kakak kalau rencana ku hari ini ingin pergi lihat-lihat rumah?" Tanya Ikhsan sekali lagi.
Reina mendongak ke atas coba mencari sebuah jawaban atas pertanyaan itu, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang tepat untuk menutupi kebohongannya nanti. Hingga pada akhirnya Reina pun langsung mendorong-dorong Ikhsan untuk segera masuk ke dalam mobil miliknya.
Ikhsan pun hanya bisa mendengus kesal pada kakaknya itu, ia tak lagi memikirkan dan menanyakan tentang bagaimana kakaknya tau tentang rencananya itu. Namun Ikhsan jadi teringat kalau ia pernah menceritakan hal ini pada Rick, Lynch dan Persian. Ikhsan yakin kalau kakaknya itu menanyakan hal tersebut pada salah satu dari tiga orang tadi.
"Baiklah saatnya kita berangkat!" Ucap Reina dengan penuh antusias.
Mobil Reina pun melaju menerobos jalanan raya yang ramai dengan kecepatan yang tidak lambat, tidak pula cepat.
Ikhsan memandangi keadaan kota dari kaca jendela mobil yang cukup gelap, di bola matanya cuma ada aktivitas berulang-ulang yang lebih mengarah ke rutinitas yang ia tangkap. Begitu membosankan menurutnya.
"Ku kira si maniak api itu ikut juga"
"Dia masih tidur seperti putri raja, jika saja dia tau aku menemuimu tanpa sepengetahuan dia, dia mungkin akan membunuhku haha"
Di sepanjang sisa perjalanan, Ikhsan dan Reina saling bersenda gurau satu sama lain. Mereka berdua tengah membicarakan tentang Andini atau yang dikenal sebagai Viand.
Viola membahas sikap Andini saat dirumah, ia mengatakan kalau Andini suka sekali bangun tidur hingga siang hari dan juga hal aneh yang ia lakukan akhir-akhir ini seperti kamarnya yang saat ini dipenuhi dengan foto Archie.
Cerita itu tadi langsung membuat bulu kuduk Ikhsan berdiri, ia sama sekali tak menyangka mempunyai seorang kakak yang cantik namun dengan sikap yang tidak bisa ia toleransi sama sekali, bahkan lebih mengarah pada kelainan menurutnya.
Setelah cukup lama, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah komplek perumahan yang baru setahun resmi di buka itu.
Walaupun baru setahun di buka, fasilitas yang dimiliki oleh komplek perumahan itu cukup lengkap seperti akses air bersih, jalanan yang bagus, pusat kebugaran hingga yang lainnya termasuk jaringan internet yang super cepat.
Di saat mereka baru memasuki kawasan perumahan, mereka berdua sudah di sambut oleh seorang pria paruh baya lengkap dengan setelan jas mahalnya.
Pria paruh baya itu tersenyum ramah pada Ikhsan dan Reina, hal itu tentu ia harus lakukan untuk membuat kesan pertama yang bagus.
"Ternyata Anda memang masih begitu muda, Tuan Ikhsan. Izinkan Saya memperkenalkan diri sekali lagi, nama Saya Tjokro Chandra pemilik dari Royal Putra Group yang merupakan pemilik dari perumahan ini" Ucap pria paruh baya tadi memperkenalkan dirinya.
Ikhsan tak bicara apapun, ia hanya menyalami Chandra sambil tersenyum ke arahnya. Chandra pun memaklumi hal tersebut, tanpa memikirkan hal itu tadi ia pun menunjukkan jalan pada Ikhsan dan Reina menuju rumah yang nantinya Ikhsan beli itu.
Tak butuh waktu lama semenjak memasuki kawasan perumahan tadi, mereka pun sampai di sebuah rumah yang cukup mewah namun terlihat minimalis.
Rumah itu hanya memiliki dua lantai, dengan tipe semi permanen bergaya seperti rumah-rumah orang Skandinavia.
Rumput-rumput sintetis di depan rumah, jalan batu setapak, kolam ikan kecil di samping rumah serta ada sebuah pohon yang cukup rindang, cukup membuat rumah ini terlihat begitu indah. Dan hanya rumah ini yang seperti ini di perumahan itu.
Reina pun cukup terkesima melihat rumah itu, ia langsung memandangi adik laki-lakinya itu dengan tatapan yang sangat berbeda.
"Mari kita masuk dan lihat bagian dalamnya" Ucap Chandra yang membuyarkan lamunan Ikhsan tentang rumah itu.
Di dalam rumah, tidak ada sama sekali perabotan namun masih terlihat elegan. Itu karena lantai yang masih menggunakan kayu pohon ek dan beberapa ornamen-ornamen yang juga terbuat dari kayu.
Di ujung rumah, terdapat bar kecil yang mungkin bisa dipakai untuk santai-santai nantinya.
"Di lantai dua ada 3 kamar yang cukup luas dan juga menggunakan keramik seperti yang Anda minta" Ucap Chandra.
"Bagus, ini bagus sekali! Ini sama sekali melebihi ekspektasi ku!" Ucap Archie yang begitu terpesona dengan keindahan rumah itu.
Chandra pun mengangguk pelan sambil tetap tersenyum ramah pada Ikhsan, ia lalu berjalan ke luar dan diikuti juga oleh Ikhsan dan Reina di belakangnya.
Sambil terus tersenyum, Tjokro Chandra kembali mengajak Ikhsan bersalaman sebagai tanda kesepakatan mereka berdua dan Ikhsan pun tak keberatan akan hal itu karena ia sudah terpuaskan dengan hal tadi.
"Anda tinggal menandatangani kontrak saja dan rumah ini akan jadi milik Anda Tuan Ikhsan! Dan juga jangan lupa untuk menandatangani kontrak pembelian gedung itu" Ucap Chandra kembali mengingat Ikhsan tentang hal tersebut.
Ikhsan hanya mengangguk-angguk saja sambil terkekeh pelan karena ia hampir saja melupakan hal sepenting itu. Namun Reina malah keanehan dengan tingkahnya Ikhsan itu, ia pun menanyakan gedung apa sebenarnya yang Ikhsan dan Chandra bahas itu.
Ikhsan pun lalu menyuruh Reina untuk melihat ke samping rumah tadi, dan beberapa meter dari rumah tersebut memang terlihat sebuah gedung rendah yang terlihat kosong tak berpenghuni itu.
Reina masih kebingungan dengan hal tersebut, ia kembali menatap wajah Ikhsan dan ia tetap mendapati ekspresi Ikhsan yang agak terlihat menyebalkan itu. Namun saat semakin Reina terpikir, akhirnya ia pun sadar kalau gedung itulah yang tadi di sebut oleh Chandra kalau sebenarnya gedung itu dibeli oleh Ikhsan.
"Hahaha sebenarnya itu bukan aku yang membelinya, cuman ada seorang perempuan yang tak tahu harus dia apakan duit sekoper dan dia malah iseng beli itu gedung" Ucap Ikhsan sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal itu.
Reina pun tidak bisa berkomentar apa-apa lagi, ia tidak sanggup membayangkan seseorang yang terlalu bingung karena kebanyakan uang lalu akhirnya ia membeli sebuah gedung hanya karena ia sedang bingung saja.