
Suasana di kediaman Runin semakin tegang setelah Azergim buka suara dan memperkenalkan dirinya sebagai salah satu dari lima Panglima Legendaris bangsa Elf, khususnya Elf suku Nightborne.
Bahkan Runin si pemilik rumah sampai tak sadarkan diri mendengar hal tersebut, mungkin karena sudah terlalu banyak menerima kejutan akhirnya jantungnya tak mampu lagi berkompromi dengan keadaan.
Selain Runin, kedua utusan dari kerajaan Narannas juga merasakan tekanan yang begitu hebat. Apalagi si Tetua Uungor, badannya bahkan tak henti-hentinya bergetar hebat karena itu.
Tetua Uungor melirik ke arah Archie, ia takut jika Archie akan melakukan hal yang bodoh lagi tapi Tetua Uungor terlambat menyadari. Archie bahkan memelototi Azergim bahkan tanpa ragu ia mencoba menepuk-nepuk bahunya Azergim sambil tertawa lantang.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan dasar manusia" Tetua Uungor langsung murka melihat tingkah si Archie.
Archie langsung menyudahi tingkahnya karena merasa di omeli oleh Tetua Uungor, ia langsung mencoba menutup telinganya agar suara Tetua Uungor tak sampai ke gendang telinganya.
Tetua Uungor membuang nafasnya. "Tolong maafkanlah tingkahnya itu, ia cuma seorang manusia bukan ras seperti kita yang pernah mendengar Legenda Lima Panglima"
Azergim hanya menunduk dan tersenyum ramah kepada Tetua Uungor, walaupun sudah begitu Tetua Uungor masih takut jika tindakan Archie tadi dimasukkan ke dalam hati oleh Azergim.
Seperti mengetahui isi pikiran Tetua Uungor, Azergim kembali menunjukkan senyuman hangatnya kepada Tetua Uungor sambil berkata. "Tetua tidak perlu khawatir hamba sangat mengerti dengannya"
Setelah keadaan cukup mereda Azergim kembali melanjutkan pembicaraannya, ia juga menjelaskan tentang maksud kedatangan mereka pada awalnya ke desa Baikal.
"Sebenarnya hamba ingin bicara baik-baik dengan kepala desa tetapi.." Azergim berhenti sejenak lalu ia melirik ke arah Rizvtir yang tengah asik menggali emas dari hidungnya.
Merasa dirinya sedang diperhatikan, Rizvtir pun melihat keselilingnya. Semua orang memandanginya dengan tatapan yang beragam. Ada yang merasa aneh, ilfill, heran, dan ada juga yang tak mengeluarkan ekspresi.
"Apa kalian ha? Mau emas juga kah ha?" Ucap Rizvtir dengan kesal.
Semua orang yang tadi memperhatikan Rizvtir langsung membuang muka sambil mencoba bersiul-bersiul walaupun tak ada bunyi merdu yang keluar.
Cukup lama Azergim berbicara tentang dirinya serta Rizvtir, ia juga menceritakan kehidupan suku Nightborne karena mereka sebenarnya adalah suku yang sangat tertutup.
Tetua Uungor begitu antusias mendengar cerita dari Azergim, ia memang pernah bertemu dengan seorang Elf Nightborne namun itu sudah lebih dari ratusan tahun yang lalu. Ketika ia bertemu dengan Azergim dan mendengarkan ceritanya, Tetua Uungor seperti merasakan nostalgia di masa mudanya.
"Aaaah apakah aku bisa bertemu lagi dengannya?" Batin Tetua Uungor.
Runin juga sudah kembali sadar setelah cukup lama tak sadarkan diri. Ia sempat berteriak histeris sekali lagi namun dengan sigap Tetua Uungor serta Curufin langsung menenangkan Runin.
"Ehem...ehem" Runin berdehem sejenak lalu kembali mengambil ancang-ancang untuk berbicara. "Jadi sampai dimana kita tadi?"
Setelah pembicaraan di kediaman Runin tadi, mereka semua lalu diminta oleh kedua utusan dari Elf Nightborne untuk bertemu dengan Ratu mereka di Pulau Kadap.
Tidak ada keanehan sebenarnya dari ajakan tersebut tetapi Archie selalu mewaspadai setiap gerak gerik dari kedua utusan itu, ia merasa hal ini begitu janggal dan ada kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Azergim merasa tindakannya itu masih kurang dipercayai oleh mereka semua terlebih lagi Archie yang terus menatapnya dengan serius. Azergim pun lalu melirik ke arah Archie sambil tersenyum hangat.
"Tenanglah semua akan baik-baik saja, jika aku ingin mencelakai kalian sedari tadi sudah aku lakukan tanpa kesulitan sama sekali"
Senyuman Azergim memang membuat mereka sedikit bernafas lega, tetapi setelah mendengar ucapannya mereka semua lalu teringat betapa kuatnya Azergim. Tidak ada keraguan di mata mereka jika Azergim bisa melukai mereka saat itu juga tetapi Azergim lebih memilih tidak dan ingin berbicara baik-baik dengan mereka semua.
Mereka semua memegang senjata di tangan mereka, ada yang membawa pisau kecil, garpu rumput, obor, arit bahkan sapu untuk menyerang. Namun walaupun sudah membawa senjata tangan mereka tetap gemetaran saat memegang senjata itu, memang warga di desa itu selalu hidup dengan kedamaian dan menyatu dengan alam sehingga tidak pernah terpikir di benak mereka untuk mengangkat senjata.
"Jangan bawa kepala desa!"
"Ya jika kalian masih bersikeras, kami semua akan melawan!"
"Walaupun nyawa kami taruhan nya!"
Runin yang menyaksikan peristiwa itu tak tahu lagi ingin berekspresi seperti apa, ia begitu kebingungan antara ingin menangis atau ingin tertawa melihat hal itu namun ia begitu mengagumi tindakan para warganya yang begitu berani.
"Hei Azergim boleh aku bereskan mereka semua mereka menghalangi jalan kita"
"Jangan bodoh Rizvtir apa kau ingin aku kehilangan muka, jika kau berani melangkah satu langkah saja aku pastikan kau tak akan melihat awan biru lagi hari ini" Azergim murka terhadap Rizvtir.
Rizvtir pun lalu membuang mukanya sambil berjalan ke arah belakang. "Ah membosankan" Ia merasa begitu kesal namun tak bisa berbuat banyak.
Kemudian Azergim maju kedepan sambil menjelaskan kepada warga desa akan situasinya, tetapi warga desa masih tak percaya dengan perkataan Azergim terlebih lagi setelah Rizvtir yang melukai salah satu warga desa.
Merasa usaha Azergim tak membuahkan hasil Runin pun akhirnya yang maju dan menjelaskan kepada warga desa akan situasi yang ia alami. Kata perkata menjadi sebuah kalimat yang cukup panjang disampaikan oleh Runin.
Warga desa masih tak percaya tetapi mereka melihat kepala desa mereka berharap dengan wajah yang penuh harap agar membiarkan dirinya pergi ke Pulau Kadap dan berjanji membuat kehidupan di desa Baikal akan jadi lebih baik.
"Semuanya aku mohon percayalah denganku sekali lagi" ucap Runin sambil bersujud ke arah warga desa.
Warga desa terkejut dengan sikap kepala desa, mereka semua tak menyangka jika Runin akan melakukan hal seperti itu di depan mereka.
Mereka semuapun langsung menghampiri Runin dan cepat-cepat membangunkannya, mereka semua jadi tak kuasa melihat keinginan kuat dari kepala desa mereka.
"Kami semua selalu percaya dengan Anda, bahkan jika Anda bilang Anda ingin kami pergi ke neraka bersama Anda kami pasti akan menuruti dan mempercayai Anda" kata salah satu warga desa.
Kali ini emosi Runin tak bisa lagi ia bendung, air mata mulai mengalir dan membasahi pipi yang sedikit berkerut karena termakan zaman itu.
Selain Runin yang merasa sangat emosional, semua yang melihat peristiwa itu juga jadi begitu emosional terlebih lagi Tetua Uungor. Tetua Uungor juga tak bisa membendung air matanya, ia bahkan terisak yang membuat Curufin tak jadi mengeluarkan air matanya karena terganggu dengan isakan dari Tetua Uungor.
Venus juga menangis sejadi-jadinya, ia tak kuasa melihat peristiwa itu, ia lalu menutup matanya dan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk ketua guildnya, Viola.
Sedangkan Archie tak mengerti dengan sikap semua orang yang ada disana, ia hanya bisa menggaruk rambutnya yang tak gatal sambil menggumamkan sesuatu karena matanya juga berair.
"Oi siapa yang meletakkan bawang disini" kata Archie
Rizvtir dan Azergim menaikkan alis mereka karena mereka tak mengerti dengan apa yang Archie katakan, tetapi mereka juga keheranan dengan peristiwa yang kali ini mereka saksikan.
"Seharusnya kau mengizinkan aku membuka jalan agar kita tak melihat situasi ini Azergim!"
"Sudahlah diam saja dan nikmati drama ini Rizvtir"