
Archie bangkit kembali di sebuah kuil suci milik bangsa Elf yang di kenal dengan nama Kuil Alfheimr.
Kuil ini merupakan tempat suci seluruh bangsa elf, kadang mereka berziarah ke kuil ini saat ada acara besar seperti acara agama tahunan mereka yang di kenal dengan Festival Rual-Tel-Quasir.
Di Festival Rual-Tel-Quasir, seluruh bangsa elf akan berkumpul di Kuil Alfheimr dan melakukan doa-doa kepada Dewi Agung Alfhina. Setelah melakukan doa-doa, mereka akan melakukan sebuah pesta dengan jamuan makan besar-besaran serta saling lempar kesumba warna.
Alasan kenapa Archie dibangkitkan di kuil itu karena tidak ada lagi tempat suci semacam katedral di Kerajaan Narannas selain Kuil Alfheimr.
Setelah puas terkejut karena melihat status miliknya tadi, Archie pun melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar kuil. Cahaya silau langsung menerpa bola matanya ketika baru membuka pintu kuil, Archie pun terpaksa harus menghalau cahaya itu menggunakan tangannya.
Berangsur-angsur pandangannya mulai membaik, kini di depannya terlihat sebuah pemandangan gotong royong yang menyejukkan hati. Semua warga kota tengah saling bahu-membahu membangun kota Nilfelin lagi setelah hancur akibat serangan Lo-Kag dan Phoenix Flame.
Mereka membangun tempat-tempat umum yang rusak akibat serangan itu seperti rumah sakit, sekolahan, hingga kantor pemerintahan.
Tidak ada terlihat rasa keterpaksaan dari dalam diri mereka semua, tidak ada pula rasa kesedihan, mereka semua berjuang bangkit bersama-sama untuk maju kembali. Entah itu rakyat biasa, militer ataupun bangsawan mereka semua bersatu untuk membangun kembali kerajaan yang mereka cintai.
Tercetak senyuman di wajah Archie, ia membandingkan kehidupan disini dengan dunia nyata. Perbandingan yang sangat jelas dan kontras begitu terasa, berbeda sekali di dunia nyata yang para manusianya sudah berpikiran masing-masing saja dan mulai melupakan rasa gotong royong, bahkan rasa toleransi pun sudah mulai menghilang.
"Entah kenapa aku merasa malu melihat mereka semua bisa bersatu tanpa melihat dari suku ataupun status mereka"
"Kau benar Archie seharusnya manusia harus bisa seperti mereka ini" Ucap Viola.
Mereka berdua kembali melangkahkan kaki sambil melihat-lihat kegiatan para warga, mereka berdua seperti seorang pemimpin daerah yang sedang blusukan, para warga langsung memberikan senyuman ramah dan menyapa mereka berdua saat mereka berdua melewati daerah mereka.
Kadang juga Archie membantu mereka, seperti membantu mengangkatkan kayu besar yang harus diangkat oleh banyak orang.
Sedangkan Viola lebih sering dimintai tolong oleh para perempuan elf untuk menilai masakan mereka yang akan disajikan kepada para laki-laki. Viola berperan layaknya seorang chef profesional dengan merasakan setiap bumbu dan jerih payah sang pembuat makanan itu.
Dari kejauhan, Lusirele melihat Viola yang sedang membantu perempuan elf mengolah masakan. Lusirele pun mendekati Viola dan menyapanya dengan sangat ramah.
"Disini kau rupanya" Tegurnya.
"Ah Lusirele kah? Ada apa Lusirele kau terlihat sangat sibuk"
Viola tertawa renyah sejenak lalu ia menunjuk ke arah orang-orang yang sedang menggotong kayu besar.
Lusirele hanya bisa beraksi sederhana, ia hanya tersenyum bahagia saat melihat Archie sedang baik-baik saja, begitu pula yang dirasakan oleh Viola.
"Oh iya aku hampir lupa, ada yang mencari kalian berdua. Mereka saat ini ada di istana kerajaan, kalian berdua harus kesana karena Archie juga dipanggil oleh Yang Mulia Elondil"
"Oh baiklah kalau begitu kami akan segera kesana, terimakasih Lusirele atas informasinya"
Viola langsung bangkit dan pergi meninggalkan Lusirele, ia mendatangi Archie dan memberitahukan informasi tadi kepadanya. Mereka berdua pun berpamitan kepada warga kota lalu mereka berjalan menuju ke istana kerajaan.
------ Di Istana Kerajaan -------
Mereka berdua sampai di Istana Kerajaan Narannas, mereka berdua langsung disambut oleh pasukan kerajaan dengan senyuman ramah tamah. Berbanding terbalik dari kedatangan awal mereka ke kerajaan ini, saat itu mereka di kawal layaknya seorang tawanan namun sekarang mereka dianggap sebagai anggota kerajaan.
Di dalam istana, Archie melihat sosok orang yang ia kenali. Seorang pria dengan topi panjang berwarna hitam, jaket kulit serta celana ketat berwarna hitam. Terlebih sebuah senjata mirip gitar dengan tanduk runcing menusuk langit, sangat familiar di matanya.
Pria itu bersama seorang perempuan cantik dengan rambut berwarna pirang yang sedikit bergelombang. Perempuan itu langsung berlari kearah Archie saat iris mata berwarna kuning cerahnya menangkap sosok orang yang sangat ia khawatirkan.
Perempuan itu langsung mendekap Archie dengan sangat erat, ia tak memperdulikan orang-orang yang sedang ternganga melihat kejadian cepat itu.
"Audrey?" Tanya Archie ke perempuan itu.
Audrey tetap diam dan semakin kuat mendekap Archie, ia membiarkan rasa hangat memasuki seluruh tubuhnya.
Archie sangat kebingungan dengan semua itu, ia mencoba menanyakan kepada pria yang bersama Audrey tadi, namun pria itu hanya mengalihkan pandangannya dan menutup wajahnya menggunakan topi panjangnya.
Archie semakin kebingungan karena itu, selain merasakan kebingungan Archie juga merasakan hawa dingin yang begitu kuat sedang menyentuh lehernya.
Archie mencoba melirik kesampingnya dan ia melihat Viola yang sedang mengeluarkan ekspresi buruk sambil menggumamkan sesuatu yang tak jelas.
"Seseorang tolong aku!" Ucap Archie dengan air mata yang mengalir deras.