Cyrus Online

Cyrus Online
Chapter 81



Archie bisa kembali beristirahat dengan tenang setelah semua masalah yang terjadi satu persatu mulai mereda.


Masalah antara Kerajaan Narannas dan Suku Nightborne juga sudah selesai, tetapi ada satu hal yang masih mengganjal.


Dari cerita Titania, dia sebenarnya tak tahu ada orang dari wilayahnya yang mengacak-acak dan membuat keributan di wilayah lain.


Mereka sebenarnya masih memegang prinsip mereka yaitu untuk tidak peduli dengan keadaan di luar wilayah mereka, tetapi mereka akhirnya resah karena ada beberapa laporan tentang suku mereka yang mengacau di daerah luar.


Maka dari itu, Titania mengutus dua panglimanya untuk pergi ke wilayah luar dan bertemu Runin yang seorang kepala desa Baikal sebagai salah satu desa yang sering di serang oleh suku Nightborne.


Karena itu, mereka semua akhirnya sadar jika mereka sudah di pecah belah oleh seseorang yang ingin menguasai mereka semua.


Dan dari semua anomali itu, akhirnya merujuk ke satu orang yang merupakan dalang di balik itu semua. Tetapi orang itu sudah dibunuh oleh Archie saat berada di Kerajaan Narannas.


Archie dan yang lainnya dipersilahkan untuk beristirahat di Rumah Lamin sebelum mereka kembali pergi ke kerajaan Narannas. Mereka semua di berikan kamar yang terpisah-pisah karena banyaknya kamar yang masih kosong di Rumah Lamin.


Kamar dari Rumah Lamin juga tak kalah luas. Luas dari kamar itu hampir seperti kamar hotel bintang lima tanpa adanya ranjang. Lantainya masih beralaskan kayu ulin yang dingin, sehingga membuat di dalam kamar akan terasa sejuk.


"Ini kamar bisa buat main gundu!" Komentar Archie.


Cletak


Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Archie langsung melompat akibat suara itu. Archie coba melihat siapa yang membuka pintu kamarnya, ia hanya bisa membuat wajah masam setelah melihat Viola yang ternyata membuka pintu kamarnya tanpa peringatan.


"Hahaha lucu sekali reaksimu itu... Aku tak menduganya jika kau bisa terkejut juga"


Archie tak memperdulikan Viola, dia memalingkan wajahnya sambil membuat ekspresi yang menunjukkan kejengkelannya.


"Hei apa kau merajuk? Hei-hei ternyata Archie sang legenda juga bisa merajuk" Viola masih bertahan menggoda Archie.


"Terserahlah kau lah! Aku ingin log out" ucap Archie dengan nada kesal.


Mendengar Archie hendak log out, Viola bergegas menghentikan Archie. Viola langsung mencoba membujuk Archie agar menunda jadwal off nya.


Archie akhirnya menyerah dengan Viola, dia tidak tahan dengan cara Viola yang membujuknya agar tidak log out.


"Jadi apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan denganku Ratu Es?"


"Bisakah kita bicaranya di pelataran saja?" Ucap Viola sambil bola matanya melirik ke sekeliling ruangan.


Archie mengikuti arah bola mata Viola, ia pun menyadari kondisi mereka yang begitu berbahaya. Mereka berdua di dalam kamar yang begitu luas dan dengan cahaya yang remang-remang, tentu saja tempat itu bukanlah tempat yang cocok untuk bercakap-cakap.


"Aaaha kau benar sekali ini bukan tempat yang bagus untuk bercakap-cakap" ucap Archie sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.


Archie dan Viola tengah duduk santai di pelataran Rumah Lamin sambil memandangi langit sore yang indah.


"Jadi apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?"


"Aaah kau ini merusak suasana saja" Viola protes dengan Archie.


Archie tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Viola, dia hanya bisa memandangi Viola sambil memiringkan kepalanya.


"Dia juga memiliki rambut putih sama sepertimu, dan juga matanya yang penuh kebencian terpendam tak bisa aku lupakan bahkan sedetik"


Archie semakin tak mengerti dengan Viola, Archie seperti menjadi sebuah komputer dengan prosesor pentium 4.


"Mungkin kau itu memang orang yang ku kenal itu, atau bahkan kau orang yang lain namun serupa dengan dia, aku tak tau"


"Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan Viola? Apa hubungannya aku dengan orang yang kau kenal itu?" Archie kebingungan dengan sikap Viola.


Viola membuang nafas panjang sebelum dia kembali melirik ke Archie yang di wajahnya masih terlukis sejuta pertanyaan.


"Haha lupakan saja semua cerita tadi!" Ucapnya sambil tersenyum.


Viola pun bangkit dan pergi meninggalkan Archie yang masih keheranan dengan dirinya. Viola tiba-tiba berhenti lalu kembali memandang Archie dengan senyumannya. "2 hari dari sekarang temui aku di Plaza Palace saat hari sudah hampir berakhir!" Ucapnya lagi dan Viola pun meninggalkan Archie.


Archie masih kebingungan tetapi ia tak lagi memikirkan hal itu. Archie juga bangkit dan pergi menuju kamarnya lagi untuk segera log off dan kembali ke dunia nyata.


Setelah itu, dia berada di sebuah tempat yang gelap dan pengap. Ikhsan melepaskan kacamata canggih pemutar mimpi itu dan berjalan menuju saklar untuk sedikit memberikan cahaya di ruangan itu.


Setelah cahaya mulai mengalahkan kegelapan, terlihatlah ruangan itu dengan begitu jelas. Ruangan yang penuh dengan gambar poster-poster bertemakan game, anime, dan musik sarkas nan kelam.


Di ruangan itu juga terdapat beberapa buku bacaan dan juga komik, siapapun langsung tahu dengan sifat orang itu dengan hanya melihat isi kamarnya.


Ikhsan berjalan menuju ke arah dapur sambil memegangi perutnya yang terasa sakit akibat lapar.


"Perutku berbunyi nyaring sedari tadi, apa cacing di dalam perut ini sedang konser ya?"


"Terus kalau konser lagu apa yang mereka bawakan ya? American Idiot? Belalang Tua? Enter Sandman kah?"


"Aaaah atau mungkin lagu JKT-48 kah? Hei kau cacing ternyata kalian suka mereka juga ya!"


Perutnya kembali berbunyi bahkan lebih nyaring dari yang sebelumnya, karena hal itu Ikhsan langsung bergegas merebus air dan mengambil mie instan.


"Hoi! Ngidol nya jangan berlebihan dong woi!" Ucap Ikhsan sambil menepuk-nepuk perutnya.


Selepas itu, Ikhsan pun menyantap mie instan tadi di kamarnya sambil ditemani dengan sebotol air dingin dan sebuah buku novel.


Buku yang dibaca oleh Ikhsan tadi berjudul Stairway to Heaven atau Tangga Menuju Surga. Cerita itu bertemakan tentang pendekar yang sangat Ikhsan gemari, dia bahkan membaca buku itu berulang-ulang dan ini merupakan yang ke-29 kalinya.


"Wuuuh Wei Xiao ternyata digemari para perempuan! Hihihi"


"Anda saja aku seperti Wei Xiao, seorang pemuda yang penuh senyum..... Mungkin banyak perempuan yang suka dengan ku" Komentarnya saat membaca satu adegan di buku itu.


Karena hal itu Ikhsan pun jadi teringat akan ucapan Viola tadi. Mulutnya langsung membuka dan menutup seperti mulut ikan, tetapi sejurus kemudian Ikhsan langsung menepis semua kemungkinan yang muncul di pikirannya.


"Mana mungkin betina itu mengajakku berkencan ataupun menembak ku!"


"Tetapi dia bilang Plaza Palace? Berarti dia juga berasal kota ini?"


Malam itu Ikhsan dilanda seribu pertanyaan yang memusingkan dirinya sampai-sampai membuatnya sulit untuk tidur dengan nyenyak karena itu semua.