
Kehebohan terjadi di Royal Palace of Artuna. Sebuah tempat di mana para ras High Elf berdiam dan menjalankan pemerintahan dari balik bayang-bayang.
Kehebohan itu terjadi disebabkan berita tentang Raja Elondil yang menyatakan perang terhadap ras Bloodelf di wilayah utara sana. Sontak saja hal itu membuat seisi Royal Palace of Artuna heboh, karena hal ini adalah hal yang tak pernah mereka prediksikan sebelumnya.
Mereka mengira Elondil bisa dengan mudah mereka kendalikan seperti para raja pendahulu Elondil, namun mereka salah besar. Elondil bukan saja tidak bisa mereka kontrol, setiap keputusannya selalu membuat mereka tak habis pikir, dan mereka yakin sekali ada sesosok orang yang mempengaruhi Elondil hingga berani seperti itu.
Akhirnya mereka pun mengadakan rapat tertutup dengan sangat tergesa-gesa, mereka tak ingin semuanya menjadi lebih rumit lagi dan mereka harus bertindak cepat untuk mengatasi semua masalah tersebut.
Kira-kira ada 10 orang yang mengitari meja dengan kayu pualam yang dingin itu, satu kursi kosong di hadapan mereka, kemungkinan orang itu belum datang dan ia adalah sosok penting dalam rapat kali ini.
Mereka semua menunggu dengan wajah penuh kegelisahan, kaki mereka tak henti-hentinya turun naik, dan mereka selalu menatap ke arah pintu masuk setiap 1 menit sekali.
Dan orang yang mereka tunggu pun tiba. Dari arah pintu masuk, masuklah sesosok laki-laki yang begitu tampan, dengan wajah tirus dan dagu yang lancip. Matanya yang tajam berwarna hijau seperti emerald, berambut pirang terang seperti kebanyakan elf yang lain namun sedikit lebih terang, badannya tinggi tegap seperti tombak milik jenderal perang tersohor.
Semua orang langsung terperangah begitu melihat sosok yang indah itu, dan mereka semua juga menundukkan kepala mereka dengan sendirinya saat sosok itu berjalan di hadapan mereka. Aura yang dipancarkan oleh sosok itu juga membuat siapa saja merasa takjub, bahkan aura yang ia miliki itu mengalahkan aura kepemimpinan milik Elondil yang mana merupakan Raja mereka sendiri.
Sosok itu tak datang sendirian, ia datang dengan ditemani oleh sesosok perempuan yang juga tak kalah indahnya darinya. Jika disandingkan dengan laki-laki tadi, mereka tampak seperti 2 permata yang saling berkilauan.
Mereka berdua hampir memiliki ciri-ciri yang serupa, hanya warna bola mata yang indah itu membedakan keduanya. Warna bola mata milik perempuan itu sama indahnya seperti kristal Velvet Blue, yang berpadu dengan kulit yang seindah mutiara itu membuat siapa saja akan jatuh hati dan terpana bila memandangnya.
Bahkan ada suatu kisah yang cukup menggelikan tentang keindahan kedua mutiara itu. Mereka pernah berjalan beriringan ditengah kota Artuna yang cukup ramai dengan damai, namun kedatangan mereka berdua membuat orang-orang di sana terus-terusan memandang ke arah mereka berdua seakan-akan waktu terhenti begitu saja. Orang-orang di sana bahkan tak menyadari hal-hal buruk menimpa mereka saat mereka terhenti hanya karena memandangi mereka berdua. Ada yang tak sadar mereka telah mengiris jari mereka sendiri sewaktu mengupas buah-buahan, ada yang tak sadar mereka memasukkan bumbu yang salah ke jajanan mereka, dan ada juga yang tak sadar meneteskan air liur seperti hyena yang sedang kelaparan.
"Sudah kuduga! Seharusnya orang yang menjadi raja itu adalah Tuan Athriel!" ucap seseorang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Lihat Nona Ashiya bertambah cantik saja setiap harinya!"
"Mereka berdua benar-benar mutiara yang indah dari Kerajaan Narannas!"
Mendengar semua pujian itu membuat Athriel tersenyum puas sambil tetap mempertahankan ekspresi tak acuhnya, berbeda dengan Ashiya yang sama sekali tak menunjukkan ketertarikan dengan semua itu, ia terus saja berjalan hingga ke kursi yang masih kosong tersebut.
"Silakan kakanda!" Ashiya mempersilakan Athriel untuk duduk di kursi kehormatan itu.
"Terimakasih adikku tersayang!" ucap Athriel sambil memegangi dagu Ashiya dengan lembut sebelum akhirnya ia duduk di kursi kehormatan.
Ashiya mengikuti dengan berdiri di samping Athriel dan kembali lagi membuat mereka berdua nampak berkilauan.
"Jadi ada berita apa sampai-sampai harus mengadakan rapat dadakan seperti ini" Walaupun pertanyaan sederhana, namun entah kenapa setiap perkataan yang berasal dari mulut Athriel terasa begitu berwibawa dan tenang. Hal itu membuat suasana di ruangan tersebut langsung jadi lebih serius dari sebelumnya.
Mereka saling tatap satu sama lain, mencoba untuk saling menyuruh siapa orang yang akan bersuara untuk pertama kali. Cukup lama dan cukup intens persaingan saling tatap itu, hingga pada akhirnya seorang tetua harus mengalah untuk tidak menyia-nyiakan lebih banyak waktu lagi.
Tetua itu tadi pun berdiri dengan sedikit gemetar lalu berucap. "Hamba mendapatkan laporan dari istana, Raja Elondil mendeklarasikan perang terhadap Bloodelf di wilayah utara" ujarnya.
Tetua itu menarik nafas lega setelah berucap, lalu ia kembali duduk sambil merilekskan kembali tubuh dan pikirannya. Berbicara di depan sosok dua mutiara Narannas begitu menguras kondisi fisik dan mentalnya, tak baik untuk dirinya yang sudah tua.
Kepala Athriel turun naik setelah mendengar informasi yang baru saja diberikan oleh tetua tadi, ia langsung bisa mengerti di mana masalahnya namun ia masih merasa ada hal lain yang harus diberitahukan kepadanya. "Apa itu saja tetua?" tanya Athriel sekali lagi kepada tetua tadi.
Tetua tadi hendak menjawab, namun ia langsung diserobot oleh tetua yang lainnya. "Sebenarnya Raja Elondil juga sedang mencari keberadaan Dwarf tuanku! Raja Elondil bahkan sudah mengirim utusannya ke sana yang berisikan 2 orang suku Nightborne, 1 orang prajurit elf, dan juga 1 orang manusia" ujar tetua yang menyerobot itu.
"Hoh! Dwarf kah? Aku kira mereka cuma mitos yang ada di buku sejarah. Ayah memang orang yang tak bisa diprediksi sama sekali!"
Athriel sedikit terkejut dengan langkah yang diambil oleh ayahnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Elondil. Walaupun ia terkejut namun Athriel tampak tidak begitu peduli dengan hal tersebut, berbeda dengan Ashiya.
Saat Ashiya mendengar ayahnya telah melakukan sebuah langkah untuk menyatukan seluruh bangsa Elf, ia nampak antusias namun informasi itu ditutup rapat-rapat oleh para dewan petinggi. Lalu terdengar ada seorang manusia yang menjadi pahlawan bagi warga Nilfelin, ia kembali bersemangat untuk mencari tahu lebih lanjut tentang manusia itu.
Ia hanya tahu nama dari manusia itu adalah D. Archie, namun ia tak tahu lebih jelasnya dikarenakan para dewan yang tak suka dengan sikap Elondil dan akhirnya menutup kembali rapat-rapat informasi itu, mereka menganggap meminta tolong dan memiliki hutang budi dengan manusia itu adalah suatu dosa besar!
Dan kali ini ia mendengar tentang Dwarf yang pernah ia baca di dalam buku, namun ia menutupi rasa antusiasmenya untuk bisa lebih dalam mengetahui semua informasi tentang operasi ini.
"Tuan muda Athriel! Apa yang dilakukan oleh ayahmu ini cukup berbahaya bagi Kerajaan Narannas, dia ingin membawa kembali aib masa lalu bangsa elf yaitu para Dwarven itu!"
"Sungguh penghinaan bagi bangsa elf! Apa yang ada dipikiran Raja? Mengapa ia ingin berdamai dengan suku barbaric itu?"
Mendengar semua ocehan yang keluar dari mulut para dewan petinggi tak membuat Athriel merasa marah ataupun kesal sama sekali walaupun yang sedang dihina itu adalah ayahnya, Athriel sama sekali tak peduli akan hal tersebut. Athriel bahkan juga merasa jijik dengan langkah itu, ia tak bisa membayangkan sesosok High Elf yang begitu dihormati harus berjalan di tempat yang sama dengan Dwarf dan Manusia yang begitu kotor dan suka kekerasan itu.
Begitulah sifat alami para High Elf, mereka semua merasa diri mereka yang paling berkuasa atas alam dan seisinya, mereka merasa paling berbakat dan pintar dibandingkan makhluk hidup yang lain.
Sifat itu sudah ada mulai zaman nenek moyang mereka semua, nenek moyang mereka adalah orang-orang terbuang karena sifat sombongnya itu. Dan suatu hari nenek moyang mereka bersumpah untuk tidak pernah bersujud atau berjalan beriringan dengan makhluk-makhluk rendahan yang membuangnya itu, dan jika suatu hari ia berkuasa maka ia akan menindas orang-orang itu.
Pemikiran itupun akhirnya turun dari generasi ke generasi berikutnya, dan salah satu korban dari pemikiran salah kaprah itu adalah anak seorang raja yang dicintai oleh rakyatnya, Athriel.
Hubungan antara Elondil dan kedua anaknya yaitu Athriel dan Ashiya memang sedikit rumit. Walaupun Elondil juga keturunan dari High Elf, namun ia sama sekali tak terpengaruh dengan pemikiran ras unggul tersebut. Sejak dulu Elondil selalu menjadi duri dalam daging bagi para High Elf dan karena itulah anak-anaknya juga ikut jadi sasaran para High Elf.
Sebab itu Athriel membenci sifat ayahnya itu, berbeda dengan Ashiya yang begitu suka dengan sifat ayahnya yang selalu merendah kepada siapa saja. Belum lagi pengaruh dari pamannya yang bernama Edonar.
Edonar lah sosok yang menambah pemikiran Athriel menjadi lebih parah dari sebelumnya, Edonar sendiri adalah sosok yang sangat mencintai pemikiran ras paling unggul itu.
Semenjak hari itu, hubungan antara ayah dan anak itu semakin memudar dan hingga akhirnya terputus begitu saja. Athriel memutuskan untuk tidak mengikuti ayahnya ke Nilfelin, ia lebih memilih tinggal di Artuna tempat High Elf bermukim. Semenjak itu juga Ashiya harus mengikuti kakaknya itu karena desakan yang dilakukan oleh dewan High Elf, namun rasa cintanya kepada ayahnya masih tetap terjaga sampai saat ini walaupun dalam bentuk kepura-puraan agar tidak ada yang mencurigai dirinya.
"Tuanku! Jika tuanku ingin segera mengambil alih kekuasaan raja, kita bisa melakukannya karena kali ini raja sudah melakukan kesalahan besar!"
"Tidak, belum saatnya kita melakukan hal itu" ujar Athriel. "Kita harus memetakan kekuatan musuh kita terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan tersebut, aku tidak mau ada kegagalan lagi!" tambahnya.
"Maafkan kelancangan hamba tuanku!" orang yang mengusulkan tadi buru-buru minta maaf, ia menyadari saran yang ia berikan tadi salah besar dan bisa-bisa membuat Athriel mengalami kegagalan.
Athriel tak memperdulikan masalah itu, ia lalu menyuruh salah satu orang untuk memberitahukan lebih lanjut tentang manusia yang sedang menjalani tugas sebagai utusan dari Narannas itu.
Ashiya nampak ikut antusias mendengarkan hal tersebut, namun ia buru-buru kembali mengubah ekspresinya saat Athriel mencoba untuk melihat wajahnya.
Lalu beberapa saat kemudian, muncul seseorang yang terlihat sedang membawa sebuah gumpalan kertas. Kertas itu adalah catatan dari orang yang sedang dibicarakan tadi, D. Archie.
"Bacakan semuanya dengan suara yang jelas dan nyaring!" perintah Athriel.
"Nama D. Archie, seorang manusia misterius yang tiba-tiba saja muncul di Nilfelin dan sempat membuat kehebohan dengan sebuah wabah misterius. Lalu ia berhasil mengalahkan monster legendaris Lo-Kag dan juga mendamaikan elf dan suku Nightborne yang sudah berselisih hingga puluhan tahun. Ia dinobatkan oleh raja Elondil sebagai pahlawan Nilfelin dan dibuatkan patung yang terbuat dari emas!"
Semua orang nampak terkejut dengan semua informasi yang baru saja dibacakan itu, tak terkecuali Athriel ataupun Ashiya. Bahkan Ashiya lebih terkejut dari semua orang yang ada di sana, matanya berbinar-binar setiap mendengar pencapaian-pencapaian yang dibuat oleh sosok yang bernama D. Archie.
"Aku begitu penasaran dengan orang ini! Siapa sebenarnya dia? Apakah ia merupakan seorang pangeran dari negeri yang jauh?" Ashiya berucap dalam hatinya sambil membayangkan wajah Archie yang seperti pangeran tampan dari negeri yang jauh, begitulah kira-kira Archie dalam imajinasi Ashiya.
"Hoh kurasa dia cukup berbahaya. Mengalahkan Lo-Kag yang merupakan monster legendaris itu bukanlah hal yang mudah! Kita harus berhati-hati dengan pihak istana kali ini, besok aku akan ke Nilfelin menemui ayahku"
"Kalau begitu keinginan tuan, hamba akan menyiapkan segala keperluan untuk perjalanan ke Nilfelin!"
Athriel cuma mengangguk pelan, lalu ia mengibaskan lengannya dengan perlahan, seketika orang-orang di sana langsung pergi dari tempat itu.
"D. Archie kah? Nampaknya ini akan menjadi lebih menarik!"
...****************...
Kita beralih ke Eventyr, di mana Archie dan yang lainnya sedang melakukan negosiasi dengan Dwarf.
Keadaan di sini cukup aneh setelah pemimpin mereka yaitu Radamir Scareye mengatakan Archie adalah sosok penyelamat mereka semua.
Archie sendiri bahkan tak mengerti maksud dari 'penyelamat' itu, namun para Dwarf di sana sangat yakin sekali dan merasa mereka benar-benar akan diselamatkan kali ini oleh orang yang sudah mereka tunggu dengan sangat lama, sesuai yang ada di ramalan mereka.
"Sebenarnya kalian semua memiliki ramalan seperti apa? Sampai-sampai kalian menyembahku seperti ini dan menganggapku sebagai juru selamat kalian"
Pertanyaan Archie memang sedikit aneh, namun ia sangat dipusingkan dengan hal tersebut. Saat ia mencoba menolak semua hal yang diucapkan oleh Radamir, orang-orang Dwarf itu merasa begitu sedih dan ia mencoba bertanya kepada Proxyma tentang hal tersebut. Namun Archie tak menemukan jawabannya dari Proxyma, malahan Proxyma membuat Archie semakin kesal saja.
"Sebenarnya ramalan ini dibuat oleh seseorang dari kelompok kami saat dimasa kami selalu berpindah ke satu tempat ke tempat lainnya karena selalu diusir atau karena perang. Lalu orang yang kami anggap sebagai orang suci itu mulai meracau tak jelas sampai membuat ramalan seperti itu!" ucap Radamir
Cerita Radamir semakin membuat Archie tambah bingung dan heran, ia merasa begitu heran kenapa para Dwarf ini begitu percaya dengan perkataan orang yang tak jelas asalnya, bahkan sampai menganggapnya sebagai orang suci.
"Kenapa orang itu kalian anggap suci?" Tanya Archie sekali lagi.
"Sederhana saja, karena orang itu tak pernah sama sekali dalam hidupnya menegak arak! Orang-orang Dwarf dikenal karena olahan araknya dan mereka adalah peminum yang kuat, namun orang itu malah tak pernah meminum miras sampai akhir hidupnya. Makanya kami menyebutnya sebagai orang suci"
Archie tak tahu harus tertawa atau menangis mendengar hal tersebut, termasuk juga Proxyma yang malah ikut keheranan dengan Archie. Tak habis pikir Archie dengan orang-orang Dwarf ini, namun walaupun mereka seperti orang bodoh akan tetapi mereka dapat diandalkan dalam pengolahan arak dan besi serta mereka juga bagus dalam pertambangan.
"Argh aku menyerah dengan kalian, jadi sekarang apa keputusan kalian? Apa kalian akan mengikutiku dan pergi dari sini, atau kalian ingin tetap tinggal di sini?"
"Asal kalian tahu saja, jika kalian berpikir ikut denganku maka kehidupan kalian akan lebih nyama itu salah besar! Aku tidak akan menjanjikan hal tersebut kepada kalian semua, jika kalian ingin hidup enak maka kalian harus berusaha dengan usaha kalian sendiri! Aku akan membawa kalian ke suatu tempat yang cukup bagus untuk kalian semua karena di sana ada pertambangan yang bisa kalian eksplor sesuka kalian, lalu kalian bisa membuat peralatan perang seperti senjata atau baju besi dan nanti kami akan membeli kepada kalian semua, kalian juga bisa membuat arak di sana dan nantinya kalian bisa menjualnya kepada kami dan akan kami pasarkan ke kota-kota lain dengan keuntungan dibagi sesuai perjanjian yang akan ditentukan nantinya!" Archie menjelaskan semuanya dengan panjang lebar, ia tak peduli apakah orang-orang Dwarf itu akan mengerti atau tidak, itu bukan masalahnya lagi.
Semua orang saling tatap satu sama lain, mereka semua memikirkan usulan-usulan yang diberikan oleh Archie tadi. Memang benar Archie tidak berjanji untuk membantu orang-orang Dwarf agar memiliki kehidupan yang enak, namun Archie memberikan sebuah kesempatan untuk mengubah nasib semua orang-orang itu nantinya dengan usaha dari mereka sendiri. Jika ada orang Dwarf yang tidak berubah nasibnya setelah mengikuti Archie, itu bukan masalah Archie lagi dan semestinya ia harus bercermin mencari tahu letak kesalahannya sendiri.
"Kau yakin akan hal itu? Kami bisa mengubah nasib kami sendiri dan kau tidak ingin mengikat kami dengan hal ini itu?" Tanya Radamir sekali lagi.
"Ya, aku tidak akan melakukan itu! Kalian hanya wajib membayar pajak kepada penguasa itu saja, namun masalah pajak pun kami akan membicarakan hal ini terlebih dahulu dengan kalian ketika kita sampai di tempat itu. Namun kita harus ke Nilfelin terlebih dahulu karena ada suatu hal yang harus ku laporkan kepada Raja para orang-orang Elf ini" Ujar Archie.
Archie lalu menyodorkan lengannya kepada Radamir, Archie bermaksud untuk mengajak Radamir bersalaman sebagai tanda mereka telah sepakat satu sama lain. Namun jika Radamir tak menyambut ajakan itu, Archie pun akan meninggalkan mereka semua karena itu adalah keputusan mereka sendiri.
Namun Radamir dengan cepat menyambar lengan Archie itu, di genggamnya dengan sangat erat lengan manusia itu. Sampai membuat wajah Archie menjadi berubah-ubah warna dengan sangat cepat, seperti sebuah lampu lalu lintas.
Momen itu juga langsung disambut meriah oleh orang-orang Dwarf dan juga pengikut Archie, mereka semua bersorak-sorai dengan hasil negosiasi yang berjalan cukup mudah itu.
Proxyma bahkan tak menduga hal tersebut akan begitu mudah, dan juga ia cukup terkejut dengan cara Archie melakukan semua itu. Ia melihat Archie sebagai sosok yang mengerikan, namun entah kenapa ada sekilas cahaya yang ia lihat dari sosok Archie itu.
Begitupula yang dilihat oleh Panglima Burung, ia menduga Archie akan kesulitan menghadapi orang-orang Dwarf dan ia sudah menyiapkan skenario paling terburuk. Namun semuanya tak pernah terjadi, dan ia mulai sedikit demi sedikit memperhitungkan Archie.
"Pantas saja Ratu Titania begitu percaya dengan orang ini! Ternyata orang ini mempunyai monster yang mengerikan dalam dirinya" Ucap si Panglima Burung.