
Perlahan demi perlahan, kesadaran Archie mulai kembali.
Ia melihat ke sekelilingnya dan ia mulai menyadari bahwa ia telah dikurung di sini dalam waktu yang cukup lama.
Archie mencoba mengingat kembali kejadian yang menimpanya malam itu, namun ia tak bisa mengingatnya dengan jelas dan ia hanya memiliki ingatan samar.
"Telinga lancip! Elf!" Teriak Archie saat mendapati ingatannya kembali.
Archie mencoba untuk tenang dan mulai berpikir tentang keadaannya. Ia menyadari bahwa saat ini ia tengah terpisah dengan Viola dan Venus.
Kemungkinan besar Viola dan Venus masih hidup dan mereka sudah dibawa terlebih dahulu ke kota di saat Archie masih dalam kondisi pingsan itu.
"Argh sial nampaknya situasi rumit akan segera terjadi" ucap Archie sambil mencoba untuk mengambil pedangnya.
Namun ia merasakan hal yang beda. Archie langsung saja berteriak kaget saat mendapati bahwa kedua pedang miliknya tak ada lagi di pinggangnya.
Lalu muncul sebuah pemberitahuan di hadapan Archie dan pemberitahuan itu langsung membuatnya bergetar hebat seketika.
[Kutukan Murasame telah aktif]
[Kutukan Murasame telah aktif]
[Kutukan Murasame telah aktif]
[Kutukan Murasame telah aktif]
[Kutukan Murasame telah aktif]
"Oi oi yang benar saja! Aku baru tau ini"
Archie begitu panik karena pemberitahuan itu. Ia berteriak-teriak dalam kurungannya agar penjaga mendekatinya dan ia bisa melakukan negosiasi dengan penjaga itu.
Namun para penjaga juga tak ada yang menjawab teriakan Archie. Sudah lebih dari 5 menit Archie berteriak nyaring namun tak ada juga satupun penjaga yang datang.
Tambah paniklah Archie karenanya, ia mencoba menghancurkan kurungan itu dengan cara menendang dan memukulnya namun hal itu juga sia-sia, kurungan itu tetap tak bergeming.
[Kutukan Murasame telah aktif]
[Kutukan Murasame telah aktif]
[Kutukan Murasame telah aktif]
[Kutukan Murasame telah aktif]
[Kutukan Murasame telah aktif]
Pemberitahuan itu terus muncul di hadapan Archie, dan itu membuat Archie semakin panik dan frustasi dibuatnya.
Setelah lelah mencoba keluar dari kurungan itu, Archie pun kini tersandar di sudut dan mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tak bisa membayangkan apa yang terjadi karena hal tersebut.
Di saat Archie telah menyerah untuk keluar dari sana, Archie melihat ada seorang Elf yang merangkak dan mencoba untuk mendekatinya.
Archie jelas-jelas bingung dengan Elf itu dan Archie pun juga hanya bisa menunggu si Elf itu sampai ketempatnya walaupun dengan merangkak.
Saat Elf itu semakin dekat dengannya, Archie baru menyadari ada sesuatu yang salah dengan Elf itu.
Archie melihat ada sebuah bercak berwarna hitam yang menyelimuti Elf itu, mulai dari wajahnya hingga ke kakinya. Elf itu seperti terkena penyakit kulit yang mematikan.
"Hei apa kau baik-baik saja? Mana yang lain?" Archie langsung bertanya kepada Elf itu.
Elf itu tak bisa langsung menjawab pertanyaan Archie, ia hanya membukakan pintu kurungan Archie yang rupanya berupa segel yang hanya bisa di mengerti oleh bangsa Elf.
Archie langsung mendekati Elf itu. Ia memeriksa keadaan Elf itu dan ia mengetahui bahwa Elf itu sudah terkena kutukan dari Murasame.
"Tolong selamatkan yang lain, aku masih percaya dengan manusia jadi jangan sia-siakan kepercayaanku!" Ucap Elf itu
Archie mencoba meminumkan Antidote ke Elf itu namun tak ada yang berubah setelahnya.
Setelah itu Archie mencoba meminumkan Elixir yang bisa menyembuhkan efek negatif apapun, namun tetap saja tak ada yang berubah.
"Argh tak berguna!" Archie memukul tanah dengan rasa kesal yang membara.
"Sudahlah jangan pedulikan aku, sebaiknya kau cepat susul mereka ke kota atau sesuatu yang buruk akan segera terjadi!" Ucap Elf itu terbata-bata sambil memberikan belati kecil ke Archie.
Archie lalu meninggalkan Elf itu dan segera menyusul Viola dan Venus ke kota.
Ia berlari dengan sangat kencang dan dengan pikiran yang begitu berkecamuk.
Di perjalanannya itu, Archie melihat beberapa Elf yang lain juga mengalami hal serupa. Para Elf itu mengerang kesakitan dan terbaring di tanah akibat kutukan itu.
"Aku harus bergegas atau aku akan melihat hal yang mengerikan"
********
Nilfelin
Keadaan kota pagi itu tampak normal saja sebelum para prajurit Elf datang dan membawa dua buah pedang samurai.
Di antara kedua pedang itu, ada salah satu pedang yang terus-menerus mengeluarkan asap hitam dan makin lama makin tebal asap itu.
Dan seketika saja orang-orang yang sedang melihat pedang itu mendadak kesakitan dan menjerit-jerit.
Tubuh mereka semua langsung ditumbuhi dengan bercak-bercak berwarna kehitaman yang sangat mengerikan untuk dipandang.
"Argh sakit!"
"Kumohon selamatkan aku!"
"Yang mulia tolonglah hamba!"
"Begitulah keadaan kota sekarang ini yang mulia" ucap seorang elf yang memegang sebuah bola yang memiliki fungsi seperti alat perekam.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa tiba-tiba terjadi hal seperti itu?"
"Menurut laporan yang saya terima dari para prajurit, hal ini karena sebuah pedang milik manusia yang kita tahan yang mulia Elondil"
Elondil memegang keningnya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa masalah di negerinya semakin hari semakin bertambah rumit.
"Sekarang dimana manusia pemilik pedang itu? Apa ia ingin berperang dengan kita?" Elondil memukul mejanya dengan sangat keras.
"Menurut laporan, sang pemilik pedang itu masih di tahan di hutan Wallnut"
"Apa? Kenapa dia tak dibawa kesini? Kenapa para prajurit hanya membawa dua wanita itu?"
"Mohon maaf Komandan Lusirele, hamba juga tak mengetahuinya dan hamba hanya mematuhi perintah"
"Perintah? Aku tak pernah memerintahkan apapun tentang itu!" Kali ini Lusirele yang merasa jengkel karena ada pergerakan yang tak ia ketahui.
"Yang Mulia Elondil! Nampaknya ada belati yang tengah menusuk kita semua dari belakang!"
"Arghhh! Yang benar saja!"
Elondil tersandar lemas karena mengetahui masalah baru muncul lagi. Berungkali ia mengumpat dan memaki-maki meja yang tak bersalah sama sekali.
"Bawa dua wanita itu kemari! Aku ingin mendengar kisah mereka dan aku akan memikirkan langkah selanjutnya setelah itu" Elondil memerintahkan para penjaganya.
Dengan cepat para penjaga itu langsung melaksanakan perintah dari Elondil.
Sedangkan Elondil semakin merasa tak berdaya setelah diterpa berbagai macam masalah yang melanda negerinya.