
Telinga Archie jadi merah merekah, hal itu ia dapatkan setelah menerima siraman rohani dari Diane. Diane langsung memberikan ceramahnya begitu ia melihat sosok berambut putih yang baru saja datang dari penjelajahannya di hutan Razolore.
Diane sangat kesal dengan tingkah Archie yang suka bergerak sendiri itu, jika saja ia membicarakan hal ini pada Diane mungkin Diane tidak terlalu khawatir seperti itu.
"Kenapa kau tidak menunggu kami? Dan kenapa kau tidak memberitahukan hal ini kepada kami ha?"
"Ya tuan putri benar, kenapa kau tidak memberitahu kami Archie?"
"Ah kalian berdua berisik sekali, bukannya aku sudah memberikan pesan pada Chrishy dan seharusnya kalian sudah tau kan? Tidak ada lagi yang harus dipermasalahkan dari ini!" Jawab Archie dengan wajah penuh malas.
Diane masih kesal dengan Archie, terlebih lagi saat ia melihat wajah malas dan tidak bersalah Archie itu. Entah mengapa ia merasa geregetan dengan sikap Archie yang seperti itu, ia sudah tidak tahan melihat hal itu.
"Sudahlah Caelius aku sudah pening menghadapi orang satu ini! Aku ingin cari angin segar untuk mendinginkan kepalaku" Ujar Diane dan ia lalu pergi meninggalkan Archie.
Caelius jadi sedikit bingung dengan sikap Diane, ia tidak pernah melihat Diane merasa sekesal itu. Caelius pun langsung menatap Archie yang sudah membuat Diane seperti itu.
Namun Archie bahkan tidak memperdulikan hal itu, ia memalingkan wajahnya berusaha menghindari tatapan Caelius yang cukup mengganggu dirinya itu.
Caelius jadi tambah jengkel dengan Archie hingga ia tidak bisa mengontrol emosinya lagi, Caelius langsung menggenggam erat baju Archie dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan sikapmu itu, tetapi setidaknya pikirkan perasaan tuan putri!" Ucap Caelius.
Caelius lalu melepaskan genggamannya karena sudah merasa muak dengan Archie, ia pun meninggalkan Archie dan pergi mengejar Diane yang terlihat kesal tadi.
Archie membenarkan pakaiannya yang di genggaman erat oleh Caelius tadi, ia cuma bisa menggeleng pelan yang diiringi dengan tarikan nafas yang cukup berat. "Kenapa mereka begitu emosional?" Ucapnya yang penuh keheranan.
"Aku...aku ingin minta maaf pada Archie, karena Chrishy, Archie jadi di salahkan" Ucap Chrishy yang sedari tadi berada di sana melihat kejadian tadi.
Sambil menundukkan kepalanya, Chrishy mendekat ke arah Archie. Chrishy tidak berani menatap langsung ke wajah Archie saat ini, karena ia menganggap apa yang terjadi barusan adalah salahnya.
Archie hanya bisa tersenyum tipis melihat Chrishy yang menyalahgunakan dirinya sendiri itu, Archie pun mengelus-elus kepala Chrishy mencoba untuk meringankan beban pikirannya itu.
"Ini bukan salahmu, ini salahku sendiri yang sudah seenaknya sendiri. Yah bagaimanapun juga betina itu juga terlalu mendramatisirnya jadi jangan terlalu dipikirkan ya!" Ucap Archie disertai senyuman manisnya miliknya itu.
Melihat senyuman Archie itu membuat Chrishy sedikit lebih tenang, tetapi tetap saja ia tidak bisa menghilangkan pikirannya itu tadi. Chrishy hanya bisa diam dalam dekapan Archie yang hangat itu, karena baginya senyuman dan dekapan Archie itu membuat dirinya lebih nyaman dan damai.
"Archie harus berbaikan dengan Diane ya! Jangan sampai gara-gara Chrishy, Archie dan Diane malah bertengkar"
"Hahaha tentu saja, kami berdua itu teman baik dan seperti kebanyakan teman baik yang lain, kami juga sering berselisih satu dua hal. Tetapi kami tetap teman baik karena perselisihan itu membuat kami semakin kuat, bukan untuk memperlemah ikatan kami" Ujar Archie dengan senyuman secerah matahari di pagi hari yang cerah.
……………
Archie yang merasa sudah waktunya membicarakan sesuatu yang penting dengan Diane akhirnya ia pun mencari keberadaan Diane.
Semenjak ia dan Diane bertengkar tadi, Diane masih belum kembali ke istana kerajaan dan itu sedikit membuat Archie khawatir.
Terlebih Caelius yang merupakan seorang penjaga Diane saja tidak bisa menemukan dimana Diane, semakin membuat Archie harus turun tangan mengatasi hal itu.
"Dia tidak mungkin di luar kota Nilfelin. Jika ada satu tempat yang sangat indah di sini adalah tempat itu!" Ucap Archie lalu ia bergerak cepat ke sebuah tempat yang sudah ada di dalam benaknya kalau Diane berada di tempat itu.
Archie bergerak ke arah barat kota Nilfelin, di sana terdapat sebuah taman bunga yang berdekatan dengan taman makam pahlawan Elf yang gugur saat Lo-Kag menghancurkan kota.
Benar sesuai dengan dugaan Archie, Diane benar-benar ada di sana.
Diane sedang berbicara dengan seorang anak perempuan yang juga Archie kenali siapa anak perempuan itu.
"Kau cepat sekali tumbuh ya? Seingatku kau masih anak kecil yang menangis di depan nisan kakaknya. Dan sekarang kau tumbuh menjadi gadis kuat dan tangguh. Pasti Lusirele memberikanmu jadwal latihan yang padat kan?"
Diane pun jadi memalingkan wajahnya saat mendengar suara yang begitu familiar ditelinga nya itu, ia mendapati Archie yang sedang tersenyum ke arahnya sambil melambaikan tangannya seperti orang bodoh.
Karena masih merasa kesal, Diane pun kembali memalingkan wajahnya sambil menggembungkan pipinya dan bergumam tidak jelas.
"Serahkan saja padaku kak!" Dengan mantap gadis itu berucap yang membuat Diane kebingungan.
"Kakak rambut putih, apa kakak rambut putih sudah menyakiti kakak cantik ini? Jawab pertanyaan Alruna dengan jujur!" Ucap gadis itu lagi.
"Tidak, aku tidak menyakiti kakak yang di sana itu"
"Bohong! Alruna tahu kakak rambut putih bohong! Kakak pasti telah menyakiti perasaan kakak yang cantik ini" ucap gadis itu lagi sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Archie.
Diane cukup tercengang dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu, gadis itu bahkan berani sekali memojokkan Archie dan membuat Archie tidak berkutik sama sekali. Tetapi hal itu juga membuat Diane ingin tertawa, apa lagi melihat wajah Archie yang ketakutan dengan gadis bernama Alruna itu.
Hingga pada akhirnya Diane tidak dapat lagi membendung keinginannya untuk tidak tertawa, ia tertawa geli sampai terbahak-bahak melihat tingkah Alruna dan Archie itu.
Archie dan Alruna pun sedikit kebingungan dengan Diane yang tiba-tiba tertawa itu, namun mereka berdua saling tatap dan ikut tertawa pula.
"Kau mengenal gadis itu Archie?" Diane bertanya karena begitu penasaran.
"Ya seperti itulah, saat sebuah petaka terjadi di kota ini. Kakak laki-laki gadis ini menjadi salah satu korbannya, dari situlah pertemuanku dengan gadis ini" Jawab Archie sambil menunjuk ke sebuah makam yang ada di ujung sana.
Alruna lalu mengeluarkan sebuah belati yang merupakan benda milik mendiang kakaknya itu, ia mengelus pelan belati itu dan kembali teringat momen dimana dirinya bertemu dengan sosok penyelamat hidupnya itu, yaitu Archie.
"Jika Alruna tidak pernah bertemu dengan kakak rambut putih saat itu, mungkin Alruna akan hidup dalam ketidak pastian" Ucap Alruna sambil memandangi belati peninggalan kakak laki-lakinya itu.
Archie menggeleng pelan, ia sama sekali tidak merasa bahwa dirinya adalah penyelamat Alruna. Archie hanya mengatakan sebuah kenyataan saja pada Alruna saat itu dan karena itu ia tidak merasa seperti seorang penyelamat bagi gadis itu.
Tetapi Alruna masih bersikeras jika Archie lah penyelamatnya kala itu.
"Alruna sudah tidak memiliki siapapun kecuali kakak laki-laki Alruna dan kakak laki-laki Alruna juga pergi meninggalkan Alruna untuk selamanya. Ketika Alruna sudah kehilangan cahaya, kakak berambut putih datang kepada Alruna dan memberikan seberkas cahaya harapan pada Alruna" Ucap Alruna sambil tersenyum manis ke arah Archie.
Archie hanya bisa tersenyum masam mendangarkan semua perkataan tulus Alruna itu, ia kembali menggelengkan kepalanya sambil tertawa cekikikan.
"Aku ini orang yang sudah membunuh banyak orang, mana bisa orang yang pernah membunuh bisa di samakan dengan penyelamat" Archie kembali meragukan hal tersebut.
"Walaupun kakak berambut putih itu adalah iblis dari neraka yang terdalam sekalipun, Alruna tetap akan percaya kalau kakak berambut putih lah penyelamat Alruna yang sudah memberikan Alruna sebuah cahaya lagi!" Ucap Alruna tanpa keraguan sama sekali.
Diane yang mendengarkan percakapan antara dua orang itu langsung merinding terlebih setelah mendengar ucapan terakhir yang diucapkan oleh Alruna. Diane menyadari, betapa berharganya sosok Archie di mata gadis itu. Walaupun Archie selalu meragukan dirinya sebagai sosok sang penyelamat bagi gadis itu, tetapi tetap saja gadis itu akan kembali mengatakan tanpa ragu kalau Archie lah sosok penyelamat itu.
Diane kembali teringat dengan perangai Archie yang terlalu absurd itu, kadang kala ia bertingkah konyol, kurang update dan santai. Tetapi kadang juga ia bisa berubah menjadi sosok lain, bahkan ia bisa memerankan peran malaikat dan iblis dalam satu frame.
Karena memikirkan Archie, membuat wajah Diane menjadi merah semerah tomat. Ia bahkan langsung menutupi wajahnya sebelum hal itu dilihat oleh Archie.
"Bisa-bisanya aku memikirkan dia!"Gumam Diane.
"Baiklah kakak rambut putih, kakak cantik. Alruna ingin pergi dulu, Alruna harus melapor kepada Jenderal Lusirele" Ucap Alruna lalu ia pamit untuk pergi.
Tinggal menyisakan Diane dan Archie di situ. Tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka berdua untuk waktu yang lumayan lama, mereka sama-sama bingung harus memulai percakapan darimana.
Karena menyadari kebuntuan yang terlalu larut, membuat Archie membuang nafasnya. Archie sadar ia harus memulai suatu percakapan, atau ia akan terus merasakan kebuntuan yang serasa menusuk-nusuk dirinya itu.
"Aku tidak peduli dengan jawabanmu nantinya, yang penting aku ke sini untuk minta maaf padamu karena sudah membuatmu cemas tadi, aku menyadari kesalahanku"
Diane masih diam, ia tidak tahu harus membalas ucapan Archie seperti apa. Diane sedikit terkejut karena Archie yang biasanya tidak mau meminta maaf terlebih dahulu, kini ia mengakui sendiri kesalahannya dan meminta maaf padanya. Karena itulah Diane sedikit kebingungan sehingga ia tidak bisa untuk berpikir menjawab ucapan Archie tadi.
Melihat Diane yang masih diam membelakangi dirinya itu, hanya bisa membuat Archie membuang nafasnya kembali. Archie sudah merasa sedikit lebih lega setelah meminta maaf tadi, walaupun masih belum dijawab oleh Diane tetapi itu sudah lebih dari cukup menurutnya.
Lalu Archie kembali berucap namun bukan untuk kembali membahas masalah permohonan maaf itu, melainkan membahas sesuatu yang lebih penting dari hal itu tadi. Bahkan masalah ini akan tetap Archie sampaikan walaupun ia masih dibenci oleh Diane sekalipun Archie tidak peduli.
"Aku mendapat pesan dari Izzy dan Seth, mereka berdua dalam bahaya dan kemungkinan besar mereka akan terlibat kontak dengan 7Deadly!" Ucap Archie dengan mantap dan membuat Diane langsung berpaling menatap Archie dengan tatapan penuh kekhawatiran.