Cyrus Online

Cyrus Online
Chapter 107: Melihat Dari Sisi Yang Lain



Ketakutan tiba-tiba melanda Momo-chan ketika dirinya melihat ke luar jendela tadi.


Iya begitu shock dengan apa yang ia lihat tadi, dia bahkan tidak bisa lagi berkata-kata sekarang ini.


Karena hal itu juga Momo-chan menerima efek fear yang terlihat dari bar statusnya.


"Wajar jika kau begitu shock, kau masih tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sini" Ucap Misphita sambil memberikan sebuah ramuan kepada Momo-chan.


Tanpa pikir panjang lagi Momo-chan langsung mengambil ramuan itu dan langsung meneguknya hingga tak bersisa, seketika efek fear yang ia alami menghilang dan pikirannya saat ini sudah mulai tenang.


"Sebenarnya mereka itu apa? Kenapa mereka disini? Dan jika mereka makhluk jahat warga desa akan jadi korban, kita harus membantu mereka!"


Momo-chan langsung melangkah ke pintu depan dan hendak membuka pintu itu, lalu dengan sigap Misphita menarik lengan Momo-chan yang hampir membuka pintu itu.


Di saat itulah sebuah cakaran besar langsung tercetak di pintu itu sehingga membuat Momo-chan kaget melihat pintu rumah Misphita yang tiba-tiba ada sebuah lukisan cakaran yang begitu presisi.


Beruntunglah Misphita sempat menghalau Momo-chan, kalau tidak maka Momo-chan akan terluka atau bahkan sudah menjadi pasta daging. Tetapi walaupun begitu, Misphita menatap Momo-chan dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.


Misphita begitu kesal dan marah dengan Momo-chan yang bertindak tanpa pikir panjang itu, jika ia tidak cepat reaksinya mungkin sudah lain ceritanya.


"Kau bodoh!" Hardik Misphita


Di hardik seperti itu oleh Misphita, Momo-chan pun hanya diam dalam senyap saja. Ia mengetahui letak kebodohannya dan ia tak mau mempermalukan dirinya lebih dari itu.


Shrakkk


Pintu kembali di cakar dan menciptakan lubang yang lebih besar.  Lalu muncul sosok monster berbulu lebat dengan cakar yang panjang dan tajam.


Monster itu melirik ke arah Misphita dan Momo-chan, ia tersenyum dan memperlihatkan taring yang tak kalah tajam dari kukunya itu. Dengan taring itu mungkin ia bisa mengkoyak apa saja yang ada di depannya.


Monster berkuku tajam tadi langsung melompat menerjang mereka berdua, tetapi sebuah siluet hitam dengan cepat menabrak monster itu hingga membuatnya terpental dan menabrak tembok rumah dengan sangat keras.


"Harimau? Tapi kenapa dia berwarna hitam?" Momo-chan langsung keheranan dengan siluet hitam tadi yang ternyata adalah seekor harimau dengan warna hitam dengan loreng oranye.


Monster tadi kembali bangkit, dia masih tersenyum menunjukkan taring panjangnya walaupun sudah terhantam dinding dengan cukup kuat.


Setelah berdiri tegap beberapa meter dari Momo-chan dan Misphita, Monster itu memandangi mereka berdua dengan intens. Lalu dari arah atas, muncul kembali 2 ekor monster itu.


"Ah sepertinya tempat ini akan kembali berantakan, terimakasih bocah sudah repot-repot mau merapikan rumahku!" Momo-chan mengangkat tangannya ke atas dan seperti seseorang yang bersiap mengambil tongkat estafet.


Momo-chan yang masih di bingungkan oleh monster itu, menjadi tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Misphita dan juga ia tidak mengerti kenapa Misphita berpose seperti orang yang ingin mengambil tongkat estafet.


Sekarang ini otak Momo-chan seperti sedang mengalami blank atau boot loop, sampai-sampai ia dikejutkan oleh sebuah tongkat panjang yang terbang tepat di depan wajahnya dan berhenti tepat di tangan Misphita.


Momo-chan langsung berteriak kegirangan di dalam hatinya melihat Misphita yang seperti seorang penyihir sungguhan, adanya tongkat panjang itu seperti tanda pengenalnya sebagai seorang penyihir.


Misphita memutar-mutar tongkatnya seperti seorang pendekar tongkat ataupun seperti seorang ahli bela diri tingkat surgawi. "Apa yang kalian inginkan hah? Seingat ku, aku tak pernah mengganggu kalian dan tak pernah mengusik kalian.


"Aku peringatkan kalian untuk pergi dari sini, atau aku tak akan segan-segan lagi dengan kalian semua! Kalian pikir aku takut dengan kalian hah?"


Salah satu dari monster tadi melangkah ke depan dan berhadapan dengan Misphita. Misphita dengan sangat lihai mengeluarkan mantra dan tiba-tiba muncul seekor beruang besar berwarna hitam pekat.


Beruang hitam milik Misphita pun langsung bertarung sengit dengan monster itu, mereka saling cakar dan meninggalkan bekas luka yang cukup lumayan di seluruh tubuh mereka.


Setelah itu Misphita maju ke depan dan langsung menyerang kedua monster itu dengan menggunakan tongkat.


Bagaikan ahli bela diri, Misphita menari-nari menggunakan tongkat itu dan menyerang kedua monster itu secara bergantian sehingga membuat monster itu sedikit kewalahan karena hal itu.


Sambil menyerang monster itu, Misphita merapal sebuah mantra lagi dan tiba-tiba muncul puluhan gagak yang membuat monster di depannya sedikit terganggu oleh puluhan gagak yang menyerbunya. Lalu Misphita mengambil kesempatan itu dengan menyerang monster itu di daerah perut dan dilanjutkan sebuah pukulan tepat di atas kepala monster itu.


Salah satu monster ingin memanfaatkan kelengahan dari Misphita, ia hendak mencakar punggung Misphita namun sebelum hal itu terjadi, Momo-chan langsung menyerangnya dengan Fire Ball miliknya yang tepat mengenai wajah monster itu.


Karena hal itu jugalah, Misphita menyadari hal tersebut dan langsung merapal mantra pemanggil, sekarang ini yang muncul ada seekor burung elang yang langsung menyerang monster tadi dengan serangan ledakan.


Karena monster itu sudah kalah dan tak bisa bangkit lagi, Misphita langsung memanggil kembali semua hewan panggilannya kembali ke alam sihir.


"Keren! Dia keren sekali, bukan hanya ahli dalam sihir tapi dia juga hebat bertarung dengan tanpa menggunakan sihir" Komentar Momo-chan setelah melihat pertempuran tadi.


"Terimakasih bocah aku berhutang padamu, jika kau tidak mengeluarkan sihir tingkat dasar tadi aku mungkin akan memiliki luka di punggung ini" ucap Misphita


Momo-chan hanya bisa mengangguk, di dalam hatinya ia sangat bangga sudah bisa membantu dan menyelamatkan seorang penyihir hebat. Sekarang ini ia hendak mencelupkan wajahnya ke dalam bak berisi air penuh.


"Kita harus pergi dari sini, aku hendak memberikan sebuah pelajaran ke orang itu!"


..................


Selepas keluar dari rumah Misphita, ternyata hal lebih mengerikan terjadi.


Sambil berlari ia bertarung dengan makhluk-makhluk itu yang seakan tak ada habis-habisnya.


"Sebenarnya apa itu tadi, dari mana datangnya mereka semua?" Momo-chan begitu penasaran dengan makhluk itu.


"Kau lihat saja sendiri makhluk apa itu" jawab Misphita dengan ketus.


Lalu Momo-chan memfokuskan penglihatannya ke salah satu monster yang dikalahkan oleh Misphita yang sekarang ini sedang di lilit oleh ular dengan warna hitam yang pekat.


[Dragullin]


[Level: ???]


[HP: ???]


"Apa-apaan itu? Kenapa semua ada tanda tanya begitu, apa level ku kurang tinggi?" Batin Momo-chan.


Mereka berdua kembali bergerak dan Misphita kembali bertarung dengan makhluk-makhluk itu. Namun sekarang ini terdapat Dragullin dengan ukuran yang cukup kecil, namun ganasnya juga tak kalah dari yang besar.


Dengan sangat sigap Misphita menyerang mereka semua dengan mengerahkan seluruh kemampuan, berbagai macam hewan panggilan sudah ia panggil dan ia juga menyerang makhluk itu dengan serangan tanpa sihir.


Setelah cukup lama bertarung, mereka berdua sampai di depan sebuah rumah besar yang berada di tengah-tengah desa.


Momo-chan sedikit kebingungan kenapa Misphita membawanya kemari, ia ingin menanyakan hal itu kepada Misphita namun ia melihat sebuah senyuman di wajahnya.


"Kau ingin tahu apa yang terjadi di desa ini kan? Kau hanya melihat dari satu sisi, seharusnya kau melihat dari sisi yang lain!" Ucap Misphita


Misphita langsung membuka pintu rumah itu dan di dalam rumah itu terdapat banyak sekali makhluk seperti tadi sedang berkumpul di dalam sana.


Mereka memandangi Misphita dan Momo-chan, Momo-chan langsung merinding melihat gerombolan makhluk itu.


"Dimana kepala desa Alger? Aku ingin berbicara dengannya!" Misphita berteriak lantang, suaranya langsung bergema ke seluruh penjuru ruangan.


Lalu dari kerumunan itu muncul sosok manusia yang memiliki tampilan seperti kepala desa pada umumnya dengan senyuman monoton khasnya.


"Ada masalah apa Misphita? Bukannya kau tidak ada urusan dengan kami?"


"Kepala kau tidak ada urusan! Anak buah mu menyerang rumahku, dia ini tamuku bukan orang asing! Jadi jika kalian melukainya aku akan buat perhitungan dengan kalian!" Suara Misphita menggelegar sampai ke ujung ruangan pun masih terdengar.


"Hmmm Sejak kapan kau punya tamu? Yang ku ingat kau itu orang yang tak suka berinteraksi dengan orang lain? Mengapa kau lindungi orang ini, biarkan kami melakukan apa yang kami mau!"


Semua orang di dalam sana langsung mengerumuni Misphita dan Momo-chan, tidak ada jalan keluar lagi untuk mereka berdua.


"Tunggu sebentar!" Suara orang berteriak dari arah luar menghentikan mereka semua.


Momo-chan langsung melihat ke sumber suara itu, wajahnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat saat mengetahui orang yang berteriak tadi adalah kenalannya, yaitu Ruksel.


"Paman Ruksel!" Teriak Momo-chan.


"Ada apa kau kemari Ruksel? Apa ada yang ingin kau sampaikan?"


"Begini kepala desa, jangan apa-apakan gadis itu. Dia adalah manusia yang baik dan hatinya seperti malaikat


Jadi aku mohon jangan apa-apakan dia, aku jamin dia tidak akan mengganggu kita semua, dia kesini hanya ingin belajar sihir dengan Misphita, itu saja!" Ruksel memohon kepada kepala desa agar Momo-chan tidak diserang oleh mereka.


Alis si kepala desa sedikit naik melihat Ruksel seperti itu, dia tidak percaya Ruksel sangat mempercayai Momo-chan.


"Aku tidak percaya seorang Ruksel yang dikenal sebagai Dragullin ter-buas percaya dengan seorang manusia yang tidak lain adalah santapannya!"


Momo-chan langsung menutup mulutnya saat mengetahui kebenaran itu, terlebih setelah kepala desa mengatakan itu tubuh Ruksel pun perlahan-lahan berubah menjadi seperti serigala dan kukunya memanjang"


"Aku akan menjamin dia dengan nyawaku! Kalo dia menyerang salah satu diantara kita maka aku akan menyerahkan nyawaku, tapi kalo kau masih ingin melukainya kau akan berhadapan dengan ku sekarang juga Alger!" Suara Ruksel begitu nyaring dan membuat merinding semua orang di dalam situ.


Kepala desa mengeluarkan keringat dingin, ia pun menyerah dan menyuruh mereka bertiga untuk menjauh dari situ dan jangan menganggu kehidupan mereka.


"Terimakasih paman, paman Ruksel sudah membantu ku lagi" ucap Momo-chan dengan sedikit ketakutan melihat wujud Ruksel yang seperti itu.


"Belajarlah kau dengan Misphita lalu setelah itu keluarlah dari desa ini dengan segera, aku tidak akan bisa melindungi mu selalu" setelah berkata seperti itu, Ruksel menghilang dari pandangan mereka berdua.


"Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Aku sama sekali tidak mengerti!"


"Bocah! Lain kali kau harus melihat dari sisi yang lain, akan ku ceritakan semuanya sambil melatihmu nanti"


Lalu mereka berdua pun kembali untuk segera berlatih.