
"Astagfirullah, apa-apaan ini kak.!"
Ucap Alice histeris.
"Alice.!"
Seru Purnama.
Alice terduduk lesu di dekat Pintu dan menangis tersendu.
"Sialan ya loe Pur, bajingan dasar loe.!"
Ucap Dahlan geram dan menghampiri Purnama
Beberapa Pukulan Dahlan sasarkan pada tubuh Purnama.
Gita yang melihat hal tersebut ikut histeris.
"Gue udah ikhlasin Alice buat elu tapi elu malah bikin dia terluka, bangsat ya loe hah.!"
Ucap Dahlan sembari menghajar Purnama kembali.
"Cukup bang cukup.!"
Seru Asti mencoba melerai Dahlan dan Purnama.
Mendengar keributan di kamar Purnama satpam dan beberapa pelayan rumah berlari ke arah kamar Purnama.
"Stop bang berhenti!"
Ucap Asti lagi menarik Dahlan.
Dahlan tak sedikitpun mengindahkan perkataan Asti.
"Sudah bang sudah, cukup bang cukup, bukan hanya kamu yang terluka karena melihat Alice terluka tapi gue juga terluka bang ngeliat elu masih sangat perduli pada Alice, dan elu Pur gue kecewa sama elu, gara-gara elu gak bisa jagain perasaan Alice bang Dahlan akhir-akhir ini lebih mikirin Alice ketimbang gue.!"
Teriak Asti sembari terduduk lemas di lantai dengan tangisannya.
Mendengar hal tersebut Dahlan langsung menghentikan pukulannya terhadap Purnama dan menjatuhkan Purnama ke ranjang.!
Dahlan tertegun menatap Purnama yang telah berdarah di ujung bibir nya.
"Pur kamu gak papa pur.!"
Seru Gita menggoyah Purnama.
"Ada apa ini kenapa ribut-ribut!?"
Suara satpam memecah tangis
"Den Purnama Astagfirullah, bi cepat panggil dokter!"
Perintah Satpam kepada perempuan tua separuh baya yang sejak dulu merawat Purnama namanya bi Inah.
Bi inah berlari meraih telpon rumah dan segera menghubungi dokter.
Sementara di kamar pak satpam masih dengan emosinya mengguncang Dahlan.
"Ada apa ini nak Dahlan apa-apaan ini?"
Tanya Satpam.
Tapi Dahlan tak bergeming sedikitpun meski tubuhnya di goyah beberapa kali oleh satpam.
Dahlan masih berada dalam bayangan perbuatannya akhir-akhir ini, dia menyadari apa yang Asti ucapkan benar adanya.
Dahlan menghempas tangan Satpam kemudian turun dari ranjang Purnama dan berjalan ke arah Asti, dan memeluknya erat seraya terduduk di lantai.
"Maafin gue As, gue selama ini gak pernah mikirin perasaan elu, maafin gue.!"
Seru Dahlan sembari memeluk Asti.
"Jujur meski gue kaya gini bukan berarti gue masih sayang sama Alice, bagi gue Alice itu adalah adik perempuan gue, kedekatan kita selama ini membuat gue ngerasa bahwa kita semua ini keluarga gak lebih As, sory gue gak peka selama ini.!"
Ucap Dahlan menjelaskan.
Asti yang mendengar penjelasan Dahlan membalas pelukan Dahlan erat.
"Maafin aku bang, aku cuman takut kehilangan kamu aja, aku udah terlanjur sayang sama kamu, aku gak siap kalau harus kecewa lagi bang.!"
Seru Asti.
Alice yang menyaksikan hal tersebut benar-benar merasa menjadi orang paling dzolim.
"Alice.!"
Ucap Purnama parau dan kondisi tubuhnya yang lemas.
Mendengar Purnama memanggil Alice, Asti melepaskan pelukan Dahlan,
Asti dan Dahlan berdiri bersamaan kemudian menghampiri Alice dan membawa Alice kesamping Purnama.
"Alice,,,!"
Panggil Purnama lagi.
Alice duduk disamping Purnama dekat dengan Gita.
Tangan Purnama yang tengah di genggam Gita meronta ingin dilepaskan.
Asti dengan sengaja melepaskan tangan Gita yang mencengkram tangan Purnama.
"Lepasin, jangan pernah bikin hancur hubungan orang kalau elu masih punya harga diri.!"
Seru Asti geram.
Gita dengan kesal melepaskan tangan Purnama.
Asti menyatukan tangan Alice dan Purnama.
"Aku... sama Gita gak ada apa-apa...!"
Ucap Purnama.
Alice menangis mendengar Ucapan Purnama.
"Apa yang kamu lihat gak seperti kenyataanya, iya kan Git?"
Seru Purnama lagi dengan suara Paraunya.
"Elu ngaku Git, sekarang elu akuin apa hubungan elu sama Purnama, kalau enggak gue hajar juga elu.!"
Ucap Dahlan mengancam.
"Iya deh iya, sory gue cuman gak suka aja Purnama sama Alice pacaran jadi gue berusaha buat pisahin mereka.!"
Ucap Gita jujur.
"Ya ampun neng cantik-cantik jahat.!"
Celetuk pak Satpam.
"Lalu kenapa kakak mematikan panggilan dari Alice dan mematikan handphone kakak saat Alice berusaha menghubungi kakak lagi?"
Tanya Alice.
"Sayang kamu salah paham saat itu kakak sedang di taxi berniat kembali menghampiri kamu di tempat kerja tapi handphone kakak ngedrof.!"
Purnama menjelaskan yang sebenarnya.
"Sayang kenapa kakak bagi kamu masih hanya seorang teman, apa kamu malu berpacaran dengan kakak?"
Tanya Purnama
"Maksud kakak?"
Tanya Alice tidak mengerti.
"Dokternya sudah datang Den.!"
Seru Bi Inah sembari mengantar Dokter masuk kedalam kamar.
"Ya sudah saya permisi.!"
Ucap pak Satpam sembari keluar kamar Purnama.
Alice berniat berdiri dan membiarkan Dokter memeriksa Purnama namun Purnama menggeleng dan tetap menggenggam tangan Alice.
"Gak papa, gak usah pergi temani saja Purnama, saya akan memeriksanya dari sisi lain.!"
Ucap Dokter.
Alice pun kembali duduk dan tersenyum kepada Dokter.
"Apa ini masalah anak muda?"
Tanya dokter dengan senyum tipis nya.
Dahlan dan Purnama hanya tersenyum.
"Saya melihat tumpahan Air mata dimana-mana di kamar ini, apa baru saja terjadi nangis berjamaah, heheh.?"
Canda Dokter.
"Dokter, ini lah namanya keluarga, kami menangis dan tertawa bersama.!"
Jawab Purnama.
"Kamu memang selalu pandai menutupi keadaan sebenarnya Pur hahahah.!"
Canda Dokter lagi.
Purnama hanya tersenyum lemas.
"Tidak ada luka berat saya percaya jika lebam-lebam ini datangnya dari pukulan keluarga itu artinya pukulan kasih sayang, apalagi di temani yang tersayang pasti akan cepat pulih hhahah.!"
Candaan Dokter membuat semua orang yang ada di sana ikut tertawa.
"Sepertinya waktu saya sudah habis, dan sekarang waktunya saya pamit.!"
Ucap Dokter.
"Terimakasih Dok.!"
Ucap Alice.
Dokter pun mengangguk.
"As, gue antar dokter sampai pintu keluar ya.!"
Ucap Dahlan meminta ijin.
Asti pun mengangguk.
Dahlan pun mengantarkan Dokter keluar rumah Purnama.
Sementara Asti ikut duduk di samping Alice.
"Kamu mau minum Pur?"
Tanya Asti, Purnama mengangguk perlahan.
"Aku mau bersandar.!"
Pinta Purnama,Alice dan Asti membantu Purnama untuk duduk bersandar di bantal terlebih dahulu kemudian Asti mengambil segelas Air Putih dari meja Purnama dan memberikannya kepada Alice.
Alice menerima gelas berisi air tersebut dan membantu Purnama minum.
"Bismillah...!"
Seru Alice di ikuti Purnama.
"Makasih sayang.!"
Ucap Purnama.
Alice mengangguk.
"Kak boleh Alice tanya?"
Ucap Alice, Purnama pun mengangguk.
"Maksud kakak Alice bilang kakak hanya teman itu gimana?"
Tanya Alice Penasaran
"Petang itu kakak sampai di tempat kerja kamu dan saat kakak bertanya tentang kamu pemilik tokonya bilang kalau kamu menitipkan Kunci motor kakak dan mengucapkan bahwa motor itu milik teman kamu.!"
Jelas Purnama.
Asti menyentuh paha Alice seolah bertanya benarkah demikian?
Alice pun menggeleng kepada Asti.
"Sebenrnya bukan Alice yang menitipkan kunci tapi Desi, mungkin maksud bos Alice itu Desi bukan Alice yang menitipkan kunci, tapi karena kakak menanyakan Alice akhirnya bos Alice bilang Alice lah yang mengatakan semua itu.!"
Alice mencoba menceritakan semuanya.
"Syukurlah semua ini ternyata hanya salah paham saja.!"
Ucap Asti.
"Kak maafin Alice juga karena masalah Alice kak Asti jadi korban perasaan.!"
Ucap Alice.
"Aku juga salah paham terhadap Dahlan, bersyukur semua sekarang kembali seperti semula, maaf kalau kata-kata aku tadi ada yang menyakiti kamu Lice.!"
Ucap Asti.
Asti dan Alicepun berpelukan Purnama tersenyum senang melihat keadaan saat ini, akhirnya satu masalah terselesaikan...