Alice

Alice
Bagian 69



"Ambil hikmahnya saja kak, setiap orang tua selalu menginginkan hal yang terbaik demi anak-anaknya, mereka rela mengorbankan segala hal demi massa depan anak-anaknya, do'a kan selalu supaya kerja keras orang tua kakak akan membuahkan hasil yang maksimal sehingga suatu hari nanti kakak akan berkumpul kembali bersama orang tua Aamiin.!"


Alice mendoakan berharap Purnama akan tersemangati oleh doa nya.


Purnama pun tersenyum


"Habis ini kita turun aja ya kak.!"


"Kenapa?"


Tanya Purnama.


"Gak papa lagian kan kita udah satu Putaran jadi mending kita turun aja, lagian kalau di paksain takut kenapa-kenapa juga sama kakak."


Seru Alice.


Purnama termenung.


"Kalau turun aku harus mikirin lagi dong dimana dan bagaimana moment yang baik dan pas untuk ngasih ini ke Alice.!"


Purnama berkata dalam hatinya.


"Kak ko malah bengong sih?"


Tanya Alice.


"Emhsss enggak kok gak papa Lice.!"


Jawab Purnama


"Tapi kalau maksain disini juga aku dalam kondisi gemetaran gini kan gak lucu..."


Ucap Purnama dalam hati nya lagi.


"Kakak lagi mikirin apa sih sebenarnya?"


Tanya Alice lagi kepada Purnama.


"Enggak ko kakak cuman mau bilang, ya udah kakak ikut Alice aja, kalau mau turun ya udah gak papa.!"


Seru Purnama sembari tersenyum.


"Emhsss kirain mikirin apa.!"


Ucap Alice sembari tersenyum.


"Lagian juga kondisi sudah malam mungkin kak Asti sama kak Dahlan sudah pulang dari belanja nya kasian juga kan mereka nungguin.!"


Jelas Alice.


"Jadi kita pulang aja nih?"


Tanya Purnama.


Alice mengangguk perlahan.


"Mas-mas! kami mau turun!"


Seru Alice pada laki-laki penjaga wahana tersebut.


Alice dan Purnama pun turun kemudian berjalan keluar dari pasar malam.


Sesampainya Di luar Purnama memberanikan diri bicara.


"Alice!"


Seru Purnama.


"Iya kak kenapa?"


Tanya Alice.


"Kakak mau bicara sebentar boleh?"


Tanya Purnama


"Bicara aja kak kenapa harus minta ijin heheh.!"


Jawab Alice sembari tersenyum.


"Tapi massa bicara sambil berdiri? kan gak akan focus. heheh!"


Ucap Purnama sembari tersenyum.


"Emhsss kenapa gak nanti aja di depan penginapan?"


Tanya Alice.


"Jangan dong, kan kalau ada Dahlan sama Asti mereka biasanya ngegerecokin.!"


Jawab Purnama.


"Emhss, memang nya mau bicara apa sih kak?"


Tanya Alice.


"Ya cari dulu tempat duduk aja, Nah itu tuh, gimana kalau kita duduk di sana?"


Seru Purnama sembari menunjuk ke arah kursi di bawah pohon di pinggir jalan raya.


"Massa di sana kak, nanti dikira kita mojok, banyak orang lalu lalang juga kan pasti nanti kita jadi pusat perhatian.!"


Ucap Alice.


"Iya juga sih...!"


Purnama menggaruk kepalanya.


"Ya udah jalan dulu aja ya, sambil cari tempat yang bagus.!"


Alice mengangguk mendengar ajakan Purnama


Alice dan Purnama berjalan menyusuri gang hingga akhirnya mereka sampai di penginapan.


"Udah sampai aja di penginapan, jadi kita gak jadi bicara dong?"


Tanya Purnama.


"Bicara aja kak sini duduk, lagian kan kak Asti sama kak Dahlan belum pada datang, tuh mobilnya aja gak ada.!"


"Iya juga sih.!"


Ucap Purnama


Purnama Duduk di samping Alice di ujung teras penginapan.


"Jadi apa yang mau kakak omongin?"


"Kakak mau tanya soal jawaban dari pertanyaan kakak tempo hari sama kamu.!"


Ucap Purnama.


Alice seketika terdiam tak bicara sedikit pun.


"Mungkin kamu bosan denger kakak harus menanyakan hal yang sama berulang-ulang kali, tapi kakak selalu ingin mendengar kepastian itu, entah itu manis ataupun pahit, yang jelas tidak akan ada yang berubah dari kakak, namun tetap saja kakak ingin dengar secara langsung dari kamu tentang perasaan kamu ke kakak.!"


Jelas Purnama.


"Apa semua itu penting kak, ketika Alice memberikan jawaban kepada kakak pun, bukan kah semua tidak akan berubah?"


Tanya Alice balik.


"Iya jelas bagi kakak semua itu penting, status itu penting, mungkin bagi sebagian orang hal seperti itu tidak penting, tapi bagi kakak kepastian itu suatu hal yang bisa di pertanggung jawabkan, ketika kita mencintai seseorang, tapi tidak ada nya kepastian dengan status kedekatan kita pada akhirnya akan ada yang di kecewakan.!"


Ucap Purnama mencoba menjelaskan.


"Maksud kakak?"


Tanya Alice.


"Simple nya ketika kakak sama kamu seandainya memiliki rasa yang sama tapi tidak ada keterbukaan tidak ada status di antara kita, ketika ada orang lain mendekati salah satu di antara kita dan kita nyaman kita bisa dekat dengan siapa saja, lalu bagaimana dengan perasaan orang yg lebih duku dekat dengan kita, apa dia tidak terluka perasaanya?"


Tanya Purnama.


"Mungkin akan terluka, tapi tidak memiliki hak untuk meluapkan kemarahan kecemburuan dan segala hal lainnya."


Jawab Alice.


"Ya seperti itu lebih tepatnya, ketika kakak cemburu karena kamu dekat dengan orang lain tapi kakak tidak memiliki kekuatan untuk mengutarakannya karena kakak bukan orang special dalam hidup kamu, tapi jika kakak tahu kamu tidak memiliki perasaan yang sama terhadap kakak, maka kakak tidak perlu lagi merasa cemburu melihat kamu dekat dengan orang lain."


Jelas Purnama.


Alice hanya mengangguk.


Beberapa menit mereka saling terdiam.


Purnama membuka hand bag yang sedari tadi di bawa nya dari pasar malam.


"Kakak tadi beli ini.!"


Purnama mengeluarkan kotak cincin dan kotak bross yang di beli nya tadi


"apa itu kak?"


Tanya Alice.


"Kamu simpan ini baik-baik, kamu boleh buka nanti ketika sudah di dalam kamar, jika kamu memiliki perasaan yang sama dengan kakak pakai ini besok pagi saat ke rumah sakit, dan berikan pasangannya kepada kakak, tanpa kamu perlu bicara apapun kakak akan paham bahwa kamu menerima perasaan kakak, tapi jika kamu tidak memiliki perasaan yang sama dengan kakak, simpan semua benda ini sampai suatu saat nanti kamu mau menerima kakak.!"


Ucap Purnama sembari menyodorkan hand bag kecil tersebut.


Alice menerimanya dengan tangan gemetar, sembari sempat menatap wajah Purnama.


Purnama membalas tatapan Alice dengan tersenyum.


"Sekarang sudah larut sebaiknya kamu masuk ke kamar dan beristirahat lah, sampai jumpa besok, Assalamualaikum!"


Seru Purnama sembari tersenyum dan meninggalkan Alice menuju kamar penginapan nya.


"Wa allaikumus sallam"


jawab Alice sembari menatap Kepergian Purnama.


Alice menatap Hand bag kecil yang kini telah berada di tangannya sembari masih terduduk di teras depan kamar penginpannya.


Dari samping jendela kamar penginapannya Ibu kos memperhatikan yang Alice dan Purnama lakukan sedari tadi, melihat Alice terduduk sendirian Ibu kos Pun keluar kamar dan menghampiri Alice.


"Apa yang kamu sedang Pikirkan?"


Tanya Ibu kos pura-pura tidak melihat apapun sebelumnya.


"Eh ibu Alice sampai kaget.!"


seru Alice sembari menatap ibu kos.


"Haahahh maaf ya jangan dikira hantu.!"


Canda Ibu kos.


"Ibu ada-ad aja heheh, ibu belum tidur?"


Tanya Alice


"Belum ibu masih belum ngantuk.!"


Jawab ibu kos.


"Memangnya ibu tidak cape setelah seharian bepergian?"


Tanya Alice lagi.


"Iya cape sih tapi gak tahu kenapa ibu ngerasa kalau anak ibu yang satu ini lagi butuh saran dari ibu hehehe!"


Ibu kos mencoba mengembalikan pembicaraan mereka ke topik awal.


"Ah ibu, bisa saja!"


Seru Alice mencoba menghindari pertanyaan ibu kos.


"Pikirkan baik-baik, dan ikuti kata hati kamu, jangan sampai kamu menyesal nanti nya,."


Seru Ibu kos.


"Maksud ibu?"


Tanya Alice.


"laki-laki sebaik Purnama itu jarang ada, kalau kamu memang suka bilang suka, kalau kamu memang sayang ucapkan sayang, jangan sampai semua perasaan itu kamu pendam sendirian, diluar sana banyak perempuan yang menginginkan laki-laki seperti Purnama, kalian pacaran sekarang bukan berarti harus menikah sekarang, kalian kejar cita-cita kalian dulu ketika sudah sama-sama dewasa sudah sama-sama matang dalam segala hal maka menikahlah, anggap saja proses pacaran ini sebagai sarana untuk kalian lebih mengenal satu sama lain.!"


Jelas Ibu kos.


Alice hanya terdiam.


"Kamu tahu ibu dulu sama Almarhum suami, saling mengenal di bangku SMA, kami berjanji akan menikah suatu saat nanti sampai akhirnya kami benar-benar menikah setelah 3 tahun lulus SMA."


Cerita Ibu kos.


"Subhanallah.!"


Seru Alice.


Ibu kos hanya tersenyum kepada Alice, mendengar ucapan Alice.