
"Astagfirullah hal adzhim...!"
Ucap Alice.
"Sabar Lice sabar.!"
Ucap Desi.
"Kamu ngapain sabar-sabar, emang dengan kesabaran kamu bisa bikin Purnama menghargai perasaan kamu?!"
Tanya Irma kukuh.
"Ya terus Alice mesti gimana Ir, disisi lain aku yakin hatinya terluka tapi disisi lain lagi dia gak bisa seenaknya aja datangin Kak Purnama dan Gita, terus main labrak-labrak gitu, kalau salah paham gimana nanti Alice juga yang malu.!"
Ucap Desi mencoba menengahi keadaan.
"Terus mau sampai kapan Alice menunggu sampai hatinya hancur berkeping-keping?"
Tanya Irma lagi kepada Desi.
Karena emosi Desi pun berdiri menghadap Irma.
"Yang punya hubungan itu Alice, kenapa malah kamu yang sibuk ngurusin, yang sibuk ngomporin!"
Tunjuk Desi kepada Irma.
Irma mendapatkan ucapan seperti itu dari Desi membuatnya merasa tertodong.
"Karena gue temennya Alice, gue perduli sama Alice.!"
Jawab Irma mengelak.
"Bukan karena elu masih ngarepin kak Purnama?"
Tanya Desi lagi
"Apaan sih loe Des, malah bawa-bawa massa lalu.!"
tanggap Irma emosi juga.
Melihat kedua temannya beradu mulut Alice bangkit dari duduknya dan menggebrak meja.
"Sudah diam.!"
Ucap Alice.
"Kalian ini kenapa sih hah,kenapa malah bikin aku tambah stress, bikin aku tambah kepikiran aja.!"
Seru Alice.
"Maaf Lice tapi aku cuman pengen kamu gak kepikiran sama Purnama dan Gita terus.!"
Ucap Desi.
"Aku tuh care Lice sama kamu, kamu harus tahu keadaan nya seperti apa, lebih baik kamu tahu sekarang sebelum terlanjur jauh hubungan kalian semakin dalam dan luka yang akan kamu dapatkan pun semakin menyakitkan.!"
Seru Irma sembari pergi keluar.
Desi berniat mengejar Irma namun Alice meraih tangan Desi dan menggelengkan kepala.
"Biarkan Irma tenang dulu, aku tahu kalian berdua itu sayang sama aku, tapi untuk masalah ini biar aku cari jalan keluarnya sendiri, aku tidak mau kalian ikut pusing mikirin masalah aku.!"
Jelas Alice kepada Desi , seketika Desi merangkul Alice.
"Aku tahu kamu terluka Lice tapi jangan terlaku di jadikan beban aku tidak mau kamu sakit.!"
Ucap Desi.
"Aku gak akan kepikiran Des, aku akan membiarkan semuanya mengalir seperti air, kalaupun pada akhirnya kak Purnama akan kembali kepada kak Gita aku tidak akan murka, mungkin mereka memang berjodoh dan aku bukan yang terbaik bagi Purnama.!"
Jelas Alice kepada Desi.
"Kalau kamu sayang, kamu perjuangkan lice, kalau kamu udah gak sayang lepaskan saja.!"
Desi memberi nasihat kepada Alice.
"Meskipun aku masih teramat sayang sama kak Purnama, jika kak Purnama lebih bahagia dengan orang lain apa aku berhak menahan dia untuk tetap sama aku?"
Tanya Alice kepada Desi.
Desi terdiam kemudian melepaskan pelukannya dengan Alice.
"Aku akan berdosa jika memaksa seseorang tetap bertahan dengan ku hanya karena memikirkan perasaanku saja Des, sementara sebelah pihak tersiksa dan tak bahagia, bukankah semua orang berhak bahagia?"
Tanya Alice lagi kepada Desi.
"Aku hanya tidak mau memaksakan kehendak, aku yakin jalan ku masih panjang dan masih sangat jauh, masih banyak hal didepan sana yang bisa aku temukan, untuk apa aku berputus asa sekarang.!"
Seru Alice lagi.
"Alhamdulillh semoga Allah selalu memberikan ketenangan hati dan Pikiran Lice.!"
Seru Desi
Alice tersenyum menimpali ucapan Desi meskipun hatinya masih terasa sesak.
"Lelah memang berpura-pura baik- baik saja padahal kenyataanya hati teriris sangat dalam, tapi pasti lebih lelah berpura-pura mencintai orang yang sama sekali tidak pernah kita cintai.!"
Ucap Alice dalam hatinya.
"Kamu selalu nampak tegar dari luar, aku tahu hati kamu di dalam sana telah hampir hancur, tapi sungguh aku salut dengan mu Lice kamu selalu nampak ceria meski sedalam apapun sakit yang kamu rasakan.!"
Seru Desi dalam hatinya Pula.
Sementara itu di kelas Asti dan Juanda.
"Elu dari mana aja As?"
Tanya Dahlan pada Astinyang baru saja datang ke dalam kelas.
"Aku dari kantin.!"
Jawab Asti mencoba biasa saja.
"Jadi elu makan di kantin?"
Tanya Dahlan lagi.
"Jadi ko.!"
Jawab Asti canggung.
"Sendirian aj?"
Tanya Dahlan lagi.
"Heemhs!"
Jawab Asti seraya mengangguk
"Soryy ya gue emosi tadi malah jdi ninggalin elu.!"
"Gak papa bang gak usah dipikirin.!"
Jawab Asti tersenyum.
"Makasih ya As.!"
Ucap Dahlan kepada Asti.
"Iya bang sama-sama.!"
Jawab Asti tersenyum.
"Syukurlah bang setidaknya kamu bisa sadar sendiri, semoga kamu bisa sedikit lebih menghargai perasaan ku sedikit saja bang.!"
Ucap Asti dalam hatinya seraya menatap Dahlan.
"Kenapa ngeliatin segitu nya, cakep ya hahahha.!"
Seru Dahlan Nyeleneh
"Istigfar bang ganteng dari mana buluk begini.!"
Ucap Asti meluapkan kekesalanya tadi.
"Kalau gak cakep mana elu mau ama gue.!"
Ucap Dahlan
"Hemhsss.!"
Seru Asti menghela napas panjang.
"As menurut elu apa yang mesti kita lakuin ke Purnama?"
Tanya Dahlan serius.
"Serius apa becanda nih?"
Tanya Asti
"Serius dodol.!"
Ucap Dahlan sembari mencubit pipi Asti.
"Aw sakit tahu.!"
Protes Asti
"Ya lagian elu orang gue serius.!"
Jawab Dahlan
"Iya deh maaf, aku juga sejujurnya bingung bang, di satu sisi Alice nyuruh kita diem di sisi lain Purnama malah makin lengket sama si Gita.!"
Ucap Asti bingung
"Itulah yang gue gak habis pikir kenapa Purnama bisa berubah drastis banget sampai lupa sama Alice.!"
Ucap Dahlan kecewa.
"Tapi tadi dia sempet nanyain Alice ke aku bang.!"
Seru Asti.
"Oh ya?"
Tanya Dahlan memastikan
"Berarti dia masih inget sama Alice kalau gitu dong.!"
Seru Dahlan.
"Iya lah masih ingat dia cuman gak tahu lah aku pusing mikirin orang lain mulu.!"
Protes Asti.
"Yang nyuruh elu mikirin sendiri itu siapa?, gue cuman mau kita cari jalan keluarnya bareng-bareng, mereka itu sahabat kita.!"
Ucap Dahlan.
"Iya sih bang tapi aku juga gak mau jadi korban perasaan terus.!"
Ucap Asti
"Korban perasaan?"
Tanya Dahlan.
"Emhsss itu loh maksud aku korban perasaan kesal karena melihat Purnama nyuekin Alice dan malah deket sama si Gita lagi, heheh.!"
Ucap Asti ngeles.
"Hampir aja aku keceplosan dasar nih mulut rempong emang.!"
seru Asti di dalam hatinya.
"Oh gue kira elu naksir juga sama Purnama. hahah!"
Ucap nyeleneh Dahlan
"Sembarangan aja kalau ngomong.!"
Pungkas Asti.
"Jadi gimana dong nih ada cara gak?"
Tanya Dahlan.
"Biarin aja dulu lah bang, mau gimana lagi kalau sampai berkepanjangan kedekatan mereka baru kita tindak lagian kan ini permintaan Alice sendiri. Sekarang itu si Purnama belom sadar aja kalau Alice itu selalu memperhatikan dia, ya itung-itung uji kejujuran aja.!"
Seru Asti menjelaskan.
"Ko elu gitu sih?"
Protes Dahlan.
"Harus gimana lagi bang?"
Tanya Asti kesal
"Ya gue juga gak tahu heheh.!"
Jawab Dahlan ringan.
"Heuhhhhh kalau aku cowok aja udah aku tonjok kamu bang.!"
Protes Asti kesal.
Dahlan hanya tertawa melihat Asti yang kesal karena ucapannya.