Alice

Alice
Bagian 151



Topan menatap dalam-dalam mata mamah Purnama.


"Kamu jangan berpikir saya sedang bercanda, saya akan melakukan apapun demi memisahkan anak saya dengan perempuan kampung itu, coba sekarang kamu bayangkan, bukankah kamu sangat mencintai gadis kampung itu juga, sekarang kesempatan kamu buat bisa miliki dia seutuhnya, kalian bisa hidup di rumah mewah di tengah kota dengan fasilitas yang mumpuni, apalagi yang mau kamu cari, kalian tinggal duduk manis di rumah, dan setiap bulan saya akan mentransfer uang buat kalian, bagaimana, mau?"


Tanya Mamah Purnama lagi mencoba membujuk Topan.


"Tidak tante terimakasih, Alice tidak mencintai saya bagaimana mungkin saya memaksa dia untuk tetap bersama saya, meskipun saya bergelimangan harta jika dia tidak hidup dengan lelaki yang di cintainya dia tidak akan pernah bahagia tante!"


Ucap Topan mencoba menyadarkan Mamah Purnama.


"Cara berpikir anak jaman sekarang memang sangat Payah, cinta itu urusan belakangan, kalau kamu bisa memberikan segalanya untuk istri kamu maka cinta itu akan datang pada saatnya.!"


Ucap Mamah Purnama lagi.


"Maaf tante tolong lepaskan saya, jangan lagi memaksa saya karena sampai kapanpun saya tidak akan pernah mau menghancurkan kebahagiaan orang yang saya sayangi.!"


Seru Topan.


"Lantas kamu akan mengorbankan perasaan kamu?, sungguh naif kamu!"


Seru Lagi mamah Purnama.


"Tante tidak perlu ikut campur urusan hidup saya, kalaupun perasaan saya hancur itu tidak akan merugikan anda, jadi sekarang lepaskan saya sebelum saya melaporkan perbuatan anda ke Polisi!"


Ucap Topan lagi


Mendengar Ucapan Topan tidak membuat mamah Purnama menciut nyalinya, tapi justru suaminyalah yang mulai merasa khawatir jika Topan benar-benar akan melaporkan istrinya ke pihak berwajib.


"Kamu Pikir saya akan dengan mudah melepaskan kamu begitu saja?, kamu salah, kamu akan selamanya terkurung disini jika kamu tidak mau mengikuti kemauan saya, hahahha!"


Ucap Mamah Purnama.


Topan menatap Dingin tanpa takut kepada Mamah Purnama.


"Jangan terburu-buru anak muda, saya akan beri kamu waktu sampai besok pagi, ingat kalau kamu sangat mencintai perempuan kampung itu menikahlah dengannya, karena saya tidak akan segan-segan untuk menghancurkan hidupnya.!"


Bisik Mamah Purnama kepada Topan


Kemudian pergi meninggalkan Topan dan Pak Mamat.


Papah Purnama lebih dulu berjalan keluar gudang dan berniat kembali ke kamar, namun saat menutup pintu gudang tanpa sengaja pintu terbanting saking terburu-buru, semua orang yang berada di gudang kaget bahkan mulai merasa deg-degan.


Papah Purnama berlari ke kamar dan pura-pura tidur, sementara mamah Purnama berlari keluar gudang memastikan siapa yang mendengar percakapannya.


"Pak mamat lihat siapa itu!"


Ucap Mamah Purnama berteriak kepada supirnya.


Pak Mamat dengan langkah setengah berlari menghampiri mamah Purnama.


"Iya nyonya.!"


Ucap Pak Mamat.


"Kamu ngapain malah nyamperin saya, cari orang yang baru saja menguping pembicaraan kit!"


Perintah Mamah Purnama.


"Ba...ba...baik Nyonya!"


Ucap pak Mamat gugup sembari berlari keluar rumah mencari-cari orang yang di maksud oleh Mamah Purnama, namun setelah berada di luar bahkan sudah mengecek kemana-mana pak Mamat tidak menemukan orang asing yang di maksud oleh nyonya nya.


Selama berjalan untuk memasuki kembali ke dalam rumah pak Mamat memiliki firasat bahwa yang menutup pintu gudang tadi adalah Tuannya, karena selain dia dan anak-anak muda yang sedang berada di dalam gudang itu, papah Purnama lah yang juga mengetahui rencana istrinya.


"Maaf nyonya tapi tidak ada siapa-siapa diluar!"


Ucap Pak Mamat kepada Ibu Purnama.


"Jangan-jangan...!"


Ucap Mamah Purnama seraya pergi menaiki tangga menuju kamar nya.


Melihat suaminya masih berada di balik selimut tidak membuat mamah Purnama menghilangkan kecurigaannya.


"Bangun Pah!"


Ucap Mamah Purnama seraya menarik selimut yang di gunakan suaminya.


"Ada apa sih mah!"


Ucap Papah Purnama sembari kembali menarik selimutnya dengan mata yang masih pura-pura terpejam.


"Berhenti berpura-pura pah!"


Ucap Istrinya.


"Apaan sih mah, malam-malam ribut ganggu orang tidur aja ".


Seru Papah Purnama agak sentimen tidak seperti biasanya.


"Papah kan yang tadi ke gudang?"


Tanya mamah Purnama tanpa berbasa-basi lagi.


Tanya Papah Purnama masih berpura-pura.


Mamah Purnama agak tertegun menatap wajah suaminya.


"Udah ah ayo tidur lagi, besok kita harus pergi mah, ingat perusahaan kita.!"


Ucap Papah Purnama sembari kembali berbaring di tempat tidurnya.


"Maaf Pah, mamah tidak bisa ikut!"


Ucap Mamah Purnama tegas.


Papah Purnama pun kembali duduk di tempat tidurnya menatap mata istrinya.


"Sebenarnya kenapa mah, ada apa? apa ada hal lain yang lebih penting dari perusahaan kita?"


Tanya Papah Purnama kepada Istrinya.


"Iya pah memang untuk saat ini ada hal yang lebih penting yang harus mamah selesaikan dulu, setelah semuanya selesai kita bisa pindah dan menetap di sana tidak perlu lagi kembali kesini.!"


Ucap Mamah Purnama.


"Maksud mamah?"


Tanya Suaminya.


"Iya kita akan pindah dan memulai hidup baru pah disana.!"


Ucap Istrinya lagi.


"Mah ini bukan waktunya kita mikirin hidup baru tapi berlangsung atau bangkrutnya perusahaan kita sekarang ada di tangan mamah!"


Ucap Papah Purnama.


"Papah pergilah lebih dulu, mamah akan menyusul jika saatnya tiba.!"


Ucap Mamah Purnama.


Merasa kesal karena rencananya membujuk istrinya untuk pergi besok tidak berhasil Papah Purnama langsung keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah.


Mamah Purnama hanya menatap langkah suaminya yang meninggalkannya sendiri di kamar.


"Astagfirullah, hukuman apa yang aku terima saat ini, sampai-sampai istriku begitu terobsesi menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri, dosa apa aku di kehidupan sebelumnya, sampai-sampai saat ini aku memikul beban seperti ini!"


Gerutu Papah Purnama dalam hatinya sembari menghisap rokoknya.


"Permisi tuan, tuan sedang apa disini, bukankah ini sudah larut?".


Tanya Pak Mamat sembari menghampiri Tuannya.


Papah Purnama melirik ke beberapa sudut rumahnya dan melirik ke lantai atas.


"Apa tuan yang tadi ke gudang?"


Tanya Pak Mamat berbisik


Papah Purnama mengangguk mengiyakan pertanyaan supirnya.


"Bagaimana anak-anak di dalam sana?"


Tanya Papah Purnama berbisik juga.


"Sepertinya mereka sedang mencari cara untuk bisa mengakhiri masalah ini tuan!"


Ucap Pak Mamat.


"Saya tidak mau istri saya di penjara!"


Bisik Papah Purnama lagi.


"Bagaimana dengan rencana tuan?"


Tanya Pak Mamat berbisik Pula.


"Gagal.!"


Jawab Papah Purnama singkat.


Akhirnya pak Mamat dan Papah Purnama saling terdiam.


Papah Purnama memikirkan cara lain selain dari memenjarakan istrinya.


"Katakan kepada anak-anak itu, jangan melaporkan istri saya ke kantor polisi, bagaimanapun dia tetap istri saya, beri saya waktu untuk memikirkan jalan keluar terbaik.!"


Ucap Papah Purnama berbisik ketelinga Pak Mamat.


Pak Mamat pun mengangguk perlahan.


"Saya akan tidur di kamar tamu malam ini.!"


Ucap Papah Purnama lagi sembari beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar tamu.