
Rencana makan malam bersama Asti dan Dahlan tetep terlaksana meskipun dengan kondisi hati yang tak karuan, Alice mencoba bersikap seperti biasanya, periang dan akrab.
"Jadi kapan kamu akan berangkat Pur?"
Tanya Asti
"Entahlah.!"
Jawab Purnama menghindari pembicaraan tersebut.
Dahlan seketika menyenggol kaki Asti dengan sengaja yang duduk di sampingnya.
Alice tersenyum menyadari hal tersebut.
"Tidak apa-apa kak, nanti Alice dan kak Asti juga kak Dahlan yang Akan mengantar kakak langsung ke bandara.!"
Seru Alice di dalam ucapan Alice tersimpan harapan besar.
"Karena meskipun pada akhirnya kamu akan bertemu dengan perempuan lain yang membuat kamu lebih nyaman,setidaknya aku bisa melihat kamu meski itu adalah terakhir kalinya, tapi di saat itu kamu masih milik ku kak.!"
Ucap Alice dalam hatinya.
"Iya sayang tentu kakak akan senang jika kamu dan kalian berdua yang nganter aku ke bandara.!"
Jawab Purnama tersenyum.
"O iya kak udah malam ini, sebaiknya kita pulang, besok kan Alice mulai masuk sekolah seperti biasa.!"
Ucap Alice meminta.
"Ya udah aku antar Alice balik dulu ya, nanti aku balik lagi kesini!"
Ucap Purnama kepada Asti dan Dahlan
"Iya elu antar dulu aja Alice gue sama Asti nunggu disini.!"
Seru Dahlan
"Alice duluan kak Assalamualaikum.!"
Ucap Alice berpamitan
"Wa allaikumus sallam,hati-hati ya.!"
Jawab Asti.
Setelah Alice dan Purnama keluar dari restoran Asti dan Dahlan melanjutkan makan malam mereka.
"Ko bisa ya bang mamah nya Purnama sekeras sekarang ?"
Tanya Asti kepada Dahlan.
"Gak tahu lah gak paham gue, kalau kena nya ke gue aja, gue udah kabur dari rumah.!"
Seru Dahlan ikut kesal.
"Ciyeee jadi kalau orang tua abang gak merestui kita,abang bakal lebih milih kabur gitu dari rumah heheheh?"
Seru Asti kepada Dahlan.
"Gr aja loe hahahah.!"
jawab Dahlan tertawa.
Sementara itu di tempat lain Purnama baru saja sampai di halaman kosan Alice.
"Ayo sayang kakak antar sampai kedalam.!"
Ajak Purnama.
"Gak usah kak, kasian kak Asti dan kak Dahlan nunggu lama di sana.!"
Ucap Alice.
Purnama agak heran karena Alice bersikap tidak biasanya saat ini.
Namun Purnama tidak ingin terlalu menanggapi perasaannya juga.
"Kak jangan terlalu malam ya pulangnya salam sama ppah dan mamah, jangan nginep lagi di rumah kak Dahlan, dengarkan apa yang orang tua kakak katakan.!"
Pesan Alice dari luar mobil.
"In shaa Allah sayang.!"
Jawab Purnama tersenyum.
"Assalamualaikum kak.!"
Seru Alice
"Wa allaikumus sallam, kamu masuk dulu kakak baru akan pergi.!"
Ucap Purnama.
Alice mengangguk dan berjalan masuk ke kosan sesampinya di pintu kosan Alice melambaikan tangan kepada Purnama kemudian menutup pintu.
Alice mengintip mobil Purnama yang baru saja akan keluar dari halaman kosan setelah mobil Purnama menghilang Alice masuk ke dalam kamarnya mengunci diri di kamar.
Alice menangis sejadi-jadinya air mata yang sedari tadi di tahan nya.
Alice sesenggukan seorang diri di kamar, sembari sesekali terisak.
Suara isakan tangis Alice membuat Desi dan Irma yang tengah berada di kamarnya bertanya-tanya.
Desi dan Irma keluar dari kamarnya masing-masing.
"Siapa yang nangis?"
Tanya Irma berbisik.
Desi hanya menggelengkan kepala sambil memasang telinga.
"Alice!"
Seru Desi sembari menghampiri kamar Alice.
Desipun ikut menghampiri kamar Alice.
"Coba ketuk!"
Seru Irma menyarankan.
Desipun mengetuk pintu kamar Alice.
"Siapa?"
Tanya Alice dari dalam.
"Aku Lice Desi.!"
Jawab Desi dari balik pintu, Alice langsung menyeka air matanya dan menbuka pintu.
"Kalian?"
Tanya Alice.
Irma dan Desi menyerobot masuk ke dalam kamar Alice, Alice pun menutup pintu kamarnya.
Tanya Alice bersikap biasa.
"Kamu kenapa malam-malam begini nangis?"
Tanya Desi.
"Iya Lice kamu kenapa?"
Tanya Irma juga.
"Aku... Aku...!"
Ucap Alice sembari duduk di kursi belajarnya dan menangis lagi.
"Ya Allah Lice kamu kenapa?"
Tanya Irma.
"Jangan bilang kalau kamu sama kak Purnama udah ngelakuin hubungan yang gak seharusnya?"
Tanya Desi curiga.
"Astagfirullah enggak Des.!"
Jawab Alice.
"Kamu ini Des kalau ngomong itu ya di saring dong jangan asal nyablak aja.!"
Protes Irma kepada Desi.
"Ya habisnya kan aneh malam-malam gini nangis udah gitu baru di antar pulang lagi heheh maaf deh.!"
Seru Desi meminta maaf kepada Alice dan Irma.
Irma mengambil minum dari meja kecil di samping tempat tidur Alice.
"Sekarang kamu minum dulu biar lebih tenang.!"
Irma menyodorkan segelas minuman air putih kepada Alice.
Alice menerimanya dan meneguknya perlahan.
"So baik lagi.!"
celetuk Desi, Irma hanya Pura-pura tidak mendengar ketimbang harus berdebat.
"Apa yang membuat kamu sedih Lice?"
Tanya Desi lagi.
"Aku sama kak Purnama bakal berjauhan, selain itu mamahnya kak Purnama gak setuju sama hubungan kami.!"
Jelas Alice sembari kembali meneteskan air matanya.
"Kenapa bisa?"
Tanya Irma
"Dalam hatinya bahagia kan kamu tahu Alice sama Purnama gak di restui?"
Tanya Desi kepada Irma.
"Astagfirullah, kamu boleh curiga sama aku tapi jangan di depan Alice kasian dia lagi sedih sekarang.!"
Seru Irma.
Desi hanya mengernyitkan kedua Alis nya.
"Kenapa kalian harus berjauhan?"
Tanya Irma lagi.
"Iya kak Purnama harus sekolah ke luar negeri semua itu hanya untuk menjauhkan hubungan aku dan kak Purnama.!"
Jelas Alice.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin Kak Purnama itu orang nya baik, dan setia.!"
Jawab Irma mencoba menenangkan Alice.
"Irma bener Lice, Kak Purnama itu gak akan semudah itu berpaling dari kamu, dia itu lelaki yang baik, buktinya beberapa kali dia di goda sama cewek lain juga tetep aja gak kegoda kan.!"
Seru Desi mengingatkan sembari menyindir Irma.
Sementara di tempat lain Purnama dan Asti masih berbincang di restoran.
"Menurut kalian aku mesti gimana?"
Tanya Purnama
"Minta penawaran lah kalau perlu bikin surat perjanjian.!"
Seru Dahlan.
"Penawaran apa?"
Tanya Asti.
"Penawaran buat apa?"
Tanya Purnama lagi.
"Gue sih nyaranin aja coba elu omongin saran gue ini ke bokap elo, terus elo denger deh tanggapannya apa.?"
Seru Dahlan lagi.
"Gini nih ya, kenapa elo gak setujui saja kemauan nyokap elo buat sekolah di luar negeri tapi dengan syarat, syaratnya setelah elo lulus sekolah nanti, Nyokap elu bakal merestui hubungan elo sama Alice, kalau perlu bikin surat bermaterai.!"
Ucap Dahlan lagi.
"Wah bener juga tuh idenya Bang Dahlan Pur.!"
Seru Asti menanggapi.
"Iya tapi elu coba bicarakan dulu masalah saran gue ini ke bokap elu.!"
Ucap Dahlan lagi.
"Wah cemerlang bang ide kamu, kenapa gak dari semalam sih kamu ngasih saran ke aku?"
Tanya Purnama.
"Iya ini lah hasil pemikiran gue selama satu malam hahahah.!"
Jelas Dahlan tertawa.
"Ok kalau gitu aku balik dulu ya ke rumah sekalian mau ngobrol sama bokap, kayanya nyokap jam segini udah tidur juga.!"
Seru Purnama.
"Ok kita juga mau balik udah larut juga.!"
Seru Asti.
Purnama dan Asti serta Dahlan pun berpisah di restoran menuju ke rumah masing-masing...