Alice

Alice
Bagian 88



"Wah kayanya nyindir aku nih hahahah.!"


Seru Gita.


"Ngerasa gitu? hahaha."


Tanya Purnama.


"Dikit sih hahhah.!"


Jawab Gita.


"Setidaknya kamu ngerasa itu aja udah bersyukur banget aku heheh.!"


Timpal Purnama.


"Iya deh, ayo dong katanya mau makan bareng sama aku.!"


Ajak Gita.


"Ya udah deh ayo.!"


Ucap Purnama mengiyakan ajakan Gita.


"Kamu tumben ngajakin aku makan bareng, mau traktir nih ceritanya?"


Tanya Purnama pada Gita.


"Justru aku yang mau di traktir sama kamu, udah lama kita gak pernah makan bareng kan?"


Tanya Balik Gita.


"Emang seberapa lama sih,hahahah?"


Tanya Purnama lagi.


"Berasa gak lama ya, berasa baru kemarin kita putus, hhahah.!"


Seru Gita sembari tertawa.


"Beuh sebegitu berbekasnya kah aku dalam hidup mu hahahh.!"


Timpal Purnama.


"Berbekas banget dong, kalau ibarat lagu kamu itu kaya lagu yang judul nya mantan terindah tau kan?"


Ucap Gita mendramatisir keadaan.


"Sayang gak tahu hahahh.!"


Jawab Purnama bercanda.


"Ihhh jahat gitu kamu..!"


Seru Gita sembari mencubit tangan Purnama.


"Awss sakit tahu, kebiasaan lama belom ilang juga ternyata kamu.!"


Protes Purnama sembari memegangi tangannya yang telah di cubit Gita.


"Kenangan dan kebiasaan bareng kamu itu gak akan semudah itu aja kali hilang.!"


Ucap Gita gombal.


"Massa hahah.!"


Seru Purnama.


"Iya ih gak percayaan banget kamu.!"


Protes Gita.


"Terus kalau aku gak percaya kamu mau apa, mau minta aku belah dada kamu terus lihat dalam hati kamu disitu ada kenangan kita yang masih tertulis rapi?, hahhha.!"


Seru Purnama


"Itu mah kaya lagu dong hahhh.!"


Timpal Gita.


"Emang iya lagu hahahha.!"


Jawab Purnama.


Purnama dan Gita terus tertawa bersama sembari berjalan berdampingan menuju kantin Irma yang telah lebih dulu di kantin melihat kedatangan Purnama dan Wijaya seperti melihat Harta karun yang berkilauan, matanya berbinar, bibirnya tersenyum lebar dan hati nya mendadak begitu bahagia.


"Wawwww amazing,,, kalau udah jodoh mau sama siapapun dia sekarang tetep aja bakal nemu jalan buat kembali ketempat seharusnya hahhh.!"


Seru Irma sembari duduk di meja kantin.


"Beuh momen nya endos banget, romantis banget mereka, kalau aja gue udah jadi ceweknya kak Purnama udah gue samperin tuh cewek gue unyek-unyek tuh rambut cewe, tapi sekarang gue emang perlu banget nih momen-momen kemesraan mereka, soal rasa cemburu gue, biar gue tahan aja dulu demi masa depan yang bahagia dan tidak ada pengganggu lagi hahahah.!"


Irma berkata-kata sendiri sembari menatap kebersamaan Gita dan Purnama.


Irma memotret Gita dan Purnama beberapa kali dengan sengaja, memilah dan memilih moment yang sekiranya terlihat sangat romantis dan amat di sengaja.


"Ok cukup, hahah akhirnya sebentar lagi kak Purnama dan Alice akan Putus kemudian aku yang akan mendekati dia dan memeluk dia di kala dia sedih, hahaha duh sudah gak sabar nih.!"


Ucap Irma pada dirinya sendiri.


Dari luar nampak Asti dan Dahlan datang bersama ke kantin obrolan mereka langsung terhenti seketika ketika melihat Gita dan Purnama bersama duduk dalam satu meja sembari tertawa.


"Tuh anak bener-bener minta gue hajar ya.!"


Seru Dahlan sembari mengepalkan tangannya dan berniat melangkah menghampiri Purnama.


Namun Asti menarik tangan Dahlan dan menahan ny.


"Bang, jangan disini, sabarkan hati kamu bang, kita harus menghargai perasaan Alice juga,Alice tidak mau Purnama tahu, kalau Alice mengetahui kedekatan Purnama dan Gita, kita harus tanya dulu juga ke Purnama bang, kita harus jadi penengah di antara hubungan mereka.!"


Jelas Asti sembari menarik Dahlan.


Seru Dahlan.


Tanpa Sadar Asti menangis, begitu sakitnya mendengar Dahlan orang yang ia cintai bahkan mereka telah saling mencintai namun masih begitu menyimpan perasaannya terhadap Perempuan Lain.


"Bang aku mohon kasihan Alice.!"


Seru Asti sembari menghapus Air matanya.


"Akhsss sial.!"


Seru Dahlan sembari Pergi meninggalkan kantin dan Asti.


Asti yang melihat Dahlan begitu emosi dan lebih memperdulikan perasaan perempuan lain, tanpa melihat perasaan Asti yang begitu mencintainya, membuat Asti lari sembari berderaian air mata, Asti berlari ke arah kamar kecil kemudian masuk dan mengunci diri di salah satu kamar kecil sembari menangis.


"Apa gak bisa bang kamu pura-pura udah gak ada perasaan ke Alice setidaknya di depan aku bang, aku ini siapa sebenarnya bang buat kamu, apa segala hal yang telah kita lewati bersama itu tidak ada artinya buat kamu bang, kenapa kmu tega bang.!"


Seru Asti berbicara sendiri sembari menangis.


Seorang perempun sebaya dengan Asti masuk ke dalam kamar kecil, mendengar suara orang menangis dia langsung mengetuk Pintu kamar kecil.


"Ada orang di dalam?"


Asti yang mendengar pertanyaan itu langsung menghapus air matanya dan menjawab.


"Ada.!"


Seru Asti.


"Kamu nangis?"


Tanya anak perempuan tadi dari luar kamar kecil.


"Enggak aku gak papa.!"


Jawab Asti.


"Yang benar kamu gak papa."


Tanya lagi anak perempuan tadi.


"Iya aku baik-baik aja.!"


Jawab Asti.


"Syukurlah.!"


Seru anak perempuan tadi sembari memasuki kamar kecil di samping Asti.


Asti yang masih terisak menghapus bersih air matanya kemudian memutuskan untuk kembali ke kelas.


Sementara itu Irma pun bergegas ke kelasnya menemui Alice.


"Assalamulaikum.!"


Seru Irma kepada Alice dan Desi.


"Wa allaikumus sallam.!"


Jawab Desi dan Alice bersamaan.


"Ko pada gak ke kantin?"


Tanya Irma.


"Aku bawa bekal sama Alice.!"


Jawab Desi.


"Alice kamu baik-baik aja?"


Tanya Irma so perhatian.


Alice tersenyum dan mengangguk.


"Aku tidak mau berlarut dalam kesedihan yang tiada artinya, aku tidak boleh menyimpulkan sesuatu dari apa yang aku lihat.!"


Jawab Alice tegas.


"Owsss begitu ya, tapi aku rassa kamu harus melihat ini deh.!"


Seru Irma sembari mengeluarkan handphone dari saku baju seragam nya.


"Apaan Ir?"


Tanya Alice


"Tar ya aku lihatin ke kamu, aku sengaja ngambil ini supaya kamu bisa tahu kebenarannya seperti apa.!"


Jelas Irma.


"Kebenaran apa Ir?"


Tanya Desi.


"Udah nih kalian liat aja geser terus ke samping.!"


Seru Irma sembari menyodorkan poto kedekatan Purnama dan Gita dalam handphonenya kepada Alice.


"Ini apa Ir?"


Tanya Alice.


"Ya aku tadi lagi di kantin ngeliat mereka ya udah aku fotoin aja, dari pada aku cerita ke kamu kan nanti bisa dikiranya aku ngarang tuh jadi ya udah aku liatin aja deh ke kamu foto-foto ini, kalau foto kan gak mungkin ya aku rekayasa ini kan hasil jepretan langsung bukan foto studio yang bisa di atur sama fotografer nya dan ini asli kalau kamu gak percaya liat aja sendiri di kantin sekarang mereka masih di sana ko.!"


Jelas Irma kepada Alice.


Meski berusaha tegar Alice tetap saja tidak bisa berbohong hatinya teriris melihat foto-foto itu, Desi berusaha menenangkan Alice sembari mengelus-elus punggung Alice.