Alice

Alice
Bagian 156



Tiga bulan berlalu...


Asti, Dahlan dan Iqbal serta Desi dan Topan, seperti biasa giliran menemani Alice malam haru sementara yang sudah sepuh pulang untuk istirahat.


"Bang gimana ya ko Purnama sampai sekarang gak ada kabarnya, email gak di balas no handphone gak aktif-aktif, apa dia gak khawatir sama Alice apa ya?"


Tanya Asti kebingungan.


"Jangan terlalu di pikirkan, gue yakin ada alasan kuat yang bikin dia kayak gini."


Jawab Dahlan.


"Kalau cuman sehari dua hari wajar aja, ini udah hampir tiga bulan massa iya dia gak ada waktu buat sekedar nanyain kondisi Alice!"


Seru Topan yang kesal.


Dari arah yang berlawanan seorang Dokter dan Perawat memasuki kamar rawat Alice.


Melihat hal tersebut Dahlan angkat bicara.


"Gak perlu pusing, yang jelas kita gak mesti ngurusin hidup orang, kita juga disini punya urusan sendiri kan!"


Ucap Dahlan dengan tatapan mata menatap ke pintu kamar rawat Alice.


Semua terdiam dan memilih menyandarkan tubuhnya di kursi tunggu rumah sakit, beberapa saat kemudian Dokter pun keluar dengan wajah sumringah.


"Keluarga pasien Alice?"


Ucap Dokter bertanya untuk meyakinkan.


"Iya Dok, kami, massa dokter masih belum inget aja kami disini sudah mau tiga bulan Dok, eh Dokter masih gak kenal aja hahhah!"


Canda Iqbal.


"Hahahah, iya maaf...maaf.!"


Jawab Dokter balas tersenyum


"Jadi begini, kondisi kesehatan Alice sudah membaik, menurut hasil lab juga menunjukan hasil yang positif, jadi Alice bisa pulang ke rumah, namun tetap melaksanakan pengobatan kemo untuk membunuh sel kanker Leukimia nya.!"


Ucap Dokter menjelaskan.


"Alhamdulillah!"


Jawab semua serentak.


"Apa masih harus kemo dok?, kasian rambutnya mulai menipis dok!"


Ucap Topan.


"Tidak papa, yang penting Alice sembuh total, masalah rambut nantikan bisa cari pengobatan lain.!"


Seru Dokter menjawab pertanyaan Topan.


Dahlan menatap ke arah Topan tak menyangka anak ini benar-benar bertingkah konyol, di saat semua orang menghawatirkan Alice, tapi Topan justru malah menyayangkan rambut Alice yang Mulai tipis.


"Heran gue, nie anak waras apa kagak ya otaknya, ko bisa dia berpikir sebodoh itu.!"


gerutu Dahlan dalam hatinya.


Dokter hanya tersenyum setelah menjawab pertanyaan Topan.


"Kalau begitu saya permisi!"


Ucap Dokter sembari pergi meninggalkan teman-teman Alice.


"Dasar sinting ni anak!"


Ucap Dahlan kepada Topan.


"Lah ko gue!"


Seru Topan.


"Ya emang elo massa gue, kan cuman elo disini yang pola pikirnya kaya bocah!"


Seru Dahlan lagi.


"Lah kenapa sama gue?"


Tanya Topan


"Udah ah, malah pada ribut aja, mending cari makan laper nih!"


Seru Asti.


"Tau, udah kaya tom and jerry aja pada ribut, entar lama-lama jadi sayang loh!"


Ucap Desi menggoda.


"Kamu lapar?"


Tanya Iqbal kepada Desi.


"Heheh lumayan!"


Jawab Desi sembari tersenyum.


"Ya sudah aku keluar belikan makan ya!"


Seru Iqbal.


Desi mengangguk tersenyum.


"Peka banget!"


Seru Asti sembari melirik Dahlan setelah melihat Iqbal pergi.


"Iya deh iya gue beliin, mau makan apa elo?"


Tanya Dahlan kepada Asti.


"Makan ya nasi!"


Ucap Asti.


"Lauknya apa?"


Tanya Dahlan


"Apa aja lah."


Seru Asti yang agak kesal karena Dahlan terlalu banyak tanya.


Dahlan hanya tersenyum kemudian pergi keluar mengikuti Iqbal, melihat Topan yang masih berdiri tertegun membuat Dahlan melirik kembali kebelakang.


"Elo kagak lapar?"


tanya Dahlan kepada Topan


"Lah sekalian lah beliin buat gue!"


Jawab Topan


"Enak aja emang elo siapa gue?"


Tanya Dahlan.


"Kan biar sekalian!"


Seru Topan lagi.


Ucap Dahlan lagi, lalu pergi berjalan keluar.


"Udah Pergi sana!"


Seru Asti sembari mendorong tubuh Topan pelan.


"Tapi gimana sama Alice?"


Tanya Topan.


"Kan ada aku sama Desi!"


Jawab Asti.


"Kalau ada apa-apa cepetan hubungi gue ya!"


Pinta Topan kepada Asti dan Desi.


"Iya!, iya!"


Jawab Asti lagi.


Topan pun pergi meski beberapa kali menoleh ke belakang.


"Ada calon Sarjana Hukum begitu, pantes aja skripsi kaga kelar-kelar hahahah!"


Ucap Asti kepada Desi sembari menatap punggung Topan yang mulai tak dapat terlihat.


"Hahahah kak sebegitunya banget sih!"


Ucap Desi.


"Eh gimana hubungan kamu sama Iqbal ngomong-ngomong?"


Tanya Asti sembari kembali duduk di kursi tunggu


"Ya Alhamdulillah berjalan baik kak!"


Jawab Desi sembari ikut duduk di kursi di samping Asti.


"Udah jadian berarti?"


Tanya Asti.


"Iya kita lagi coba jalani aja kak, heheh!"


Jawab Desi malu-malu


"Ya ampun aku masih inget aja kejadian tiga bulan lalu pas pertama kali ngajakin kamu diner sama dia hahahha!"


Seru Asti sembari tersenyum.


"Ih kakak, masih inget aja, aku kan jadi malu heheh!"


Seru Desi.


"Hahahah.!"


Asti tertawa lagi.


"Ih kakak heheh!"


Seru Desi sembari tersenyum.


"Aku do'ain semoga kalian berdua awet sampai halal, aamiin!"


Ucap Asti


"makasih kak, semoga kak Asti dan kak Dahlan juga demikian Aamiin!"


Balas Desi mendoakan hubungan Asti dan Dahlan.


Mendengar ucapan Desi, Asti tersenyum kemudian terdiam, tatapan matanya menerawang jauh keluar.


"Des!"


Ucap Asti


"Iya kak kenapa?"


Tanya Desi


"Aku sama Dahlan sudah menunda hampir setengah semester perkuliahan kami, sepertinya kami tidak bisa lebih lama menemani Alice disini, Aku titip Alice sama kamu dan Iqbal, terlebih lagi sekarang kondisi Alice sudah menunjukan perkembangan yang baik, jadi sudah tidak ada alasan lagi bagi aku dan Bang Dahlan menunda lagi, aku yakin kamu paham soal ini!"


Seru Asti menjelaskan


Desi mendengar perkataan Asti merasa teramat sangat menyesal namun Desi sadar Penuh tidak mungkin Desi menghalangi massa depan orang lain.


Dengan wajah tersenyum Desi meraih tangan Asti dan tersenyum.


"Kakak tenang aja lagian disini ada aku, ada Iqbal sama Topan, kakak tahu sendiri banyak orang yang sangat sayang dan perduli dengan Alice,kejarlah cita-cita kakak berdua, jangan menunda lagi.!"


Ucap Desi memberi semangat dan mencoba meyakinkan Asti agar tidak berberat hati meninggalkan Alice disini.


"Makasih ya Des!"


Ucap Asti, sembari memeluk tubuh Desi.


Usai berpelukan Desi mencoba bertanya lagi kepada Asti.


"Kapan rencananya kakak dan Kak Dahlan akan berangkat?"


Tanya Desi.


"Tiga hari dari sekarang Des, aku harap tiga hari kemudian kondisi Alice bisa lebih baik lagi jadi aku gak perlu menangis meninggalkan adik ku disini.!"


Seru Asti.


"Iya kakak tenang saja, percaya sama aku dan kak Iqbal serta kak Topan!"


Ucap Desi.


"Makasih banyak ya Des, tapi..mmm... aku belum bisa bilang ke Alice Des.!"


Ucap Asti menyesal.


"Ya sudah kakak kan bisa bilang besok di kontrakan ke Alice.!"


Seru Desi.


"Iya, semoga saja Alice paham!"


Seru Asti penuh harap.


"Aku yakin Alice akan paham kak!"


Ucap Desi mencoba meyakinkan lagi.


"Iya mudah-mudahan saja Des.!"


Seru Asti lagi.


Desi tersenyum menatap Asti.


Tak berapa lama Dahlan, Iqbal dan Topan pun datang membawa satu kresek makanan dan cemilan serta minuman.


Asti dan Desi menatap senang melihat orang yang mereka kasihi kembali dengan cepat.