
"Maaf ,lama ya?"
Tanya Purnama setengah terengah-engah.
"Enggak juga ko kak.!"
Jawab Alice yang tengah terduduk di sebuah bangku dekat penjual Permen kapas.
"Udah pilih-pilih, ada yang mau kamu beli?"
Tanya Purnama lagi.
Alice mengangguk.
"Apa, yang mana?"
Tanya Purnama.
Alice berdiri dari duduk nya dan Menyentuh satu bungkus permen kapas berwarna merah muda.
"Ini heheh!"
Seru Alice sembari menunjukan Permen kapas kepada Purnama.
"Permen kapas?"
Tanya Purnama.
Alice mengangguk sembari tersenyum.
"Yang lainnya,?"
Tanya Purnama lagi.
Alice menggeleng sembari tetap tersenyum.
"Yakin itu aja?"
Tanya Purnama lagi.
"Iya kak udah ini aja.!"
Jawab Alice.
"Berapa banyak?"
Tanya Purnama.
"Satu aja kak, jangan banyak-banyak.!"
"Satu aja?"
Tanya Purnama kaget.
"Iya satu kak.!"
"Ya Ampun gak akan kenyang kalau cuman satu.!"
Seru Purnama.
"Ngambil segerobak juga gak akan kenyang kakak."
Jawab Alice.
"Abang ini satu ya berapa?"
Tanya Alice kepada penjual
"Lima belas ribu aja neng!"
"Satu aja ya bang!"
Seru Alice sembari merogoh saku gaun nya.
"Ehhhh udah-udah biar kakak yang bayar, massa pergi sama cowok ko ngeluarin uang, pamali loh.!"
Seru Purnama sembari membuka dompet berwarna coklat muda.
"Pamali?"
Tanya Asti heran sembari kembali memasukan uang nya.
"Bang ini uang nya tolong kasih dua lagi ya, kembaliannya buat abang aja!"
Seru Purnama sembari menyodorkan uang satu lembar pecahan lima puluh ribu.
"Maksih Den, semoga enak kembang gula nya.!"
Seru pak Penjual.
"Banyak banget kak?"
Tanya Alice sembari kembali berjalan berdampingan dengan Purnama.
"Gak papa kasian juga abang nya, biar cepat pulang kan kalau cepat habis.!"
Jawab Purnama Datar.
"Kamu mau naik apa lagi?"
Tanya Purnama lagi.
"Enggak ah kak nanti kakak takut lagi soalnya di sini kan wahana nya main ketinggian semua kecuali kuda-kudaan heheh!"
"Dih ngeledekin ya hahahh!"
Seru Purnama sembari tertawa.
"Jadi sekarang kita kemana?"
Tanya Purnama
"Pulang aja yu kak, lagian malam semakin larut kasian kakak gak pake jaket juga.!"
Seru Alice.
"Gak papa selama kamu baik-baik saja kakak kan kuat heheh!"
Alice tersenyum mendengar ucapan Purnama.
"Kenapa malah ketawa coba?"
Ucap Purnama bertanya
"Ini senyum kak bukan ketawa!"
"Oh senyum ya, kirain ketawa heheh!"
Alice dan Purnama berniat meninggalkan wahana.
Seketika pandangan Alice tertuju pada wahana kincir angin yang berada di pinggiran pasar malam.
Purnama menyadari hal tersebut berinisiatif memberanikan diri mengajak Alice naik wahana tersebut.
"Kamu suka sama wahana itu?"
Tanya Purnama
Purnama Memperhatikan banyak pasangan seusia mereka menaiki wahana tersebut.
Membuat Purnama memiliki inisiatif memberikan cincin dan bross yang telah di beli nya tadi kepada Alice di atas sana.
"Ayo kita naik!"
Ajak Purnama.
"Tapi kak kan kakak takut ketinggian.!"
Seru Alice Panik ketika tangannya di tarik dan di ajak berlari ke arah wahana tersebut.
"Selama ada kamu kakak gak akan takut lagi.!"
Seru Purnama.
"Asal jangan modus aja heheh"
"Astagfirullah ih kejam banget, Kakak tadi gak sengaja seriusan...!"
"Iya deh iya hehehe kan Alice juga cuma becanda gak seriusan kak.!"
Jawab Alice tersenyum.
Purnama membeli tiket dan mengantri bersama Alice untuk menaiki wahana tersebut.
"Kak, mending gak usah deh kak, lagian kan udah malam Alice malah khawatir juga sama kakak ini.!"
"Udah,percaya aja sama kakak ya, in shaa Allah gak papa ko.!"
Jawab Purnama sembari berjalan maju beberapa langkah mendekati wahana tersebut.
Sampai tiba lah akhirnya giliran Alice dan Purnama menaiki wahana tersebut.
"Lice, lice!"
Seru Purnama menahan Alice.
"Iya kenapa kak?"
Tanya Alice
"Biar kakak dulu yang naik duluan, nanti kamu bisa jatuh kalau naik duluan.!"
Jelas Purnama.
Alice hanya mengerlikan alis nya kemudian menyingkir membiarkan Purnama naik lebih dulu.
"Bismillah...bismillah...bismillah...!"
Purnama terus mengucapkannya selama proses menaiki wahana tersebut sembari memegangi tangan Alice.
"Ayo aman in shaa Allah.!"
Ucap Purnama.
Alice hanya tersenyum merasa lucu dengan tingkah Purnama.
"Bismillah...!"
Alice duduk berhadapan dengan Purnama.
"Kalau kamu duduk disini deket kakak gak boleh?"
Tanya Purnama.
"Gak boleh a, kalau yang di duduki sebelah nanti jadi berat sebelah gak akan seimbang!"
Jelas Abang penunggu Wahana tersebut (cieileh penunggu hantu kali ya ah 😅) .
"Ohw gitu ya heheh, makasih bang!"
Jawab Purnama.
Abang Wahana Pun mengunci pintu wahana dari luar.
Hinggan beberapa menit kemudian setiap ruang di dalam wahana tersebut telah terisi.
Wahana tersebut pun mulai bergerak perlahan.
"Astagfirullah hall adzhim ya Allah ya Allah Allah huakbar...!"
Seru Purnama membuat Alice terkekeh.
"Kakak sih tadi kan udah Alice bilang gak usah eh malah maksa. heheh!"
"Heheh.!"
Jawab Purnama semakin berpegang erat pada besi-besi kecil yang mengurungnya bersama Alice.
"Satu Putaran aja ya, abis ini turun aja.!"
Ajak Alice.
"Ems eh jangan dong kakak gak papa ko, heheh!"
Purnama mencoba melepaskan pegangannya satu demi satu.
Berusaha bersikap tenang dan tidak melihat ke bawah, seketika Wahana tersebut pun terhenti tepat saat Alice dan Purnama berada di puncak paling Atas wahana tersebut.
Hal tersebut sontak membuat Purnama ketakutan.
"Ya Allah kenapa ini ya Allah astagfrullah!"
Seru Purnama membuat orang-orang yang berada di dalam wahana yg berdekatan dengannya menertawakan tingkah Purnama
"Udah kakak gak usah panik emang kya gini ko kita di biarkan berada di atas terlebih dahulu untuk menikmati keindahan malam dan suasana di sekitar, coba deh kakak lihat kesekitar lampu-lampu kota itu bukan kah nampak lebih indah jika di lihat dari atas sini, mirip seperti bintang-bintang kecil di langit.!"
Alice menerangkan.
"Ayo kak coba kakak lihat.!"
Seru Alice.
Purnama perlahan mengangkat kepalanya kemudian menatap kesekitarnya.
"Subhanallah, indah sekali ya, pantas saja Alice suka naik wahana ini ternyata memang sangat indah melihat segala sesuatu dari sini.!"
Seru Purnama sembari menatap ke arah yang di tunjuk Alice.
"Sesuatu yang berhubungan dengan ketinggian itu tidak selalu menakutkan kak, tergantung bagaimana cara kita mengartikannya dan menikmati nya.!"
Seru Alice
"Kalau Alice boleh tahu,Memangnya kenapa kakak takut sama ketinggian?"
Tanya Alice penasaran.
"Sebenarnya sejak kecil kakak sering di tinggal oleh orang tua kakak mereka selalu lebih mementingkan bisnis nya ketimbang Anaknya, sulit bagi kami untuk bisa berkumpul bersama, bahkan rasanya hampir tidak pernah, kakak hanya tinggal bersama bibi pengasuh dan paman pengurus kebun, di rumah memang banyak orang yang bekerja namun setiap kali kakak berada di rumah suasana seolah terasa sangat sepi, hingga pada suatu ketika bibi pengasuh pernah berkata jika kakak menginginkan sesuatu maka berdo'alah ketika bintang jatuh, hingga akhirnya kakak naik ke atas atap rumah dan menunggu bintang itu jatuh, pada akhirnya kakak ngantuk dan tanpa kakak sadari kakak terjatuh ke tanah dan koma beberapa hari tapi Alhamdulillah, kakak masih selamat sampai saat ini, heheh!"
Alice tertegun mendengar cerita Purnama.
Alice pun tersenyum tipis membalas tatapan kosong Purnama.