
Tiga puluh menit kemudian Ayah Dewi keluar dari dalam kamar rawat Dewi.
Tanpa berkata-kata Ayah Dewi langsung menemui istrinya di kamar yang lainnya,wajahnya begitu sendu, banyak kesedihan yang tercipta dalam kehidupannya.
Melihat betapa beratnya hidup keluarga Dewi saat ini membuat rasa bersalah pada keluarga Juanda semakin mendalam.
"Sebaiknya kita segera mencari solusi, supaya masalah keluarga Dewi yang disebabkan oleh anak kita bisa sedikit berkurang Yah.!"
Ucap Ibu Juanda kepada Suaminya.
"Ayah pun berpikir demikian, sebaiknya nanti ketika Ibu Dewi sadar kita bicara ber empat.!"
Usul Ayah Juanda.
"Menurut saya juga demikian pak, lebih cepat dibicarakan lebih baik.!"
Usul Purnama.
"Iya setidaknya, semua akan perlahan membaik.!"
Ucap Ibu Kos.
Mendengar Dukungan yang baik Keluarga Juanda semakin yakin akan niat mereka.
Seorang Perawat mendatangi ruang Rawat Dewi, untuk memeriksa kondisi Dewi.
Beberapa menit perawat itu di dalam kemudian keluar lgi.
"Suster bagaimana Dewi?"
Tanya Alice
"Dewi sudah siuman, tapi sebaiknya biarkan dulu dia beristirahat dan tenang."
Jawab Suster.
"Alhamdulillah syukurlah."
Jawab semua orang.
"Selamat siang suster, kami dari pihak kepolisian berniat meminta keterangan dari saudari Dewi sebagai korban.!"
Ucap Seorang polisi.
"Silahkan pak, saya permisi.!"
Ucap Suster.
Suster pun pergi dan kedua orang polisi pun memasuki kamar Dewi.
Dari kamar sebelah terlihat Ibu Dewi yang di gandeng suaminya keluar dengan mimik wajah sedih.
Ayah dan Ibu Juanda menyambut Ibu Dewi dengan membantu nya duduk di kursi.
"Bagaimana kondisi ibu sekarang?"
Tanya Ibu Juanda.
"Bagaimana anak saya bu?"
Tanya Ibu Dewi tanpa menjawab pertanyaan Ibu Juanda terlebih dahulu.
"Ibu tenang saja jangan terlalu banyak berpikir,Dewi baik-baik saja di dalam dan bayinya juga selamat Alhamdulillah.!"
Ucap Ibu Juanda.
"Alhamdulillah.!"
Ucap Ibu Dewi.
"Pak, bu sepertinya kita harus mulai membicarakan masa depan anak-anak kita, setidaknya masa depan Dewi akan lebih terarah dan tidak menjadi beban pikiran lagi bagi Dewi."
Ucap Ayah Juanda memulai pembicaraan.
"Bicaralah pak, kami akan mendengarkan.!"
Ucap Ayah Dewi.
"Tapi bukankah sebaiknya kita bicara berempat saja?"
Tanya Ayah Juanda.
"Tak perlu pak bicara disini saja, mereka semua yang ada disini adalah keluarga Dewi bagian dari kami, mereka yang sudah berjuang membantu saya sejauh ini, biarkan mereka juga tahu setidaknya mereka akan nyenyak tidur jika tahu massa depan Dewi akan seperti apa.!"
Jelas Ayah Dewi.
Mendengar penjelasan ayah Dewi, Ayah Juanda pun mengangguk mengerti.
"Baiklah pak.!"
Jawab Ayah Juanda.
"Apa tidak sebaiknya kita nikahkan saja anak kita berdua pak?"
Tanya Ibu Juanda.
"Kita tidak bisa menentukan ini tanpa keputusan Dewi, kami harus bicara dengan Dewi terlebih dahulu.!"
Jawab Ayah Dewi
"Maaf pak saya ikut bicara, setahu saya perempuan yang sedang hamil itu tidak boleh di nikahkan karena hitungannya tidak sah."
Purnama ikut andil dalam pembicaraan kedua keluarga tersebut.
"Iya begitulah dalam Islam seharusnya, kita hanya bisa menikahkan mereka hanya ketika bayi yang di kandung Dewi telah lahir, itupun jika Dewi bersedia.!"
Jawab Ayah Dewi.
"Baiklah sebaiknya kita ambil jalan pahit nya aja, seandainya Dewi tidak mau menikah dengan anak kami Juanda ketika nanti telah melahirkan, kami akan mengambil anak itu dan merawatnya, bagaimana?"
Ayah Dewi melirik istrinya sekejap kemudian terdiam.
"Saya rasa, kita harus bertanya terlebih dahulu kepada Dewi nanti Pak, kita akan bisa memutuskan setelah mendengar langsung dari Dewi yang dia inginkan nantinya seperti apa.!"
Ucap Purnama lagi.
"Iya sebaiknya memang begitu, saya sebagai orang tua tidak ingin mendoktrin anak, hidupnya sudah cukup hancur jadi biarkan dia mengambil dan memutuskan jalannya sendiri sesuai keinginnanya, selama dia tidak berniat mencelakakan anak yang ada di dalam perutnya.!"
Ucap Ayah Dewi lagi.
"Baiklah pak, kami akan menghargai keputusan Dewi, tapi kami tidak akan angkat tangan begitu saja meskipun nantinya Dewi tetap ingin merawat anak dalam kandungannya sendirian saja, kami akan tetap membiayai semua keperluan Dewi dan anak dalam kandungannya, karena bagaimanapun itu semua disebabkan oleh kelakuan anak kami.!"
Ucap Ayah Juanda Tulus.
"Terimakasih pak, mendengarnya saja kami sangat senang dan bersyukur setidaknya tidak hanya kami berdua saja yang memikul ujian ini.!"
Ucap Ayah Dewi sembari tersenyum.
Ayah Juanda mengangguk sembari tersenyum pula.
"Sebentar lagi waktunya makan siang sebaiknya kita bergantian menjaga Dewi, tidak ada yang boleh meninggalkan Dewi takutnya Dewi nanti nekad lagi.!"
Usul Ayah Juanda.
"Tentu pak, anak-anak kalian makan lah lebih dulu, biar nanti kami para orang tua makan bersama setelah kalian selesai dan kembali kesini.!"
Ucap Ayah Dewi kepada Asti, Alice, Dahlan dan Purnama.
"Pergi lah makan duluan, Ibu akan makan nanti bersama keluarga Dewi dan Juanda.!"
Ucap Ibu kos kepada Alice.
"Baik bu.!"
Jawab Alice.
"Segeralah kembali setelah kalian selesai karena kami juga lapar heheh.!"
Ucap Ayah Juanda Bercanda mencoba mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku dan tegang.
"Baiklah pak kami permisi dulu.!"
Ucap Dahlan sembari menarik tangan Asti.
"Ayo...!"
Ajak Purnama kepada Alice dan Alice pun mengangguk.
"Kami duluan Assalamualaikum.!"
Ucap Purnama kepada para orang tua.
"Wa allaikumus sallam, jangan lupa solat duhur nya.!"
Teriak Ayah Juanda.
Alice dan Purnama tersenyum sembari mengangguk dan kembali berjalan menelusuri kolidor rumah sakit.
"Jangan terlalu berpikir berat ya sayang, kakak gak mau kalau kamu sampai sakit lagi.!"
Ucap Purnama kepada Alice.
Sembari meraih tangan Alice, kemudian menggandengkan nya di tangan Purnama.
Alice hanya tersenyum sembari tetap mempertahankan gandengan tangan nya kepada Purnama.
"In shaa Allah kak.!"
Jawab Alice sembari tersenyum.
Nanti malam packing baju-baju ya jangan sampai ada yang ketinggalan, besok kita pagi-pagi setelah berpamitan ke Dewi langsung Pulang biar kamu istirahatnya juga lumayan lama, supaya besok lusa ke sekolah udah fit."
Pinta Purnama.
"Iya kak."
Jawab Alice lagi.
"Kamu senang mendengar itikad baik keluarga Juanda?"
Tanya Purnama lagi.
"Alhamdulillah kak, setidaknya Alice merasa mulai bisa bernafas lega kali ini, mudah-mudahan Dewi nya juga kasih respon yang positif ya ka.!"
Ucap Alice
"Aamiin, kakak juga berharap demikian, syukurlah, rasanya sedikit berkurang beban di pundak heheh.!"
Ucap Purnama.
"Kalian mau pada makan apaan?"
Tanya Dahlan yang berjalan lebih dulu di depan Alice dan Purnama.
"Kamu mau makan apa?"
Tanya Purnama kepada Alice.
"Aku apa aja lah kak ikut yang penting makan..."
"Nasi kan heheheh.!"
Alice belum sempat melanjutkan ucapannya, namun Purnama sudah lebih dulu mengatakan apa yang Alice akan katakan.
Alice pun tersenyum mendengar Purnama berkata demikian...