Alice

Alice
Bagian 155



Pagi-pagi Buta Mamah Purnama mendatangi gudang ditemani oleh pak Mamat.


Topan masih tertidur di kursi yang mengikat dirinya.


"Bangun anak muda!"


Bisik Mamah Purnama di telinga Topan.


Topan yang merasa geli membuka matanya perlahan-lahan.


Mamah Purnama tersenyum menatap Topan yang masih berusaha untuk terbangun dari tidurnya.


Melihat yang ada di hadapannya adalah mamah Purnama Topan bertanya dengan malasnya.


"Ada apa lagi tante pagi-pagi buta begini pake datang kesini segala!"


Seru Topan dengan nada pelan.


"Memberika apa yang kamu mau!"


Jawab Mamah Purnama.


mendengar jawaban mamah Purnama Topan langsung membuka matanya lebar-lebar.


"Sungguh tante?"


Tanya Topan senang.


"Tentu tapi dengan syarat.!"


Ucap mamah Topan.


"Syarat?"


Tanya Topan bingung, mengingat pak Mamat semalam tidak mengatakan bahwa tante di hadapannya ini akan memberikan syarat.


"Iya syarat, jika saya sanggup mensejahterakan kehidupan kalian, saya akan menjual rumah dan tanah ini kemudian pergi dari sini selamanya!"


Ucap Mamah Purnama.


"Lantas apa syaratnya?"


Tanya Topan tidak perduli dengan ucapan mamah Purnama.


"Ternyata kamu tidak sabaran anak muda.!"


Ucap Mamah Purnama.


"Langsung saja ke inti tante!"


Ucap Topan


"Baiklah, pertama kamu tidak boleh melaporkan saya ke kantor polisi, kedua kamu harus membawa Alice keluar dari kota ini, dan Pastikan Alice dan Purnama tidak akan pernah bertemu lagi!"


Seru Mamah Purnama.


"Semua itu perkara gampang tante, sekarang berikan apa yang saya minta dan lepaskan saya!"


Ucap Topan tak ingin perduklli dengan ucapan mamah Purnama.


"Baiklah, ingat jika kamu gagal saya tidak akan segan-segan menghancurkan hidup Alice, ingat itu!"


Ancam Mamah Purnama kepada Topan.


"Jangan pernah berani selangkah pun mendekati Alice jika reputasi tante dan seluruh kekayaan tante lenyap!"


Sery Topan kembali mengancam.


"Selama kamu melakukan apa yang saya minta, saya bisa menjamin diri saya sendiri untuk jauh dari perempuan kampung itu!"


Ucap Mamah Purnama.


"Lepaskan anak ini pak Mamat!, kemudian bawa dia menghadap saya di ruang tamu!"


Ucap Mamah Purnama memberikan tekanan pada kalimat-kalimatnya.


"Baik nyonya!"


Jawab Pak Mamat.


Selesai memerintahkan supirnya mamah Purnama keluar lebih dulu dari gudang dan menunggu di ruangan tamu.


Iqbal menghampiri Topan dan Pak Mamat.


"Sebaiknya aku gimana sekarang?"


Tanya Iqbal.


"Akan terlalu beresiko jika nyonya tahu ada nak Iqbal, sebaiknya nak Iqbal keluar lewat pintu samping saja nanti saat kami sibuk mengobrol.!"


Usul Pak Mamat.


"Tapi bagaimana dengan ucap-ucapan tante itu, kita masih perlu merekam semua ucapan tante itu untuk bahan jaga-jaga alih-alih si tante berniat jahat dan berlaku licik!"


Seru Iqbal.


"Tenang saja berikan perekam suara itu kepada pak Mamat, biar pak Mamat yang mengantonginya, gue rasa tu tante gak bakal curiga sama pak Mamat!"


Seru Topan mengusulkan.


"Baiklah coba berikan kepada saya.!"


Ucap Pak Mamat setelah berhasil melepaskan ikatan Topan.


"Ayo kita keluar pak!"


Ajak Topan kepada Pak Mamat setelah di rasa semua siap.


Setelah di ruangan tamu mamah Purnama tengah duduk dengan manisnya tersenyum menyambut kedatangan Topan dan Pak Mamat, dengan sebatang rokok yang tercapit di sela-sela tangannya,sesekali mamah Purnama menghisapnya kemudian menghembuskan asap rokoknya dengan nakal.


"Ayo duduk anak muda"


Ucap Mamah Purnama.


Pak Mamat mendudukan Topan di kursi sofa di sebrang Nyonya nya.


"Ini kan yang kamu mau, silahkan kamu cek dan buka-buka dulu!"


Seru Mamah Purnama.


Topan meraih satu map di atas meja kemudian membuka dan membacanya dengan teliti.


Ucap Topan ingin segera mengakhiri pertemuanya dengan mamah Purnama.


"Jangan terburu-buru anak muda, kamu harus ingat bahwa ini hanya sementara, jika dalam batas waktu maksimal anak saya lulus kuliah kamu masih juga belum menikah dengan Anak kampung itu, semua yang telah saya berikan harus kamu kembalikan!"


Ucap Mamah Purnama.


"Kita lihat saja, saya atau anda yang akan mengalami kerugian!"


Ucap Topan sembari pergi keluar dari rumah Purnama tanpa menunggu mamah Purnama menjawab ucapannya.


Diluar pagar Halaman rumah Purnama terlihat, Dahlan sudah menunggu dengan mobilnya bersama Iqbal.


Topan menunjukan surat-surat itu kepada Iqbal dan Dahlan.


"Baguslah.!"


Ucap Iqbal.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan dengan surat-surat ini?"


Tanya Topan dan Iqbal.


"Kita akan mengirim surat-surat ini sekarang juga ke papah Purnama!"


Jawab Dahlan.


"Elo yakin Papahnya Purnama bisa di pegang omongannya?, gue gak mau ambil resiko!"


Ucap Topan kepada Dahlan.


"Tenang aja, kita gak perlu semua ini, kita perlu biaya pengobatan untuk Alice dan Papah Purnama memiliki tujuan yang sama seperti kita, menyembuhkan Alice dan memberikan pelajaran kepada Istrinya, sekarang kita jalan.!"


Ucap Dahlan sembari melajukan mobil yang di bawanya.


"Ngomong-ngomong apa si Purnama sudah bisa dihubungi?"


Tanya Topan.


"Sayang nya belum!".


Jawab Dahlan ringan.


"Apa papah nya juga sama tidak mengetahui alasan kenapa anaknya tidak bisa di hubungi?"


Tanya Topan lagi.


"Itulah masalahnya, papah Purnama pun tidak tahu kenapa!"


Jawab Dahlan lagi.


"Kemana laki-laki brengsek itu.!"


Ucap Topan.


Dahlan yang mendengar itu hanya tersenyum, seolah-olah melihat dirinya sendiri yang dulu saat awal-awal merelakan Alice untuk Purnama.


"Udah lah gak perlu mikirin yang jauh selama kita disini, ya kita yang harus jaga Alice.!"


Seru Iqbal.


Mobil pun melaju menuju pusat pengiriman dan setelah mengemas serta menyertakan Alamat tujuan Dahlan pun masuk untuk mengurus pengiriman surat-surat tersebut.


Selesai mengurus surat-surat Mereka menuju ke rumah sakit, namun di perjalanan Topan mengeluhkan kondisi tubuhnya.


"Udah beberapa hari gak mandi, gak ganti baju juga, mampir bentar ke toko baju ya mandinya entar lah numpang di rumah sakit!"


Pinta Topan kepada Dahlan.


"Sama nih!"


Jawab Iqbal.


"Bagus deh loe pada sadar badan udah pada bau apek, gue gak enak aja tadi mau ngomong!"


Celetuk Dahlan sembari melirik ke kiri dan kanan mencari Distro baju, setelah melihatnya Dahlan langsung banting setir untuk parkir saat itu juga.


Selesai berbelanja mereka bergegas menuju rumah sakit, Topan dan Iqbal bergegas menuju toilet umum di rumah sakit untuk membersihkan diri.


Sementara di depan koridor ruangan rawat Alice nampak Desi dan Asti tengah berbincang berdua.


"Assalamualaikum!"


Seru Dahlan.


"Udah balik bang, gimana Iqbal sama Topan?"


Tanya Asti penasaran.


"Mereka lagi di kamar mandi lagi bersih-bersih!"


Jawab Dahlan.


Nampak wajah Desi langsung sumringah mendengar ucapan Dahlan.


"Mereka bebas bang?"


Tanya Asti lagi.


"Iya Alhamdulillah!"


Jawab Dahlan sembari duduk di samping Asti.


"Syukurlah Alhamdulillah, gimana ceritanya bang?"


Tanya Asti Penasaran.


"Entar aja tanya sama mereka langsung, soalnya tadi niat gue kesana kan cuman mau nengokin kondisi mereka, tapi tiba-tiba tu anak pada nonghol aja berdua keluar dari gerbang rumahnya si Purnama!"


Jelas Dahlan.


"Yang penting sekarang masalah kita satu demi satu mulai terselesaikan!"


Ucap Desi penuh harap.


"Gue gak bisa jamin!"


Jawab Dahlan...