Alice

Alice
Bab 27 kematian Artfhael



"Percaya lah padaku Alice ... Aku tidak bisa melihatmu selalu menderita, aku tidak mungkin akan mencelakai-mu, kamu adalah orang yang sangat aku sayang" Arthfael membujuk Alice.


Sementara Alice masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar, perlahan air matanya keluar satu persatu melihat Arthfael yang memohon padanya meski ini adalah permintaan yang tidak masuk di akal.


"Aku tidak yakin Al" Alice memaksa kan bicara


"Jika kau mencintaiku kau harus percaya dengan semua kata-kataku, aku tidak akan membuatmu menderita Alice... kau percaya kan padaku? " menatap Alice.


Alice hanya bisa menangis mendengar semua perkataan Arthfael dia sangat mencintai Arthfael tapi permintaannya sangat sulit ia penuhi. Alice menatap langit ruangan itu tidak sanggup dan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Berjanjilah..." pintanya lagi


"Baik" kata Alice tanpa memandang Arthfael.


Arthfael memandang Alice dengan tatapan senangnya, dia bergegas mengambil pistol yang Alice jatuhkan tadi dilantai itu dan memberikannya ke tangan Alice


"Lakukanlah sekarang Alice" kata Arthfael memasang muka senangnya


"Kau ... apa kau sangat senang untuk mati hah!?" teriak Alice diruangan itu hingga member BTS yang mengintip dari balik tembok itu bisa mendengarnya


Arthfael tidak menjawab sama sekali dia berjalan agak jauh memberikan jarak penembakan, Arthfael duduk dilantai itu dengan memandang kearah Alice yang sedang berdiri didepan.


"Tepatilah janjimu Alice dan aku akan tenang"


"Tidak aku tidak bisa membunuhmu" tangis Alice menjambak-jabak rambutnya dan ikut terduduk kelantai dengan tangis yang sangat keras.


"Aku bersumpah jika kau tidak mau melakukannya sekarang... maka kau tidak akan bisa melihat jasadku sama sekali setelah ini, dan akan aku putuskan hubungan kita mulai saat ini juga" Teriak Arthfael menggema diruangan itu agar Alice melakukannya tanpa ragu dan cepat.


Mendengar itu para member BTS terlihat kaget begitu juga dengan Alice


"Allll" Lirih tangis Alice mendekati Arthfael, dia semakin bergetar melihat Arthfael yang sama sekali tidak gentar atas keinginan nnya ini.


mendengar itu Alice semakin menangis tidak percaya menggeleng gelengkan kepalanya kuat.


"Dua"


Dengan langkah sempoyongan Alice akhirnya mangambil pelan pistol disampingnya dan berdiri dengan langkah gontainya mendekati Arthfael yang sedang duduk di lantai tanpa gentar sedikitpun. Sesekali tangannya menyeka air matanya yang mengalir begitu deras tanpa henti.


Alice mengarahkan pistol itu kearah kepala pria yang dia cintai ini, Alice menatap lekat Arthfael lebih lama, dia tidak sanggup ditinggal orang yang dia sayangi ini, orang yang dia cintai sepenuh hati, yang selalu berada dikala dia terpuruk, menyisir rambutnya, mengantarkan makanan, memberikan pelukan, sejak dia berumur delapan tahun hanya kasih sayang darinya saja yang ia dapatkan, rasanya pada Arthfael bukan hanya sekedar perasaan antara pria dan lelaki tetapi Arthfael lebih dari itu, Arthfael sudah seperti ibu baginya ayah dan kekasihnya.


Dan kini dia sendirilah yang harus membunuh Arthfael yang sudah seperti ibunya, masalah akan lebih besar jika Arthfael jatuh ke tangan pasukan Mafia, karnanya mati di tangan Alice adalah pilihan yang paling bijak, Alice tidak akan sanggup menyembunyikan Arthfael, mengingat kekuatan Deep Black yang sangat kuat, dia bisa saja akan ikut terseret kedalam masalah ini sebab akan di cap sebagai pasukan yang melanggar titah dengan melindungi Arthfael selaku pengkhianat.


"Satu..." teriak Arthfael


Tuarrrr suara tembakan  meluncur tapat mengenai kepala Arthfael dan membuatnya langsung jatuh tergeletak dilantai putih itu seketika lantai yang tadinya putih bersih bersimbahan darah keluar secara perlahan dari kepalanya.


Alice langsung terduduk lemas diatas lantai melihat Arthfael yang seketika sudah tidak bernyawa lagi.


Tangis Alice memecah diruangan besar nan sunyi itu membuat suara tangisnya menggema keseluruh ruangan, ia menatap jasad pria yang ia cintai didepannya yang kini sudah terbujur kaku harus mati di tangannya sendiri, air matanya tidak bisa lagi dia bendung, hingga ia menangis histeris sambil memukul-mukul keras dadanya yang terasa sesak sampai robek lah kemeja putih yang sedang ia kenakan, air mata hangat terus -menerus membasahi pipi mulusnya tanpa henti seraya menjambak-jambak rambutnya dengan keras, berusaha menyalurkan rasa sakit hati dan  betapa tidak adilnya dunia ini terhadap mereka.


"Angellll" teriak BTS seketika setelah mendengar suara tembakan masuk satu persatu dari balik dinding mendekati Angel.


Alice sama sekali tidak berkutik dia hanya memperhatikan Arthfael yang sudah tergeletak dilantai atas perbuatannya itu.


Satu persatu staf BTS masuk kedalam rumah karna mendengar suara tembakan yang keras tadi. Mereka semua sangat kaget melihat pemandangan yang satu ini.


Sementara Alice merangkak dari duduknya mendekati Arthfael tanpa peduli dengan tatapan heran dari mereka semua yang menyakasikannya, yang ia tau saat ini dia sangat terpukul atas kejadian ini sembari meraih Arthfael kedalam pelukan-nya  yang sudah tidak bernyawa lagi dengan erat, darah segar milik Arthfael masih mengalir deras dari kepalanya hingga membuat baju kemeja putih yang dikenakan Alice penuh dengan bercak warna merah.


"Maafkanlah aku" Ucap Alice berbisik ditelingan Arthfael berharap ada anggukan yang dibalas dari Arthfael.


Alice menciummi kening Arthfael tanpa henti, Arthfael sudah tiada, kini Alice merasa bagaikan salah satu tulang dari tubuhnya diambil secara paksa dari dalam tubuhnya  sampai dia tidak sanggup memopang tubuhnya lagi, dia terus menangis dan menangis tanpa henti sampai tak ada lagi sisa air mata dipelupuk mata cantiknya, hingga ia pun jatuh tidak sadarkan diri sembari memeluk Arthfael erat dipelukan-nya.