
Pagi hari Jin dan Suga bangun lebih awal dari semua member dan Alice , untuk menyiapkan sarapan kemudian menata makanan yang Jin dan Jimin beli tadi malam dari super market.
"Apa ini? " kata Suga mengambil pistol dari dalam kantong makanan itu
"Kau membeli mainan Hyung? " Tanya Suga sambil tersenyum memegang pistol itu dan menunjukan pada Jin.
"Hei itu bukan mainan" kata Jin mengambil pistol itu dari tangan Suga
"Kau membeli yang asli? " Tanya Suga heran
"Ini punya Angel" kata Jin sambil memandang pistol yang ada ditangannya.
"Tapi kenapa ada disini? " menunjuk kantong dengan tatapan bingungnya
"Nanti biar Jimin yang menjelaskannya, Dia lebih tau dari aku" kata Jin
"Baiklah" kata Suga mengangguk dan
meneruskan aktifitasnya.
Jin dan Suga meneruskan aktifitasnya dengan serius dan lihai, mereka mengatur makanan dan memasak.
Dua jam berlalu semua member sudah bangun dan duduk bersama dimeja makan, sementara Alice belum bergabung bersama mereka.
Suga meminta penjelasan tentang pistol ini dan Jimin menceritakan dari awal kejadian sampai kerumah tanpa ada yang tertinggal, mereka semua mendengarkan dengan seksama kata perkata dari Jimin sebelum sarapan dan tentunya Alice belum bergabung dengan mereka.
"Angel ... ayo makan" kata J-Hope dari luar pintu kamar Alice setelah mengetuknya, beberapa kali J-Hope mengetuk pintu kamar Alice tapi tak kunjung ada jawaban, karna tak ada jawaban sama sekali akhirnya para member memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
Selesai sarapan, Alice juga tak kunjung keluar dari kamarnya.
Member BTS sudah beberapa kali memanggilnya untuk ikut bersama kekantor tapi dia sama sekali tidak menjawab.
Terpaksa BTS pergi meninggalkan Alice sendirian dirumah mewah itu karna takut terlambat.
Sementara didalam kamar Alice terus menghubungi nomor Arthfael agar tidak lagi menemuinya dan bersembunyi agar tetap aman tetapi nomor itu tidak kunjung aktif sampai malam hari.
Alice semakin khawatir ketika dia mendapat kabar dari anggota Mafia yang berada di Amerika Serikat tepatnya Supai bahwa Arthfael tidak berada dimarkas sejak seminggu yang lalu.
Alice terus menelpon tanpa lelah dengan perasaan yang khawatir dan sesekali mengirim pesan berharap Arthfael membacanya berharap mendapat balasan dari sana.
Sudah pukul 09.00 malam para member BTS belum pulang sedangkan Alice masih tetap berusaha menghubungi Arthfael tanpa henti dengan berjalan mondar mandir dikamar itu.
Alice belum sarapan apa pun dari tadi pagi tapi dia tidak merasakan lapar sama sekali. Hingga, lamunannya buyar ketika mendengar suara bel berbunyi didalam rumah itu.
Alice berhenti menelpon Arthfael dan mendengarkan dengan seksama suara dari luar sana. Itu jelas bukan member BTS karna setahu Alice mereka banyak bicara dan tidak akan pernah diam, jikalau pun itu member BTS tapi tidak ada Terdengar suara mobil masuk.
Alice memutuskan untuk keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah pistol ditangannya untuk berjaga jaga.
Alice melihat keluar rumah dari balik layar jendela dan melihat seorang pembawa pesanan sedang berdiri diluar gerbang dengan sebuah kotak makanan ditangannya dan seorang satpam yang sedang membuka gerbang itu berbicara dengannya sebelum mempersilahkan masuk.
Alice sama sekali tidak curiga ketika dia melihat lelaki itu, dia tidak memesan apapun tetapi dia berpikir mungkin salah satu anggota BTS yang memesannya jadi dia hanya memperhatikan langkah demi langkah pria itu hingga sampai didepan pintu.
Alice mendekat untuk membukakan pintu dan melangkah masuk kembali tanpa mempedulikan si kurir.
"Aliceeee" kata pembawa pesanan itu menghentikan langkah Alice.
Sontak Alice kaget dengan suara dari orang yang memanggilnya barusan, dia sangat kenal betul dengan suara ini, tidak lain adalah orang yang dia khawatirkan sejak kemarin malam.
"Al" Alice berbalik dan mundur lebih jauh dari hadapan Arthfael.
Melihat reaksi yang ditunjukan Alice, Arthfael mendekati Alice dan memegang lengannya
"Alice kenap?" Tanya Arthfael.
Alice menepis tangan Arthfael dari lengannya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan dan melangkah mundur.
"Kenapa kau kesini? " kata Alice yang sudah Terdengar suara tangisan yang dia tahan
"Pergi... pergi" Alice menolak dada Arthfael untuk bergegas meninggalkan rumah itu.
"Apa ayah menyuruhmu untuk menangkap-ku?" Arthfael bertanya tanpa melepas pelukannya
Alice mengangguk dan menghentikan pukulannya
"Lakukan lah Alice" kata Arthfael tanpa ragu.
Mendengar itu Alice berhenti menangis seketika dan menatap Arthfael dengan butiran air mata yang sudah tergenang disana.
"Tidak apa apa Alice" Arthfael mengusap air matanya
"Hidupku tinggal beberapa hari lagi... tidak apa apa jika kau membunuhku Alice " kata Arthfael memeluk Alice dan langsung membuat Alice menangis lebih keras didalam pelukannya, Alice menggeleng-gelengkan kepalanya dan menolak-nolak Arthfael agar segera pergi.
"Tidak apa apa Alice" kata Arthfael menenangkan Alice yang memberontak dipelukaannya
"Membuatnya sedikit lebih cepat akan lebih baik...Aku juga sudah bosan hidup Alice ... aku tidak tahan dengan semua ini" Arthael ikut menangis
"Kau ... apa kau tidak mau lagi berada disisiku?!" Tanya Alice
"Aku sangat ingin Alice" melepaskan pelukannya dan menatap Alice lama
"Kau sudah berjanji untuk hidup lebih baik dari sekarang... hiduplah dengan pria yang bisa membuatmu senang setiap waktu tanpa menderita lagi seperti ini" kata Arthfael kemudian mengecup kening Alice untuk terakhir kalinya.
Alice semakin menangis histeris tidak sanggup kehilangan satu satunya sumber kebahagian miliknya ini yang tidak bisa ia terima adalah dia sendiri yang harus merenggut nyawa orang yang sangat dia cintai ini sejak dulu sampai sekarang.
Alice memeluk Arthfael erat tidak ingin berpisah, Arthfael membalas pelukan Alice menangis bersama.
Tanpa mereka sadari para member BTS sudah memperhatikan mereka sejak lama dari balik tembok.
Member BTS sengaja bersembunyi untuk memberikan ruang pada mereka berdua, terlebih ini adalah kali pertama mereka melihat Alice manangis tersedu- sedu.
Arthfael melepaskan pelukannya dan memegang tangan kanan Alice yang sedari tadi memgang pistol dan mengarahkannya kedadanya
"Lakukanlah" kata Arthfael mantap.
Alice menghentikan tangisnya dan memandang wajah Arthfael. Alice menggelengkan kepalanya keras dan menjatuhkan pistol yang ada ditangannya, dia tak sanggup melakukannya.
"Apa kau mau mendengar permintaan terakhirku? " kata Arthfael
Alice tidak menjawab
"Aku mohon agar aku tenang meninggalkan mu Alice" Arthfael memohon
"Apa" suara tangis Alice masih terdengar.
"Berjanji lah" kata Arthfael sembari menunduk memandang Alice.
"Aku berjanji" Kata Alice mulai membalas tatapan Arthfael.
"Berjanjilah bahwa kau akan membantu mereka dan tunjukan siapa identitas asli mu yang sebenarnya" kata Arthfael berbisik ketelinganya seraya menatap Alice mantap.
"Apa maksutmu? " Tanya Alice spontan menatap Arthfael tidak percaya, pertanyaan Alice berhasil membuat-nya berhenti menangis.
Beribu pertanyaan timbul seketika diotaknya, ini sama saja mengkhianati organisasi dan ingin segera mati, Alice tidak tau mengapa Arthfael meminta hal ini, meminta dirinya untuk mengaku bahwa dirinya seorang anggota Mafia kepada musuh yang akan dimusnahkan, sungguh ini adalah pertanyaan yang sudah keluar dari nalar.
"Mereka orang yang baik, pasti mereka akan memaafkanmu" kata Arthfael mencoba meyakinkan Alice tanpa memberikan alasan dan penjelasan lebih lanjut pada Alice yang masih memandangi dirinya dengan beribu keheranan dan pertanyaan yang terpancar jelas dari wajahnya.
"Tidak aku tidak akan" Alice melepas pelukan Arthfael dan menjauh darinya seketika.