Alice

Alice
Bagian 91



Sementara Purnama yang baru saja selesai memarkirkan motornya di halaman depan kosan Alice bergegas menaruh helm di stang motornya dan berlari ke arah warung anak ibu kos.


"Assalamuallaikum teh!"


ucap Purnama.


"Wa allaikumus sallam...eh nak Purnama, teteh pikir tadi siapa bawa motor kesini.!"


Seru anak ibu kosan.


''He iya teh saya, Alice nya ada teh?"


Tanya Purnama


"Alice?, gak ada ko belum pulang sekolah dia setahu teteh, emang di sekolah gak ada?"


Tanya anak ibu kosan balik.


"Gak ada teh udah di kunci semua, loh kemana dong kalau begitu?"


Tanya Purnama khawatir.


"Mungkin langsung kerja ke tempat kerja paruh waktunya sama Desi !"


Seru anak Ibu kosan.


"Memangnya Alice udah kerja paruh waktu teh?"


Tanya Purnama kaget.


"Udah di warung fotocopy di dekat kantor polisi itu loh.!"


Ucap Anak ibu kos memberi petunjuk.


"Oh ya sudah saya kesana aja teh kalau begitu, Assallamualaikum teh.!"


Ucap Purnama sembari meninggalkan anak Ibu kos dan memarkirkan motor nya.


"Wa allaikumus sallam.!"


Jawab anak ibu kos.


Purnama pun melaju pergi mengendarai motornya menuju tempat kerja paruh waktu Alice dan Desi.


Hujan mulai turun gemericik, namun Purnama tak memperdulikan tubuhnya yang mulai basah kuyup, Purnama hanya fokus mengendarai motornya dengan sesekali mengelap kaca helm nya menggunakan tangan.


Sesampainya di tempat kerja paruh waktu Alice, Purnama pun memarkirkan motornya dan membuka helm.


"Alice itu ada kak Purnama.!"


Ucap Desi yang melihat kedatangan Purnama


"Mana?"


Tanya Alice.


"Itu di luar !"


Seru Desi sembari menunjuk.


"Astagfirullah kenapa basah kuyup begitu, darimana kak Purnama tahu aku kerja disini?"


Tanya Alice pada Desi.


"Aku juga gak tahu, sebaiknya kamu temui kak Purnama dan luruskan masalah di antara kalian agar tidak ada lagi kesalah pahaman.!"


Ujar Desi menyarankan.


Alice menunduk.


"Enggak Des, ini belum saatnya, aku masih belum bisa menahan air mata bula mengingat poto-poto dari Irma, aku masih belum bisa bicara tenang kepadanya, sebaiknya kamu saja yang temui dia katakan kepadanya aku tidak ada disini.!"


Pinta Alice pada Desi.


"Tapi Lice."


Ucap Desi tanpa melanjutkan kata-katanya karena Alice sudah melangkah meninggalkan dia ke dalam.


Desi dengan segan menghampiri Purnama keluar.


"Ka Purnama?"


Sapa Desi


"Eh Desi, des di dalam ada Alice?"


Tanya Purnama.


"Emhhg emhhh Alice tidak ada kak tidak masuk kerja hari ini.!"


Ucap Desi berusaha meyakinkan Purnama


"Kemana Alice Des?, di kosan gak ada di sekolah juga gak ada, disini juga dia gak ada, lalu kemana perginya dia?!"


Tanya Purnama semakin tak karuan dengan suara gemetar.


"Sebentar ya kak saya ambilkan handuk dulu.!"


Ucap Desi sembari masuk kedalam


Purnama mulai mengigil karena tubuhnya sudah basah kuyup.


Sementara Alice mulai merasa khawatir melihat Purnama kedinginan di luar.


"Alice gimana ini kasihan kak Purnama diluar kedinginan menggigil.!"


Ucap Desi kepada Alice.


"Bawa jaket ini dan berikan pada kak Purnama, bilang aku menitipkannya kepada mu, bawa juga handuk ini untuk dia mengelap tubuhnya, katakan padanya telpon saja aku jika dia mau tahu keberadaan ku.!"


Jelas Alice.


"Tapi Lice...!"


Ucap Desi.


Pinta Alice pada Desi.


Dengan berat hati Desi kembali menghampiri Purnama.


"Kak ini handuk pakai saja bersih belum di pakai ko, dan tadi Alice sempat nitip jaket ini ke aku buat di kasih ke kakak.!"


Seru Desi sembari memberikan handuk dan jaket dari tangannya.


Purnama tertegun melihat jaket miliknya yang sempat dipakaikan kepada Alice di kembalikan.


"Apa Alice ada di dalam?"


Tanya Purnama.


Pertanyaan Purnama membuat Desi tertegun.


"Tak perlu di jawab, kamu cukup berikan isyarat kepada kakak, jika dia di dalam kedipkan mata kamu tapi jika tidak kamu cukup tetap diam.!"


Ucap Purnama.


"Euh maaf kak, Alice bilang jika kakak mau tahu dimana keberadaannya hubungi saja lewat handphone nya.!"


Seru Desi memangkas pembicaraan.


"Saya Permisi kak, saya harus kembali bekerja.!"


Desi Berpamitan kemudian kembali ke tempat kerjanya.


Purnama duduk di bangku depan tempat fotocopyan kemudian mengekuarkan handphone nya dan menghubungi Alice.


"Handphone kamu!"


Seru Desi kepada Alice.


Alice mengambil handphone nya dari dalam saku tas kemudian menatap layar telponnya.


"Kak Purnama?"


Tanya Desi


Alice mengangguk.


"Angkat cepat jangan buat dia khawatir.!"


Seru Desi.


Dengan ragu Alice mengangkat telponnya


"Assalamualaikum...!"


Ucap Alice


"Wa allaikumus salla, sayang kamu kemana aja, kakak nyariin kamu seharian, kakak liatin di sekolah gak ada, di kosan gak ada di tempat kerja juga gak ada, kemana kamu sayang?, dimana kamu sekarang?"


Tanya Purnama penuh ke khawatiran.


"Alice baik-baik saja kak, Alice hanya perlu waktu menyendiri jadi please jangan ganggu dulu Alice.!"


Ucap Alice dari sebrang telpon.


"Tapi kenapa?"


Tanya Purnama bingung


"Enggak papa kak, sampai ketemu akhir pekan Assalamualaikum.!"


Seru Alice sembari menutup telponnya.


"Ya Allah Alice kenapa gak kamu temuin dulu aja barang sebentar saja,kasian udah hujan-hujanan kesana kesini.!"


Desi memberi saran.


"Aku taku saat aku bicara sejujurnya, aku takut aku menangis di hadapannya, air mata ku hanya akan membuat nya semakin iba terhadap ku Des.!"


Seru Alice.


"Gak bisa kamu kaya gini lice, kamu belum tahu kejadian sebenarnya seperti apa, kamu gak boleh menyimpulkan satu sisi gak boleh.!"


Ucap Desi lagi kepada Alice.


"Terus aku mesti gimana?"


Tanya Alice kepada Desi.


"Kamu temuin dia kamu utarakan semuanya, masalah gak akan selesai jika dibiarkan berlarut seperti ini.!"


Ucap Desi.


"Tapi bagaimana jika...!"


Ucap Alice tertahan.


"Jika kamu ingin menangis,menangis lah tumpahkan seluruh emosi kamu dalam pelukan dia, dia bukan malaikat dia gak akan tahu apa yang kamu rasain sekarang kalau kamu gak bilang sama dia Lice, please Purnama itu laki-laki baik jangan lepaskan dia.!"


Pinta Desi kepada Alice sembari menggandeng Alice keluar dari dalam ruangan kerjanya.


Di saat Desi dan Alice berniat menghampiri Purnama sebuah mobil berhenti tepat di pinggir jalan di depan tempat Alice dan Desi bekerja, seorang perempuan berseragam SMA keluar dari dalam mobil membawa payung.


"Tunggu Des, lihat disana!"


Ucap Alice kepada Desi.


"Kak Gita.!"


Ucap Desi tertahan.


Gita menghampiri Purnama dan meraih tangan Purnama mengajak Purnama masuk ke dalam mobilnya.


Purnama yang tanpa ekspresi dan tanpa bicara apapun mengikuti tarikan Tangan Gita masuk ke dalam mobilnya.


Usai membantu Purnama masuk kedalam mobilnya Gita Pun kembali ke luar menuju kursi pengemudi, sebelum masuk mobil Gita menatap ke dalam Fotocopy tempat Alice dan Desi bekerja, Alice yang menyadari hal itu tidak berkutik sedikitpun, Gita mengembangkan senyum sinis dari bibirnya yang jelas-jelas ditujukan kepada Alice, kemudian masuk ke dalam mobil setelah menutup payungnya terlebih dahulu.


Mobil pun melaju meninggalkan Motor Purnama di depan fotocopyan...