Alice

Alice
Bagian 152



Sementara di gudang, Dahlan dan Iqbal menghampiri Topan.


"Sudah kita pergi sekarang, kita laporkan saja kepada polisi, lagian saya sudah punya buktinya disini!"


Ucap Iqbal sembari menunjukan handphone miliknya.


"Bagus anak muda hahahah!"


Ucap Dahlan tertawa


"Sutttsss, jangan berisik!".


Ucap Topan mengingatkan.


Dahlan dan Iqbal Pun langsung memelankan suaranya


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju gudang, Dahlan dan Iqbal kembali berlari menuju persembunyiannya.


Pintupun terbuka dan yang datang adalah Pak Mamat.


melihat yang datang adalah Pak Mamat Topan, Dahlan dan Iqbal pun bernapas lega.


"Ya ampun bapak saya kira siapa!"


Ucap Topan.


"Maaf saya bikin kaget ya heheh!"


Jawab Pak Mamat dengan suara Pelan.


Iqbal dan Dahlan pun keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Pak Mamat.


"Barusan saya habis ngobrol sama tuan.!"


Ucap Pak Mamat setelah semua berkumpul.


"Lantas apa kata om?".


Tanya Dahlan.


"Tuan minta, masalah ini jangan di laporkan ke polisi, bagaimanapun nyonya adalah istrinya.!"


Ucap Pak Mamat.


"Loh mana bisa kayak gitu dong, kalau kaya gitu nanti yang ada tante itu malah makin menjadi-jadi mengganggu kehidupan Alice dan Purnama, mungkin sekarang Topan pak, tapi besok-besok siapa yang tahu bisa saja saya atau Dahlan atau yang lainnya kalau kemauanya tetap tidak tercapai dia akan tetap menghalalkan segala cara!"


Ucap Iqbal.


"Bener kata Iqbal pak, kami tidak mau mengambil resiko!"


Timpal Dahlan.


"Tuan meminta waktu untuk memikirkan cara, jika cara yang tuan gunakan tidak berhasil lagi maka tuan akan mengijinkan nyonya di laporkan ke polisi.!"


Ucap Pak Mamat.


"Berapa lama lagi pak?".


Tanya Topan emosi


"Tahan emosi, sabar!".


Seru Iqbal kepada Topan.


"Berarti rencana om yang tadi gagal?"


Tanya Dahlan kepada pak Mamat.


"Benar, nyonya malah meminta Tuan untuk berangkat sendiri menyelesaikan masalah kantornya.!"


Jawab Pak Mamat gamblang.


"Astagfirullah, tapi kami juga perlu kepastian berapa lama waktu yabg om perlukan untuk menyelesaikan masalah ini pak!".


Sery Dahlan.


"Saya akan menanyakan itu besok pagi kepada tuan, barusan tuan langsung masuk ke kamar tamu dan beristirahat!"


Ucap Pak Mamat.


"Lantas sekarang kami harus bagaimana?"


Tanya Topan.


"Sepertinya kita harus menunggu, sebaiknya Kak Dahlan kembali saja ke Rumah sakit, takutnya ada hal penting yang terjadi, di sana hanya ada bapak Alice laki-lakinya, biar saya disini memantau perkembangannya.!"


Seru Iqbal membuat rencana.


"Tapi apa elo yakin sendiri disini?".


Tanya Dahlan kepada Iqbal.


"Tenang saja kak, disini saya ada pak Mamat juga, lagian saya rasa mamah Kak Purnama itu tidak akan sanggup bermacam-macam selama Topan ada disini sebagai sandera.!"


Ucap Iqbal menjelaskan.


"Aku setuju, setidaknya selama ada aku sebagai sandera disini, Tante itu tidak akan mengusik kehidupan Alice, sekarang kesehatan Alice yang harus kita prioritaskan!"


Ucap Topan kepada Dahlan.


"Bener kak, sebaiknya kakak pergi sekarang ke rumah sakit, setiap perkembangan apapun hubungi kami, dan aku akan menghubungi kakak juga jika ada hal atau rencana baru dari tante itu!"


Ucap Iqbal kepada Dahlan.


"Ok kalau gitu gue balik sekarang, apalagi besok Alice mau kemo, kalian baik-baik juga disini ya, pak nitip temen-temen gue.!"


Ucap Dahlan kepada Pak Mamat.


Selesai berpamitan Dahlan pun kembali ke rumah sakit dan menceritakan semuanya kepada Asti dan Desi.


Ke esokan paginya,...


Papah Purnama sudah bersiap menggunakan jas dan membawa koper nya untuk melanjutkan rencana nya.


"Pak Mamat tolong siapkan mobil antar saya ke bandara.!".


Seru Papah Purnama.


"Papah jadi berangkat?"


Tanya Mamah Purnama kepada Suaminya.


"Jadi mah, bagi papa masa depan anak dan istri papah harus jadi prioritas!"


Ucap Papah Purnama menyindir istrinya.


Istrinya sadar bahwa sindiran itu di tujukan untuknya, namun tanpa rasa bersalah istrinya malah mengalihkan pembicaraan.


"Maafin mamah ya pah, mamah kayanya gak bisa nganter papah sampai bandara.!"


Ucap Mamah Purnama.


"Urusan apa yang lebih penting dari mengantar suamimu untuk pergi?"


Tanya Papah Purnama masih dengan nada kesal


Nampaknya kekesalan semalam masih tersisa dalam hati papah Purnama.


"Mamah gak enak badan pah, jadi kayanya mamah gak akan kuat kalau harus ikut antar papah ke bandara.!"


Ucap Mamah Purnama beralasan.


"Kalau memang mamah tidak enak badan sebaiknya jangan keluar kamar, dan Bi! tolong segera panggiljan dokter keluarga kita untuk memeriksa istri saya!".


Seru Papah Purnama kepada pembantu rumah nya.


Mamah Purnama kaget melihat perlakuan suaminya yang dingin dan langsung bergerak menyikapi masalah.


"Bi gak usah, biar nanti saya pergi ke klinik saja bersama pak Mamat selepas mengantar Papah!"


Ucap mamah Purnama mencoba menghentikan pembantu rumahnya.


"Ya sudah tidak perlu nanti, kita berangkat sama-sama biar papah antar mamah dulu ke dokter selesai periksa mamah bisa langsung antar papah kebandara!"


Ucap Papah Purnama sembari menyantap sarapannya.


Mamah Purnama kehabisan alasan sehingga akhirnya lebih memilih di panggilkan Dokter ke rumah ketimbang harus ikut ke bandara mengantar suaminya.


"Ya sudah bi telpon saja!"


Ucap Mamah Purnama kepada Pembantunya.


Papah Purnama hanya tersenyum sinis sembari tetap bersikap dingin terhadap istrinya.


"Apa-apaan papah ini, kenapa sikapnya begitu dingin seperti ini, tidak biasanya jika hanya karena masalah sepele saja papah langsung marah selama ini.!"


Gerutu mamah Purnama dalam hatinya.


Selesai sarapan papah Purnama langsung memanggil Pak Mamat.


"Sudah siap pak mobilnya?"


Tanya Papah Purnama kepada Pak Mamat.


"Sudah pak!"


Jawab Pak Mamat.


"Barang-barang saya semuanya sudah di masukan ke dalam bagasi?"


Taya Papah Purnama.


"Sudah semua tuan!"


Jawab Pak Mamat.


"Ya sudah ayo kita berangkat pak!"


Ajak Papah Purnama kepada supirnya.


"Sudah mau berangkat pah?"


Tanya Mamah Purnama meninggalkan sarapannya di meja.


"Iya.!"


Jawab Papah Purnama simple.


"Ya sudah papah hati-hati ya di jalan, jangan lupa selalu kabari mamah terkait perkembangan perusahaan kita.!"


Pesan Mamah Purnama kepada suaminya.


Papah Purnama hanya mengangguk pelan sembari menatap wajah istrinya.


"Apapun yang terjadi papah sudah pasti melakukan yang terbaik yang bisa papah lakukan, tapi untuk hasilnya kita serahkan kepada Allah mah!"


Ucap Papah Purnama sembari membiarkan istrinya mencium tangannya sebelum pergi.


"Iya pah, mamah percaya papah akan melakukan yang terbaik demi kemajuan perusahaan kita, mamah akan segera menyusul kesana pah!"


Ucap Mamah Purnama kepada Suaminya.


Tanpa berbasa-basi lagi papah Purnama menaiki mobil dan meninggalkan halaman rumah beserta istrinya yang masih melambai-lambaikan tangannya ke arah mobil yang di tumpanginya.


Setelah di rasa suaminya sudah agak jauh mamah Purnama Pun kembali ke dalam rumah dan melanjutkan sarapannya.


"Nyonya permisi,dokter akan datang lima belas menit lagi!"


Ucap Bibi pembantu rumah tersebut.


"Batalkan saja, saya sudah baik-baik saja!"


Ucap Mamah Purnama.


"Eu...eu...eu.. tapi nyonya Dokter sudah dalam perjalanan kesini sekarang!"


Ucap Bibi pembantu...


"Baiklah saatnya berpura-pura heheheh!"


Ucap Mamah Purnama sembari menuju ke kamarnya.