
"Assalamualaikum!"
Ucap Alice saat memasuki ruangan kerjanya sembari membuka Pintu.
Namun tidak ada jawaban dari dalam, saat Alice sudah masuk ke dalam Alice mendapati meja Andri masih kosong.
"Syukurlah ternyata aku datang lebih pagi dari pak Andri.!"
Ucap Alice kepada dirinya sendiri sembari duduk di meja kerjanya dan mulai menyalakan deskbook di atas meja kerjanya.
"Selamat Pagi!"
Ucap Andri yang baru saja masuk ke dalam ruanga.
Alice berdiri dan menjawab sapaan pak Andri.
"Pagi juga pak!"
Jawab Alice.
Andri langsung duduk di meja kerjanya.
"Hari ini kamu ikut saya ketemu klien, sementara kamu perhatikan dan catat apa yang saya bicarakan nanti, selepas pulang bertemu klien buatkan saya laporan hasil dari pertemuan berbentuk laporan dan Power point untuk saya presentasikan di hadapan pak Dirut!"
Ucap Andri memberikan perintah seolah ingin membalas dendam.
"Baik pak!"
Jawab Alice meski sebenarnya Alice masih merasa belum memahami sepenuhnya apa yang akan dia kerjakan.
"Kamu sudah siap?"
Tanya Andri
"Iya Pak!"
Jawab Alice.
Andri langsung membawa berkas di dalam map berwarna biru menuju pintu keluar, sadar Alice masih terpaku di mejanya Andri menoleh.
"Kamu tidak mau bekerja!?"
Tanya Andri kepada Alice tegas.
"Ma...ma...mau pak!"
Jawab Alice gugup sembari berdiri tanpa mengerti apa lagi kesalahanya hingga Bosnya bisa bertanya demikian.
"Lalu kenapa kamu hanya duduk dan diam saja?!"
Tanya Andri lagi membuat Alice semakin kikuk.
"Ma...maa...maaf Pak, ta...ta...sa...sa...!"
Ucap Alice terbata-bata tanpa mampu berkata-kata lagi.
"Ikuti saya!"
Ucap Andri memberi perintah?
"Ba...ba...baik pak!"
Ucap Alice sembari bergegas mengikuti Andri.
Sampai di Parkiran Alice masih belum paham kemana Andri akan pergi.
Andri membuka kunci alarem mobilnya, Alice masih bertanya-tanya kemana sebenarnya Andri akan pergi.
Andri masuk kedalam mobil, di ikuti oleh Alice, saat Andri mulai menghidupkan mesin mobilnya, Andri melirik Alice tidak membawa tas ataupun buku memo.
"Mana alat untuk mencatat kamu?!"
Tanya Andri heran masih dengan suara tegas.
"A.. a...alat... tulis?"
Tanya Alice balik.
"Kamu tidak dengar saya tadi suruh kamu apa?"
Tanya Andri masih dengan nada suara super dingin nya.
Alice sadar bahwa dirinya tidak membawa tas handphone atau alat apapun saat mengikuti Andri.
"Maa...maaa... maaf pak, ke...ketinggalan... di dalam heheh!"
Ucap Alice terbata, dengan wajah tak berdosanya dia mengakhiri ucapannya dengan senyuman.
"Ambil cepat!"
Ucap Andri memerintahkan.
"Ba...baik Pak!"
Ucap Alice sembari bergegas keluar dari mobil.
"Saya beri kamu waktu satu menit, untuk bisa sampai kesini lagi, jika lebih satu detik saja, saya akan tinggalkan kamu disini!"
Ucap Andri enteng.
"Baik Pak!"
"Ya Allah punya atasan begini banget sih ya, padahal apa susahnya tinggal bilang ayo pergi ketemu klien, bukannya malah marah-marah mulu heran, ini emaknya ngidam makan apa ya pas hamil dia, massya Allah!"
Gerutu Alice dalam hatinya sembari terus berlari menuju ke dalam ruangannya, sementara Andri di dalam mobilnya menunggu sembari mendengarkan detik jam tangan dengan tajam.
Alice kembali berlari setelah sembarang mengambil buku memo dari atas meja menuju mobil Andri.
"Lima puluh tujuh, lima puluh delapan, lima puluh sembilan, enam pul...!"
Ucap Andri menghitung detik-detik akhir waktu yang diberikannya kepada Alice.
Untung saja di waktu yang tepat Alice berhasil kembali ke dalam mobil meski dengan napas terengah-engah.
"Pas kan pak, heheh?"
Ucap Alice mencoba bertanya kepada Andri.
Tanpa menjawab dan menunggu Alice memasang sabuk pengaman nya Andri langsung mengemudikan mobil yang di kendarainya melesat menuju tempat pertemuan.
Meski dengan susah payah Alice berhasil memasang sabuk pengamannya.
"Ya Allah kerja aja udah kaya mau jual nyawa!"
seru Alice dalam hatinya lagi sembari melirik Andri yang hanya fokus pada kecepatan mobilnya.
Sesampainya di tempat pertemuan, Andri langsung turun dari mobilnya tanpa berkata-kata, Alice mengikuti dengan sigap di belakang Andri.
"Selamat Pagi pak Andri, selamat datang silahkan, kami sudah pesankan minum dan makan kesukaan pak Andri.!"
Ucap Seorang klien laki-laki sembari berjabat tangan dengan Andri.
"Pagi juga pak, ah terimakasih pak, bapak memang selalu paling tahu saya hahahah!"
Ucap Andri tertawa.
Alice melihat sikap Andri yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat ketika bertemu kliennya mendadak tercengang kaget.
"Astagfirullah, aku kira dia emang super dingin sama siapa aja, ternyata bisa juga itu orang ketawa seperti itu, ramah banget lagi lah kenapa sama aku super super cuek, jutek judes banget coba, gak salah minum kan ini orang ya?"
Ucap Alice dalam hatinya sembari tetap terpaku memandang Andri.
"Hahahah, wah sekarang ada temannya ya, gak di kenalkan nih pak Andri?"
Tanya klien tersebut
"Oh iya saya hampir saja lupa, kenalkan ini asisten pribadi saya yang baru.!"
Ucap Andri memperkenalkan Alice kepada klien nya, namun Alice tidak menyadari bahwa Klien tersebut tengah menyodorkan tangannya kepada Alice untuk berkenalan.
Andri yang menyadari hal tersebut sontak menyenggol Alice dan membuat Alice terkaget.
"Astagfirullah!"
Ucap Alice
Andri menatap Alice seperti macan kelaparan.
"Halo... !"
Ucap Klien kepada Alice masih dengan tangannya yang berniat berjabat dengan Alice.
"Oh iya ma...ma...maaf pak, perkenalkan saya Alice heheh!"
Ucap Alice sembari meraih tangan klien dan menjabatnya.
"Wah masih muda ya, cantik lagi, masih singgle mbak?"
Tanya klien.
"I...iya... pak heheh!"
Jawab Alice
"Wah Pak Andri bisa saja memilih Sekertaris, hahahah, sering banget ganti-ganti sekertaris semoga yang ini awet ya pak Andri hahahha!"
Canda Klien kepada Andri sembari melepaskan jabatan tangannya dengan Alice.
"Hahah mudah-mudahan pak!"
Jawab Andri tanpa merasa berdosa.
Sementara Alice mendengar perkataan klien tersebut akhirnya menyadari sesuatu.
"Gonta-ganti sekertaris?, pantas saja sih dia kan super jutek galak dan judes sama sekertarisnya, pastilah merek
pada gak betah punya bos macam kamu haduh, Astagfirullah mimpi apa ya aku ko sampai bisa terdampar bersama atasan seperti dia.!"
Ucap Alice berkata-kata lagi dalam hatinya.
Andri yang sudah duduk di kursi meja makan bersama kliennya,namun masih melihat Alice berdiri di sampingnya sembari menatap kosong ke arahnya,melirik kepada kliennya dan tersenyum.
"Maklum pak anak baru heheh!"
Ucap Andri kepada kliennya sembari kembali berdiri dan berbisik di telinga Alice.
"Duduk!, jangan banyak ngelamun kalau kamu tidak mau saya pecat seperti sekertaris saya yang lain!
Ucap Andri di telinga Alice, Alice yang mendengar hal tersebut terkejut, kemudian seolah baru saja terbangun dari tidur panjangnya.