
Melihat Reaksi Topan yang tak berkata-kata satu kata pun, membuat Hendrik kesal di buatnya
"Terus kalau dia cewek loe kenapa?, yang jelas belum jadi bini elo kan.!"
Seru Hendrik maju satu langkah mendekati Purnama.
Topan dan Alice berusaha menghalangi Hendrik, Alice berdiri di depan Purnama menghadap Hendrik.
"Aku mungkin memang belum jadi istrinya tapi apa hak kalian mengganggu hubungan orang yang sudah jelas-jelas menolak Perasaan dan pernyataan cinta?!"
Ucap Alice sembari menatap ke arah Topan.
"Maksudnya apa ini?"
Tanya Purnama bingung.
Topan menundukkan kepala merasa malu dengan apa yang telah Alice ucapkan.
"Elu diem doang Pan?!"
Tanya Hendrik kepada Topan kesal.
"Elo bilang elo cinta elo sayang kenapa sekarang elo diam aja?!"
Ucap Hendrik lagi semakin kesal.
"Ayo kak Kita pergi.!"
Ucap Alice memegang tangan Purnama.
"Nanti dulu sayang, ini sebenarnya ada apa?!"
Tanya Purnama lagi menahan ajakan Alice.
"Sory gue suka sama cewek loe!"
Seru Topan sembari tetap menunduk.
"Alice?"
Tanya Purnama kepada Alice sembari menatap kedua mata Alice.
"Alice gak salah, gue yang selalu memaksa dia buat jadi deket sama gue, gue juga udah pernah bilang sayang sama dia tapi dia lebih milih elu.!"
Ucap Topan perlahan mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap Purnama.
Kini Purnama dan Topan saling bertatapan mata, ada rasa kesal dan marah dari tatapan mata Purnama kepada Topan, ada rasa kesal sekaligus iri yang begitu besar dari tatapan Topan kepada Purnama.
"Jujur gue iri sama elo karena Alice lebih milih elu di bandingkan Gua, tapi semua itu gak bakal bikin gue nyerah, ayo kita sama-sama bersaing buat dapetin hati Alice secara sehat.!"
Ucap Topan kepada Purnama.
Desi yang melihat keadaan semakin memanas langsung mengirim pesan singkat kepada Dahlan.
"Kak ada masalah antara kak Purnama dan Topan, segera kemari di ujung lapangan sepak bola dekat kosan Alice, jangan telat!.!"
Isi pesan singkat kekhawatiran Desi kepada Dahlan.
Dahlan yang menerima pesan tersebut merasa kaget dan bertanya-tanya siapa Topan.
"Ada apa lagi ini!"
Seru Dahlan
"Ada apa lagi apanya Bang?"
Tanya Asti kepada Dahlan.
"Ayo kita pergi sekarang, kita harus cepat sampai disana baru akan mengerti masalahnya apa.!"
Ucap Dahlan.
Melihat Dahlan berlarian ke arah parkiran membuat Asti merasa khawatir juga.
"Eh ada apa As?"
Tanya Teman satu kelas Asti yang sedang sibuk menyiapkan kumpulan osis.
"Aku gak tahu kayanya ada masalah penting, sory ya aku tinggal dulu, begitu semua beres kita pasti kesini lagi.!"
Seru Asti meminta maaf.
"Iya udah sana pergi kabarin ya kalau ada apa-apa ati-ati di jalannya.!"
Pesan teman osis nya.
"Iya Assalamuallaikum!"
Ucap Asti sembari berlari meninggalkan teman-temannya.
"Wa allaikumus sallam!"
Jawab teman Asti.
"Buruan!"
Ucap Dahlan kepada Asti.
Asti seketika langsung berlari cepat menghampiri Dahlan yang sudah bersiap di atas motor dan langsung naik motor.
Dahlan langsung tanjap gas ketika mengetahui Asti sudah berpegangan di pinggangnya menuju ke arah kosan Alice.
"Gak bisa lah kamu maksa-maksa orang, kamu tanya ceweknya mau sama kamu apa sama aku?"
Ucap Purnama.
"Mungkin sekarang sama elo tapi nanti gue yakin Topan yang akan bisa dapetin Alice.!"
Ucap Hendrik
"Stop Drik, biar gue aja yang ngomong sama dia.!"
Seru Topan kepada Hendrik.
Hendrik di perlakukan demikian merasa kesal dan ada rasa malu menyelinap kedalam hatinya.
"Kenapa harus pada ribut sih, kenapa gak bicara baik-baik aja?, lagian kenapa mesti ngerebutin satu cewek yang sudah jelas-jelas punya pacar coba, aku aja masih jomblo ini.!"
Seru Desi nyeleneh membuat semua mata menoleh ke arahnya.
Tak berapa lama Dahlan dan Asti datang memarkirkan motor di belakang mobil Purnama.
"Eh ada apa ini?"
Tanya Dahlan menghampiri Purnama dan Alice serta Topan.
"Siapa loe gak usah ikut campur ini urusan gue sama cowok satu ini!"
Ucap Topan kesal.
''Jelas gue ikut campur mereka berdua ini ade gue!"
Ucap Dahlan menatap Topan dan kini berhadapan.
"Ada masalah apa elo nyegat-nyegat ade gue?"
Tanya Dahlan mulai emosi.
Topan menatap Alice tak menghiraukan ucapan Dahlan.
"Ada apa ini?"
Tanya Asti kepada Desi dan Irma.
"Ceritanya cowok yang itu naksir ke Alice, sudah pernah nembak dan di tolak tapi semalam dia datang ke kosan minta no Alice tapi Alice gak ngasih eh sekarang malah nyegat, oya ini bukan pertama kalinya dia nyegat Alice.!"
Ucap Desi sengaja bersuara lantang supaya semua orang bisa mendengar.
"Bener begitu yang?"
Tanya Purnama kepada Alice.
"Jadi elu gak tahu juga masalahnya?"
Tanya Dahlan kepada Purnama.
"Gak tahu, aku tadi niatnya mau kasih kejutan ke Alice jemput dia eh pas sampai sini ada rame-rame Desi nyamperin ngasih tahu kalau Alice disini pas aku samperin Tuh cowok lagi megang tangan Alice.!"
Jelas Purnama.
"Bener Lice gitu?"
Tanya Dahlan.
Alice mengangguk perlahan.
"Des panggil Ibu kosan, masalah kaya gini gak boleh sampai terulang lagi.!"
Seru Dahlan.
"Apa urusannya sama ibu kosan?"
Tanya Hendrik
"Kalian gak tahu kalau Topan ini anaknya Kadus disini?"
Tanya Hendrik lagi membanggakan.
"Kalau begitu sekalian kita ke kantor kepala Desa saja sekarang jemput Ibu kosan sekarang As.!"
Ucap Dahlan ketus.
"Ok!, ok!. gak perlu lah bawa-bawa bokap dalam urusan kaya gini.!"
Ucap Topan menolak.
"Oh ok kalau gitu, sekarang elu berdua terutama Elu, elu Tanya sama Alice perasaan Alice terhadap elo gimana, setelah elo denger sendiri jawaban Alice berhenti ganggu Alice lagi, kalau perlu kita bikin perjanjian!"
Seru Dahlan tegas sembari menunjuk kepada Topan.
Topan Dengan berani mendekati Alice dan berlutut di hadapan Alice sembari memegang tangan Alice.
Purnama yang melihat itu mengusap wajahnya kesal, dan berniat melepaskan tangan Alice dari genggaman tangan Topan, namun Dahlan menahannya.
"Alice sekali lagi aku tanya sama kamu, please jangan pernah bohongin perasaan kamu, jangan karena sekarang disini ada Purnama lantas kamu berpura-pura tidak mencintai aku, jawab dengan jujur apa kata hati kamu, bukankah sebentar lagi Purnama akan pergi jauh meninggalkan kamu, sebelum semuanya terlanjur menyakitkan kamu, aku mohon jalani hubungan dengan aku, aku janji aku bakal bikin kamu lebih bahagia di bandingkan saat bersama Purnama, please jawab iya lice.!"
Ucap Topan memohon
Alice melirik ke arah Purnama menatap Purnama, namun Purnama langsung membuang pandangannya menjauh dari wajah Alice.
Semua tertegun heran karena Alice tidak segera memberi jawaban kepada Topan, ditambah lagi Topan mengetahui rencana kepergian Purnama membuat semua orang disana bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi di antara Alice dan Topan di belakang mereka.