Alice

Alice
Funeral



Sore ini, Alice berangkat menuju rumah sakit. Baru saja seorang suster meneleponnya dan mengatakan kalau bibinya sudah sadar.


"Pak, ke rumah sakit Fidelya, ya!" kata Alice pada supir taksi yang dinaikinya. Supir itu mengangguk lalu melajukan mobilnya.


Alice memainkan ponselnya selagi menunggu sampai rumah sakit. Dia menerima pesan dari Xander.


--


Xander:


Hari ini ke rumah sakit?


Tadi kulihat bibimu sudah sadar


Alice:


Iya


Ini lagi di jalan.


Xander:


Oh


--


Alice merasa Xander agak aneh. 'Ada apa dengannya?' batin Alice.


'Ciiit'


Decitan bunyi rem mobil taksi membuat Alice terkejut. Hampir saja dia terjatuh ke depan.


Dia pun melihat keluar. "Oh, sudah sampai!" gumamnya.


Alice mengambil uang dari tasnya lalu membayar ongkos pada supir taksinya. Setelah itu dia keluar dari mobil.


Dengan jalan dipercepat, Alice menuju ruangan rawat Maya.


"Bibi!" sapa Alice setelah membuka pintu ruangan.


Alice agak terkejut dengan balasan bibinya. Maya tersenyum. Sebelumnya tak pernah dia tersenyum setulus itu pada Alice.


"Alice sini!" ujar Maya.


"Iya, bi?" tanya Alice.


"Bibi bodoh, ya! Seharusnya bibi gak pergi waktu itu. Padahal kamu sudah mengingatkan bibj. Sekarang kondisi bibi begini..." ucap Maya. Air mata lolos membasahi pipinya.


"Bibi jangan nangis!" ujar Alice sambil menghapu air mata Maya.


"Maafin bibi, ya. Selama ini bibi gak pernah baik sama kamu!" kata Maya.


"Gak apa-apa, bi!" jawab Alice.


Mereka berbincang agak lama. Maya kini benar-benar berubah. Alice sangat senang melihatnya. Setidaknya, dia mempunyai satu orang yang bisa disebutnya sebagai keluarga.


-----


Isakan tangis terdengar memenuhi ruangan. Sekrang remaja laki-laki tampak merasa sangat kehilangan. Ya, dja Xander.


"Papa!" ujar Xander seraya memeluk ayahnya yang telah meninggal dunia. Disebelahnya berdiri ibunya yang mencoba menahan air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya.


"Xander! Sudah. Jangan nangis lagi. Kita ikhlaskan saja. Sudah memang waktunya papa kamu pergi!" ujar ibu Xander mencoba menenangkan putranya.


"Xander... Sudah, nak!" ujar ibu Xander lagi.


Xander mencoba untuk tenang. Dia melepaskan pelukan dari tubuh ayahnya. Menatap sendu ayahnya sambil menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Xan...der!" panggil Alice terjeda dari pintu ruangan.


Alice menutup mulutnya. Terkejut atas apa yang dilihatnya. Alice juga merasa kehilangan atas kepergian ayah Xander. Mengingat beberapa hari ini dia sudah merasa dekat dengan keluarga Xander.


"Tante...!" gumam Alice sambil berjalan ke arah ibu Xander.


Ibu Xander menghela napas. "Sudah waktunya dia pergi, nak!" ujarnya. Alice memeluk Ibu Xander, mencoba menenangkannya.


-----


Hari ini hari pemakaman ayah Xander. Alice bersiap pergi dengan memakai pakaian serba hitam.


Dia keluar dari rumahnya lalu memberhentikan sebuah taksi. Lalu dia masuk.


Mobil taksi tersebut pun berjalan setelah Alice memberitahu kemana tujuannya.


-


Kini, Alice telah sampai di pemakaman.


"Ouh, kurasa aku terlambat!" gumam Alice karena melihat sudah tak banyak orang lagi di pemakaman. Hanya ada Xander dan Ibunya, serta beberapa teman kelas mereka.


Alice berjalan mendekati pemakamannya. "Xander!" panggil Alice. Xander menoleh.


"Kau datang!" ujar Xander.


"Aku turut berduka. Kamu yang sabar!... Bibiku juga menitipkan salam, dia tak bisa datang karena masih harus dirawat di rumah sakit!" ujar Alice. Xander mengangguk perlahan.


"HEY!" seru Valerie sambil menyenggol sikut Xander. "Tak biasanya kau begini. Dimana dirimu yang ceria?" seru Valerie lagi sambil tersenyum. Xander tersenyum kecil.


"Benar! Kau tidak akan berwajah murung seperti itu terus, kan?" tanya Alvin. Alvin Jefford. Baru-baru ini, Valerie, Alice dan Xander berteman dengannya.


"Iya!" jawab Xander sambil tersenyum.


"Nah, gitu dong!" seru Valerie.


Alice merasa tasnya bergetar. Dia segera membuka tasnya lalu mengambil ponselnya disana.


Nomor tidak dikenal.


Alice berjalan agak menjauh dari teman-temannya, lalu menjawab panggilan tadi.


"Halo!"


"Ini dengan Alice Christina Alexandra?"


"Ya, benar!"


"Kami dari Rumah Sakit Decintly. Bisa anda ke rumah sakit sekarang!"


Alice langsung mematikan ponselnya kala itu.


"Tak ada yang hal buruk yang terjadi pada bibi, kan?" gumam Alice.


Dengan berlari agak cepat, dia meninggalkan pemakaman tanpa pamit dengan temannya.


"Alice, kau mau kemana?" tanya Valerie.


Alice hanya menoleh sebentar tanpa menjawab pertanyaan Valerie. Rumah Sakit Decintly dekat dengan pemakaman itu, jadi Alice memilih berjalan kaki ketimbang naik kendaraan.


-


Alice menaiki tangga untuk masuk ke pintu rumah sakit dengan langkah tertatih-tatih karena kelelahan berlari.


Alice pun masuk ke dalam rumah sakit. Ruangannya yang dingin membuat rasa lelah Alice sedikit berkurang. Alice mempercepat langkahnya.


"Bibi!" seru Alice sambip membuka pintu ruang rawat Maya.


"Alice. Kamu sudah datang!" ujar Maya yang duduk di tepi kasur.


"Apa bibi sudah boleh pulang?" tanya Alice. Maya mengangguk.


"Iya! Bibi sudah menunggu dari tadi!" ucap Maya.


"Ugh, kupikir ada apa. Aku sempat panik tadi!" kata Alice. Maya tertawa kecil karena tau maksud Alice.


"Ayo, pulang. Bibi tidak betah disini!" kata Maya sambil turun dari kasur dengan hati-hati. Melihat itu, Alice segera menopang Maya.


Alice mengambil tas Maya di sofa lalu membantu Maya berjalan keluar rumah sakit.


"Bagaimana dengan temanmu itu? Apa dia baik-baik saja. Dia pasti merasa sangat kehilangan. Kasihan. Padahal dia masih muda. Tapi sudah ditinggal ayahnya!" ujar Maya. Dia menghela napas. "Begini-lah hidup. Tak semua berjalan dengan baik. Apapun bisa terjadi tanpa disangka- sangka!"