
Beberapa saat setelah meninggalkan rumah Papah Purnama masih saja hanya terdiam dengan perasaan sungkan Pak Mamat memberanikan diri bertanya kepada Tuannya.
"Tuan!, maaf tapi apa kita akan sungguh-sungguh pergi ke bandara?"
Tanya Pak Mamat.
"Tentu pak, antar saya ke bandara saja.!".
Jawab Papah Purnama.
"Tapi bagaimana dengan kondisi disini tuan?"
Tanya Pak Mamat lagi.
"Pak saya sudah memiliki ide terbaik yang bisa membuat istri saya kapok dan berhenti mengurusi kehidupan anaknya.!"
Ucap Papah Purnama dengan kata-kata yang menjanjikan.
"Sungguh pak?".
Tanya Pak Mamat memastikan.
"Benar pak, tugas bapa disini hanya menunggu saja hanya dalam waktu beberapa bulan ke depan Istri saya akan berhenti mengurusi Alice."
Seru Papah Purnama lagi.
"Alhamdulillah syukurlah, tapi bagaimana dengan nak Topan yang masih di sandera pak?"
Tanya Pak Mamat.
"Ikuti saja kemauan istri saya untuk membuat dia berhenti mengganggu kehidupan Alice sementara ini, buat anak itu mengiyakan setiap kemauan istri saya, jangan lupa selalu kabari saya terkait apapun rencana istri saya.!"
Ucap Papah Purnama.
''Ba...baik tuan!"
Jawab Pak Mamat sembari tersenyum puas dan menuju bandara.
Sesampainya di bandara Papah Purnama berpesan agar Dahlan selalu memberikan kabar terkait perkembangan kesehatan Alice.
Pak Mamat pun mengiyakan permintaan tuannya.
Selesai mengantar Tuannya Pak Mamat kembali menuju rumah Tuannya, sementara itu mamah Purnama yang tengah di periksa Dokter , sedang memainkan perannya berpura-pura sakit.
"Apa yang nyonya rasakan?".
Tanya Dokter.
"Badan saya lemes sok, saya juga merasa badan saya sakit-sakit,kemudian saya pusing dan mual dok!"
Jawab Mamah Purnama berpura-pura.
"Apa mungkin nyonya hamil!"
Seru Dokter kepada mamah Purnama.
"Apa Dok Hamil?!"
Tanya Mamah Purnama kaget.
"Dokter jangan asal nuduh begitu dok, seharusnya dokter memeriksa saya dengan lebih teliti maen bilang saya hamil-hamil aja.!"
Protes mamah Purnama.
"Maag nyonya, biar saya periksa dulu.!"
Ucap Dokter sembari memeriksa terlebih dahulu.
"Sepertinya nyonya hanya kelelahan dan butuh istirahat saya tinggalkan beberapa resep obat ke pembantu anda, saya permisi!".
Seru Dokter sembari meninggalkan Pasiennya dan keluar dari rumah tersebut.
Setengah jam kemudian Pak Mamat sampai di rumah majikannya dan di sambut oleh mamah Purnama.
"Apa suami saya sudah sampai di bandara?"
Tanya Mamah Purnama.
"Sudah nyonya.!"
Jawab Pak Mamat.
"Bagus, segera kamu beri makan tawanan kita!"
Perintah mamah Purnama lagi.
"Baik nyonya!"
Jawab Pak Mamat sembari masuk ke dalam rumah menuju dapur.
"Bi tolong siapkan makanan ya.!"
Ucap Pak Mamat.
"Makanan buat siapa?"
Tanya pembantu rumah.
"Sudah kerjakan saja, nyonya yang minta.!"
Ucap Pak Mamat sembari mengambil gelas dan menuangkan air kedalamnya.
"Dua Porsi ya tapi yang banyak!"
Bisik Pak Mamat kepada pembantu rumah kemudian meminum air nya.
"Iya deh iya.!"
Ucap Pembantu sembari menyiapkan makanan yang di minta pak Mamat.
"Tolong sama air botolnya ya bi, kalau ada yang besar saja!"
Ucap Pak Mamat.
"Ko pakai botol kan bisa pakai gelas.!"
Ucap Bibi pembantu.
"Biar gak nyuci gelas bi.!"
Jawab Pak Mamat membuat-buat alasan.
"Ini sudah selesai!"
Ucap Bibi
"Bantu saya membawakannya ke gudang!"
Ucap Pak Mamat.
"Lah ko ke gudang sih.?"
Tanya bibi pembantu lagi.
Ucap Pak Mamat berbisik.
Sesampainya di gudang.
"Lah ini siapa ko di iket begini kasian toh!"
Ucap Bibi penjaga.
"Bi, daripada nanti nyonya ngomel sebaiknya bibi segera pergi sekarang dan kembali ke dapur!"
Ucap Pak Mamat.
Tanpa bertanya lagi bibi pun pergi dari gudang.
"Nak Iqbal!"
Panggil pak Mamat Pelan.
Iqbal mengintip dengan kepalanya kemudian keluar setelah memastikan hanya pak Mamat dan Topan yang ada di sana.
"Ayo kita sarapan dulu biar tidak sakit, bapak sengaja bawa piring kosong satu biar gak ketahuan nyonya.!"
Ucap Pak Mamat sembari mengeluarkan piring dari dalam jaketnya.
"Makasih pak"
Seru Iqbal dan Topan.
"Ayo kita makan dulu.!"
Ajak Pak Mamat.
Sembari makan Iqbal bertanya kepada pak Mamat.
"Pak bagaimana apa ada perkembangan terbaru dari rencana papah Kak Purnama?"
Tanya Iqbal.
"Saya baru saja pulang mengantar beliau dari bandara.!"
Jawab Pk Mamat.
"Apa!, kebandara?!"
Tanya Topan dengan suara agak keras.
"ehhhh suttsss pelan-pelan ngomongnya.!"
Ucap Pak Mamat mengingatkan.
"Maaf pak Saya Lupa.!"
Jawab Topan.
"Tenang saja pokoknya katanya Tuan punya rencana jitu yang bisa menyelesaikan masalah ini,tapi memang butuh waktu beberapa bulan kedepan.!"
Seru Pak Mamat.
"Apa saya juga harus selama itu berada disini pak?".
Tanya Topan.
"Tuan Bilang, kamu harus mengiyakan dan menuruti semua kemauan nyonya supaya di bebaskan, sementara waktu untuk menghilangkan kecurigaan nyonya terhadap rencana Tuan.!"
"Apa?, tapi kan...!"
Ucap Topan terhenti.
"Sudah kita ikuti saja rencana Papah Kak Purnama, aku yakin ini tidak akan merugikan pihak kita, yang penting kesehatan Alice terjamin kan?"
Ucap Iqbal
"Tapi tetap saja, jika aku tiba-tiba mengiyakan maka mamah Purnama pasti akan curiga.!"
Seru Topan lagi.
Pak Mamat menyuapi Topan dengan sendok karena tangannya di ikat kebelakang oleh nya kemarin malam.
"Iya juga sih, gimana dong pak, ada ide gak?"
Tanya Iqbal kepada Pak Mamat yang sedang sibuk menyuapi Topan dan dirinya sendiri.
"Gimana ya, saya juga ko malah baru kepikiran itu, makanya saya tadi gak nanya sama tuan!"
Ucap Pak Mamat kepada Iqbal dan Topan.
"Gimana ya, emhsss coba kamu pura-pura gak percaya aja sama semua yang dia tawarkan minta bukti kalau sudah jelas terbukti baru deh kamu setujui, gimana?"
Tanya Iqbal setelah memberikan saran.
"Boleh juga tuh boleh di coba.!"
Ucap Topan.
Saat mereka melanjutkan makan terdengar derap langkah kaki menuju Gudang, Pak Mamat dan Topan menyuruh Iqbal segera bersembunyi dan membawa piring makannya.
Tak berapa lama kemudian mamah Purnama Pun masuk ke dalam Gudang setelah menutup Pintu rapat-rapat.
"Sudah di kasih makan pak?"
Tanya Mamah Purnama kepada Pak Mamat.
"Sudah nyonya.!"
Jawab Pak Mamat.
Mamah Purnama Pun melirik dua piring yang berada di hadapan pak Mamat dan Topan.
"Ada dua piring?"
Tanya Mamah Purnama.
"Euh anu nyonya maaf, saya makan disini juga karena sejak pagi belum sarapan.!"
Jawab Pak Mamat.
"Oh begitu, wah botol airnya besar juga ya, nampaknya kamu betah disini hahaha.!"
Ucap Mamah Purnama
"Itu saya juga yang bawa nyonya supaya nak Topan kalau mau minum bisa minum semaunya.!"
Jawab Pak Mamat lagi.
"Memangnya bagaimana cara dia minum, tangannya kan terikat!"
Ucap Mamah Purnama merasa ada yang ganjal dengan jawaban Pak Mamat.
"Euh anu nyonya saya sudah membawakan pipet untuk saya sambung-sambungkan jadi nanti kalau nak Topan haus tinggal sedot saja begitu ny!"
Jawab Pak mamat sembari tersenyum deg-degan.