Alice

Alice
Bagian 140



"Cukup pah selama ini papah terlalu memanjakan dia lihat anak kita sekarang pah dia menjadi pembangkang, sudah jelas-jelas itu perempuan kampung cuman bawa pengaruh buruk sama anak kita, masih saja di belain!"


Ucap mamah Purnama sembari meninggalkan Suaminya di depan rumah sakit.


"Astagfirullah!"


Ucap Papah Purnama sembari mengelus dada dan menatap kepergian istrinya.


Papah Purnama pun menyusul istrinya ke dalam mobil.


"Mamah gak mau tahu pah, pokonya Purnama harus tetap berangkat malam ini juga.!"


Ucap Mamah Purnama.


"Mah, mamah mau kehilangan anak kita satu-satunya?"


Tanya Papah Purnama.


"Pah dia itu satu-satu nya ahli waris keluarga kita siapa yang akan melanjutkan perusahaan kita kalau anak kita tidak sekolah tinggi!"


Ucap Mamah Purnama kesal.


"Mah!"


Ucap Papah Purnama.


"Cukup pah kalau papah tetap gak bisa ngatur anak kita biar mamah gunakan cara mamah sendiri!"


Ucap Mamah Purnama mengancam suaminya.


Saking kesalnya Papah Purnama mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh di jalanan.


Tidak perduli dengan cara suaminya mengemudikan mobil mamah Purnama mengeluarkan handphone nya dari dalam tas selempang nya kemudian menghubungi Purnama.


"Halo!, Ada apa lagi mah?!"


Tanya Purnama setelah mengangkat telpon dari mamah nya.


"Kamu dengar ucapan mamah baik-baik Purnama, mamah akan menjaga Alice dan bersikap baik kepada Alice jika kamu mau pergi malam ini juga ke luar negeri, mamah sudah siapkan tiket dan barang-barang kamu.!"


Ucap Mamah Purnama.


"Jika tidak?!"


Tanya Purnama


"Jika kamu tetap menolak pergi, bukan hanya sekedar semua fasilitas kamu yang akan mamah cabut tapi juga keselamatan Alice akan terancam!"


Ucap Mamah Purnama.


"Astagfirullah jadi mamah ngancam aku?"


Tanya Purnama.


"Ini bukan ancaman ini hanya kesepakatan!"


Ucap Mamah Purnama.


"Selangkah mamah menyakiti Alice itu sama hal nya dengan mamah menyakiti aku!"


Seru Purnama.


"Mamah tidak akan perduli jika memang kamu sudah tidak ingin di akui anak lagi, sekarang kamu Pilih keselamatan Gadis kampung itu tanpa adanya kamu lagi disisi dia atau hidup Gadis kampung itu tidak akan pernah aman selama kamu selalu disampingnya, ingat waktu kamu hanya 5 Jam dari sekarang mamah tunggu kamu di bandara!"


Ucap Mamah Purnama.


Tanpa menunggu jawaban Purnama, mamah Purnama langsung menutup teleponnya.


"Mamah keterlaluan sekali mah!"


Ucap Papah Purnama.


Mamah Purnama hanya tersenyum mendengar Ucapan Suaminya tanpa menimpali.


Sementara Di Rumah sakit Purnama di hampiri Dahlan, Asti, Desi dan Iqbal.


"Ada apa Pur?"


Tanya Asti


"Kenapa elo sedih?"


Tanya Dahlan lgi.


"Nyokap gue benar-benar keterlaluan.!"


Jawab Purnama


"Maksud elo gimana?"


Tanya Dahlan lagi sementara Iqbal dan Desi hanya saling tatap kebingungan.


"Keselamatan Alice bakal terancam jika aku tidak berangkat malam ini juga ke luar negeri, nyokap berani jamin kalau aku pergi malam ini juga Alice akan sehat dan baik-baik saja, bahkan nyokap bakal merestui hubungan aku dengan Alice nantinya."


Jelas Purnama.


"Astagfirullah!"


Ucap Desi dan Asti berbarengan.


Ucap Dahlan memberi saran.


"Kak, kasian keluarga Alice jika mereka tahu keselamatan Alice terancam.!"


Ucap Desi kepada Purnama.


"Tapi bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan Alice dalam kondisi Alice yang seperti sekarang ini, dia butuh Aku di sampingnya saat ini.!"


Seru Purnama sedih.


"Aku tidak mau meninggalkan Alice sendirian dengan kondisinya seperti saat ini, kalaupun aku harus pergi aku pengen dia yang mengantar kepergianku.!"


Ucap Purnama sembari menangis.


"Kak, aku paham betul perasaan kakak, bukan hanya buat kakak semua ini terasa berat tapi bagi kami pun ini sangat berat jika saatnya nanti Alice bangun dan kakak sudah tidak disini apa yang akan kami katakan ka ke Alice, tapi disisi lain jika kakak tetap disini kita gak pernah tahu apa yang akan mamah kakak lakukan ke Alice.!"


Seru Iqbal sembari mendekati Purnama.


"Itulah yang bikin aku bingung, jika kepergianku memang mampu membuat dia baik-baik saja, mau tidak mau aku harus tetap pergi, aku sayang sama dia aku gak pengen terjadi sesuatu sama dia.!"


seru Purnama.


"Jadi elo yakin bakal pergi?!"


Tanya Dahlan.


"Aku gak mungkin ngorbanin Alice demi keegoisan nyokap, setidaknya Alice baik-baik saja meskipun aku tak disisinya untuk sementara waktu.!"


Ucap Purnama.


"Mungkin jasadnya akan baik-baik saja, setelah kamu pergi tanpa menunggunya siuman tapi, hatinya pasti hancur mengetahui kejujuran yang menyakitkan,bahwa faktanya kamu pergi disaat dia masih belum sadarkan diri."


Ucap Asti kepada Purnama.


"Udah Pur, biar gue yang coba ngobrol sama Dokter setidaknya dokter bisa biarin elo ke dalam walaupun cuman beberapa menit.!"


Janji Dahlan sembari pergi meninggalkan yang lain menuju ruang Dokter.


"Des, Iqbal! tolong selalu kabari aku apapun yang terjadi pada Alice, jagakan dia bagi aku dia satu-satunya yang harus aku perjuangkan.!"


Ucap Purnama.


Sementara Dahlan di ruang Dokter tengah berdebat bersama Dokter.


"Dok!, tolonglah kasih kesempatan walaupun cuman 10 menit, Calon suaminya harus berpamitan kepada calon istrinya.!"


Ucap Dahlan memohon.


"Tidak bisa kan pasien masih belum boleh di jenguk, pasien masih perlu istirahat.!"


Ucap Dokter.


"Dok tolong jangan jadi penghalang bagi hubungan mereka juga, ujian dalam hubungan mereka sudah terlalu banyak, kasihanilah mereka setidaknya biarkan calon suaminya berpamitan meskipun calon istrinya masih tidak sadarkan diri.!"


Pinta Dahlan memohon lagi.


"Maksud anda penghalang?"


Tanya Dokter


"Dok bagi mereka bisa bersama seperti sekarang ini itu adalah hal terhebat...!"


Ucap Dahlan mulai menceritakan perjalanan kisah Alice dan Purnama.


Setelah mendengar cerita Dahlan Dokter termenung.


"Bagaimana bisa orang tua calon suami tidak merestuinya... ck...ck...ck...jaman semodern ini masih ada saja kisah cinta semacam ini.!"


Seru Dokter.


"Tolong Dok kasihani mereka ijinkan mereka bertemu walau hanya beberapa menit setidaknya biarkan mereka saling melepas rindu untuk waktu yang tidak bisa di tentukan.!"


Pinta Dahlan lagi memohon.


''Baiklah saya kasih waktu lima belas menit saja, itupun hanya untuk calon suaminya saja tidak boleh ada yang masuk kedalam selain yang bersangkutan.!"


Ucap Dokter meminta perjanjian.


"Tentu dok tentu, terimakasih dok!"


Ucap Dahlan.


Dokter tersenyum sembari mengangguk


"Mari dok saya permisi!"


Ucap Dahlan sembari keluar dari ruang dokter dengan wajah yang senang karena membawa kabar baik.


Selepas keluar ruangan Dokter Dahlan menuju ke ruangan Alice berniat memberi tahu Purnama namun di bangsal rumah sakit Purnama tengah nampak menangis bersama yang lain nya.


Purnama nampak sedang berpamitan kepada orang tua Alice.


"Pak.Bu Maaf saya belum sempat datang ke rumah, tapi niat saya baik saya sangat mencintai Alice, tapi untuk beberapa tahun kedepan saya harus keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan, tapi tolong restui hubungan kami!"


Ucap Purnama meminta restu dari Bapak dan Ibu Alice.


Bapak dan Ibu Alice saling tatap satu sama Lain sembari menatap Purnama yang tengah sungkem di tangan mereka.