Alice

Alice
Bagian 73



Sudah hampir keluar dari gang tak sedikitpun Purnama bicara.


"Kakak tidak senang?"


Tanya Alice.


"Senang,? kenapa?"


Tanya Purnama.


"Alice sudah kasih kakak jawaban kan?".


Ucap Alice mencoba mengingatkan.


"Iya kakak tahu kalau sebenarnya kakak tidak di terima sama kamu kan.!"


Ucap Purnama sembari membetulkan kacamata nya.


"Oya, kata siapa gitu?"


Tanya Alice sembari menghentikan langkah nya.


"Emhsss kan kakak lihat, kamu tidak memakai satu pun barang pemberian kakak.!"


Ucap Purnama.


Alice tersenyum, Purnama pun mencoba tersenyum membalas senyuman Alice.


"Nih...!"


Ucap Alice sembari menyodorkan Kotak cincin dari Purnama.


Dengan Berat hati Purnama mengambil kotak cincin tersebut.


"Kenapa gak di buka?"


Tanya Alice ketika melihat Purnama mencoba memasukannya ke saku celana.


"Kenapa harus di buka?"


Tanya Purnama.


"Buka dulu aja kak.!"


Pinta Alice.


"Gak usah lah, kakak tahu kok kalau isinya masih utuh heheh."


Ucap Purnama tersenyum seolah terpaksa.


"Emhsss ya udah deh kalau gak mau di buka heheheh, yakin nih gak mau di buka?"


Tanya Alice lagi.


"Memangnya ada apa sih?"


Tanya Purnama bingung sembari membuka kotak cincinnya.


"Kenapa tinggal satu?"


Tanya Purnama.


"Yang satu nya...."


Alice tersenyum kemudian menunjukan cincin yang telah terpasang di jari manisnya.


"Kamu memakainya?!"


Seru Purnama seolah mencoba mengendalikan perasaanya.


Alice mengangguk menjawab pertanyaan Purnama.


"Ya Allah...!"


Ucap Purnama tersenyum bahagia.


"Lalu bros nya?"


Tanya Purnama.


Alice pun menunjukan bross yang telah terpasang cantik di jilbabnya.


"Massya Allah,terimakasih ya terimakasih Akhirnya kamu mau menerima kakak, ya Allah Alhamdulillah...!"


Seru Purnama setengah berteriak.


"Ehhh ehhh ehhh sutsss suts sutttsss hehheh.!"


Ucap Alice coba mengendalikan ekspresi Purnama.


"Ya Allah kakak seneng banget tahu ih, sedari tadi kakaktuh udah bad mood banget gak liat cincin dan bross ini, tapi ternyata kamu, ah bikin kakak patah hati aja tadi. heheheh, tapi gak papa deh pokonya sekarang kakak bahagia banget, tapi biar lebih apdol boleh kakak pasangin cincin nya di jari kamu?"


Alice mengangguk


Purnama Pun memasangkan cincin itu di jari manis Alice.


"Tolong pasangin di kakak.!"


Seru Purnama sembari tersenyum.


Alice pun memasangkan cincin tersebut di jari manis Purnama.


"Makasih ya sayang, kakak janji suatu hari nanti cincin ini akan kakak ganti dengan cincin yang sebenarnya di acara pernikahan kita,anggap saja ini adalah pengikat hati kita berdua.!"


Seru Purnama sembari memegang tangan Alice.


Mendengar Purnama memanggilnya Sayang Alice merasa ada perasaan lain yang menyelunup masuk ke hatinya.


"Ayo kita ke rumah sakit..!"


Ajak Alice mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Ayo... hehehe!"


Seru Purnama.


"Kak...!"


Panggil Alice


"Emhsss?"


Jawab Purnama


" kakak pakai kacamata lagi ya?"


Tanya Alice.


"Kenapa jelek ya sayang?"


Tanya Purnama.


"Enggak ko enggak bukan gitu kak, cuman kakak emang lebih tampan kalau pakai kacamata heheh.!"


Seru Alice.


"Massa sih?"


Tanya Purnama lagi.


"Iya terlihat lebih pintar,."


Ucap Alice lagi.


"Apa hubungannya kacamata sama Pintar?"


Tanya Purnama.


"Iya laki-laki yang pakai kacamata identik dengan Pintar katanya heheh.!"


Seru Alice.


"Hahah aamiin mudah-mudahan saja kakak Pintar beneran ya...!"


Ucap Purnama.


"Iya kan kakak sudah pintar.!"


Ucap Alice.


"Maksud kakak, supaya kakak lebih pintar menjaga dan melindungi kamu sayang...heheh.!"


Ucap Purnama menggombal.


"Raja gombal emang ya kakak ini heheh.!"


Seru Alice


"Gak papa, dong kan sama calon istrinya sendiri gombal juga heheh.!"


Seru Purnama.


"Ih kakak aku kan masih kecil jangan ngomong-ngomongin nikah terus hehehe.!"


Protes Alice.


Alice dan Purnama berjalan berdampingan memasuki Rumah sakit.


"Kak Alice ke kamar mandi dulu ya,...!"


Pamit Alice.


"Mau di antar gak?"


Tanya Purnama.


"Gak.usah kakak heheh!"


Jawab Alice.


"Hahaha becanda sayang, ya sudah kakak tunggu di sana ya sama yang lain, kamu hati-hati di sana.!"


Pesan Purnama.


Alice mengangguk perlahan.


Setelah Alice pergi Purnama Pun menghampiri yang lain yang tengah terlibat pembicaraan bersama orang tua Dewi.


"Assalamualaikum...!"


Seru Purnama.


"Wa allaikumus sallam...!"


Jawab semua.


Melihat orang tua Dewi menangis Purnama merasa bingung kemudian menghampiri Dahlan.


"Ada apa ini?"


Tanya Purnama berbisik kepada Dahlan.


"Dewi hamil.!"


Jawab Dahlan sembari berbisik juga.


"Astagfirullah...!"


Ucap Purnama tak menyangka.


Selang berapa lama Alice pun menghampiri kerumunan tersebut.


"Assalamualaikum...!"


Ucap Alice, nampak bross yang di berikan Purnama saat ini sudah terlihat jelas di pakai Alice.


"Wa allaikumus sallam."


Melihat beberapa orang menangis Alice menghampiri Ibu kos yang duduk berdampingan dengan orang tua Dewi.


"Ibu kenapa ibu menangis ada apa ini bu?"


Tanya Alice panik.


"Dewi,,,Lice,,, Dewi...!"


Seru Ibu Kost.


"Ada apa sama Dewi bu, ada apa?"


Tanya Alice lgi.


"Dewi positif hamil Lice."


Jawab Ibu kost


"Astagfirullah tidak mungkin bu...!"


Ucap Alice sembari berlari masuk ke dalam kamar Dewi.


Melihat kamar Dewi kosong membuat Alice panik.


"Dewi... Dewi tidak ada di kamar nya bu kemana Dewi.?"


Tanya Alice sembari berlari keluar.


"Apa Dewi hilang?".


Tanya Dahlan.


"Ada apa sayang kamu kenapa?"


Tanya Purnama menghampiri Alice yang sempoyongan.


"Dewi kak! Dewi gak ada di kamar nya."


ucap Alice.


Semua orang Panik.


"Ayo kita cari cepat menyebar, saya akan minta bantuan satpam mencari Dewi.!"


Alice dan Ibu kos beserta Asti berlari ke lantai atas sedangkan orang Tua Dewi mencari di sekitaran ruang rawat Dewi, dibantu Dahlan.


"Ya Allah Dew kamu kemana Dew.!"


Seru Alice sembari menangis.


"Sebaiknya kita ke atap gedung segera, aku khawatir Dewi nekat!"


Seru Asti, Ibu kos dan Asti beserta Alice harus menaiki Lift untuk bisa sampai di lantai Atas.


Semua nampak Panik menatap angka yang bergantian muncul di dalam lift.


"Ya Allah mudah-mudahan Dewi tidak disana.!"


Seru Ibu kos.


"Aamiin bu Aamiin.!"


Jawab Asti.


Sesampainya di atas Gedung Alice berlari sekencang mungkin di ikuti Asti dan Ibu kos.


"Dewi...!"


Panggil Alice, tak ada jawaban.


"Dew, kamu dimana Dew...!"


Panggil Alice lagi, namun tetap Nihil tak ada jawaban.


Saat Asti dan Ibu kos sampai di atap Rumah sakit.


"Dewiiiiii....!"


Panggil Ibu kos dengan kaki gemetar.


"Jangan Wi jangan...!"


Ucap Ibu kos lagi, Rupanya saat itu Dewi tengah berdiri di ujung tembok bangunan rumah sakit menatap ke depan.


"Astagfirullah Dew, istigfar Dew aku mohon Dew...!"


Ucap Alice.


"Jangan ada yang mendekattt!!!"


Ucap Dewi tegas berteriak.


Membuat semua langkah kaki mereka terhenti dan semakin Panik.


"Awasi Dewi aku akan menelpon Dahlan supaya menyiapkan sesuatu di bawah supaya jika Dewi nekat mereka sudah siap Di bawah.!"


Ucap Asti berbisik.


Alice mengangguk.


"Sini sayang bicara kepada Ibu, jangan seperti ini sayang, Allah akan murka terhadap kamu jika kamu melakukan ini.!"


Seru Ibu kost.


"Tidak Bu tidak, Dewi tidak sudi mengandung Anak yang tidak jelas Ayahnya siapa.!"


Seru Dewi.


"Berikan nak, berikan Anak itu untuk Ibu jika sudah Lahir, tapi ibu mohon jangan biarkan dia menanggung dosa-dosa mu.!"


Seru Ibu kost...


"Dewi, Alice mohon jangan seperti ini.!"


Seru Alice sembari mencoba maju beberapa langkah.


"Diam Lice selangkah lagi kamu maju aku akan terjun!"


Ancam Dewi.


Ibu kos menarik tangan Alice agar tetap di sana dan tidak berusaha lagi mendekati Dewi...