
"Ayo kita bantu keluar menemui den Purnama.!"
Ajak teteh perias.
"Tapi teh saya malu ah nanti saya jatuh lagi gimana, saya pakai sendal saya aja ya biar aman.!"
Bujuk Alice pada teteh perias.
"Udah teteh tenang aja kan kami jagain teteh sampai tiba di hadapan den Purnama, ok, ayo...!"
Ajak teteh perias lagi.
"Tapi teh...!"
Ucap Alice mencari Alasan.
"Udah ayo kita bantu.!"
ajak teteh perias sembari menggandeng Alice di sisi kiri dan sisi kanannya.
Meski kesulitan Alice mencoba berkali-kali menyeimbangkan langkah kakinya, sehingga membuat para perias itu tersenyum terkekeh beberapa kali, karena merasa lucu melihat Alice yang sudah di gandeng dari kedua sisi masih saja agak sempoyongan jalannya.
Usai keluar kamar Alice di bawa ke arah tangga.
"Loh kita mau kemana teh, bukannya kamar Kak Purnama yang itu?"
Tanya Alice bingung.
"Iya, tapi den Purnama sudah menunggu di bawah jadi kami antar teteh sampai ke den Purnama.!"
Jelas teteh perias.
"Apa!, turun tangga saya? pakai sendal ini teh? teteh berdua yakin?"
Tanya Alice panik.
"Iya ayo, kan ada kita berdua jadi teteh gak usah panik gitu biasa aja.!"
Ucap teteh perias membujuk.
"Kalau saya menggelinding jatuh di tangga kan ngeri teh, udah saya ganti sandal aja ya teh ya.!"
Seru Alice memohon.
"Udah tenang aja ayo kami bantu.!"
Ucap teteh perias sembari membawa Alice berjalan perlahan ke arah tangga.
Sesampainya di anak tangga Pertama Alice tertegun melihat ruangan di lantai pertama sudah di rias rapi dan indah, banyak meja tertata disana dan banyak orang yang sudah datang disana.
"Ini ada apa teh kenapa banyak orang gini, Saya malu teh, massa saya dandan kaya gini.!"
Seru Alice sembari berbalik badan.
"Kita turun dulu aja ya, nanti kita bisa cari tahu di bawah.!"
Ucap teteh perias berpura-pura tidak tahu.!
"Tapi jangan turun dari sini, kita turun lewat jalan lain aja teh, saya malu kalau nanti semua pada liatin saya.!"
Seru Alice setengah berbisik.
"Teteh ini kan lantai dua, pintu keluar mana lagi, masa kita harus loncat dari jendela, ayo turun aja, kalau teteh malu merem aja.!"
Ucap teteh perias.
"Aduh ya Allah tolong.!"
Seru Alice sembari tetap berbalik badan.
"Ayo teh, teteh kesini ngadepnya nanti beneran jatuh menggelinding kebawah lebih malu mana coba?"
Tanya teteh perias.
"Aduh jangan sampai atuh teh.!"
Seru Alice
"Iya udah hayu atuh sok kesini ngadepnya.!"
Ucap teteh perias
Alice pun berbalik badan.
"Perhatian semuanya, berikan tepuk tangan untuk yang punya acara kita hari ini Alice.!"
Seru Dahlan menggunakan micropon.
Alice semakin tercengang, mendengar ucapan Dahlan.
Di ujung tangga, Purnama sudah menunggu berniat menyambut Alice, dengan setelan jaz nya yang membuat Purnama terlihat lebih maskulin, membuat Alice semakin kebingungan.
"Ya ampun saya gak akan dipaksa nikah hari ini kan?"
Tanya Alice kepada kedua perias
"Enggak atuh teh, ada-ada aja hihih.!"
Seru Teteh perias cekikikan.
"Tapi itu kak Purnama baik-baik saja, udah gitu pakai jas segala lagi, beneran gak akan di kawinkan paksa kan saya, ya ampun teh saya masih sekolah teh.!"
Sementara setiap orang memandang ke arah Alice yang tengah menuruni tangga.
Purnama terpukau menatap kecantikan Alice, dengan long dress yang digunakan Alice membuat Purnama merasa seperti melihat hal paling menakjubkan di hadapannya.
"Lihat teh den Purnama aja gak ngedip ngeliat teteh, berarti teteh cantik banget hehe.!"
Ujar teteh Perias berbisik kepada Alice.
"Iih teteh, apa teteh yakin di saya gak ada yang aneh, jangn-jangan ada yang aneh lagi dalam tubuh saya makanya Kak Purnama gak ngedip-ngedip.!"
Seru Alice
"Percaya aja teteh sama kami.!"
seru Teteh Perias meyakinkan Alice.
Alice berjalan sembari tertunduk, beberapa kali kakinya sempat terpleset, namun Purnama tetap mengagumi kekasihnya yang terlihat lebih anggun dari biasanya.
Disisi lain Irma tertawa cekikikan melihat cara Alice berjalan, sekaligus merasa iri dalam hatinya.
"Namanya juga gadis kampung ya begitu lah gak tahu fashion, dia gak pantes berjalan di sana harusnya aku yang di sana, emang heran gue apa coba yang di liat kak Purnama dari cewek kampung begitu jalan pakai wedges lima cm aja kaga becus.!"
Gerutu Irma dalam hatinya, tiba-tiba Gita menghampiri Irma dari belakang.
"Apa yang elu pikirin?!"
Tanya Gita berbisik di telinga Irma, sontak membuat Irma terkaget dan langsung menoleh kebelakang.
"Ya ampun kak Gita.!"
Seru Irma.
"Sutsss jangan keras-keras, biar aja mereka gak sadar kalau gue disini.!"
Ucap Gita kepada Irma.
Gita menatap ke arah tangga dan ke arah Purnama.
"Hemhsss gadis Desa, biarkan saja dulu dia hari ini bersenang-senang, akan ada saatnya aku yang berada di posisi kamu, dan kamu di posisi aku.!"
Seru Gita berbisik.
Irma hanya tersenyum mendengar ucapan Gita, sembari kembali memperhatikan Alice yang sudah mulai dekat dengan Purnama.
Purnama menyodorkan tangannya meminta tangan Alice, Perias yang menggandeng tangan sebelah kanan Alice, membantu menaruh tangan Alice di telapak tangan Purnama.
Purnama pun menggenggam tangan Alice, kedua perias tersebut melepaskan gandengannya dengan Alice.
Tanpa sengaja ujung wedges Alice menginjak ujung Long Dress yang digunakan Alice hingga Alice sempat akan tersungkur, namun Purnama dengan Sigap menarik tangan Alice dan memeluknya.
Alice dan Purnama saling bertatap mata beberapa saat, sampai akhirnya suara siulan dari teman-teman Purnama dan Alice membuat Alice terkaget seraya melepaskan pelukan Purnama.
"Eu... maaf kakak tidak bermaksud.!"
Ucap Purnama.
Alice mengangguk.
"Teman-teman yang berbahagia, berikan tepuk tangan untuk dua sejoli kita hari ini.!"
Seru Dahlan, suara riuh tepuk tangan pun membuat Alice semakin gugup.
"Maaf kak tapi ada apa ini?"
Tanya Alice.
Tiba-tiba dari arah dapur keluar seorang laki-laki berpakaian koki membawa kue ulang tahun bertuliskan.
"Happy Birth Day Alice.!"
Alice menatap Bolu itu dan tertegun, merasa semua ini masih seperti mimpi.
"Selamat ulang tahun sayang.!"
Ucap Purnama memberikan selamat kepada Alice.
"Ulang tahun?"
Tanya Alice gelagapan.
Purnama mengangguk sembari kemudian menyalakan Lilin.
"Ini hari ulang tahun kamu kan yang ke 18 tahun."
Jawab Purnama.
"Dari mana kakak tahu?"
Tanya Alice bingung.
"Gak mungkin kakak gak tahu, sekarang kamu tiup lilin nya ya.!"
Suara alunan lagu selamat ulang tahun pun ramai di nyanyikan bercampur tepukan tangan mengalun mengiringi bait demi bait lagu, membuat Alice menatap ke sekeliling nya semua tersenyum turut bahagia.
Alice pun meniup lilin kue ulang tahun nya dan tersenyum ke arah Purnama.
"Terimakasih kak, semua ini terlalu berlebihan.!"
Ucap Alice berbisik.