
Malam yang menegangkan itu kembali menghampiri Topan, Mamah Purnama dengan wajahnya yang licik mendatangi Topan di gudang, Topan menyiapkan mentalnya menghadapi perempuan itu, Topan menarik napas perlahan kemudian menghembuskannya.
Pak Mamat mengikuti dari belakang, Iqbal langsung kembali ke tempat persembunyiannya ketika mendengar ada yang datang.
"Bagaimana kabar kamu hari ini anak muda?"
Tanya Mamah Purnama.
Topan enggan menjawab
"sudahkah kamu memikirkan tawaran saya?"
Tanya Mamah Purnama langsung pada intinya.
Topan masih terdiam.
Melihat reaksi Topan yang hanya terdiam, Mamah Purnama mulai merasa kesal.
"Ternyata anak jaman sekarang gak mau di kasih hidup enak ya!"
Ucap Mamah Purnama marah.
"Apa jaminan nya jika semua yang tante katakan itu benar adanya?"
Ucap Topan seketika.
Mamah Purnama menyeringai menatap Topan.
"Hahah jadi kamu tidak percaya dengan saya?"
Tanya Mamah Topan.
Topan kembali terdiam dengan tatapan kesal nya menatap Mamah Purnama.
"Tak habis pikir ada orang selicik dia di dunia ini, demi mendapatkan semua keinginanya dia tak segan mengorbankan anaknya sendiri.!"
Seru Iqbal dalam hatinya sembari masih memperhatikan Topan dan Mamah Purnama dari balik persembunyiannya.
"Baiklah kalau kamu mau jaminan, apa yang kamu mau sebagai jaminan ucapan saya?"
Tanya Mamah Purnama menantang.
"Rumah ini beserta isinya!"
Ucap Topan, jawaban Topan membuat Mamah Purnama tercengang kaget, dan kikuk.
"Apa?!, ru...rumah ini?!"
Ucap Mamah Purnama tak percaya.
Iqbal dan Pak Mamat benar-benar tidak menyangka jika Jawab Topan kali ini sungguh membuat semua orang yang ada di sana merasa Puas.
"Kenapa tante tak sanggup?!"
Pertanyaan Topan mengandung ledekan, dan Mamah Purnama yang menyadari itu, merasa tidak senang.
Demi menjaga Image Mamah Purnama Pun terpaksa menyetujuinya.
"Ok. baik!"
Seru Mamah Purnama.
Topan merasa puas dengan jawaban mamah Purnama.
"Baiklah, berikan sertifikat rumah dan Tanah ini ke saya sekarang juga, lalu lepaskan saya!"
Ucap Topan.
"Apa-apaan kamu, kenapa saya harus memberikan sertifikat tanah dan rumah ini?"
Seru Mamah Purnama tak mau
"Untuk jaminan jika suatu saat tante mengingkari janji tante, maka saya bisa langsung mengambil alih rumah dan tanah ini!"
Ucap Topan.
Mamah Purnama melirik ke arah Pak Mamat, namun pak Mamat hanya menunduk melihat tatapan Majikannya.
"Bagaimana tante, apa tante masih tidak mau, ah baiklah kalau begitu silahkan saja tante pikirkan tawaran saya sampai besok pagi, jika tante tidak memberikan keputusan kepada saya,maka saya akan dengan senang hati keluar dari sini dan melaporkan perbuatan tante ke kantor polisi!"
Ancam Topan.
Mamah Purnama tertawa seketika.
"Hahahah...hahahaha, dasar konyol, atas dasar apa kamu akan melaporkan saya, kamu pikir mereka akan percaya begitu saja dengan omong kosong anak kemarin sore seperti kamu hahahah!"
Ucap Mamah Topan sembari tertawa.
Topan hanya tersenyum sinis.
"Tertawa saja tante, tertawa sepuas tante selama tante masih bisa tertawa dan menghirup udara bebas.!"
Ucap Topan sembari tersenyum lagi.
Mamah Purnama merasa ada yang aneh dengan keyakinan Topan namun tidak mau terlalu mendalami hal tersebut, baginya yang terpenting kali ini hanyalah tujuannya.
"Bagaimana tante cantik, apa tante setuju?"
Tanya Topan lagi.
Namun Tanpa menjawab Mamah Purnama berjalan keluar meninggalkan Topan tanpa berkata-kata lagi.
Melihat Mamah Purnama yang keluar dari gudang di ikuti pak Mamat, Topan berteriak sekeras mungkin sehingga langkah kaki mamah Purnama terhenti.
"Tante!, jangan Lupa besok pagi akan menjadi akhir dari segalanya jika tante tidak bisa memberikan jaminan tersebut!"
Ancam Topan.
Setelah di ruangan tengah, Mamah Topan meluapkan amarahnya menjatuhkan setiap pajangan yang tertata rapi di atas rak hias.
Prak.!
"Arggghjhh!"
Teriak Mamah Topan.
"Apa maksud anak itu Pak Mamat?!"
Tanya Mamah Topan dengan penuh amarah kepada Pak Mamat.
"Saya tidak paham nyonya, tapi saya rasa jika mendengar dari ucapannya, nak Topan bersungguh-sungguh dengan ucapannya.!"
Seru Pak Mamat membuat keadaan menjadi semakin panas.
"Saya memang berniat pindah dari sini dan menjual semua aset disini termasuk rumah dan tanah ini, tapi jika diberikan cuma-cuma rasanya ... ah...!"
Ucap Mamah Purnama sembari melemparkan tubuhnya ke sofa.
Pak Mamat yang mendengar hal tersebut merasa di berikan jalan yang lurus dan lebar oleh majikannya untuk semakin membuat majikannya yakin dan menyetujui permintaan Topan.
"Nyonya!, apa yang membuat nyonya ragu, bukankah tujuan nyonya pasti untuk memisahkan Den Purnama dan Nak Alice, jika memberikan rumah ini menjadi salah satu jalan kemudahan bagi nyonya kenapa nyonya harus memikirkannya berulang-ulang?"
Seru Pak Mamat.
"Maksud pak Mamat?"
Tanya Mamah Purnama sembari bangkit dan duduk di sofa.
"Begini nyonya, yang penting nak Topan dan Alice bisa bersama dulu, masalah rumah ini kan hanya jaminan bukan berarti nyonya memberikan nya kepada nak Topan, ketika mereka berdua hidupnya sudah tercukupi dan terpenuhi setiap keinginanya, maka nyonya bisa kembali mengambil surat tanah dan Rumah ini, disisi lain nyonya juga bisa menjual rumah ini nantinya jadi nyonya tidak akan dirugikan bukan?"
Tanya Pak Mamat kepada Mamah Purnama.
Mamah Purnama tersenyum.
"Benar kata Kamu Pak Mamat, yang penting Purnama dan Perempuan kampung itu berpisah dan satu-satunya cara adalah membuat perempuan kampung itu menikah dengan laki-laki lain hahahahha!"
Tawa Mamah Purnama memecah keheningan.
Pak Mamat merasa Puas karena berhasil mempengaruhi pemikiran majikannya.
"Baiklah saya akan pergi istirahat malam ini pak mamat dan pak Mamat boleh Pulang lebih awal hari ini!"
Ucap Mamah Purnama sembari meninggalkan pak Mamat.
Setelah meyakinkan diri bahwa majikannya sudah masuk kedalam kamar pak Mamat kembali ke gudang.
Melihat Pak Mamat yang datang Iqbal keluar dari persembunyiannya.
"Bagaimana pak?"
Tanya Iqbal berbisik.
"Semuanya beres nyonya sudah setuju untuk mengabulkan permintaan nak Topan, besok pagi nyonya akan kembali kesini untuk memberikan jawaban kepada Nak Topan, tugas nak Topan tetap berpura-pura tidak mengetahui saja bahwa nyonya sudah setuju.!"
Ucap Pak Mamat
Topan dan Iqbal pun tersenyum puas mendengar perkataan pak Mamat.
"Kalau begitu saya permisi, saya harus melaporkan hal ini kepada Tuan.!"
Ucap Pak Mamat.
Iqbal dan Topan mengangguk dan menatap kepergian Pak Mamat.
"Ini menjadi sebuah awal yang baik bagi pihak kita!"
Seru Iqbal kepada Topan.
"Sutsss pelan-pelan!"
Seru Topan.
"Elo tadi ngerekam gak pembicaraan gue sama tante itu?"
Tanya Topan kepada Iqbal.
"Beres semuanya ada disini, bukan hanya di rekam sengaja aku bikin video.!"
Jawab Iqbal
"Ngomong-ngomong kondisi Alice gimana setelah kemo?"
Tanya Topan merasa khawatir.
"Tenang aja, kak Dahlan tadi ngasih kabar ke aku katanya kemonya berjalan lancar hanya saja efeknya bikin Alice lemas.!"
Seru Iqbal.
"Syukurlah setidaknya Alice tetap bisa menjalankan pengobatannya.!"
Seru Topan
Iqbal hanya tersenyum menatap Topan.
"Ngapain loe senyum-senyum?"
Tanya Topan.
"Kagak!"
Jawab Iqbal sembari kembali ke tempat persembunyiannya untuk istirahat.