
Pukul lima pagi Alice bangun lebih cepat dari biasanya dia duduk ditepi tempat tidur dengan balutan handuk dengan rambut yang masih basah.
Alice menundukan kepalanya dengan tangan yang menutup mukanya diringi napas yang entah berapa kali dia keluarkan paksa. Setelah dia mendapatkan perintah ketua Mafia dari ponselnya
"Bunuh saja mereka semua tanpa sisa akan aku kirimkan beberapa anggota Mafia kesana" Perintah ketua.
Percakapan singkat, Tapi sangat berat untuk ditanggung. Alice semakin ragu dan bimbang harus berada dipihak yang mana. Jika dia memilih ayahnya itu artinya dia harus membunuh semua BTS yang beberapa hari ini sudah membuatnya senang dan bahkan tidak pernah membuatnya sedih sama sekali.
Sementara dia sudah berjanji dengan Arthfael. Tetapi, jika dia memilih BTS itu artinya dia akan menjadi pengkhianat dan dia juga akan mati ditangan para Mafia dengan segera.
Alice kemudian beranjak dari tempat tidurnya menuju lemari pakaian, dia mengambil baju yang diberikan Arthfael dan Alice memandanginya lama dia teringat janji pada Arthfael untuk memakai pakaian wanita saat itu hingga air matanya jatuh satu persatu kembali.
Alice langsung memasukkan baju itu kembali kedalam lemari dan mengambil mini dres berwarna moca tanpa lengan dengan seutas tali Strap dikedua bahunya diikat pita besar hingga menunjukan dada dan kedua paha cantiknya yang putih.
Semetara rambutnya belum sama sekali dia ikat hanya dia keringkan saja. Lalu keluar dari dalam kamar dan melihat rumah itu masih sunyi, Alice duduk dimeja makan dapur dalam diam.
Terdengar suara langkah kaki mendekat kearahnya dengan cepat Alice membalikkan tubuhnya melihat siapa yang datang.
"Kau sudah bangun ?" kata Jin dengan suara serak khas bangun tidur
"Iya oppa" kata Alice
"Kenapa.. kau lapar ?" Tanya Jin lalu duduk disebelah Alice sambil minum air
"Tidak" kata Alice jujur
"Ya sudah kau temani saja aku memasak agar kau pandai kau kan wanita pasti akan menjadi ibu" kata Jin lalu mengelus kepala Alice dan mendekati kulkas untuk mengambil beberapa bahan untuk memasak
Alice hanya mengangguk tanda setuju
"Tumben kau bangun pagi" Tanya Suga dari arah belakang Alice
"Tidak ada" kata Alice melirik sekilas
"Mari kubantu sisirkan" tawar Suga saat melihat rambut Alice yang berantakan. Alice langsung berdiri dan mengikuti Suga kekamar Alice
Alice duduk dimeja rias dan Suga mulai menyisir rambut Alice.
"Rambutmu sangat susah disisir apa kau tidak pernah menyisirnya?" Tanya Suga kesusahan
"Pernah"
"Kapan?" Tanya Suga
"Arthfael yang menyisirnya" kata Alice mengingat terakhir kali rambutnya disisir
"Bukankah itu sudah sangat lama" kata Suga menghentikan menyisir
"Itu sama saja kau tidak pernah" kata Suga dengan nada tidak percaya
Alice hanya diam memandang muka Suga dari pantulan kaca.
"Berdiri disini" Suga menyuruh Alice berdiri diatas bangku
"Kenapa ?" Tanya Alice membalikan tubuhnya memandang Suga
"Rambutmu sangat panjang, itu sangat menyusahkan naik saja" perintah Suga
"Baiklah" jawab Alice kemudian berdiri diatas bangku membelakangi Suga
Suga kemudian menyisir perlahan rambut Alice sampai rambut itu sudah benar benar rapi Suga kemudian mengambil catokan berwarna hitam diatas meja rias, dia mulai meluruskan rambut Alice dan membuat rambutnya bergelombang cantik.
"Kenapa tidak diikat saja?" Tanya Alice
"Itu tergantung keinginan penyisir" kata Suga lalu keluar setelah selesai menyisir Alice
Alice memandang dirinya dari pantulan kaca dengan rambut gelombangnya. Alice kemudian melihat alat kosmetik tertata rapi disana yang sama sekali belum pernah ia sentuh. Alice kemudian mengambil bedak itu dan menepuknya pelan dipipi putihnya ditambah sedikit lipstick merah dibibir seksi nya hingga wajahnya terlihat lebih berseri dan segar.
Sudah pukul setengah tujuh pagi dan Alice memutuskan untuk keluar sebentar kehalaman rumah untuk menghirup udara segar diantara banyaknya bunga dan tumbuhan hijau yang masih berembun itu.
Alice memandang langit biru dengan sedikit sinar yang baru keluar perlahan dari timur, Alice menghembuskan napasnya secara perlahan dan mengelus elus kedua lengannya dengan tatapan yang masih pokus kearah langit.
"Cantik" kata V memandang Alice dari atas balkon rumah itu tanpa disadari Alice
"Angel ayo makan" teriak V
Alice melihat kearah suara itu dan memandang V yang tersenyum manis padanya.
"Iya" kata Alice tersenyum padanya dan melangkah kedalam rumah
V melihat Alice berjalan mendekati rumah dan ia bersembunyi dibalik pintu untuk mengagetkan Alice seketika Alice sudah sampai
"Waaaaaaaaa" teriak V mengagetkan Alice
Sontak Alice yang kaget langsung meraih lengan V dan menjatuhkan-nya kelantai dengan keras.
"Akhhhhh" Suara V seketika setelah dirinya dijatuhkan dengan keras.
"Heiii...kau... akhhh" Desah V kesakitan sembari bergeliat sakit diatas kantai.
"V??" Ujar Alice setelah melihat siapa yanv baru dia jatuhkan
"Hei bantu aku" V menjulurkan tangannya.
Alice yang melihat juluran tangannya langsung menyeretnya.
Member BTS yang mendengar suara itu berlari keasal suara.
"Hei hei kenapa kau menyeretku ... bantu aku berdiri badanku sakit dibuatmu" ucap V
"Baiklah" kata Alice
Seketika member BTS sudah sampai mereka heran melihat pandangan yang satu ini.
V yang tengkurap diatas lantai dengan seorang wanita yang duduk diatasnya sedang memijat punggung V dengan pandangan tertunduk dan belahan dadanya yang lolos keluar dari dress moca yang ia kenakan, berhasil membuat BTS canggung saat melihatnya.
"Kau tidak apa apa V? " Tanya Jimin
V dan Alice seketika mengarahkan pandangannya keasal suara itu
"A-aku" kata V terputus
"Angel ????" mereka heran dengan penampilan Alice yang berbeda hari ini menggunakan dress mini seksi dengan rambut gelombang yang selaras dengan bajunya ditambah ia memakai riasan tipis yang membuatnya lebih segar dan cantik.
"Kenapa?" Tanya Alice sembari memijat punggung V.
"Ahhhh tidak ada"
"Tidak apa apa"
"Ayo kita makan" kata mereka canggung dan mulai bepergian satu persatu dengan wajah bingung.
Alice hanya memandang heran dan masih duduk dipunggung V.
"Hei bangun ... berat" kata V sambil menggerakkan tubuhnya
Alice langsung bangun dan berjalan bersama dengan V menuju dapur untuk makan. Sesampainya disana Alice langsung duduk diantara J-Hope dan Jungkook. Mereka masih diam memandang Alice yang cantik dan seksi sangat berbeda dengan hari hari biasanya.
"Lihat apa ?" kata Alice membuat mereka canggung dan memindahkan perhatiannya.
"Ahh tidak ada" kata mereka sambil sibuk mengambil makanan.
Jungkook yang berada disebelah kanan Alice langsung mendekat dan mengendus pelan wangi parfum yang Alice kenakan dengan mulut keruncut dan hidung yang bergerak gerak ke leher Alice. Alice yang menyadari itu berkata.
"Apa kau anjing ???" kata Alice menatap aneh pada Jungkook
"Tidak" kata Jungkook dan memundurkan kepalanya
"Kau sangat cantik hari ini" sambungnya
"Iya kau sangat berbeda ... siapa yang mendandanimu ?" Tanya J-Hope
Belum sempat Alice menjawab Jin langsung menyela dan berkata
"Suga yang mendandaninya" katanya sambil tersenyum geli melihat kearah Suga.
"Tidak bukan aku... aku hanya menata rambutnya saja" Suga dengan ekspresi dinginnya
"Aku juga pandai berdandan" kata Alice spontan
"Serius ???" kata mereka bersamaan tidak percaya
Alice mengangguk
"Kau ingin kemana Alice ?" Tanya Rm
"Tidak ada" kata Alice mengambil kimbab yang belum dipotong dipiring putih dan memasukkannya kedalam mulutnya
"Hei hei hei apa kau mau memakannya sendirian ?" Tanya Jin sesaat melihat Alice
Alice menatap Jin tidak menjawab dengan mulut penuhnya dan tangan kanan kecilnya memegang kimbab itu.
"Wahhhh gadis ini" kata Jin sambil menggeleng. Mereka tertawa melihat Alice yang tadinya membuat mereka tertegun karna kecantikannya dan sekarang malah terlihat lebih aneh.
"Potong dulu sebelum dimakan" kata Jungkook mengambil kimbab itu dari tangan Alice
"Apa kau pernah memakan ini ?" Tanya Jungkook menatap Alice
Alice menggelengkan kepalanya tanda tidak pernah.
"Pantas saja dia memakannya seperti itu" kata Jimin membuat gelak tawa mereka.
"Ini" kata Jungkook menyodorkan satu potongan kimbab ditangannya kedepan mulut Alice.
Alice menatap Jungkook melamun 'andai....'
"Buka mulutmu " kata Jungkook menyadarkan lamunan Alice kemudian membuka mulutnya.
Suara gelak tawa dengan mulut yang dipenuhi gelak tawa mengisi rumah BTS dengan sangat riuh, tak ada rasa khawatir dari hati mereka, senyuman terus terbentuk dibibir mereka, tapi beda halnya dengan pikiran Alice saat ini, semakin hari dia semakin mendapatkan kehangatan dari BTS, dia semakin lupa pada kehidupan perih yang telah susah payah dia lewati selama ini. Tetapi, haruskah dia mengakhiri kebahagaian ini dengan cepat karna sebuah perintah yang dia emban.