Alice

Alice
Bagian 167



Hari pertama Alice kerja, masih harus beradaptasi dengan beberapa rekan kerja barunya, terlebih Alice memiliki sikap yang sulit berbaur dengan orang baru, hampir seluruh karyawati di perusahaan Alice adalah orang-orang lama yang sudah berkeluarga hanya tinggal Alice dan seorang karyawati lainnya yang bernama Akila yang belum menikah.


"Tolong panggilkan Alice!"


Ucap Direktur utama perusahaan.


"Baik Pak!"


Jawab Akila yang memang posisinya saat itu adalah sekertaris Pakdirut.


Akila berjalan keluar dari ruangannya menuju ruangan Alice.


"Alice.!"


Panggil Akila.


"Ah iya!"


Seru Alice kaget.


"Mari ikut saya, Pak Dirut meminta Anda untuk keruangannya sekarang!"


Ucap Akila.


Alice dengan rasa gugup berdiri dari meja kerjanya dan mengangguk mengikuti langkah Akila dari belakang.


"Kira-kira saya buat kesalahan apa ya mbak?"


Tanya Alice kepada Akila mencoba mengakrabkan diri.


"Saya kurang tahu!"


Jawab Akila ketus.


Mendengar jawaban Akila yang ketus, Alice enggan bertanya lagi dan akhirnya hanya mengikuti langkah Akila.


"Permisi Pak, saya sudah membawa Alice!"


Ucap Akila kepada Dirut.


"Suruh dia masuk, kamu boleh meninggalkan kami!"


Ucap Pak Dirut kepada Akila.


"Baik pak.!"


Jawab Akila


"Kamu diminta masuk, ingat jaga tatak rama dan sopan santun kamu disini!"


Seru Akila kepada Alice.


Entah itu peringatan ataukah hanya sekedar mengingatkan.


Alice memasuki ruangan pak Dirut dengan hati tak karuan.


"Selamat Pagi pak, anda memanggil saya?"


Tanya Alice berbasa-basi.


Pak Dirut mengangkat kepalanya kemudian melihat ke arah Alice dan tersenyum.


"Silahkan duduk!"


Seru Pak Dirut.


Alice mengangguk kemudian mengikuti perintah pak Dirut duduk di kursi berhadapan dengan pak Dirut.


"Alice ini hari pertama kamu bekerja disini, saya berharap setelah masuknya kamu ke Perusahaan kami, akan ada perubahan dalam perusahaan, jika kondisi perusahaan masih tetap saja berjalan seperti sekarang ini itu berarti kinerja kamu tidak baik!"


Ucap Pak Dirut kepada Alice.


"Baik pak saya mengerti!"


Jawab Alice.


"Sebentar ya!"


Seru Pak Dirut kepada Alice sembari menghubungi sekertarisnya.


"Ada yang bisa saya bantu pak?"


Tanya Akila dari sebrang telepon kantornya.


"Panggilkan pak Andri keruangan saya sekarang!"


Seru Pak Dirut kepada Akila.


"Baik Pak!"


Jawab Akila sembari meletakan kembali telepon kantornya.


Beberapa saat kemudian Andri memasuki ruangan bersama Akila.


"Permisi Pak, Bapak memanggil saya?"


Tanya Andri


"Kemari Dri.!"


Seru Pak Dirut sembari menunjuk kursi di samping Alice.


Andri pun duduk di samping Alice, tanpa melirik Alice sedikitpun.


"Alice ini pak Andri, dia salah satu karyawan teladan di perusahaan ini,dia memiliki dedikasi yang baik terhadap perusahaan, dia juga disiplin dan yang paling saya suka dia ini sedikit bicara tapi banyak bekerjanya.!"


Alice pun tersenyum mengangguk-angguk.


"Gak habis pikir aku, cowok sedingin dia ini begitu berprestasi.!"


Gerutu Alice dalam hatinya.


"Nah Andri, mulai hari ini Alice akan menjadi sekertaris kamu, saya mau kalian bekerja sama dengan baik dan bekerja secara profesional.!"


Ucap Pak Dirut.


Alice terkaget kemudian melirik Andri dengan secepat kilat kemudian menatap pak Dirut dengan rasa tak percaya.


"Bagaimana bisa aku bekerja dengan laki-laki setengah bisu seperti dia, mimpi apa aku semalam ya Allah!"


seru Alice lagi dalam hatinya.


"Baik pak kami akan berusaha!"


Jawab Andri dengan tegas tanpa meminta persetujuan Alice.


Alice melirik Andri mendengar jawaban Andri yang tanpa ekspresi itu.


Tentu saja jawaban Andri membuat pak Dirut senang.


"Saya tunggu kinerja kalian, sekarang kalian boleh kembali ke ruangan kalian!"


Ucap Pak Dirut.


"Kami Permisi Pak!"


Ucap Andri lagi sembari berdiri dan berjalan keluar Pintu.


Melihat Alice yang masih duduk di kursi Andri meliriknya dengan tajam, membuat Alice berdiri dan mengikuti langkah Andri dengan cepat menuju ruangannya.


Nampak senyum tersungging di bibir pak Dirut, entah ada rahasia apa dibalik senyum pak Dirut tersebut.


Sesampainya di ruangan Andri, sudah terdapat satu meja kosong yang letaknya saling berhadapan.


Tanpa berkata apapun Andri langsung mempersilahkan Alice masuk kedalam ruangan.


Alice memperhatikan ruangan secara mendetail.


Tanpa sengaja Alice malah menaruh tasnya di atas meja kerja Andri, karena sibuk memperhatikan tata letak ruangan kerjanya.


Tanpa berkomentar Andri hanya menatap Alice hingga Alice sadar Andri tengah menatapnya.


Lalu Alice merasa aneh dengan sikap Andri tanpa pikir panjang demi menghindari tatapan Andri, Alice langsung duduk di kursi meja Andri.


Alice pikir Andri tidak senang karena Alice terlalu sibuk memperhatikan denah ruang kerjanya.


"Eu...eu...em... maaf Pak, apa yang harus saya kerjakan sekarang?"


Tanya Alice gugup dan tidak enak hati


Andri menghampiri Alice di mejanya, kemudian dengan sengaja membalik papan nama di atas mejanya lalu menunjukannya kepada Alice.


Saat Alice membaca Papan nama tersebut wajah Alice mulai memerah karena seketika dia sadar bahwa dia salah meja.


"Maaf pak, maaf, saya lancang duduk di meja bapak!"


Ucap Alice sembari berdiri dan berpindah meja tanpa memperhatikan bahwa tasnya masih di atas meja Andri.


Andri menggeleng-gelengkan kepala melihat tas Alice masih di atas mejanya.


"Benar-benar gadis ceroboh, bagaimana bisa gadis seceroboh ini menjadi sekertaris ku!"


Gerutu Andri dalam hatinya sembari menjinjing tas Alice dan menaruhnya di atas meja Alice.


Hal itu membuat Alice semakin tidak enak hati.


"Aduh gimana ini baru haru pertama kerja udah bikin kesalahan!"


Ucap Alice dalam hatinya juga.


Andri kemudian memberikan beberapa laporan untuk di pelajari oleh Alice.


"Pelajari semua laporan ini, formatnya sudah ada di dalam desk book di meja kamu ini.!"


Ucap Andri sembari menaruh laporan itu di atas meja Alice, kemudian tanpa menunggu jawaban Alice, Andri langsung kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaanya.


Beberapa saat kemudian handphone Alice berbunyi, tanda ada pesan masuk ke dalam handphone nya.


Andri yang mendengar notif pesan tersebut langsung menatap Alice.


Alice yang sadar Andri menatapnya membuat dirinya bertanya-tanya.


"Apa lagi kesalahanku saat ini!"


Seru Alice dalam hatinya.


Tanpa berkomentar Andri langsung melajutkan pekerjaanya.


Hari Pertama bekerja yang berat bagi Alice memiliki atasan yang super cuek dan dingin bahkan galak adalah hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Alice sebelumnya apalagi Pak Dirut adalah orang yang sangat ramah, Alice tidak habis pikir jika bawahan dari Dirut begitu cuek dan Dingin.


"Bu Akila dan Pak Andri sepertinya terlahir untuk berjodoh, karakter mereka sama, sama-sama cuek dingin dan judes, kantor apakah ini!"


Seru Alice dalam hatinya berkeluh kesah.


"Huhhh mau bagaimana lagi harus bisa harus


kuat harus tahan!"


Gerutu Alice dalam hatinya lagi sembari sesekali mencuri pandang kepada Andri memperhatikan apa yang membuat atasannya nampak Sibuk...