Alice

Alice
Bagian 146



"Gue juga gak paham yang jelas sekarang Purnama tidak bisa di hubungi.!"


Jawab Dahlan setelah beberapa saat terdiam.


Dari parkiran rumah sakit nampak pak Mamat datang dengan seseorang yang baru saja akan turun dari dalam mobil.


Semua mata menatap ke arah mobil, melihat kaki yang baru saja turun dari dalam mobil Dahlan dan Asti yakin itu adalah keluarga Purnama.


Benar saja, Mamah Purnama dengan kacamata hitamnya baru saja keluar dari dalam mobil dan berjalan di dampingi supirnya Pak Mamat menghampiri Dahlan, Topan, Dan yang lainnya.


"Tante!"


Ucap Asti


"Kalian disini rupanya, mana keluarga Wanita kampung itu, saya perlu bicara!"


Ucap Mamah Purnama arogan.


"Tante mau apa?"


Tanya Asti lagi.


"Saya mau membuat perjanjian lah dengan keluarga wanita kampung yang penyakitan itu.!"


Ucap Mamah Purnama.


"Jangan tante saya mohon, sudah cukup penderitaan mereka, bukankah sekarang tante sudah mendapatkan apa yang tante inginkan?!"


Ucap Asti menahan mamah Purnama.


"Apa maksud kamu?"


Tanya mamah Purnama.


"Benar kata Asti, Sekarang Purnama sudah pergi jauh dari Alice bahkan kami tidak bisa menghubungi Purnama lagi, sekarang tante sudah tidak ada alasan untuk mengganggu hidup Alice lagi!"


Ucap Dahlan.


"Sekarang saya kekasihnya, berhenti menganggu calon istri saya, sebaiknya sekarang tante pergi dari sini!"


Ucap Topan secara tiba-tiba, membuat semua yang ada di sana kaget mendengar ucapan Topan.


"Owhsss bagus yah, baru semalam saja anak saya pergi perempuan kampung penyakitan itu sudah dapat lagi ganti hahahah, memang benar wanita itu hanya menjadikan anak saya ATM berjalan hahahah!"


Ucap Mamah Purnama.


"Cukup tante silahkan tante pergi sekarang juga, disini tidak ada yang perlu tante!"


Ucap Topan Lagi.


"Oh ok saya akan pergi, tapi seiring dengan perginya saya dari rumah sakit ini, saya juga akan menarik kembali biaya pengobatan perempuan kampung itu, bagaimana?"


Tanya Mamah Purnama.


Semua orang saling tatap satu sama lain.


Akhirnya pertanyaan yang semberawut dalam pikiran mereka kini terjawab sudah.


"Maksud tante?"


Tanya Iqbal


"Ya tadinya saya kesini mau bikin perjanjian sama keluarga wanita kampung yang penyakitan itu, saya bersedia membayar semua biaya rumah sakitnya dan menjamin perempuan kampung yang penyakitan itu sampai sembuh, tapi dengan satu syarat!"


Ucap Mamah Purnama.


"Syarat?"


Tanya Desi


"Iya dong, di dunia ini gak ada yang gratis.!"


Ucap Mamah Purnama lagi.


"Apa mau tante?"


Tanya Asti


"Saya mau setelah dia sembuh nanti dia berhenti berhubungan dengan anak saya, dan hindari anak saya, bahkan kalau si perempuan kampung yang penyakitan itu akan menikah dengan orang lain, saya akan membiayai pernikahannya semewah mungkin, tentunya dengan syarat tadi, bagaimana bukankah menggiurkan?"


Tanya Mamah Purnama sembari melangkah mendekati Topan.


"Silahkan pergi dari sini dan bawa semua uang tante, saya sanggup membayar semua pengobatan Alice tanpa bantuan tante!"


Ucap Topan Emosi.


"Kamu yakin?"


Tanya Mamah Purnama lagi.


"Kenapa saya harus tidak yakin, apa tante lupa semua yang tante punya saat ini adalah titipan?!"


Ucap Topan perlahan namun menyisakan banyak pertanyaan bagi mamah Purnama.


"Apa maksud kamu, kamu meremehkan saya?!"


Ucap Mamah Purnama kesal.


"Tante, tante ini jauh lebih sepuh di bandingkan kami, tante pasti lebih tahu bahwa semua yang ada di dunia ini hanya titipan, jika yang memilikinya mengambil kembali semua yang tante punya, memangnya tante bisa apa?!"


Ucap Topan dengan Berani.


"Tante!, seharusnya tante tidak perlu arogan apalagi mencoba mengatur hidup orang lain dengan harta tante, mungkin hari ini tante jauh di atas kami tapi besok, siapa yang tahu?!"


Ucap Iqbal menambahkan.


"Maaf tante, jika tante sudah tidak memiliki kepentingan lagi, tante tahu kan kemana tante harus berjalan untuk bisa pulang!"


Ucap Asti kesal kemudian pergi meninggalkan mamah Purnama.


Begitu juga dengan Iqbal, Desi, Dahlan dan Topan.


"Permisi tante Assalamualaikum!"


Ucap Topan sembari ngeloyor pergi.


Kata demi kata yang di ucapkan anak-anak itu terang saja membuat mamah Purnama jengkel dan Kesal, tanpa pikir panjang Mamah Purnama langsung menghubungi pihak administrasi Rumah sakit dan mencabut semua biaya untuk Alice kemudian pergi dari rumah sakit.


Dahlan yang sudah merasa curiga bahwa mamah Purnama akan menarik semu biaya rumah sakit pun mengajak teman-teman nya berdiskusi.


"Gue yakin setelah omongan kita tadi, mamahnya Purnama bakal langsung menarik semua biaya rumah sakit Alice.!"


Ucap Dahlan di bangsal rumah sakit agak jauh dari kamar rawat Alice.


"Untuk masalah biaya, gue masih punya tabungan, tapi gue gak yakin cukup!"


Cetus Topan.


Semua menatap ke arah Topan.


"Sebenarnya kita gak perlu terlalu khawatir, tadi Pagi pak Mamat ngasih kartu credit milik Purnama buat di pakai bayar pengobatan biaya Alice, tapi kita mesti tetap berjaga-jaga, karena jika terlalu besar uang yang di keluarkan keluarga Purnama untuk membayar kartu credit ini, yang anak mereka bakal curiga!"


Ucap Dahlan lagi.


"Udah pakai aja tabungan gue buat nambahin kurangnya, selebihnya gue bisa cari kerja buat bantu-bantu biaya Alice.!"


Ucap Topan lagi.


"Kayanya kita juga harus cari dulu kerjaan bang Disini buat bantu Alice.!"


Ucap Asti mengusulkan.


"Aku juga bisa kembali bekerja paruh waktu di tempat biasa aku dan Alice kerja, meskipun gak seberapa tapi in shaa Allah bisa di pakai untuk nambahin beli obat nya Alice.!"


Ucap Desi.


Mendengar Ucapan Desi, Iqbal langsung tersenyum dan mengelus kepala Desi.


"Kalian tenang aja, aku bakal coba bantu sebisa aku, kita juga bisa bicarakan ini dengan pihak sekolah, siapa tahu kita bisa ngumpulin uang lebih cepat dan lebih banyak Aamiin!"


Ucap Iqbal menambahkan.


"Gue bersyukur bisa ada di antara kalian yang begitu peduli pada Alice!"


Ucap Topan.


Dahlan mendekati Topan dan tersenyum.


"Elo Tahu Pan, dulu posisi gue sama persis kaya elo sekarang, tapi ketika gue melihat dia lebih bahagia dengan orang lain, gue coba buat ikhlaskan, gue juga sadar awalnya sulit tapi seiring berjalannya waktu semakin elo sabar semua semakin mudah terlebih lagi gue bisa nemuin perempuan lain yang sayang sama gue.!"


Ucap Dahlan sembari merangkul Topan dan melirik Asti sembari tersenyum.


Asti membalas senyum Dahlan.


Topan melirik Asti yang tersenyum kepada Dahlan.


"Apa perempuan itu juga Alice?!"


Tanya Topan.


Dahlan mengangguk sembari tersenyum.


"Rasa sayang itu memang tidak hilang begitu saja, sampai saat ini gue juga emang masih sayang sama dia, tapi bedanya sekarang gue limpahin perasaan sayang gue ke Alice karena bagi gue dia adalah ade gue sekarang, terlebih lagi setelah gue menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan Purnama buat bahagiain Alice, gue ngerasa aja kalau gue belum tentu bisa seperti Purnama, bahagia itu tidak melulu mesti memiliki, bahagia melihat dia bersama orang yang bisa membahagiakannya pun itu sudah lebih membahagiakan!"


Ucap Dahlan Tersenyum.