Alice

Alice
Bagian 74



Angin mendadak mulai terasa bertiup lebih kencang daripada biasanya, suasana semakin mencekam tatkala orang-orang di bawah gedung mulai ramai berteriak mencoba menghentikan Dewi.


Orang Tua Dewi syok melihat Dewi berdiri di atas atap rumah sakit berlantai tujuh itu.


Dahlan dan Purnama datang menghampiri Ibu kos dan Alice beserta Asti.


"Istigfar Dewi, kasian orang tua kamu.!"


Seru Purnama.


"Dew elo udah ngehancurin perasaan orang tua elu karena kecerobohan elu, belum puas elu ngeliat air mata mereka hah, belum cukup bagi elu kepedihan mereka sejauh ini?"


Seru Dahlan memaki.


"Cukup kak cukup, semua akan segera berakhir jika saya mati.!"


Seru Dewi.


"Picik elu ya, elu mikir kagak siapa yang bakal jagain mereka kalau elu gak ada, elu itu anak, satu-satu nya harapan mereka Wi sadar dong elu, hidup elu masih panjang dunia masih luas pikiran elu jangan di persempit.!"


Caci lagi Dahlan.


Alice menangis semakin menjadi.


"Kak, Dewi kak tolong Dewi.!"


Seru Alice kepada Purnama.


"Aku sudah tidak punya massa depan kak tidak punya.!"


Teriak Dewi histeris.


Orang tua Juanda yang baru saja tiba melihat kerumunan orang langsung menghampiri kerumunan tersebut.


"Ada apa ini pak?"


Tanya ayah Juanda kepada Ayah Dewi.


"Dewi pak anak kami di atas.!"


Jawab Ayah Dewi sembari menunjuk ke atas.


"Astagfirullah mari pak kita ke atas, ibu tolong temani Ibu Dewi.!"


Ucap Ayah Juanda kepada Istrinya.


"Yang sabar bu yang sabar, semoga Dewi mau mendengar Ayah nya."


Ucap Ibu Juanda


Ibu Dewi hanya menangis sesenggukan melihat anaknya berlaku demikian.


Sementara di atap gedung Dahlan masih mencoba menyadarkan Dewi.


"Sudah terlalu banyak air mata yang mereka tumpahkan demi Elu Wi, seharusnya sekarang giliran elu bangkit dan hapus air mata mereka.!"


Seru Dahlan lagi kepada Dewi.


"Dew aku mohon Dew, kamu jangan ngerasa sendiri ada kita disini yang sayang sama kamu Dew.!"


Seru Alice.


"Kalau gue tahu akhirnya elu bakal bunuh diri nyesel gue nolongin elu waktu itu mestinya gue biarin aja elu di dalam sana sampai mampus.!"


Ucap Dahlan kesal.


"Bang udah bang cukup.!"


Seru Asti mencoba menyabarkan Dahlan.


"Sia-sia pengorbanan gue sama Purnama dan Pak Budi datang jauh-jauh kesini kalau pada akhirnya usaha gue dan yang lain elu bayar pakai nyawa elu yang berakhir seperti ini, sadar woy sadar Wi.!"


Seru Dahlan lagi.


Dewi menangis sesenggukan sembari sesekali berteriak.


"Teriak wi teriak sesuka kamu keluarkan unek-unek dan amarah kamu, tapi jangan sakiti anak yang ada dalam kandungan kamu.!"


Seru Purnama.


"Tolong dengarkan kakak Wi, Allah kasih kita cobaan berat karena tahu kita sanggup melalui nya, kamu jangan takut kami disini untuk kamu.!"


Seru Purnama lagi.


Dari belakang Ayah Dewi datang Bersama Ayah Juanda.


"Dewi tolong nak jangan nak, jangan lakukan itu wi Ayah mohon jangan.!"


Seru Ayah Dewi sembari menangis mencoba mendekati Dewi.


"Terus maju Ayah jika ayah ingin melihat dari dekat bagaimana aku akan pergi.!"


Seru Dewi mengancam Ayahnya.


Seketika Ayah Juanda melangkah mendekati Ayah Dewi.


Ucap Ayah Juanda


Dewi hanya menangis sendu.


Setiap orang memikirkan cara agar bisa menyelamatkan Dewi.


"Selamat tinggal maafkan aku semuanya.!"


Ucap Dewi sembari melompat.


"Tidak.!!!!"


Ucap Ayah Dewi sembari menghampiri berusaha meraih tangan Dewi namun nihil.


Sementara orang-orang di bawah berusaha menempatkan matras angin sesuai posisi Dewi.


Ibu Dewi jatuh pingsan ketika melihat anaknya terjun dari atas, semua orang yang di atap berlari turun ke lantai dasar.


Dan Brukkkk.!!!


Dewi terjatuh tepat di atas matras angin yang telah di siapkan.


Semua berlari memburu Dewi yang terjatuh tertelungkup.


Dewi meronta mencoba berlari ke jalan raya hingga akhirnya petugas kesehatan harus membius Dewi.


"Astagfirullah, ya Allah ujianmu sungguh berat.!"


Ujar Ayah Dewi sembari mengikuti perawat yang membawa Dewi ke dalam.


"Dok tolong periksa cucu saya tidak apa-apa kan?"


Tanya Ayah Juanda Panik.


Dokter hanya mengangguk dan segera memasuki kamar rawat Dewi.


Semua nampak panik, Ibu Dewi masih belum sadarkan diri, terdengar isakan tangis yang masih tersisa di wajah setiap orang di sana.


"Sabar istigfar, setidaknya sekarang Dewi masih selamat dan percobaan bunuh dirinya bisa di atasi lebih cepat."


Ucap Purnama kepada Alice yang terduduk lesu di samping ibu kos, sembari bersandar di pundak ibu kos.


Asti berdiri di samping Dahlan sembari memegang Tisu untuk menyeka air matanya.


"Udah jangan nangis terus nanti sakit.!"


Ucap Dahlan pada Asti.


Asti mengangguk.


"Duduk disini biar gue beliin minum buat semua orang.!"


Ucap Dahlan lagi pada Asti.


Asti pun duduk di kursi koridor rumah sakit.


"Ayo Pur.!"


Ajak Dahlan kepada Purnama.


Purnama mengangguk lalu melirik Alice kemudian pergi tanpa berkata-kata.


"Gue sampai gak habis pikir Pur apa yang ada di pikiran si Dewi.!"


Ucap Dahlan masih dengan nada kesal.


"Udahlah gak usah terlalu di pikirin, kita bersyukur aja setidaknya kan sekarang Dewi udah baik-baik aja."


Jawab Purnama.


"Gue sumpah ya gak enak hati banget rasanya sia-sia aja gitu loh perjalanan kita dari sana kesini berhari-hri kita nemenin dia biar apa coba,kalau bukan biar dia tetep kuat, kenapa ini malah sebaliknya coba gue kesel banget aslinya, gue mau balik lah biar aja terserah mereka mau gimana juga mau mati sekalipun si Dewi bodoh amat lah gue.!"


Dahlan meluapkan kekesalannya.


"Iya aku juga ngerasain, tapi namanya juga orang putus asa Lan, kita bisa menasehati dia dengan beribu-ribu kata, kita gampang aja ngomong nasehatin dia harus kaya gini, mesti kaya gitu, jangan begono, bagusnya begini, ngomong doang mah gampang Lan, tapi ketika kita di posisi dia, gak mungkin lah semudah membalikan telapak tangan, membuat keadaan seolah baik-baik saja, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, pastinya berat banget buat dia, kita harus lebih ngertiin dia lah."


Seru Purnama menasehati Dahlan.


Dahlan menarik napas dalam kemudian berjalan di depan Purnama tanpa sepatah katapun, Purnama mengikuti Dahlan dari belakang berusaha mengimbangi langkah Dahlan.


Mereka berjalan ke arah mini market untuk membeli minum.


Sesampainya di mini market Dahlan membuka lemari pendingin berisi minuman, dan mengambil satu botol, kemudian meminumnya setelah membuka tutupnya terlebih dahulu.


"Menurut elu omongan gue kasar banget tadi?"


Tanya Dahlan kepada Purnama sembari memegang botol minum di tangannya.


"Mungkin iya mungkin tidak, kadang bicara jujur tanpa memperdulikan perasaan orang yang kita ajak bicara itu bisa jadi penting, tujuannya agar dia paham apa yang sebenarnya dia lakukan itu suatu hal yang baik atau buruk."


Jawab Purnama sembari membuka lemari pendingin di samping Dahlan.